Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Kamu adikku!


__ADS_3

Malam sudah tiba, Maya dengan telaten menyuapi Shakila makan malamnya. Tatapan Shakila terlihat kosong, namun mulutnya tetap menerima suapan demi suapan dari tangan sang mama.


Tatapan Shakila dan mamanya sontak beralih ke pintu karena tiba-tiba pintu itu dibuka oleh seseorang.


Mata Shakila seketika berair, begitu melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya, yang tidak lain adalah Arjuna dan Anyelir.


Wajah Anyelir tampak sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya karena sudah cukup istirahat.


"Hai, bagaimana keadaanmu?" sapa Arjuna, sembari menyelipkan senyum tipisnya.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja!" sahut Shakila dengan mata yang masih berkaca-kaca dan sama sekali tidak menatap ke arah Arjuna melainkan ke arah Anyelir.


"Kenapa Kak Shakila menatapku seperti itu? apa dia sedang memelas padaku untuk memberikan Mas Arjuna kembali padanya?" pemikiran yang tidak-tidak kembali menghampiri kepalanya.


"Anyelir, bisa tidak kamu mendekat ke sini?" nada suara Shakila terdengar lirih.


Anyelir terlihat kebingungan dan menatap ke arah Arjuna yang juga kebingungan. Bukan hanya dua orang itu, Maya juga tampak kebingungan.


"Kamu jangan khawatir. Aku hanya ingin menyentuh wajahmu saja," Shakila kembali buka suara, membuat Anyelir semakin kebingungan.


Anyelir kembali menatap ke arah Arjuna, dan suaminya itu mengangguk kecil, seperti memintanya untuk memenuhi permintaan Shakila.


Anyelir mengayunkan kakinya, melangkah mendekati Shakila dengan hati yang gamang.


Di saat Anyelir sudah berdiri dekat dengan Shakila, wanita yang masih terlihat pucat itu, seketika mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Anyelir dan mengelusnya dengan penuh sayang.


"Ka-kamu adikku," ucap Shakila tiba-tiba, membuat semua orang yang berada di tempat itu, tersentak kaget.


"Shakila, kenapa kamu berkata seperti itu, Nak? ka-kamu ....". tenggorokan Maya seperti tercekat, sulit untuk mengatakan yang hendak dia ucapkan.


"Ma, dia adikku. Aku sudah tahu kalau dia adikku," air mata yang dari tadi berusaha dia bendung, kini berhasil membobol bendungan itu, dan mengalir membasahi pipinya. Sementara itu, hal yang sama juga terjadi pada Anyelir. Wanita hamil itu pun sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Wanita itu, ikut larut dalam rasa haru.

__ADS_1


"Ka- kamu tahu dari mana, Nak?"


"Aku sudah mendengar pembicaraan mama dengan Haris. Aku mendengarnya dengan cukup jelas, Ma. Mama tidak bisa lagi menyangkalnya," ucap Shakila sembari sesunggukan.


"Sewaktu Mama tadi keluar dan meninggalkan Haris di sini, aku kembali mempertanyakan kejelasannya,dan dia akhirnya menjelaskan semuanya, Ma. Dia bahkan menunjukkan bukti pembicaraan mama dengan Anyelir di taman. Kenapa Mama bisa setega itu, meminta Anyelir untuk mengorbankan janinnya untuk menyelamatkanku?"


"Maafkan, Mama, Nak! Mama benar-benar kalut, dan pikiran mama buntu. Mama tidak tahu lagi mau melakukan apa. Kalau mengingat hal itu, Mama juga benar-benar tidak menyangka kalau Mama bisa setega itu," Maya kini juga ikut menangis.


Shakila mengembuskan napasnya. Wanita itu benar-benar ingin marah, tapi dirinya benar-benar tidak sanggup untuk marah, karena bagaimanapun wanita paruh baya itu adalah wanita yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang,dan selalu mengorbankan apapun demi dirinya. Jadi, rasanya dia tidak pantas untuk marah.


"Apa kamu tidak bisa memaafkan Mama, Kila?" tanya Maya karena melihat Shakila yang hanya diam saja. "Apa kamu akan membenci mama dan menganggap Mama egois, memisahkanmu dari ibu dan adikmu? apa kamu akan meninggalkan mama?" lanjut Maya, dengan pertanyaan beruntun. Wanita paruh baya itu benar-benar ketakutan sekarang.


"Ma, aku tidak mungkin membencimu. Aku juga tidak mungkin meninggalkanmu. Walaupun kamu bukan wanita yang melahirkanku,tapi kamu tetap mamaku. Aku tahu, kalau Mama melakukan semua itu karena desakan Oma. Aku juga tahu,kalau Mama sangat tulus menyayangiku, jadi tidak alasan bagiku untuk membencimu," ucap Shakila, tulus.


"Terima kasih,Nak! Terima kasih, Sayang!" ucap Maya, benar-benar lega. Ketakutannya seketika menguap entah kemana.


Kemudian Shakila, kembali menoleh ke arah Anyelir dan kembali mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata adiknya itu.


Anyelir tidak menjawab sama sekali. Wanita justru terlihat semakin terisak-isak dan sulit untuk berbicara.


"Kamu jangan khawatir. Dengan aku memanggilmu adik, aku tidak akan meminta kamu mengembalikan Arjuna padaku. Karena yang aku tahu, kalau seorang Kakak yang baik akan mengalah pada adiknya," ucap Shakila.


"Ka-Kakak," panggil Anyelir dengan suara yang terbata-bata.


Shakila tersenyum manis dan kembali mengelus lembut wajah Anyelir. Ingin rasanya dia memeluk Anyelir, tapi kondisi dadanya yang masih sakit tidak memungkinkan untuk melakukan itu.


"Jangan menangis lagi! nanti keponakanku di dalam sana ikut sedih," Shakila berusaha untuk bercanda.


"Aku menangis bukan karena sedih, Kak. Aku menangis karena terlalu bahagia. Aku tidak pernah menyangka kalau aku ternyata memiliki seorang Kakak. Aku juga tadinya mengira kalau kamu tidak akan sudi menganggapku sebagai adik, dan akan membenciku seumur hidup. Ternyata aku salah. Maafkan aku yang sudah sempat berpikiran buruk padamu, Kak!" ucap Anyelir di sela-sela isak tangisnya.


Shakila, kembali tersenyum dan kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Arjuna yang kini juga tengah menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Jun, aku titip adikku. Aku benar-benar ikhlas kalian berdua bersama. Tolong cintai dan jaga dia dengan tulus. Aku tidak mau menjadi seorang wanita yang tega, membiarkan anak kalian nanti merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Anyelir yang tumbuh tanpa seorang Papa. Kalau kamu menyakitinya, aku akan beri kamu perhitungan!" tutur Shakila.


"Tanpa kamu memintaku pun, aku memang akan selalu mencintai Anyelir," sahut Arjuna mantap.


"Oh, ya ada perkataanmu yang sedikit mengganggu di telingaku," lanjut Arjuna, membuat kening Shakila berkerut, bingung.


"Perkataan yang mana?"


"Kamu mengatakan, sebagai kakak yang baik sudah seharusnya mengalah pada adiknya. Kamu tidak boleh mengatakan seperti itu, karena tidak dalam semua hal, seorang Kakak harus mengalah pada adiknya. Semuanya punya porsi masing-masing. Kalau seorang adik merebut sesuatu dari seorang kakak dengan paksa, seorang Kakak, tidak diharuskan untuk mengalah. Seorang Kakak justru harus tetap mempertahankan apa yang seharusnya miliknya. Dalam kasus ini, Anyelir sama sekali tidak merebutku darimu, aku sendiri yang memintanya untuk menikah denganku, dan lambat laun membuatku jatuh cinta padanya. Jadi, tidak ada kata mengalah di sini," protes Arjuna.


Shakila sontak berdecih dan mendengkus.


"Kamu selalu saja tidak mau kalah. Itu saja kamu permasalahkan," protes Shakila, membuat Arjuna terkekeh.


Anyelir yang tadinya masih menangis, sontak ikut tersenyum mendengar ucapan Shakila.


Sementara itu, Maya terlihat masih begitu berat untuk tersenyum. Karena masih ada sesuatu yang mengganjal di hati wanita paruh baya itu. Wanita itu,menoleh ke arah Anyelir dan tiba-tiba memeluknya.


"Maafkan Tante, Anyelir!" ucap wanita itu, sembari menatap Anyelir dengan tatapan sendu.


"Maaf, untuk apa, Tante?" Anyelir mengrenyitkan keningnya.


"Tante sudah melakukan banyak kesalahan, mulai dari membiarkan mamamu membesarkanmu sendiri, dan melarang papamu untuk mencari keberadaan kalian berdua. Papamu dulu bersedia tidak mencari kalian berdua, dengan syarat aku harus mengirimkan uang setiap bulan untuk biaya hidup kalian berdua. Tapi, mamamu benar-benar menghilang, sehingga membuat Tante kesulitan untuk mencari kalian berdua. Kalian berdua pasti banyak melalui penderitaan selama ini. Tante, benar-benar egois. Harusnya dulu Tante yang mundur karena, bagaimanapun mamamu yang bisa memberikan anak pada papamu, bukan aku," tutur Maya yang kembali menangis.


Anyelir menyelipkan senyuman di bibirnya.


"Tante, aku sama sekali tidak mempersoalkan nya lagi.Tante tidak sepenuhnya salah. Tante hanya mempertahankan apa yang memang milik Tante, walaupun memang cinta yang bertumbuh di antara mamaku dan papa tidak bisa dihindarkan," sahut Anyelir, bijaksana.


Sementara itu, Shakila menatap ke arah pintu seperti menanti kehadiran seseorang.


tbc

__ADS_1


__ADS_2