
Lia termenung sesaat setelah turun dari sepeda motor, ia merasa bingung dan entah harus melakukan apa, rasanya sangat begitu canggung setelah ia sampai tepat di depan halaman rumah Andres.
Namun, setelah satu sosok lain muncul membuat kesadaran Lia tergugah. Rupanya itu Papi Andres yang membuka pintu dengan sumringah, seperti antusias melihat kehadiran Lia saat ini.
"Hai, Li. kenapa melamun disitu?"panggil Andres yang ternyata sudah lebih dulu berjalan kearah pintu.
"Lia, kemari nak. kita masuk yuk!"sambut papi Andres begitu hangat, Lia mengangguk seraya tersenyum sopan.
Namun, tak bisa di bohongi bahawa sebenarnya ia sedang benar-benar dalam keadaan gugup setengah mati.
Lia berjalan dengan gamang, menghampiri dua sosok itu yang tengah tertawa dalam obrolan ringan yang entah apa.
"Hallo, om. Apa kabar?"sapa Lia setenang mungkin dengan binar mata antusias setelah ia berada di hadapan papi Andres, kemudian Lia pun mencium punggung tangan papi Andres dengan sopan.
"Kabar om baik, bagaimana denganmu?"
"Baik juga, Om."jawab Lia setelah tautan tangannya terlepas.
"Syukurlah."terdengar napas lega dari papi Andres seraya senyuman mengembang."Kalau begitu ayo masuk, Li."ajaknya antusias.
Lia mengangguk seraya tersenyum kecil, dengan patuh Lia mengikuti langkah tepat dibelakangnya sementara Andres berjalan disamping Lia.
Akhirnya mereka bertiga sampai di ruang makan yang luas, membuat Lia takjub dan agak minder. Ternyata keluarga Andra dan Andres sekaya itu.
Andres menarik satu kursi untuk mempersilakan Lia duduk yang menghadap dingding kaca, menampilkan pemandangan halaman belakang yang begitu hijau, dengan rumput jepang dan pohon-pohon berukuran pendek. Dan didepannya juga sudah terpangpang nyata bagaimana meja makan itu di penuhi sajian yang menggugah selera. Pas sekali momennya, di saat ia belum sarapan dari pagi Andres mengajak kerumahnya untuk menyicipi hidangan semewah ini.
Tanpa sadar perutnya mulai keroncongan hingga terdengar bunyi cacing yang seperti memintanya untuk segera mengisi perut, untung saja papi Andres sedang mengambil sesuatu ke area dapur, membuat Lia bernapas lega. Namun, saat ia menoleh rupanya Andres masih berdiri tepat di sampingnya dengan ekspresi terlihat mengulum senyum, yang membuat Lia malu setengah mati. Jadi, Andres mendengar bunyi perutnya yang sedang bernyanyi-nyanyi? tentu saja Lia merasa malu sekali, bahkan pipinya pasti sudah merah semerah tomat busuk.
Lia hanya bisa menyengir kuda, sementara Andres langsung mengusap cepat puncak rambut Lia sambil geleng-geleng kepala menahan tawa.
"Rumah yang cantik."komentar Lia setelah sesaat terdiam, dan Andres menarik satu kursi di depannya tepat di samping Lia.
"Apa ini termasuk rumah impianmu?"tanya Andres duduk menyamping kearah Lia sembari menompang pipinya dengan satu tangannya.
"Tentu saja,"jawab Lia seraya tersenyum menatap sekilas wajah Andres, lalu pandangannya beralih melihat objek yang lain.
"Baiklah, nanti aku kabulkan."celetuk Andres yang membuat mata Lia membola.
"Apa magsudnya?"tanya Lia tak mengerti.
"Nanti kau juga paham, Aish.. kenapa kau polos sekali, sih Li."ledek Andres tergelak.
__ADS_1
Lia berdecih."Aku sudah dewasa jangan anggap aku polos, dasar sok tahu."cibir Lia lalu menjulurkan lidah meledek Andres.
"Wah, aku tak menyangka kau sedewasa itu."godanya membuat Lia mengerenyit.
"Apa sih?"Lia memukul pelan lengan Andres seketika.
"Jadi kau pernah melakukannya?"selidik Andres dengan kedua mata menyipit, mencoba menggoda Lia yang terlihat menggemaskan.
"M-melakukan apa?"tanya Lia yang sudah memasang antisipasi jika Andres mengatakan sesuatu yang diluar pikirannya.
"Make Love."jawab Andres singkat, padat, jelas, membuat sepasang mata Lia melotot.
"Sembarangan."sahut cepat Lia cepat sembari mendengus sebal.
Plak.
Lia memukul pelan lengan atas Andres yang membuat Andres meringis disela tawanya. Lia berdecih sinis, seolah tak menyukai perkataan Andres barusan.
"Dewasa bukan berarti pernah melakukan, dasar payah, otak mesum. Jangan sampai cangkul di gudang rumahku melayang ke wajahmu, Andres. Jangan berpikiran liar, paham?"ancam Lia tak berungguh-sungguh.
"Aku hanya bercanda, Li."kata Andres mengulum senyum melihat ekspresi Lia yang cemberut.
Lia berdecak dongkol."Kenapa pikiranmu liar sekali, sih?"
"Tapi, kalau aku memang belum pernah melakukannya memangnya aku tak boleh membela diri ataupun marah?"Lia memutar bola matanya kesal.
"Ya, boleh sih."sahut Andres santai.
"Atau jangan-jangan kau pernah melakukannya?"balas Lia balik menuduh sembari menatap Andres curiga.
"Apa?"
"Kau pernah 'kan?"
"Jangan menuduh, aku masih perjaka,"bantah Andres cepat.
"Masa sih? melihat wajahmu yang tampan seperti ini kau pasti play boy, dan apalagi kau sekolah di luar negeri dengan gaya hidup yang bebas, jadi mustahil sekali kau belum pernah melakukannya."Lia memutar bola mata malas.
"Sudahlah tidak baik membicarakan hal seperti itu di meja makan, lebih baik bicarakan di kamar saja."kata Andres bergurau santai.
Plak.
Lia memukul pelan lengan Andres lagi, sembari memutar bola mata malas lalu mendengus sebal, hingga rasanya Andres ingin tertawa.
__ADS_1
"Ayo, dimakan Li. kenapa makanannya di diamkan saja, nanti kalau keburu dingin pasti tidak enak."itu suara papi Andres yang datang dari arah dapur, membuat Lia sedikit terkejut lalu ia tersenyum kikuk.
"Iya, om."sahut Lia mengangguk.
Papi Andres duduk berhadapan dengannya, kemudian mengambil piring dan mulai sibuk mengisi piring kosong dengan makanan.
Andres memberi kode dengan mengedikan dagu, membuat Lia mengerti dan mulai mengambil piring dan mengambil hidangan, begitupun dengan Andres. Suasana hening sesaat dan hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.
"Bagaimana rasanya enak?"tanya papi Andres seraya menatap Lia.
"Ya, Om. Raswa nywa ewnak swkali Om. Ini swperti mwasakan restoran bintang enam, restoran bintang lima kwalah Om."jawab Lia dengan mulut yang terisi penuh oleh makanan, membuat Andres hampir tersedak makanan, akibat menahan tawa karena Lia begitu lucu.
"Memangnya restoran bintang enam ada?"sahut Andres meledek.
"Hehe.."Lia hanya nyengir kuda, lalu melanjutkan kembali suapannya.
"Ya, ini memang hidangan special yang di buatkan Bi Asih asisten kami, untuk menyambut kedatanganmu kerumah kami, Li."ucap papi Andres merekahkan senyuman ketika Lia menatapnya.
"Wah, serius om? sebelumnya Lia ucapkan terimakasih atas jamuan makan siang ini, rasanya sangat enak sekali om."kata Lia setelah kunyahan di mulutnya di telan oleh tenggorokan.
"Syukurlah kalau Lia suka."sahut papi Andres disela kunyahannya.
Mereka bertiga duduk di meja makan dengan menikmati hidangan dengan khidmat, terlalu disayangkan jika makanan seenak ini dibiarkan saja. Lia dan papi Andres bercerita tentang berbagai macam hal, dan Lia menanggapinya dengan antusias. Saat Andres memperhatikan mereka berdua, Lia terlihat tidak canggung sama sekali dan tidak ada perasaan malu.
Berbeda seperti sebelumnya yang terlihat begitu gugup, dan bahkan kini Lia cenderung memiliki inisiatif untuk mengajukan pertanyaan lebih dulu. Papi Andres terlihat menyukai Lia, semua itu terlihat dari bagaimana papi Andres menanggapi berbagai percakapan yang terjadi, dan sesekali mereka tertawa bersama.
Dan Andres hanya bisa mengamati mereka berdua dengan perasaan senang, sambil sesekali menanggapi jika papi nya melibatkan Andres dalam obrolan itu.
Perasaan yang hilang dalam jiwa Andres setelah kehilangan Andra dan mendiang mami nya kini berubah rasa lega, rasa kehilangan yang tergantikan dengan sosok Lia. Meskipun, Andres sadar bahwa ia belum terlalu mengenal sosok Lia lebih jauh. tapi, karakter Lia yang ceria yang begitu melekat dalam dirinya, membuat Andres bisa melupakan berbagai kesedihan.
Andres merindukan ini, merindukan kebahagiaan yang sederhana seperti ini. Makan bersama sambil berbincang dengan orang-orang yang ia sayangi. Sudah berapa lama Andres tidak pernah merasakan kehangatan ini lagi, dan sekarang ia kembali merasakanya.
Melihat papi nya begitu senang dengan tawa yang terpangpang saat mengobrol dengan Lia, membuat Andres merasa bahwa kehadiran Lia mengubah segalanya. Meskipun, baru kali kedua papi Andres bertemu lagi dengan Lia tapi, papi Andres terlihat menyambut baik sosok Lia sejak awal, dan langsung nyambung saat di ajak mengobrol.
"Li, mengapa dadaku berdebar secepat ini? apa kau tahu jawabannya?"batin Andres seraya melirik kearah Lia dengan wajah berseri.
Tiba-tiba tanpa direncanakan sebelumnya tangan Andres terulur dari bawah meja makan, meraih satu tangan Lia yang berada di pangkuannya. Kemudian Andres menggenggam erat tangan milik Lia, yang spontan Lia langsung menoleh dengan sorot mata tak percaya dengan apa yang Andres lakukan padanya. Seolah seperti terhipnotis, Andres menatap wajah Lia lamat-lamat seraya mengembangkan senyuman, membuat pipi Lia rasanya terbakar.
"Ekehm..."suara papi Andres yang berdehem membuat Lia dan Andres agak terkejut, lalu mereka berdua terlihat salah tingkah setelah tautan tangan itu terlepas. Oh, ****. Lia tak kuasa menahan rasa malu ketika mendapati ekspresi papi Andres yang menatapnya dan Andres dengan sepasang mata yang menyipit, tapi binar matanya seperti sedang menggoda mereka berdua.
"Kalian pacaran?"tanya papi Andres seketika yang membuat kedua mata Lia membola.
__ADS_1