Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Buku Diary Semmy."


__ADS_3

...~Dulu aku memiliki jiwa besar dan berlapang dada......


...Aku selalu sportif menerima kekalahan, dan selalu pasrah jika aku selalu di banding-bandingkan dengan murid yang paling cerdas di sekolah... Ayah ku memang keras tapi aku menyayanginya, semenjak kematian Bunda keluarga kecil kami yang semula tenang berubah berantakan. Ayah sering marah-marah tanpa alasan yang jelas. Hal sekecil apapun akan dibesar-besarkan. Bahkan aku selalu ditungtut untuk lebih giat lagi belajar, aku selalu mengusahakan itu, namun aku kelelahan. Sampai satu titik dimana aku dalam level rendah tak masuk rengking, aku di gampar, aku di maki, aku di tendang dan aku hampir akan mati saat itu. Kenapa aku sangat begitu beruntung? mengapa aku tidak mati saja, untuk menyusul Bunda di surga? Bahkan aku mulai tak tahan ketika aku mulai di banding-bandingkan, kejadian pertama kali dalam kekerasan fisik ini adalah ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Aku merasakan trauma yang luar biasa, sampai akhirnya iblis menguasaiku, menguasai jiwaku, bercampur dengan amarah yang mendidih. Aku terinspirasi dari beberapa komik jepang yang mengambil tema psikopat, aku membaca dan melihat gambar kekerasan yang berakhir kematian yang teragis. Rupanya aku penasaran, dan aku cepat belajar. Saat aku menginjak Sekolah Menengah Atas, rupanya pikiran kalut ini semakin menggebu, aku ingin memperaktekannya. Mencoba membunuh si rengking satu di sekolah, dan untuk pertama kalinya exsperimen itu berhasil. Aku menculik sisiwi, lalu menyekapnya, kemudian meng-eksekusinya dengan begitu sadis. Rupanya sangat menyenangkan dan aku begitu puas setelah melakukannya. Dan entah mengapa semua itu menjadi candu. Aku muak dengan murid genius yang ingin melampauiku, aku benci di banding-bandingkan. Kekerasan fisik, dan kehancuran mentalku dirumah, menjadi satu alasan penyebabnya, sehingga aku senekad ini. Sungguh aku kehilangan akal sehatku yang entah pergi kemana, dan aku tak bisa menghentikannya, kecuali jika aku sudah mati.~...


Tangan Jerremy bergemetar hebat, setelah ia membaca buku diary yang ia temukan dari kolong ranjang di kamar Semmy. Jerremy hapal betul bagaimana karakter tulisan tangan anaknya itu. Setetes air mata jatuh menerpa kertas, sungguh ia menyesal telah melakukan kekerasan pada Semmy saat itu. Ia tak habis pikir bahwa apa yang ia lakukan ternyata berdampak fatal terhadap tumbuh kembang anaknya itu. Jerremy sesegukan tiada henti.


Bruk..


Buku diary itu terjatuh ke ubin serta Jerremy yang terkulai lemas terduduk di lantai. Ia mengacak rambutnya prustasi sembari berteriak dan menjerit-jerit.


Tubuhnya diseret untuk bersandar di sudut dingding tembok dengan pendar lampu remang dari cahaya rembulan yang masuk lewat celah jendela, Jerremy berlarut-larut meratapi penyesalan sekaligus kesedihan yang terjadi.


Entah menghabiskan waktu berapa jam Jerremy menangis sampai matanya membengkak, bahkan hari sudah mulai larut malam namun tangisnya itu sama sekali belum usai. Sampai-sampai pikirannya entah pergi kemana, tatapan matanya kosong dan sesekali ia tertawa cekikikan sendirian, terlihat begitu mengerikan dan sesekali juga ia menangis lagi, setelah mengingat momen berharga kala itu.


Ketika Semmy mendapatkan rengking satu berturut-turut waktu SMP kelas tiga.


Plak!!


"Kenapa tidak dari kelas satu saja kau ini rengking ke satu, selalu saja rengking ke dua atau ketiga. Kenapa baru kelas tiga kau mendapatkan rengking satu? sebagai pemilik yayasan sekolah ternama, Ayah merasa malu, karena anak Ayah tak se-genius anak-anak yang lain. Giat lagi belajar, atau ayah akan menghajarmu! apa kau paham, Sem?!"tegas Jerremy menasehati Semmy setelah menampar pipinya, setelah mereka berdua sampai di rumah, Semmy hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala lemah sambil berurai air mata, kata-kata itu begitu menusuk sampai ulu atinya dan tamparan itu menyisakan denyut nyeri yang tak tertahankan, membuat hati Semmy semakin hancur seketika.

__ADS_1


Lalu, saat SMA Semmy masih saja mendapatkan perlakuan yang sama, sungguh tak ada perubahan sikap dari sang Ayah yang begitu menyiksanya. Apalagi saat ia membanding-bandingkannya dengan murid genius yang lain.


"Kau ini bagaimana sih, Sem. Kenapa kau tak bisa mendapati posisi rengking satu? Ayah benar-benar malu, kau ini kenapa bodoh sekali, sih? lihat Andra teman sekelasmu, di begitu genius di kelas bahkan ia kini di angkat menjadi ketos dan kapten basket di sekolah. Beda denganmu, kau begitu bodoh dan payah!"Maki Jerremy saat itu.


Jerremy menjerit histeris sembari memanggil nama Semmy berulang kali dengan tangisan menyayat hati.


"Semmy... Semmy... maafkan ayah, Sem."sesal Jerremy berteriak keras.


Jerremy lalu tertawa lagi, menunjukan bahwa ia mungkin sudah kehilangan kewarasaannya alias ia sudah gila. Hal itu terlihat dari perubahan ekspresi yang tak menentu, mulai dari tertawa semaunya kemudian menangis dan menjerit, serta tatapan kosong dan melamun dalam menghabiskan waktu cukup lama.


*****


Malam berganti pagi, Lia baru saja menyelesaikan urusannya di dalam toilet. Ia merasa tubuhnya terasa lebih bugar dari pada dua hari yang lalu, yang masih terasa sakit ketika berjalan. Tak terasa berada di rumah sakit ini sudah memasuki hari ke-empat, perubahan yang ia rasakan adalah kedua kakinya yang sempat terkilir ternyata kini dapat berjalan dengan baik. Kini ia tak perlu membutuhkan kursi roda untuk membantu ia bergerak. Baru saja menutup pintu toilet, tiba-tiba sepasang matanya menangkap sosok Bayu yang baru saja datang membuka pintu ruangannya.


"Hai, Li? bagaimana hari mu, apakah menyenangkan?"sambut Bayu se-ceria mungkin, melihat ekspresi Lia yang cenderung datar membuat Bayu menyadari bahwa kalimatnya sepertinya salah. Bayu berdehem."Ehem, magsudku apakah keadaanmu lebih baik?"tanyanya sembari meletakan dua keresek putih berisi cemilan di atas meja nakas, sekaligus meletakan kunci mobil dan satu buah ponsel miliknya disana.


"Ya, aku jauh lebih baik sekarang,"jawab Lia sekenanya seraya berjalan menuju brankar.


Bayu mengangguk seraya tersenyum kecil kearah Lia. Dan begitu keresek putih itu di buka ia merogoh ke dalam dan meraih satu gorengan, lalu memakannya. Sembari mengunyah gorengan, satu tangannya bergerak meraih remot televisi dari dalam laci nakas lalu menekan tombol power.

__ADS_1


"Kasus SMA Bumi Pertiwi telah diberi garis polisi sejak tiga hari yang lalu. Tiga jenazah di temukan secara mengenaskan, bahkan sisiwi yang menjadi korban sudah membusuk. Dan tepat setelah di temukan korban, pihak keluarga langsung membawanya ke rumah duka untuk di ke bumikan, sebelumnya korban di klaim hilang oleh pihak keluarga sejak hari senin. Menurut konvirmasi dari beberapa murid, si korban yang bernama Siti Fatimah atau sering di panggil Sifa dikatakan pindah sekolah. Namun, menurut pihak keluarga itu tidak benar. Sementara pelaku yang bernama Semmy di ketahui adalah anak dari pihak yayasan sekolah SMA Bumi Pertiwi, serta mantan siswi yang bernama Jesllyn di duga bunuh diri sebelum pihak kepolisian datang ketempat."begitu suara pembawa berita membacakan narasi, disertai cuplikan video yang di rekam oleh wartawan untuk mengambil gambar sekolah SMA Bumi Pertiwi serta orang tua murid yang menjadi korban pembunuhan Semmy tengah melakukan demo besar-besaran.


Bayu menatap layar televisi dengan serius, begitu juga Lia yang terfokus pada berita itu setelah ia duduk di brankar. Lia begitu penasaran dengan kelanjutan kasus itu.


"Sedangkan kondisi siswa bernama Andres dan siswi bernama Lia masih dalam perawatan di rumah sakit, akibat beberapa luka yang mereka terima dari pelaku sosok Semmy. Tim kami juga baru saja mendapati info, bahwa pemilik yayasan bernama Pak Jerremy selaku orang tua Semmy mengalami defresi berat dan kini ia mengalami gangguan mental yang begitu parah. Serta beberapa kerabatnya akan membawa Pak Jerremy kedalam rumah sakit jiwa, karena kondisinya yang sudah tak bisa di kendalikan. Diduga Pak Jerremy sering berteriak-teriak, lalu tertawa dan kemudian menangis, bahkan Pak Jerremy melakukan perusakan dirumahnya dan sering kabur-kaburan sampai ke jalan raya."pembawa berita menjelaskan secara rinci membuat Bayu dan Lia saling melirik satu sama lain, ada rasa panik, serta rasa iba bercampur menjadi satu. Bagiamana pun Pak Jerremy tidak salah meskipun Semmy melakukan itu pasti ada sebabnya, namun tentu saja apa yang dilakukan Semmy tak dapat di benarkan.


"Saya berbicara atas nama kerabat dari Pak Jerremy.."begitu kalimat yang di ucapkan oleh pria paruh baya di layar televisi ketika di wawancara setelah keluar dari dalam rumah sakit jiwa di kota Jakarta."Menyatakan bahwa memang benar Pak Jerremy terkena gangguan mental akibat defresi berat yang di alaminya, dan ia diduga terlalu larut dalam lamunan semenjak kasus Semmy itu terungkap."lanjutnya dengan ekspresi setenang mungkin, meskipun dari sorot matanya tak dapat disembunyikan bahwa ada rasa sedih di baliknya.


"Apakah anda selaku kerabat yang mewakili telah mendiskusikan keputusan ini dengan pihak keluarga yang lain?"tanya salah satu wartawan sembari menyodorkan mic.


"Tentu saja kami sudah berunding, dan ini adalah keputusan bersama. Karena jika dibiarkan tentu saja itu berbahaya, mengingat Pak Jerremy sudah banyak merusak beberapa fasilitas dan di khawatirkan mengganggu kenyamanan warga di perumahan kami."jawab pria paruh baya itu.


Kemudian layar televisi menayangkan cuplikan ketika Pak Jerremy di bawa perawat rumah sakit jiwa, dengan sosok Pak Jerremy yang mengenakan pakaian serba putih. Dengan tatapan mata kosong namun bibirnya tak berhenti meracau tak jelas dan sesekali tertawa terbahak-bahak entah apa yang ditertawakan, namun tingkahnya cenderung seperti anak kecil, kadang merajuk ketika perawat mencoba membujuk.


Dalam waktu kasus ini bergulir, waktu hanya di habiskan oleh upaya penyidikan kasus pembunuhan yang cukup menyita perhatian. Karena berita ini cukup menggemparkan, berita sudah menyebar dari berbagai media cetak maupun media elektronik, membuat masyarakat selalu mengikuti perkembangan kasusnya, dan dalam waktu singkat kasus ini sudah terpecahkan, maka dengan penuh tanggung jawab keluarga dari pihak Semmy dan keluarga Jesllyn telah menyetujui vonis pengadilan bahwa dua keluarga itu harus menanggung denda yang fantastis atas kasus ini.



...Note* Thank you untuk semua dukungannya terhadap Author, enjoy reading setiap chapter-nya, ya 😉...

__ADS_1




__ADS_2