Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Bertemu mamanya Arjuna


__ADS_3

Arjuna berjalan dengan langkah yang panjang meninggalkan Anyelir di belakangnya. Anyelir. mengedarkan pandangannya, ke segala penjuru, kagum dengan rumah mewah Arjuna.


Ya, Arjuna kini membawa Anyelir untuk dikenalkan dengan mamanya yang sangat ingin mengenal sosok Anyelir ketika dirinya mengatakan niatnya untuk segera menikah.


Dari balik sebuah pintu, tampak sepasang mata mengintip kedatangan Anyelir. Siapa lagi pemilik mata itu kalau bukan Haris. Entah apa yang dikatakan oleh Arjuna tadi malam, hingga membuat adiknya itu setuju, tapi dia mengatakan tidak akan muncul di acara pernikahan dan akan tinggal di apartemen untuk waktu yang tidak terbatas.


"Bisa tidak kamu percepat jalannya? jangan hanya bicara saja yang kamu bisa cepat!" tegur Arjuna sembari menoleh ke belakang.


"Hei, jangan salahkan aku! tapi salahkan kakimu yang panjang!" Anyelir mengerucutkan bibirnya, kesal.


"Jangan banyak protes! cepat, mama sudah menunggu kita. Ingat jangan banyak omong, kamu hanya jawab seperlunya saja!" Arjuna kembali mengingatkan.


"Iya, iya! bawel ah!" sungut Anyelir sembari berlari kecil menghampiri Arjuna.


"Eh, Tuan Juna, rumah kamu ini luas sekali sih. Beda dengan rumahku, yang dari dapur ke ruang tengah saja, tidak sampai 15 detik. Lah, ini mau ke ruangan mama kamu saja, kita sudah ada 10 menit berjalan belum sampai juga," ucap Anyelir, antara memuji dan mengeluh bercampur menjadi satu.


Arjuna memilih untuk tidak menjawab, dan tetap melanjutkan langkahnya.


"Tuan Arjuna, kenapa kamu diam saja? kamu ...." Anyelir berhenti bicara karena tiba-tiba Arjuna berbalik dan menatap tajam ke arahnya.


Anyelir sontak bergidik melihat tatapan itu. Gadis itu sontak mengerti kalau tatapan pria di depannya itu, mengisyaratkan agar dirinya berhenti bicara.


"Iya, iya aku diam! ayo, jalan lagi!" pungkas gadis itu dengan raut wajah masamnya.


Tidak beberapa lama lagi, Arjuna berhenti tepat di depan sebuah pintu yang ukirannya sangat indah dan elegan. Anyelir yakin kalau ruangan itu adalah ruangan di mana dia akan bertemu dengan mamanya Arjuna. Perasaan Anyelir sontak merasa tidak tenang. Bayangan tentang seorang wanita setengah baya yang antagonis, seperti ibu-ibu orang kaya di drama-drama yang dia tonton langsung berkelebat di dalam pikirannya.


"Bodo amat. Aku justru berharap mamanya tidak suka padaku, dan menolak aku jadi menantunya," bisik Anyelir pada dirinya sendiri.


Arjuna mengetuk pintu dengan perlahan dan menunggu respon dari sang mama.


"Masuk saja!" terdengar suara seorang wanita dari dalam sana.


Arjuna kemudian membuka pintu secara perlahan dan berbalik menatap Anyelir.


"Ayo masuk!" titahnya memberikan jalan pada Anyelir.


Dengan detak jantung yang tidak bisa diajak kompromi, Anyelir masuk perlahan ke dalam.


"Ingat, jangan banyak bicara!" bisik Arjuna, mengingatkan kembali.


"Ma, ini Anyelir. Gadis yang aku katakan tadi malam," ucap Arjuna begitu mereka sudah masuk dengan sempurna ke dalam ruangan.

__ADS_1


Tampak wanita yang berpenampilan elegan, berdiri di sebuah jendela kaca,memunggungi Arjuna dan Anyelir.


Wanita itu kemudian berbalik dan langsung menatap Anyelir.


"Shakila!" seru wanita setengah baya itu dengan mata yang membesar melihat Anyelir yang dia kira Shakila.


"Shakila? aku Anyelir, Tante bukan Shakila. Aku bahkan tidak mengenal Shakila," sahut Anyelir dengan alis yang bertaut, bingung.


Wanita itu menatap Anyelir dengan intens, lalu menatap Arjuna dengan tatapan tajam.


"Sial! aku lupa bilang kalau Anyelir mirip dengan Shakila," batin Arjuna yang mengerti arti tatapan sang mama.


Arjuna kemudian mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri sang mama.


"Ma, dia itu benar-benar bukan Shakila. Dia itu Anyelir. Hanya saja, mereka memiliki kemiripan, tapi coba mama perhatikan dengan baik, mereka itu berbeda," bisik Arjuna, agar tidak bisa didengar oleh Anyelir.


"Silakan duduk!" titah mamanya Arjuna, tanpa senyum sedikitpun di bibirnya.


Anyelir, menunggu mamanya Arjuna duduk lebih dulu, baru dia menyusul untuk duduk.


"Kata anakku, kalian akan menikah, apa benar seperti itu?" tanya wanita itu dengan nada dingin dan tidak memperkenalkan dirinya lebih dulu.


"Kenapa kamu terlihat seperti ragu? apa alasanmu mau menikah dengan anakku? apa karena harta?" tukas wanita itu, to the point.


Anyelir tidak langsung menjawab. Dia mengalihkan tatapannya ke arah Arjuna, seakan ingin meminta pertolongan. Namun, dia melihat Arjuna tidak berniat untuk membantunya.


"Tan, kalau kita mengatakan, tidak butuh uang itu sangat munafik. Aku tahu, kalau hidup ini tidak melulu masalah uang, tapi kalau hidup tanpa uang juga, sangat tidak bisa. Jadi, kalau aku menyangkal tuduhan Tante, aku rasa Tante tidak akan percaya, dan menganggap aku hanya berpura-pura tidak melihat harta di hadapan Tante.Karena alibi seperti itu, aku yakin sudah pasti sering Tante dengar. Jadi, aku hanya mau mengakui kalau aku tidak munafik, ingin merubah kehidupanku, dengan menikah dengan anak Tante. Kalaupun Tante menganggap aku matrealistik, itu terserah Tante, tapi yang jelas aku tidak matre tapi realistis. Aku pecinta uang, makanya bekerja demi mendapatkan uang, " tutur. Anyelir panjang lebar tanpa jeda.


Mata Arjuna membesar, mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Anyelir. Dia tidak menyangka kalau gadis itu bisa berbicara seperti itu. "Sial! kenapa begitu sih jawabannya? harusnya dia menyangkal dan berusaha menyakinkan mama kalau dia mau menikah denganku bukan karena harta. Tapi, kenapa kesannya dia menggiring opini kalau dia menikah denganku karena harta? benar-benar, buat kesal wanita ini!" Arjuna menggerutu di dalam hati, merutuki Anyelir.


Mamanya Arjuna, diam untuk sepersekian detik dengan ekspresi wajah datar dan sukar untuk dibaca. Detik berikutnya terdengar helaan napas yang cukup panjang dan mulut Mamanya Arjuna.


"Baiklah, kamu bisa keluar dulu sekarang! aku mau bicara dulu dengan anakku!" titah wanita setengah baya itu dengan dingin.


"Baik, Tante!" Anyelir, berdiri dari tempat dia duduk dan membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum melangkah ke luar.


"Kamu jangan pergi ke mana-mana! kamu tunggu aku keluar!" ucap Arjuna sebelum Anyelir benar-benar hilang di balik pintu.


"Dia sudah pergi kan?" sikap mamanya Arjuna sontak berubah seketika. Wanita setengah baya yang tadinya dingin terlihat ceria, hingga membuat Arjuna mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Mama sangat menyukainya. Dari jawaban dia tadi, mama tahu kalau dia itu tidak munafik seperti kebanyakan gadis-gadis yang mencoba menarik perhatianmu. Kamu harus secepatnya menikahinya, mama yakin rumah ini akan ramai dengan adanya dia," ucap mamanya Arjuna dengan nada yang sangat riang, hingga membuat Arjuna semakin kebingungan.

__ADS_1


"Mama serius menyukainya?" tanya Arjuna memastikan.


"Tentu saja! apa mama terlihat seperti bercanda? tidak kan? tapi ingat, jangan kasih tahu dia dulu kalau mama menyukainya. Mama harus jaga image di depannya dulu dan harus terlihat elegan," ucap mamanya, Arjuna sembari berlalu pergi.


Belum sampai di pintu, wanita setengah baya itu, berhenti kembali dan menoleh ke arah Arjuna. "Ingat, secepatnya kalian menikah! Wah, akhirnya aku akan punya menantu!" mamanya Arjuna terlihat ceria saat membuka pintu, hingga membuat Arjuna terpaku heran dengan mulut yang sedikit terbuka.


Sikap mamanya Arjuna sontak berubah dingin kembali ketika keluar dari dalam ruangan dan melihat Anyelir yang berdiri di luar ruangan.


"Kalian, akan segera menikah secepatnya. Jadi persiapkan dirimu!"


Mulut Anyelir sontak terbuka, benar-benar kaget dengan ucapan mamanya Arjuna. Dia mengira kalau mamanya Arjuna pasti akan menolaknya jadi menantu, tapi ternyata pemikirannya salah. Benar-benar di luar dugaan.


"Ja-jadi, aku tetap akan menikah dengan anak Tante?" tanya Anyelir memastikan.


"Iya. Hari ini kamu ikut Tante ke salon, kamu harus melakukan perawatan tubuh, agar kamu tambah cantik," ucap Mamanya Arjuna.


"Emm, bisa tidak ke salonnya besok saja Tan? aku harus ke tempat kerja soalnya. Karena hari ini hari terakhir di bulan ini, dan aku kan terima gaji. Jadi, aku mau mengambil gaji dulu,makanya tidak bisa ikut ke salon," Anyelir mencoba menolak secara halus.


"Gaji? emangnya berapa gaji yang akan kamu dapatkan?" mamanya Arjuna mengrenyitkan keningnya.


"Tiga juta, Tan. Kan lumayan tuh!"


"Tiga juta lumayan kamu bilang?" mamanya Arjuna berdecak menggelengkan kepalanya.


" Mungkin bagi orang kaya seperti Tante uang itu tidak seberapa, tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya aku dan mamaku masih bisa makan,"


"Baiklah! kamu ikut Tante saja ke salon. Nanti Tante akan ganti gaji kamu itu sepuluh kali lipat,"


"Tidak perlu Tan. Aku memang penyuka uang, tapi aku juga sangat menghargai tenaga dan usahaku. Gaji tiga juta itu mungkin tidak lah banyak, tapi itu adalah hasil yang aku usahakan sendiri, jadi aku harus menghargainya. Jangan karena ada yang lebih besar, aku menjadi lupa pada hal yang kecil. Jadi, aku minta maaf, aku lebih baik memilih uang tiga juta itu dibandingkan tawaran dari Tante."


Mamanya Arjuna tercenung, mendengar ucapan gadis yang sudah menarik hatinya itu. Baginya selain tidak munafik, gadis itu juga sangat berprinsip.


"Baiklah! kalau begitu kita ke salonnya besok saja. Kamu lakukan apa yang akan kamu lakukan sekarang. Tapi, besok kamu tidak ada alasan lagi untuk menolak ke salon," pungkas mamanya Arjuna sembari berlalu pergi.


"Jun, nama mama kamu siapa ya? masa nanti kalau aku mau mencari mama kamu, aku tidak tahu namanya?" tanya Anyelir dengan suara yang dia kira sedang berbisik.


"Nama Tante, Dewi. Kamu panggil saja Tante Dewi untuk sekarang," bukan Arjuna yang menjawab melainkan namanya Arjuna yang ternyata masih mendengar pertanyaan Anyelir.


"Kok Tante bisa dengar? bukannya tadi aku berbisik ya?" gumam Anyelir yang membuat Dewi sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak tertawa. Sikap elegan dan dingin yang ditunjukkan oleh mamanya Arjuna tadi menguap entah kemana, melihat mimik wajah Anyelir yang menurutnya sangat lucu. Kini gantian Anyelir yang bingung melihat perubahan sikap mamanya Arjuna. Mata gadis itu sampai tidak berkedip dan mulutnya sedikit terbuka.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2