
"Bagaimana keadaan istriku, Dok? dia dan anakku baik-baik saja kan?" cecar Arjuna dengan raut wajah panik, mengingat usia kandungan Anyelir yang masih menginjak 7 bulan.
Dokter yang menangani Anyelir menyelipkan seulas senyuman, sembari membenarkan stetoskop di lehernya.
"Tuan Arjuna, tenang saja! Ibu Anyelir tidak apa-apa! karena benturan tidak terlalu keras. Ibu Anyelir hanya sedikit mengalami shock dan sekarang sudah bisa diatasi," terang dokter itu, dengan senyum yang sama sekali tidak memudar.
Arjuna mengembuskan napas lega. Beban yang dari tadi menghimpitnya, kini pergi entah kemana.
"Terima kasih, Dok! jadi apa aku boleh menemuinya ke dalam?"
Dokter itu menganggukkan kepalanya,dan Arjuna langsung masuk begitu melihat anggukan kepala itu.
"Sayang, apa yang kamu rasakan sekarang?" Arjuna menghambur ke arah Anyelir yang terlihat sudah duduk dan hendak turun dari ranjang.
"Aku baik-baik saja, Mas!" sahut Anyelir yang kini sudah berdiri.
"Kamu mau kemana? kamu baring dulu!" Arjuna menyentuh bahu Anyelir dan hendak menuntut istrinya itu untuk duduk kembali.
"Aku sudah tidak apa-apa, Mas. aku sekarang sangat khawatir dengan kondisi Nania dan sekarang aku mau melihatnya,"
"Nania sekarang sedang ditangani dan di sana ada Shakila. Sekarang kamu, baring saja dulu ya!" sisa rasa panik masih tergambar jelas di wajah Arjuna.
"Aku benar sudah tidak apa-apa, Mas! justru kalau aku masih di sini, aku tidak akan merasa tenang. Jadi, tolong bawa aku ke Nania!" mohon Anyelir dengan raut wajah memelas.
Arjuna mengembuskan napasnya dengan berat. Dia merasa tidak ada gunanya lagi menahan Anyelir di tempat itu.
"Baiklah, aku akan membawamu ke sana. tapi kamu pelan-pelan jalannya!" Arjuna memegang bahu Anyelir, bermaksud menuntun istrinya itu keluar.
Belum mencapai pintu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Tunggu sebentar! aku jawab telepon dulu!" Arjuna merogoh sakunya dan meraih ponselnya dari dalam.
"Halo, Dit! bagaimana? apa kamu sudah menemukan pelakunya?" tanya Arjuna tanpa basa-basi, karena yang menghubunginya adalah Radit.
"Sudah! aki sudah memberikan pelajaran padanya sebelum aku serahkan ke polisi. Sekarang aku di kantor polisi dan sebentar lagi aku akan menyusul ke rumah sakit," sahut Radit dari ujung telepon.
"Siapa pelakunya?"
"Satria!" sahut Radit singkat, tapi sanggup membuat Arjuna kaget sekaligus menggeram marah.
"Brengsek! ternyata dia sudah kembali ke Indonesia dan sepertinya tidak terima kalau karirnya benar-benar sudah hancur!" umpat Arjuna dengan mata yang memerah, dan rahang yang mengeras.
"Pastikan dia membusuk di dalam penjara!" sambung Arjuna kembali.
"Siapa pelakunya, Mas?" tanya Anyelir setelah wanita itu melihat Arjuna memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Satria!" sahut Arjuna singkat. Terlihat jelas kalau pria itu masih dalam keadaan marah.
__ADS_1
Anyelir menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kembali.
"Mas, kalau boleh __"
"Jangan memintaku untuk kasihan padanya dan meringankan hukumannya! bagaimanapun caramu untuk memohon, aku tidak akan mengabulkannya!" dengan sigap Arjuna memotong ucapan Anyelir, karena pria itu sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan istrinya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak Shakila, bagaimana kondisi Nania?" tanya Anyelir begitu dirinya dan Arjuna sudah bergabung dengan Shakila.
"Masih belum tahu, karena dokter yang menanganinya sama sekali belum keluar dari dalam," sahut Shakila. "Kalau kamu, bagaimana? apa kamu dan anak kamu baik-baik saja?" lanjut Shakila, balik bertanya.
"Aku baik-baik saja, Kak. Kata dokter hanya sedikit shock saja," sahut Anyelir dengan mata yang menatap ke arah pintu yang tertutup, tempat di mana Nania ditangani.
"Syukurlah!" Shakila mengembuskan napas lega.
Kemudian, Shakila mengalihkan tatapannya dari Anyelir ke arah Arjuna. "Jun,apa Radit bisa mengejar pelakunnya?" tanya Shakila, dengan tatapan penasaran.
"Iya. Radit sudah menyerahkannya ke kantor polisi dan dia sekarang dalam perjalanan ke sini," sahut Arjuna.
"Apa kamu mengenalnya? dan katanya apa motifnya ingin mencelakai kalian berdua?" lagi-lagi Shakila bertanya.
"Dia, Satria! dia pria yang terobsesi pada Anyelir. Dia pria yang dulu bekerja sama dengan Nania untuk menjebakku. Dia ternyata belum terima dengan apa yang sudah terjadi, sehingga dia nekad untuk mencelakaiku dan Anyelir," terang Arjuna dan Shakila berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana keadaan temanku,Dok? dia baik-baik saja kan?" tanya Anyelir, dengan raut wajah khawatir.
"Benturan yang dialami Nona Nania sangat keras sehingga dia banyak kehilangan darah. Dia butuh donor darah A Rhesus negative sekitar empat kantong. Di rumah sakit ini yang tersedia hanya dua kantong saja, jadi butuh dua kantong lagi. Apa dari kalian ada yang memiliki golongan darah itu?"
Anyelir menggelengkan kepalanya karena golongan darahnya O. Seandainya dia tidak hamil, boleh saja dia mendonorkan darahnya, tapi itu sangat tidak mungkin. Demikian juga dengan Shakila, wanita itu juga memiliki golongan darah yang sama seperti Anyelir, tapi karena wanita itu masih dalam tahap pemulihan agar bisa sembuh total, dia juga tidak bisa mendonorkan darahnya.
"Mas, apa kamu bisa mendonorkan darah pada Nania?" tanya Anyelir, penuh harap.
Arjuna menghela napas, lemah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Golongan darah kami beda. Jadi, tidak bisa," sahut Arjuna dengan raut wajah menyesal.
"Bagaimana dengan keluarga dekat Nona Nania? apa kalian bisa menghubungi? mungkin saja mereka bisa mendonorkan darah pada Nona Nania," dokter itu kembali buka suara, memberikan saran.
"Bagaimana caranya? kami sama sekali tidak memiliki kontak keluarganya," ucap Arjuna.
"Coba cari di handphone ini! ini milik Nona Nania, tadi kami ambil dari sakunya. Beruntungnya ponsel itu masih bisa menyala, kali aja ada nomor kontak keluarganya," Dokter memberikan sebuah ponsel kepada Arjuna.
"Kami tinggal dulu, ya Tuan! nanti kalau mereka bersedia, tolong berkabar saja pada kami," ucap dokter itu lagi, setelah handphone Nania sudah berpindah tangan ke tangan Arjuna.
Setelah dokter itu berlalu pergi, Arjuna langsung mencari nomor kedua orang tua Nania. Beruntungnya ponsel itu tidak diberikan PIN, jadi Arjuna tidak menemukan kesulitan sama sekali.
"Hmm ini sepertinya nomor mamanya, karena di sini tertulis, mamaku" gumam Arjuna.
__ADS_1
Kemudian Arjuna menekan nomor itu ke Handphonenya sendiri, lalu pria itu langsung menghubungi nomor itu.
"Tersambung!" sorak pria,lega.
"Halo!" terdengar suara seorang wanita yang bisa dipastikan mamanya Nania, dari ujung sana.
Arjuna kemudian menjawab sapaan wanita itu dengan sopan dan memastikan lebih dulu, apakah wanita di ujung sana, benar-benar mamanya Nania atau tidak.
"Iya,aku mamanya! emangnya kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi pada anak sialan itu?"
Arjuna seketika mengrenyitkan keningnya, tidak menyangka wanita di ujung sana bisa mengumpati anaknya sendiri.
" Nania, mengalami kecelakaan, Bu dan dia butuh dua kantong darah golongan darah A Rhesus negative. Apa ibu atau Bapak, .bisa datang ke sini, untuk mendonorkan darah pada Nania? Arjuna mencoba menepis kebingungannya dengan berusaha tetap fokus pada tujuannya.
"Maaf, aku dan suamiku tidak bisa mendonorkan darah untuknya. Karena kami sudah tidak menganggap dia anak lagi. Dia itu pembawa sial, dan sama sekali tidak memberikan keuntungan padaku dan suamiku," tolak wanita di ujung sana dengan ketus.
"Bu, bagaimana anda bisa setega itu? dia itu anak Ibu sendiri,"
"Kami tetap tidak mau!" wanita di ujung sana tetap kekeuh dengan keputusannya.
"Hmm, bagaimana kalau aku memberikan kalian uang dua miliar? apa anda suami anda bersedia untuk mendonorkan darah?" Arjuna mencoba membujuk dengan cara lain.
"Uang? dua miliar?" pekik wanita di ujung telepon dengan gembira.
"Iya," sahut Arjuna singkat.
"Baiklah, aku dan suamiku bersedia!" pungkas yang di ujung sana dengan nada bahagia.
Arjuna nyaris memutuskan panggilan setelah dia merasa pembicaraan selesai. Namun belum dia menekan tombol menghentikan panggilan, pria itu tiba-tiba mengurungkan niatnya, ketika mendengar suara wanita yang merupakan mamanya Nania berbicara dengan suaminya. Sepertinya wanita itu, mengira kalau Arjuna sudah memutuskan panggilan.
"Pa, bagaimana ini? Nania kan bukan anak kandung kita, dan golongan darahku berbeda dengannya. Yang aku tahu golongan darahmu juga beda. Bagaimana caranya kita mendapatkan darah untuk anak sialan itu? bagaimanapun kita harus mendapatkan uang dua miliar itu,"
Arjuna menajamkan telinganya mendengar pembicaraan dua orang licik di ujung sana.
"Kamu benar! sayang sekali kalau kita tidak mendapatkan uang itu," keheningan tercipta, sepertinya dua orang tua di ujung sana sedang berpikir keras.
"Oh iya, aku ingat, Danu kan golongan darahnya A Rhesus negative, bagaimana kalau kita memintanya yang
untuk mendonorkan darah pada Nania? kita kasih saja dia uang, dia pasti mau. Kita diam-diam memintanya untuk mendonorkan darahnya pada Nania, lalu kita muncul di depan orang yang ingin memberikan uang tadi, setelah Danu selesai mendonorkan darah. Salah satu dari kita, pura-pura saja memasang wajah yang pucat, seakan kitalah yang mendonorkan darah pada Nania. Bagaimana menurutmu rencanaku?" pria yang merupakan papanya Nania itu menjelaskan rencananya dengan detail.
"Wah, itu rencana yang bagus,Pa! aku setuju!
Arjuna menggeram, benar-benar tidak menyangka ada manusia yang sangat licik, seperti kedua orang tua Nania.
Tbc
__ADS_1