Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Andres wisuda."


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat dan tak terasa bahwa Andres akan wisuda, hari ini pukul sembilan terlihat sosok tampan itu tengah duduk di kursi wisudawan dengan toga dikepala. Suasana kampus UI sudah ramai, auditorium sudah di penuhi para mahasiswa-mahasiswi berjubah hitam. Acara di mulai dengan sambutan-sambutan, saat perwakilan dari mahasiswa memberikan sambutan Andres merasa terenyuh dan memahami kata yang di ucapkannya.


"Graduation it not the end. It's the beginning. Kehidupan akan terus berlanjut sampai menuju gerbang kesuksesan,"


Andres berpikir bahwa ini memang belum berakhir, semua ini masih permulaan untuk menggapai apa yang ia impikan. Bekerja keras, mendapatkan uang, membangun istana serta pendamping untuk mengisi istana miliknya itu, ia tak perlu mempertanyakan lagi siapa orangnya. Jelas orang itu adalah Lia, perempuan yang paling ia cintai di dunia ini.


Dan saat Andres menoleh kebelakang ia melihat sosok ayu nan anggun itu tengah duduk di sana, Lia. Berdampingan dengan sang papi, sahabat dan sosok kakaknya. Namun, netranya begitu fokus pada si dia, ia yang sangat begitu feminim dengan dress berwarna hitam ditambah payet-payet yang terlihat sangat gelamor, serta heels yang menunjang penampilan, dengan rambut yang digelung sederhana, serta sepasang telinga yang tersemat anting yang menjuntai ditambah dengan aksesoris lain dilengannya, sangat terlihat cantik dan menawan. Lia tersenyum lebar saat tatapan mereka berdua bertemu.








"Kau cantik hari ini,"pujian itu meluncur dari bibir Andres berbicara tanpa suara, sementara Lia langsung melebarkan senyuman tersipu.


"Gombal,"Lia juga berbicara tanpa suara, seraya geleng-geleng kepala salah tingkah karena Andres terlihat begitu intens menatapnya tentu saja hal itu membuat pipinya terasa terbakar saat itu juga.


Setelah puas melihat Lia, Andres pun melanjutkan untuk memusatkan kembali pandangan kedepan, satu persatu wisudawan berjalan maju. Dan saat namanya di panggil dengan lantang sebagai salah satu mahasiswa yang menyandang predikat summa cumlaude dengan IPK 3,9. Andres terperangah karena ia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar. Suara gemuruh tepuk tangan menyambut, dengan penuh rasa bangga bercampur rasa haru Andres berdiri dengan gagah, kemudian melangkah kedepan dengan diiringi sorakan dan tepuk tangan yang tak pernah berhenti sedikitpun tanda pendukung suasana.


Perasaan lega itu menyeruak ketika rektor memindahkan tali di toga miliknya dari kiri kesebelah kanan. Serta selempang wisuda dengan gelar S.E yang didapatnya dan Itu artinya ia sudah lulus S1. Lia melebarkan senyuman bangga, dan Andres membalas senyuman itu disela napas rasa lega nya.


Siang berganti malam, malam ini adalah malam yang sempurna karena Lia dan Andres baru saja selesai menonton film di bioskop untuk perayaan wisuda Andres. Semuanya terasa indah karena hanya mereka berdua yang menikmati momen ini. Apalagi setelah menonton film romantis yang berhasil membangun suasana. Saat ini mereka berdua tengah bergandengan tangan di area parkiran mobil mall. Berjalan seiring seirama, dipenuhi canda tawa yang terasa sangat hangat oleh kebahagiaan yang terasa begitu lekat.


"Li, apa kau tahu bahwa aku sangat bahagia?"Andres bertanya sambil melirik sekilas kearah Lia dengan senyuman mengembang.


Lia tertawa kecil mendengarnya."Ya, aku tahu itu. Kau begitu sangat bahagia."


Andres mengangguk samar."Aku berhasil lulus kuliah dengan waktu yang cukup cepat, selain itu aku juga merasa bahwa aku sungguh tak sabar untuk memilikimu."bisik Andres dengan kalimat romantis dan terdengar begitu sangat merdu.

__ADS_1


"Bukankah kau sudah memiliki aku?"tanya Lia menaikan satu alisnya.


"Tapi sekarang aku belum memilikimu seutuhnya, Li."kata Andres lugas.


"Seutuhnya?"Lia menatap Andres, dan langkah Andres langsung terhenti. Membalas tatapan Lia, dan menggenggam tangannya lebih kuat dari sebelumnya. Bukan sensasi nyeri yang di dapat, tapi sensasi yang memabukan yang seketika merambat naik kesekujur tubuh Lia pada detik itu juga.


Melihat ekspresi Lia yang tampak lucu seketika membuat Andres langsung tertawa. "Li, kau pasti tahu apa magsudku."


"Ya, kau benar, aku memang paham apa magsudmu."decak Lia yang membuat Andres mengulum senyum, lalu manggut-manggut berlaga berpikir.


"Memangnya apa arti dari seutuhnya?"Andres bersidekap tangan didada sementara wajahnya di condongkan menatap Lia dengan begitu lekat.


Lia langsung memutar bola mata malas disela helaan napasnya, membuat tawa Andres kembali hadir dan kali ini malah jauh lebih keras dari sebelumnya.


"Apanya yang lucu, sih?"Lia mendengus sebal, sementara Andres masih saja tertawa meskipun kali ini tawanya terdengar lebih pelan.


"Tidak ada,"gelengnya seraya mengedikan bahu pelan, namun Lia tidak mempercayai apa katanya. "Sungguh aku tak sabar ingin menikah denganmu,"lanjutnya membuat sepasang mata Lia menatap Andres dengan wajah panas dan juga antusias.


"Sungguh?"goda Lia mengulum senyum, sementara Andres menatap mata Lia dengan senyuman sendu yang terukir di bibirnya.


"Sebelum itu, aku harus melewati jalan yang panjang, yaitu menunggumu untuk meraih gelar dokter right? setelah itu aku bisa menikahimu,"


"Jadi benar apa yang aku duga, anggukan kepalamu itu berarti aku harus menunggu? Baiklah, aku akan menunggu."ujar Andres disela helaan napasnya.


"Kau salah,"usil Lia seraya mencolek hidung bangir milik Andres.


Mendengar apa kata Lia, seketika kening alis Andres menyatu di tengah."Magsudmu?"


"Aku mau menikah denganmu meskipun aku belum lulus kuliah."bisik Lia, membuat sepasang mata milik Andres membola sementara bibirnya terbuka. Ekspresinya terlihat begitu menggemaskan hingga Lia tertawa.


"Li, please jangan menggodaku seperti ini. Aku ingin serius, aku tidak sedang ingin bercanda."ucap Andres dengan wajah yang terlihat jelas begitu gugup, seolah belum meyakini apa yang ia dengar dari ucapan Lia yang meluncur dari bibirnya.


"Memangnya apa ucapanku terdengar lawakan?"usil Lia sambil terkekeh.


"Li, katakan. Apa kau benar-benar mau menikah denganku meskipun kuliahmu belum lulus?"tanya Andres seraya meraih dua bahu Lia dengan menatapnya serius, berdebar setengah mati setelah Lia mendengar pertanyaan Andres yang masih belum sepenuhnya percaya. Itu, artinya ia tidak boleh mempermainkan komitmen.

__ADS_1


Sekali lagi Lia mengangguk mantap."Aku serius dengan apa yang aku katakan Andres."Lia melebarkan senyuman.


"Dengar Li, aku sama sekali tidak ingin memaksakan kehendak. Jika kau belum sepenuhnya siap aku akan sabar menunggu. Jangan melakukannya hanya karena kau terpaksa, aku sama sekali tidak ingin kau merasa menyesal dikemudian hari."ucap Andres serius.


Lia tertawa renyah mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Andres, terdengar sangat tulus dan sabar, membuat Lia semakin kagum akan sosok lelaki yang berada dihadapannya sekarang ini, sungguh ia sanggat beruntung mendapatkannya.


Selangkah demi selangkah, semua ini adalah bagian dari perjalanan mereka berdua yang sangat mengesankan. Lia tersenyum tulus saat matanya bertemu dengan mata Andres yang menatapnya dalam seolah tersirat akan dilema.


"Aku tidak yakin kau akan menungguku selama itu, Andres."kata Lia dan pada detik itu terdengar Andres meringis. Lalu salah satu tangannya yang bebas, bergerak ketas kemudian menyugar rambutnya gelisah.


"Tapi, aku akan berusaha. Memang aku menginginkan kita menikah secepatnya, tapi aku juga tidak mau jika kau menikah denganku karena terpakasa. Maka, aku akan bersabar menunggumu lulus, Li. Cinta memang butuh pengorbanan 'kan? jadi, aku harus siap."ucap Andres apa adanya.


"Wah, sebaiknya kita harus segera pergi ke KUA sekarang agar kau percaya bahwa aku melakukannya karena aku benar-benar ingin, bukan karena terpaksa."goda Lia disela tawanya, lalu menarik tangan Andres agar kembali berjalan.


Mereka berdua berjalan dalam suasana hening yang menyenangkan, jarak parkir mobil milik Andres ternyata cukup jauh. Dan itu bagus karena tampaknya semua itu adalah bentuk dari pendukung suasana yang sempurna, karena mereka bisa menikmati momen romantis yang langka seperti ini, karena sebelumnya mereka berdua sama-sama sibuk kuliah.


Entahlah mengapa pikiran Lia berubah 180° dulu ia belum siap menikah, tapi sekarang ia bisa berbicara dengan mudah tanpa berpikir panjang. Tidak ada kepura-puraan, keterpaksaan ataupun keraguan sedikitupun. Semuanya mengalir begitu saja, dan semuanya terasa sangat mudah dan juga sangat unik.


"Ya, kau benar sebaiknya kita harus ke KUA sekarang."bisik Andres pelan, tangannya yang menggenggam tangan Lia seketika


meremasnya dengan sentuhan lembut.


Lia melirik seraya tersenyum pada Andres, tak bisa dipungkiri dadanya berdebar kencang pada detik itu juga. Pipi milik Lia bersemu karena tatapan Andres yang begitu teduh sungguh mengguncang dunianya, Lia melepas pelan genggaman tangannya kemudian berlari kecil seraya sesekali menoleh kebelakang, sementara Andres hanya bisa tertawa kecik melihat tingkah Lia yang menggemaskan.


"Li, aku tak sabar ingin menikahimu?!"ucap Andres sedikit teriak memecah keheningan malam.


Lia berjalan mundur sambil tersenyum malu-malu, kemudian berjalan normal dengan kaki menari-nari kecil kegirangan. Dalam sekejap Andres sudah menyusulnya, dan dalam satu hentakan Andres meraih pinggulnya kemudian membalikan tubuh Lia hingga mereka berdua berdiri dengan saling berhadapan. Andres menunduk menatap mata Lia dengan tatapan kelamnya.


Dengan sekejap Andres mencium bibir Lia, mata Lia terpejam spontan. Bibirnya memagut tanpa ragu, Andres membelai pipi Lia dengan jempolnya dalam belaian seringan bulu yang membuat sekujur tubuh Lia meremang. Bibirnya mengecup bibir Lia lembut, ******* bibir bawah dan atas dengan gairah. Detak-detak kencang seakan memukul jantung Lia saat ini, dengan perlahan mata mereka terbuka satu sama lain untuk saling bertatapan, ketulusan yang terpancar dari mata Andres membuat hati Lia diselimuti rasa bahagia yang tiada terperi.


Mata mereka berdua saling menutup kembali, menikmati setiap pagutan yang terjadi. Tangan Andres bertengger di pinggang Lia sementara tangan Lia bertengger di leher Andres. Tempo ciuman semakin cepat, tarian lidah saling melilit didalam dengan begitu erotis, namun seketika lampu sorot dari salah satu mobil berhasil membuyarkan kemesraan ciuman itu hingga membuat mata mereka berdua merasa sangat silau.


Dalam hitungan detik pintu mobil itu terbuka setelah berhenti tepat dihadapan Lia dan Andres. Tentu hal itu membuat keduanya terkejut tak kepalang,


"Apa yang kalian lakukan?"suara si pemilik mobil terdengar, setelah ia keluar dari kendaraannya.

__ADS_1




__ADS_2