Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah lima bulan waktu berlalu dan Shakila sudah sepenuhnya pulih. Setiap melakukan check up, Shakila memang selalu bertanya, siapa yang sudah mendonorkan hati untuk menyelamatkan hidupnya. Namun Shakila sama sekali tetap tidak mendapatkan informasi apapun.


Maya selaku mamanya juga sebenarnya tidak tega melihat kegigihan Shakila untuk mengetahui siapa orang yang sudah mendonorkan hati padanya. Tapi, wanita paruh baya itu, berusaha untuk tidak berterus terang karena khawatir kalau putrinya itu bersikeras untuk langsung kembali ke Jakarta untuk menemui Radit, padahal wanita itu masih membutuhkan pemeriksaan rutin dan belum diizinkan untuk naik pesawat.


Sekarang mereka sudah dalam perjalanan pulang ke Indonesia, karena wanita itu benar-benar sudah pulih. Shakila, terlihat muram dan diam saja, selama dalam pesawat. Demikian juga ketika sudah berada di dalam mobil menuju rumah yang sudah lama mereka tinggalkan.


Kedatangan Shakila disambut dengan meriah, oleh keluarga besar almarhum papanya, tapi Shakila sama sekali tidak merasakan kebahagiaan itu. Wanita itu benar-benar ingin tahu siapa si pendonor itu dan ingin mengucapkan terima kasih.


Shakila kini sudah berada di dalam kamar yang sangat dia rindukan. Wanita itu menatap kosong ke langit-langit kamarnya.


Tok tok tok


Terdengar ketukan dari pintu, tapi Shakila sama sekali tidak punya niat untuk membukanya.


"Kila, Nak kamu makan dulu! kamu sudah lama di dalam dan tidak keluar-keluar! kamu baik-baik saja kan?" terdengar suara Maya, mamanya.


"Ma, aku sama sekali tidak lapar. Jangan ganggu aku dulu!" sahut Shakila dengan nada malas.


"Kila, jangan begitu, Sayang. Kamu harus tetap makan." Maya masih berusaha untuk bersikap sabar.


"Ma,aku benar-benar tidak lapar. kalau sudah lapar aku akan turun sendiri dan mengambil sendiri makananku," ucap Kila, masih kekeh tidak mau membuka pintu.


"Nak, bisa tidak kamu buka pintu kamar kamu sebentar?" suara Maya terdengar memelas, yang membuat Shakila akhirnya tidak tega. Wanita itu akhirnya turun dari atas ranjangnya dan melangkah untuk membukakan pintu.


"Ada apa, Ma?" tanya Shakila dengan lembut.


"Mama boleh masuk?" suara Maya tidak kalah lembut.


"Jangan ganggu aku dulu, Ma! aku benar-benar ingi sendiri!" sahut Shakila masih dengan nada yang lembut.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu harus begini, Nak?" tanya Maya dengan mata yang berkaca-kaca. Namun Shakila tidak menjawab sama sekali, hingga membuat hati Maya semakin tidak tega.


"Kamu makan dulu ya,Nak. Setelah kamu makan,Mama janji akan memberitahukan siapa yang sudah mendonorkan hatinya padamu,"


Mata Shakila seketika berbinar, mendengar ucapan Mamanya. "Benar, Ma?" tanya Shakila memastikan.


Maya menyelipkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya. "Ya,Mama sungguh-sungguh. Lagian memang sudah saatnya kamu tahu, karena sudah tidak ada yang mama takutkan,"


Shakila tersenyum lebar dan langsung keluar dari dalam kamarnya.


"Ayo,Ma kita makan!" Shakila berjalan mendahului mamanya.


Shakila kembali berbalik ketika menyadari kalau tidak ada pergerakan dari sang mama.


"Kenapa, Mama masih diam di sana? ayo makan!" tegur Shakila, menyadarkan mamanya yang sempat terbengong.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Shakila? kenapa kamu ada di sini?" tanya Radit dengan tatapan penuh kerinduan. Shakila tidak menjawab sama sekali.


Radit meminta Shakila untuk masuk, Shakila tetap saja bergeming tidak bergerak dari tempat dia berdiri. Mata wanita itu kini terlihat berkilauan karena sudah dipenuhi dengan cairan bening yang sudah siap tumpah kapan saja.


"Kila, kamu kenapa? kenapa kamu diam saja?" Radit sudah mulai terlihat panik.


"Sampai kapan kamu menghindariku, Dit? sampai kapan aku terlihat bodoh di depanmu?" Shakila akhirnya buka suara dan kali ini sudah disertai dengan air mata yang sudah tidak kuat lagi bertahan di dalam mata Shakila.


"Maksudmu apa?" Radit mengrenyitkan keningnya.


"Kamu masih mau berpura-pura?" tuntut Shakila.

__ADS_1


"Kamu masuk dulu! kita bicara di dalam,"Radit mencoba meraih tangan Shakila, tapi dengan cepat Shakila menepisnya.


"Sampai kapan kamu masih mau bersandiwara menyembunyikan kalau kamu yang mendonorkan hatimu padaku? apa kamu tidak tahu betapa sesaknya perasaanku , yang ingin sekali mengetahui siapa sosok malaikat yang memberikan kesempatan untukku hidup? apa aku tidak pantas untuk mengucapkan terima kasih pada orang yang bagian tubuhnya diberikan padaku?"


Radit terhenyak, tidak menyangka kalau Shakila sudah tahu.


"Kamu sudah tahu?" desis Radit.


"Kenapa kamu tidak menemuiku lagi Dit? apa ucapanku terlalu menyakitimu, sampai kamu sekalipun tidak pernah menemuiku lagi? dan kenapa kamu merahasiakan semuanya? cecar Shakila dengan air mata yang semakin deras keluar.


Radit mengembuskan napasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku tidak sakit hati, cuma aku tahu kamu tidak pernah menyukaiku. Aku tidak mau, kamu menjadi berutang budi padaku. Aku hanya tidak ingin kamu meninggalkan dunia ini. Aku benar-benar belum siap untuk itu. Aku sudah cukup bahagia jika melihat dari jauh, kamu bahagia dengan pria yang kamu cintai kelak. Itu sudah cukup bagiku," sahut Radit yang membuat tangis Shakila semakin kencang.


"Sekarang, kamu sudah bebas Shakila. Aku berharap kamu bisa menemukan pria yang nantinya mencintaimu dan akan membahagiakanmu. Aku tidak akan mengganggumu lagi,"


"Sangat mudah bagimu untuk mengatakan itu, karena kamu juga akan mudah mendapatkan wanita lain. Tapi asal kamu tahu, semenjak kamu pergi, aku benar-benar merasa kehilangan sosok pria yang selalu ada untukku. Setia hari aku merasakan sakit, mengingat kamu yang tidak pernah mengunjungiku lagi. Awalnya aku tidak mengerti perasaaaku sendiri, kenapa begitu menginginkan kehadiranmu. Aku berdoa setiap malam, supaya kamu datang kembali, tapi kamu begitu jahat, tidak muncul-muncul," ucap Shakila dengan panjang lebar dan berapi-api.


Mendengar ucapan Shakila, membuat Radit seakan kehilangan oksigen di sekitarnya dadanya begitu sesak, dan seketika tertegun untuk beberapa saat.


"Kenapa kamu diam? kamu sudah tidak mencintaiku kan? kamu sudah menemukan wanita lain yang kamu cintai kan?" Shakila kembali buka suara.


Radit sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Pria itu seketika menarik tubuh Shakila ke dalam pelukannya.


"Asal kamu tahu,aku sebenarnya tidak benar-benar pernah meninggalkanmu, Kila. Aku selalu menyempatkan waktu dengan rela bolak -balik Jakarta, Singapura,untuk melihatmu dan menanyakan keadaanmu," lanjut Radit lagi. Aku tidak pernah berniat untuk mencari wanita lain selain kamu. Cintaku hanya untukmu, dan sudah tertanam di dalam hatiku yang paling dalam. Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan kalau aku tidak mencintaimu lagi? Kamu tidak tahu, bagaimana perasaanku saat harus berpura-pura tidak peduli lagi padamu dan hanya menatapmu dari jauh," ucap Radit dengan emosional.


Ya, pria itu memang selalu menyempatkan waktu untuk kembali ke Singapura dan melihat Shakila dari jauh. Pria itu sudah cukup puas melihat kondisi Shakil yang semakin membaik.


"Kamu bodoh, benar-benar bodoh!" ucap Shakila sembari memukul-mukul dada Radit.

__ADS_1


"Ya, aku memang bodoh!" sahut Radit sembari mendekap erat tubuh wanita yang selama ini sangat dia rindukan.


Tbc


__ADS_2