
Andres terkejut ketika ia baru saja keluar dari toilet, sembari mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi. dan kini ia mendapati sosok Andra yang sedang terduduk di tepi ranjangnya.
"Andra, sejak kapan kau disitu?"tanya Andres lalu berdiri tepat dihadapan Andra.
"Selamat pagi saudaraku?"sambutnya hangat sembari bangkit berdiri.
terlihat Andres menghela napas dengan matanya yang berputar, seolah mengerti sambutan itu.
"Sambutan hangat, aku rasa kau sedang menginginkan sesuatu dariku, right?"selidik Andres curiga.
"Hehe.. kau tau saja."cengenges Andra lalu berdehem."Sepulang sekolah ajak Lia makan ice cream ya!"pinta Andra yang disambut pelototan Andres seketika.
"Apa? kenapa aku harus melakukannya? ah, aku tidak mau."tolak Andres lalu berpaling dari pandangan Andra, membuka lemari mengambil kaos oblong lalu ia pakai.
"Tapi, kenapa?"tanya Andra sembari membalikan badan Andres.
"Ya karena aku tidak mau saja. dia kan pacarmu. kenapa bukan kau saja yang mengajak Lia makan ice cream, kenapa harus aku? dasar payah!"seloroh Andres kemudian melepaskan tautan tangan Andra di bahunya, kemudian ia pun duduk di tepi ranjang lalu mengecek ponsel.
"Kau sudah berjanji padaku, kau ingin membuat aku bahagia 'kan? lalu, kenapa kau menolak apa yang aku perintahkan?"Andra mendengus sebal berdiri menatap Andres tajam.
Andres membanting pelan ponselnya ke kasur dengan helaan napas berat."Tapi, kenapa harus mengajaknya makan ice cream? perempuan selalu merasa ke-geeran dengan hal-hal romantis, dan menurutku makan ice cream itu adalah hal yang romantis. dan aku menolaknya."Andres bangkit berdiri sembari memandangi wajahnya dicermin, mengoleskan gel pada rambutnya kemudian menyisirnya.
"Kau takut jatuh cinta sungguhan 'kan pada Lia?"tanya Andra seketika.
Andres menoleh."Aku tidak takut, terus terang saja aku tak memikirkan cinta dalam hidupku. sebagai saudara kau pasti paham betul bagaimana watakku."kata Andres tegas, yang kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya menata rambut.
"Ya, sudah. apa susahnya menjemput Lia kesekolahnya lalu mengajaknya menelaktir ice cream,"paksa Andra namun Andres tak bergeming hanya helaan napas panjang yang terdengar.
"Andres, ayolah!"rayu Andra lagi memohon.
Andres menoleh seklilas, tapi masih tak memberikan jawaban apapun.
"ANDRES!!"panggil Andra berseru keras yang membuat Andres langsung menatap tajam Andra.
"Hiyaa!!! aku tidak tuli, tahu!"geram Andres sementara Andra hanya tertawa lebar.
"Jadi, bagaimana Andres? kau mau?"Andra menggoda sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Aku pergi!"Andres pamit dan langsung mengambil ponsel serta jaket miliknya, kemudian menghilang dari pandangan Andra.
"Terimakasih saudaraku !"teriak Andra kemudian tersenyum kecil, atau lebih tepatnya tersenyum getir.
Andres menepikan sepeda motornya di depan gerbang sekolah, tepat dihadapan Lia. dan terlihat Lia baru saja pulang sekolah dan kini ia sedang berbincang dengan pria dewasa yang sudah Andres duga bahwa itu kakak kandungnya yang akan menjemput. dua kepala itu seketika langsung mengalihkan perhatian mereka pada Andres kini, termasuk Bayu yang merasa keheranan akan kehadiran Andres disini.
"Hai, bro?! kau yang di kafe itu?"sambut Bayu ramah tamah. Andres mengangguk seraya tersenyum lebar, kemudian ia pun turun dari motornya.
"Hai, kak. Aku Andres, yup kau benar kita pernah bertemu di kafe saat itu bersama Lia juga."perkenalan Andres setelah mereka berdua saling berjabat tangan.
"Wah, aku tak menyangka dari kesalahan adik ku ini dalam mengenali seseorang, ternyata kalian jadi dekat?"Bayu melirik Lia yang masih diam dengan tatapan menggoda.
Andres tertawa renyah."Bisa di bilang begitu,"
"Oke, aku Bayu. kakak dari Lia, lantas apa tujuanmu kesini?"tanya Bayu menatap curiga dengan mata berkilat jahil.
"Aku ingin menelaktir Lia makan ice cream, sebagai teman barunya. setelah itu aku akan mengantarkannya pulang, tidak akan lama kok."jawab Andres mengatakan tujuannya.
"Oh, aku paham. ekhm.. ini semacam pendekatan, right?"goda Bayu sementara Andres hanya menggaruk tungkaknya yang sama sekali tak gatal.
"Kak, kenapa kau terus menggodanya,"Lia meringis dengan mendengus sebal, sementara Bayu hanya terkikik.
__ADS_1
"Ah, aku tahu ini prosses move on dari pacarmu 'kan? karena dia pergi tiba-tiba sampai kau bersedih?"terka Bayu sembari menyipitkan mata, sementara alis Lia berkerut.
"Siapa bilang aku putus dengannya, tidak kok."sanggah Lia.
"Wah, apakah dia takan cemburu jika kau kencan dengan Andres?"
"Wah, kak. kau salah mengira, ini bukan kencan. ini hanya jalan-jalan biasa lalu menikmati ice cream, momen ini hanya untuk perkenalan sebagai teman baru, tidak lebih dari itu."Andres mengambil alih untuk menjawab, berusaha menghalau praduga Bayu yang keliru.
"Aish, begitu ya.."Bayu meringis sembari manggut-manggut."Jadi, bagaimana Li? kau mau? kalau kau mau aku pulang sekarang, aku mau melanjutkan sesi bermain game ku. jika kau menolak, ayo kita harus segera pulang."kata Bayu, namun terlihat Lia masih agak berpikir.
"Aku mau jalan sama Andres dulu kalau begitu, kalau ibu tanya bilang saja ya kak."jawab Lia menyetujui ajakan Andres, setelah beberapa saat terdiam.
Bayu mengangguk."Baiklah, nanti aku bilang ke ibu. kalau begitu aku pulang duluan ya, Li."pamit Bayu."Oh, ya kau. jangan lupa bawa Lia pulang dengan keadaan hidup dan utuh ya,"jahil Bayu pada Andres sembari terkikik, yang langsung dilemparkan pukulan pelan oleh Lia mengenai tangan Bayu.
"Jangan sembarangan kalau bicara,"protes Lia sembari melotot.
"Hanya bercanda, Li."sahutnya.
"Tenang saja, aku akan menjaga Lia."kata Andres sambil tersenyum manis.
"Aish, sudah jangan tersenyum manis begitu, nanti aku bisa jatuh cinta padamu, kenapa kau begitu sangat tampan sih?"usil Bayu pada Andres yang mengundang tawa.
"Menjijikan sekali kak,"Andres berigidig sementara Bayu tertawa.
"Haha.. ya sudah aku pamit ya, bye!"tukasnya yang langsung mengendarai motor lalu pergi.
Lia dan Andres melihat Bayu yang sudah pergi, kemudian Andres menatap Lia yang masih terdiam. rasanya canggung dan juga terasa aneh.
"Ayo, Li."ajak Andres memecah kebisuan.
"Sebenarnya aku takut Andra akan cemburu,"cicit Lia yang masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran milik Andres.
"Jika dia marah padaku, aku tak ingin bertemu denganmu lagi, oke!"ucap Lia yang disetujui Andres dengan anggukan kepala.
"Oke,"Andra setuju.
tak ingin berlama-lama Andres naik keatas motor, kemudian menyalakan mesin. Lia pun langsung ikut naik, dan Andres pun langsung menancap gas.
"Kita makan ice cream dimana?"tanya Lia agak teriak diantara deru mesin motor yang bising.
"Ditempat kemarin, apa kau menyukai tempat itu?"tanya Andres lantang.
"Iya, aku menyukainya."jawab Lia sembari mengangguk.
Andres menepikan motornya, ia turun menuju minimarket lalu membeli ice cream sementara Lia menunggu.
setelah itu mereka berdua melanjutkan perjalanan, dan tak lama kemudian mereka berdua sampai di tempat kemarin. di hamparan rerumputan hijau dengan danau disebrangnya. sangat indah dan tenang.
kini mereka berdua terduduk diayunan yang terpisah, tapi jaraknya dekat. dan mereka berdua mulai menikmati ice cream dengan santai.
"Rasa vanilla, aku suka."Lia membuka suara.
"Wah, aku tak salah memilih rupanya."sahut Andres melirik sekilas pada Lia.
"Menurutmu kapan kita harus ke gudang?"tanya Lia serius.
"Saat libur itu sudah pasti, karena gudangnya kan ada di dalam gedung sekolah."jawab Andres yang masih saja menikmati ice creamnya.
"Tapi, aku takut."cicit Lia.
__ADS_1
"Tenang saja, aku akan menjagamu. lagi pula, aku juga ingin memecahkan kasus adikku."kata Andres serius.
"Aku boleh bertanya padamu?"tanya Lia, Andres mengangguk."Kau sekarang sekolah dimana? setelah memutuskan pindah dari Autralia ke Indonesia?"tanya Lia penasaran.
"Aku sudah lulus satu tahun yang lalu, aku loncat kelas, dan aku kuliah di UI sekarang."jawab Andres yang diiringi decak kagum Lia.
"Wah... rupanya kau genius? kau lebih genius dari pada Andra? Andra saja sekarang masih duduk dikelas tiga jika masih hidup. padahal Andra juga paling pintar loh di sekolah,"seloroh Lia.
"Ah, aku tak ingin menceritakannya padamu."kata Andres yang membuat Lia langsung penasaran, kemudian ia memiringkan tubuhnya agar ia bisa leluasa berbicara dengan Andres.
"Ceritakan saja, ayo!"paksa Lia penasaran.
"Yakin?"tanya Andres menatap Lia serius, lalu tersenyum kecik.
"Iya aku yakin,"Lia mengangguk teramat penasaran.
"Waktu itu Andra juga seharusnya loncat kelas, dari kelas satu seharusnya menjadi kelas tiga tapi..."Andres tiba-tiba saja terdiam.
"Tapi apa??"decak Lia tak sabaran.
"Tapi, Andra lebih memilih mendengarkan mantan pacarnya yang bernama Jesllyn, Jesllyn adalah gadis overprotektif dan sangat menggilai Andra. Jesllyn tak ingin berpisah dengan Andra sedikitpun. ketika Andra mendapati kabar loncat kelas, Jesllyn menyuruhnya untuk mengikuti proses pada umumnya, dari kelas satu ke kelas dua sampai kelas tiga."ujar Andres panjang lebar.
"Terus?"sambung Lia cepat dengan penasaran.
"Ya, Andra mengikuti kemauan Jesllyn."sahut Andres lalu menikmati ice cream nya kembali.
"Jesllyn? kenapa disekolah aku tak pernah melihatnya?"tanya Lia bingung.
"Ya, karena Jesllyn sudah pindah sekolah. setelah Andra memutuskan hubungan yang gila itu."jawab Andres terang-terangan.
"Andra tak tahan dengannya?"terka Lia.
"Tentu saja, Li. mana ada sih orang pacaran yang mampu bertahan dengan hubungan yang toxic seperti itu. kecuali orang itu bodoh, dan tak punya pilihan untuk lepas dari jeratan hubungan yang tak sehat semacam itu."urai Andres yang disertai anggukan paham Lia.
Lia terdiam namun masih menikmati ice cream itu yang hampir mencair dan tandas. pikirannya melenggang buana, sementara Andres langsung terkekeh.
"Sudah jangan dipikirkan, mantan ya tetap mantan. sekarang Andra milikmu seutuhnya."goda Andres namun Lia tetap saja larut dalam pikirannya.
tangan Andres terulur, mengusap kecil ujung bibir milik Lia sambil berdecak."Makan ice cream nya santai saja, sampai belepotan begini."
sedetak kemudian jantung Lia seperti melorot, ia menatap lamat-lamat wajah Andres seketika. menyadari apa yang Andres lakukan barusan.
"Kenapa, Li?"Andres bertanya dengan mengangkat satu kening alisnya, setelah ia melepaskan tangannya yang terulur tadi.
"A-apa?"
"Kenapa melamun?"Andres bertanya heran.
"T-tidak."Lia hanya menggeleng dengan suaranya yang gugup.
"Mengapa kau lucu sekali sih, Li."komentar Andres dengan gelak tawa, karena cemburunya Lia terlihat menggemaskan bak anak kecil yang sedang merajuk, karena tak dibelikan sesuatu.
__ADS_1