Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)

Handsome Ghost (Sedang Di Revisi)
"Fakta terungkap."


__ADS_3

SMA Bumi Pertiwi sudah di pasang garis polisi, setelah ditemukan barang bukti dari ponsel milik Andres yang diserahkan oleh Bayu pada pihak kepolisian untuk membantu penyidikan. Sebanyak 6 personil polisi berlalu-lalang ditempat kejadian perkara. Lokasi gudang menjadi tujuan utama, sementara diluar gerbang sekolah terdapat orang tua murid sedang berdemo atas kasus kematian beberapa murid yang meninggal di bunuh oleh Semmy. Mereka menentang sekolah ini kembali beroprasi dan meminta pihak yayasan untuk menutup sekolah yang cukup luas dan terkenal ini.


"Berikan keadilan untuk kami!"seru orang tua murid lantang dengan satu tangan memangpangkan kertas 'Tutup Bumi Pertiwi' dengan satu tangan menegepal kuat mengangkat keatas.


"Ya, kami menolak keras sekolah ini beroprasi. lebih baik sekolah ini di tutup saja!!"


"Ya, benar itu. lebih baik di tutup!!"seru yang lainnya dengan emosi yang menggebu.


Beberapa media meliput kasus ini dan menjadi tranding topik di sosial media. Karena betapa menggemparkannya kasus ini, mengingat selama dekade terakhir belum pernah masyarakat di hebohkan dengan kasus semacam ini.


Pihak yayasan Bumi Pertiwi akhirnya bisa di ajak kopratif dengan menunjukan CCTV di layar monitor komputer kantor, yang memperlihatkan ruangan gudang. Biasanya Semmy selalu melakukan pembersihan terhadap CCTV itu namun karena Semmy sudah tak bernyawa, maka tak ada kesempatan untuknya menghapus jejak yang terekam.


Betapa syoknya Jerremy mendapati sosok Semmy masuk kedalam gudang dengan membawa linggis dengan wajah mencurigakan, menekan tombol tersembunyi dibalik dingding kemudian ia masuk ke suatu tempat. Sungguh Jerremy tak habis pikir mengapa Semmy melakukan tindakan diluar norma yang berlaku. Padahal lokasi tersembunyi itu adalah bekas ruangan perpustakan yang sudah tak terpakai dan Jerremy memilih untuk mengosongkan ruangan tersebut. Namun, entah bagaimana Semmy mengetahui ruangan itu. Padahal, ruangan itu akan dialih fungsikan oleh Jerremy dan masih dalam tahap menimbang-nimbang karena waktu untuk mengurusi ruangan itu belum sempat terpikirkan, maka ruangan itu di biarkan terbengkalai.


"Mengapa ada ruangan tersembunyi di balik gudang, Pak?"tanya salah satu petugas polisi, sementara Jerremy tak kuasa menahan tangisnya mengingat Semmy anak satu-satunya adalah dalang dibalik kasus mengerikan ini.


"Sebenarnya itu bekas perpustakaan sebelum gedung sekolah ini kembali di renovasi, Pak. Sebelumnya saya sempat ingin mengalih fungsikan bekas perpustakaan itu, namun niatan itu belum terlaksana maka saya membiarkan tempat itu begitu saja. Dan saya sama sekali tak tahu menahu bahwa tempat itu digunakan anak saya untuk tindakan kriminal."suara Jerremy terdengar bergetar disela isakannya, sungguh dadanya merasa begitu sesak atas fakta yang terjadi.


"Baik, untuk lebih jelasnya mungkin lebih baik nanti kita selesaikan di kantor polisi saja ya, Pak. Guna untuk penyelidikan lebih lanjut."ucap salah satu personil polisi itu, sementara Jerremy hanya bisa pasrah dengan menganggukan kepala lemah.


Sementara di dalam gudang, beberapa personil polisi sedang meng-evakuasi korban dan para pelaku. Sosok Sifa ditemukan dengan kondisi mengenaskan dengan kepala yang masih menggantung diatas atap dengan rantai menjuntai serta belatung yang berjatuhan karena mulai menggerogoti tubuhnya, dan leher yang mulai terputus akibat pembusukan karena jenzah diduga teridentivikasi meninggal sejak seminggu yang lalu, sehingga bau busuk pun tercium sangat begitu menyengat.


Dan terduga pelaku Semmy ditemukan terkapar dengan bersimbah darah di lantai, dengan peluru yang menembus kepalanya. kematiannya diperkirakan waktu dini hari.


Serta pelaku kedua sosok perempuan yang bernama Jesllyn ditemukan mati bunuh diri dengan menancapkan pisau di perutnya sehingga perutnya robek terkoyak dan bersimbah darah, serta mata yang melotot keatas, dan wajah yang penuh dengan luka berat, dan diperkirakan kematiannya baru terjadi beberapa jam sebelum pihak kepolisian datang ketempat. Kemudian satu persatu mayat itu dimasukan kedalam kantong jenazah.


*****


Di bawah pohon akasia terlihat sosok Andra terduduk di bawah sana--memunggunginya. Langkah Lia terhenti, berusaha tersenyum kecil namun yang membuat hatinya menclos, ia mendengar isak tangis. Apakah Andra menangis? maka, Lia meneruskan langkahnya dengan setenang mungkin, lalu terduduk disebelahnya.


"Andra, ada apa?"Lia membuka percakapan dengan mencondongkan kepalanya kearah Andra, Andra melirik dan berusaha tersenyum, senyum sendu yang terpatri.


"Li,"panggilnya serak.


"Iya, aku disini. ada apa?"


Lia menangkup pipi Andra, dan membiarkan tangannya ikut basah oleh air mata miliknya. Rasanya sesak melihat Andra menangis seperti ini, tapi tanpa suara. Lia mengusap pipinya yang basah, tapi kali ini Andra memilih menangis dengan suara terisak.


"Aku payah sekali, ya."Andra tertawa getir.


Suaranya yang bergetar membuat Lia bergerak secara implusif, ia langsung berhambur memeluk Andra dengan erat dan membiarkan tubuh besarnya merengkuh tubuh mungilnya.


"Sebenarnya ada apa?"tanya Lia mulai mendapatkan firasat yang tak enak.


"Aku mencintaimu, Li."sambungnya cepat bahkan rengkuhanya lebih kuat dari pelukan sebelum-sebelumnya yang sempat ia rasakan.


Mendengar Andra terisak membuat hati Lia merasa sangat begitu teriris, setiap sentuhan tangannya membelai rambut panjang milik Lia yang terurai membuat dadanya semakin terasa sesak.


Andra melepaskan pelukan itu, dan mencium kening Lia dengan sangat lembut. Sepasang mata milik Lia sama sekali tak berpaling dari wajahnya yang suram, mencoba menelisik perasaan Andra. Sebenarnya ada apa?


"Hai, Li? Kau tahu aku disini merasa sangat tenang, dan aku bahagia mengenalmu. Maybe today is the last day we meet. Tapi, asal kau tahu aku selalu berada di hatimu bersama matahari terbit, dan bersama senja yang terhampar. Meski ragaku sudah tak lagi ada, aku yakin kau pun pasti tahu, kalau aku begitu mencintaimu Full night, all night and every day. Aku pergi, jaga dirimu baik-baik!"Andra berucap dengan sepasang mata yang kelam, lalu melebarkan sebentuk senyuman manis atau lebih tepatnya senyuman getir.


Lia menggeleng samar, dan tanpa sadar air mata itu berlinang."Andra jangan bilang kalau kau--"

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan ucapannya seketika Andra langsung menghentikan bibir Lia dengan jari telunjuknya.


Andra tersenyum sendu."Tadi aku sudah bilang aku selalu berada di hatimu, bersama matahari terbit dan bersama senja yang terhampar. maka, kau jangan merasa resah,"ucapnya setenang mungkin setelah jari telunjuknya enyah dari bibir tipis Lia.


"Aku tak mengerti kau akan meninggalkan aku, Andra! kenapa kau tega melakukan ini padaku? sementara aku harus merasakan kepedihan ini dan kau sama sekali tak memedulikan aku, aku tak percaya kau melakukan ini padaku,"geleng Lia berucap sarkas tak terima.


"It's about time, Li. Aku tak bisa mengelak dengan keadaan yang sebenarnya bahwa aku sudah mati, Li!"sahut Andra seketika.


Plak!


Secepat itu pula Lia langsung menampar pipi Andra dengan kasar, sorot matanya tajam dan merah tanda ketidak relaan bercampur dengan kemarahan yang bersarang dalam benaknya, air matanya semakin berlinang terlalu cepat. bibirnya ikut gemetar setara dengan jiwanya yang terguncang mendapati kenyataan yang begitu pahit bahwa kehilangan Andra rupanya sudah ada di depan mata.


Andra mengusap cepat wajahnya, menghela napas kasar dan menatap mata Lia dengan rasa penuh bersalah.



"Aku tak ingin kehilangan dirimu, bahkan aku tak pernah berpikir bahwa kita akan berpisah secepat ini. Aku begitu mencintaimu, apa kau tak mengerti itu? A-aku tak bisa, aku bahkan tak siap."Lia mengeluarkan seluruh lukanya dengan menangis terisak-isak namun Andra hanya bisa diam, bahkan mungkin ia sudah kehilangan kata-kata untuk meluluhkan hati Lia yang teramat tak rela kehilangan dirinya.


Sunyi, dan hanya terdengar isak tangis. Lalu sedetik itu, Lia menggenggam tangan Andra dengan sangat kuat.


"Please, bilang bahwa kau takan pergi dariku. jika kau akan pergi meninggalkan aku, sungguh aku sangat menyesal mengungkap kasus ini. aku-aku tak tahu lagi bagaimana caranya agar bisa menghalangimu untuk tidak pergi dariku."tutur Lia sembari sesegukan.


Dengan cepat Andra memeluk Lia, berusaha menenangkan Lia yang terus-terusan menangis. Lia hanya bisa memukul dada Andra dengan pelan secara berulang-ulang sembari menangis menyayat hati.


"Percayalah, ini jalan yang terbaik. kau harus menerima itu. Li, aku tak bisa melakukan apapun lagi, aku sudah merasa sangat tenang sekarang dan aku berterimakasih padamu Li. terimakasih untuk segala hal, terimaksih sudah mencintaiku, menolongku dan untuk segalanya. Li, berjanjilah padaku untuk kuat, relakan aku. maka kau akan bahagia."Andra membelai rambut Lia dengan sentuhan penuh kasih sayang, dan tanpa sadar setitik air mata itu kembali berlinang lagi.


Lia melepaskan pelukan, menangkup kedua pipi Andra dan menatapnya dalam dengan mata yang mulai membengkak.


"Jika kau mencintaiku, aku mohon relakan aku, Li."pinta Andra penuh penekanan.


Lia menggeleng samar, menundukan kepala dengan isakan yang masih tersisa. Seketika Andra menaikan dagu Lia secara perlahan lalu mereka saling bertatapan.


Andra mencium bibir Lia sekilas dan dengan lembut, secepat datangnya ciuman itu semuanya berakhir.


"Maafkan aku, Li."pungkasnya sebelum pada akhirnya Andra menghilang dengan seberkas cahaya, membuat Lia menjerit tak percaya sembari berulang kali memanggil nama Andra.


"ANDRA....ANDRA JANGAN TINGGALKAN AKU!"teriak Lia lantang sembari ia menengok ke kanan dan ke kiri, namun tak kunjung ditemui sosok Andra yang menghilang entah kemana.


Lia menangis tiada henti kemudian bangkit berdiri menatap langit berwarna biru cerah, meratapi bagaimana perasaannya yang telah kehilangan sosok Andra yang ia cintai. Lia terkulai lemas dan terus-terusan memanggil Andra, namun percuma Andra takan kembali.


...-**TAMAT**-...



...TAPI BOONG πŸ˜‚**...




...**Ditengah senja terhampar...


...Ku genggam cinta yang luar biasa...

__ADS_1


...Angin pun pasti mendengar janji kita...


...Tuk slalu bersama...


...Mengapa kini kau pergi...


...Meninggalkan aku...


...Hancurlah aku...


...Separuh hatiku pergi...


...Meninggalkan cinta ini...


...Ini terlalu perih...


...Ingatkah kita disini...


...Berjanji menggenggam hati...


...Here time magic hour...


...Ragamu tak lagi ada...


...Tapi tidak dengan cerita kita...


...Atas nama janji cinta kita kulanjutkan...


...Walau kita terpisah...


...Mengapa kini kau pergi...


...Meninggalkan aku...


...Hancurlah aku...


...Separuh hatiku pergi...


...Meninggalkan cinta ini...


...Ini terlalu perih...


...Ingatkah kita disini...


...Berjanji menggenggam hati...


...Here time magic hour...


...Here time magic hour...


...-Rendy Matari_Magic Hour 🎢🎧**...


Note* Maaf banget kalau cerita ini banyak kesalahan, maklum masih penulis pemula. mohon dukungannya ya dengan cara like. thank you.

__ADS_1


__ADS_2