Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Menahan diri


__ADS_3

Arjuna akhirnya memutuskan keluar dari dalam kamar mandi setelah cukup lama di dalamnya.


Pria itu memang tidak langsung mandi tapi dengan sengaja berendam terlebih dulu untuk menenangkan pikirannya.


Hal pertama yang dia lihat ketika keluar dari dalam kamar mandi adalah Anyelir yang sudah tertidur dengan pulas. Pria itupun melangkah mendekati Anyelir dan berjongkok tepat di depan wajah Anyelir.


Pria itu menatap wajah Anyelir dengan cukup lama. "Maafkan aku yang bila melihatmu masih merasa kalau kamu itu Shakila. Maafkan aku sudah membawamu dalam sebuah masalah yang pasti menyakitkan bagimu. Aku benar-benar tidak menyadari kalau aku sudah bersikap egois," ucap Arjuna yang tentu saja tidak bisa didengar oleh Anyelir.


Setelah puas menatap wajah Anyelir, Arjuna memutuskan untuk naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Anyelir.


Baru saja Arjuna hendak memejamkan matanya, tiba-tiba Anyelir berbalik menghadap ke arahnya. Guling yang tadi dia peluk tanpa sengaja jatuh ke lantai ketika dia berbalik tadi.


Anyelir terlihat meraba-raba untuk mencari guling. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh tubuh Arjuna. Merasa kalau dirinya sudah menemukan apa yang dia cari, Wanita itu langsung memeluk Arjuna yang dia kira guling dengan sangat erat. Bahkan kaki wanita itu menjepit kaki Arjuna.


Arjuna, berusaha menahan napasnya dan dengan perlahan melepaskan tangan dan kaki Anyelir dari tubuhnya. Namun, apa yang dilakukan oleh Arjuna sama sekali tidak berhasil karena Anyelir justru semakin mempererat pelukannya.


Jantung Arjuna seketika berdetak lebih cepat dari detak jantung normal. Apalagi ketika ada dua gundukan yang lembut menempel ke tubuhnya. Pandangan Arjuna, dengan perlahan mulai turun ke bawah. Alangkah kagetnya pria itu begitu melihat kancing bagian atas piyama Anyelir terbuka, hingga memperlihatkan belahan yang memisahkan gundukan yang satu dengan yang satu lagi. Pemandangan itu seketika membuat sesuatu di bawah sana, menggeliat mulai terbangun.


"Sial! kenapa cobaannya seberat ini sih? Tahan Arjuna, tahan! jangan ingkari janjimu!" gumam Arjuna sembari berusaha menelan ludahnya.


Arjuna mencoba mengalihkan tatapannya dari dua benda itu, namun matanya kembali menatap pemandangan yang juga cukup menghipnotisnya, yaitu bibir Anyelir yang merah, dan sedikit terbuka.


"Ya Tuhan, kuatkan si Imin. Buat dia sanggup untuk bertahan tidak berusaha mencari sarangnya. Sebab itu belum pasti jadi sarangnya ya Tuhan!" doa Arjuna terdengar sangat absurd.


"Bagaimana caranya aku mengancingkan kancing piyamanya? kalau aku mengancingkannya, takutnya dia bangun dan menuduhku mesum. Tapi, kalau tidak aku kancingkan, selain membuat aku sesak, besok pagi dia terbangun, dia pasti juga akan menuduhku telah membuka kancing piyamanya," batin Arjuna merasa dilema.


"Sebaiknya aku kancingkan saja. Aku melakukannya dengan perlahan. Sepertinya dia tidur terlalu nyenyak," bisik Arjuna pada dirinya sendiri.


Sembari berusaha menahan napasnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, Arjuna mulai mengarahkan tangannya ke arah kancing piyama Anyelir dengan perlahan dan sangat hati-hati. Namun, karena pandangan pria itu ke arah lain, tangan Arjuna justru menyentuh sebuah benda bulat yang berada di puncak gundukan itu, yang kebetulan juga sedang mengeras.


"Mati aku! benda apa itu tadi?" batin Arjuna dengan peluh yang sudah menetes di pelipisnya.


Arjuna mengembuskan napasnya perlahan-lahan, mencoba meredam hasratnya yang mulai timbul.


Arjuna mencoba kembali untuk mengancingkan piyama Anyelir, dan kali ini dia memberanikan diri untuk melihat. Namun, ketika tangannya baru saja menyentuh kancing itu, kaki Anyelir tiba-tiba terayun menendang Arjuna, hingga pria itu terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Sial! kenapa kamu menendangku?" Arjuna bangkit berdiri sembari memegang pinggangnya yang sakit.


"Heh? dia masih tidur ternyata," gumam Arjuna dengan alis bertaut.


Posisi tidur Anyelir kini terlihat lebih menantang. Wanita itu tidur telentang dengan kaki yang merenggang lebar. Tanpa sengaja Arjuna menyusuri tubuh Anyelir dari atas sampai ke bawah. Mata pria itu sontak membesar ketika melihat ternyata celana piyama Anyelir robek tepat di bagian harta berharga milik semua wanita, sehingga Arjuna bisa melihat jelas warna benda segitiga yang dipakai oleh Anyelir.


"Cobaan apa ini Tuhan? Semiskin apa dia sampai piyamanya robek begitu?" Arjuna menelan ludahnya dengan kasar. Si Imin yang tadinya sudah berhasil dia tidurkan kini terlihat mulai bangun kembali.


Arjuna akhirnya berjalan mengitari ranjang dan meraih guling yang terjatuh ke lantai tadi. Dengan hati-hati pria itu meletakkan guling itu di samping Anyelir dan membenarkan posisi tidur wanita itu, yang sama sekali tidak terganggu.


"Dia ini tidur apa mati sih?" batin Arjuna lagi.


"Sepertinya aku harus menidurkan si Imin ke kamar mandi," Arjuna menggaruk-garuk kepalanya, yang tidak gatal sama sekali sembari berjalan ke kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arjuna,keluar dari kamar mandi setelah selesai menuntaskan hasratnya di kamar mandi. Pria itu, melihat posisi tidur Anyelir yang kini sudah berubah. Posisinya kepalanya sudah tidak mengarah ke atas lagi, melainkan ke samping dan kakinya ke arah tempat di mana seharusnya ditempati oleh Arjuna. Intinya, ranjang itu kini di bawah kekuasaan wanita itu.


"Astaga, wanita ini! kenapa dia tidur tidak bisa tenang sih? mau tidur di mana aku? apa aku harus tidur sofa?" Arjuna menatap ke arah sofa yang panjangnya pasti tidak bisa menampung tubuhnya yang tinggi. Pastinya kalau dia tidur di sana, kakinya pasti menggantung.


"Wah, aku bisa terbang!" gumam Anyelir yang kembali menutup matanya.


"Heh?" Arjuna benar-benar tidak habis pikir dengan wanita yang dinikahinya itu.


Arjuna mulai membaringkan tubuh Anyelir di atas ranjang, lagi-lagi mata Arjuna terarah ke arah dada Anyelir yang terbuka.


"Please deh! masa aku harus ke kamar mandi lagi? kapan aku tidurnya?" rutuk Arjuna dengan wajah yang kusut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari kini mulai mengintip dari ufuk timur, dan masih terlihat malu-malu. Anyelir pun membuka matanya perlahan-lahan. Alangkah kagetnya dia begitu melihat posisinya yang memeluk Arjuna.


"Aaaa!" pekik Anyelir sembari duduk.


"Aaaa!" wanita itu kembali kaget begitu melihat kancing atas piyamanya terbuka.

__ADS_1


"Arjunaaaa! apa yang kamu lakukan padaku tadi malam?" Anyelir memukul-mukul tubuh Arjuna.


"Ada apa sih?" ucap Arjuna dengan nada lemah.


"Kamu tadi mengambil kesempatan saat aku tidur ya?"


"Kesempatan apa?" ucap Arjuna dengan mata tertutup.


"Kamu membuka kancing piyamaku kan?" tukas Anyelir.


"Tidak sama sekali. Kamu perhatikan dengan baik, piyamamu benar-benar sudah tidak layak pakai. Lobang tempat kancingnya sudah kebesaran. Kamu harus beli yang baru!" Arjuna masih setia menutup matanya. Wajah pria itu benar-benar terlihat pucat.


Wajah Anyelir sontak memerah, benar-benar malu. Namun rasa malu yang dia rasakan hanya bertahan untuk sementara. Wanita itu tiba-tiba fokus menatap wajah Arjuna yang pucat. Dia pun perlahan-lahan mengulurkan tangannya meraba kening Arjuna.


"Kok panas?" Bima Anyelir.


"Jun, kamu demam? kenapa bisa? bukannya tadi malam kamu masih baik-baik saja?". Anyelir mengrenyitkan keningnya.


"Kamu tanya dirimu sendiri!" sahut Arjuna ketus.


"Kok jadi nanya aku?" Anyelir kembali mengrenyitkan keningnya.


"Masih bertanya lagi. Semalaman aku bolak-balik ke kamar mandi. Itu semua gara-gara kamu!" ucap Arjuna yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Kamu jangan ganggu aku! aku masih mau tidur!" pungkas Arjuna sembari mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir Anyelir.


Anyelir turun dari ranjang dengan ekspresi yang masih kebingungan. Namun, dia kembali naik ke atas ranjang dan kembali mengguncang-guncang tubuh Arjuna.


"Jun ... Jun, bangun dulu! aku mau tanya sesuatu!"


"Hmm!" Arjuna tidak membuka matanya sama sekali.


"Jun, kalau orang kaya seperti kalian, sarapan apa biasanya? apa cukup hanya roti? atau sama sepertiku yang harus makan nasi? kalau iya lauknya dimasak seperti apa?" tanya Anyelir yang kali ini sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Arjuna.


Tbc

__ADS_1


"


__ADS_2