Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Sadar


__ADS_3

Waktu serasa berjalan begitu lambat bagi Bayu, karena sudah lebih dari empat jam Nania belum siuman pasca dinyatakan sudah lepas dari masa kritisnya.


Ya, setelah urusannya selesai, sesuai janjinya pria itu datang kembali kembali ke rumah sakit untuk menemani Nania. Dan tentu saja apa yang dia lakukan sudah atas persetujuan mamanya. Sementara Anyelir dan Arjuna sudah pamit pulang, menimbang kalau wanita hamil itu sangat butuh istirahat.


"Nia, bangun dong! aku di sini untukmu. Kamu tidak mau ya melihatku lagi?" ucap Bayu sembari membelai lembut rambut Nania.


Tidak ada respon sama sekali dari wanita itu, hingga membuat Bayu menghela napas berat.


"Nia, maafkan aku, selama jadi suamimu aku tidak pernah peka dengan apa yang kamu rasakan. Aku selalu beranggapan kalau kamu membawa kesialan di hidupku. Memang kebohongan yang kamu lakukan itu sudah sangat kelewatan, kamu dengan tega berbohong tentang kehamilanmu, tapi sekarang dengan tegas aku mengatakan kalau aku sudah memaafkanmu. Jadi, kamu bangun ya!" Bayu meraih tangan Nania dan membawanya ke bibirnya.


"Kali ini aku mau jujur, sebenarnya aku merasa sangat kehilangan ketika kamu bukan lagi istriku. Tapi, aku selalu berusaha menepisnya dan selalu menyibukkan diri agar bisa melupakanmu," sambung Bayu kembali.


Bayu kembali menghela napasnya, karena mantan istrinya itu tetap belum memberikan respon.


Cukup lama Bayu duduk menatap wajah Nania sembari menggenggam tangan wanita itu, sampai tanpa tersadar pria itu tertidur dengan kepala yang menempel di ranjang Nania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kelopak mata Nania bergerak-gerak, pertanda kalau sepertinya wanita itu akan segera siuman.


Benar saja, mata wanita itu terbuka perlahan-lahan. Wanita itu kembali menutup matanya karena merasa silau dengan cahaya lampu.


Nania hendak memijat kepalanya yang terasa sakit. Namun ketika dirinya hendak mengangkat tangannya, dia merasa ada tangan yang menggenggam tangannya dengan erat.


Nania sontak menatap ke arah sang pemilik tangan. Kening wanita itu berkerut merasa bingung siapa sosok pemilik tangan itu, karena kebetulan wajah pria itu tidak terlihat.


"Siapa sih dia? dari postur tubuh dan wangi parfumnya, sepertinya dia mas Bayu. Tapi sama sekali tidak mungkin. Mas Bayu kan sangat membenciku," batin Nania, dengan raut wajah meringis menahan rasa sakit di kepalanya.


"Tuan, Tuan, siapa kamu?" Nania mencoba untuk membangunkan pria itu. Namun pria itu tidak memberikan respon sama sekali, dan itu mungkin karena suara Nania yang sangat lemah.


Karena tidak mendapatkan respon, Nania akhirnya memutuskan untuk menarik tangannya dengan perlahan dari genggaman tangan pria itu.


Sementara sosok pria yang tertidur yang tidak lain adalah Bayu, menyadari kalau tangan Nania yang ada di genggamannya bergerak. Hal itu membuat pria itu langsung membuka matanya.


"Nania kamu sudah bangun? syukurlah!" seru Bayu dengan senyum bahagia di bibirnya.


"Ma-Mas Bayu?" gumam Nania di sela-sela rasa kagetnya. Wanita bahkan sampai mengerjap-erjapkan matanya, untuk memastikan kalau pria itu benar-benar Bayu.


"Iya, ini aku! aku dari tadi di sini menemanimu. Aku benar-benar lega sekarang, karena kamu sudah sadar," sahut Bayu dengan senyum yang tidak pernah memudar.


"Jadi, perkataan yang aku dengar itu nyata datang dari Mas Bayu? bukannya itu hanya mimpi?" bisik Nania pada dirinya sendiri. Ya, walaupun wanita itu masih belum tersadar saat Bayu mengeluarkan uneg-unegnya, tapi bukan berarti wanita itu tidak mendengar curahan hati Bayu.


"Kamu tenang dulu ya, aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu," Bayu mengayunkan kakinya hendak melangkah ke luar.

__ADS_1


"Mas Bayu, tidak perlu! Ini kan ada tombol untuk memanggil dokter," Nania menunjuk ke arah atas kepalanya.


"Oh iya, aku lupa!" Bayu menepuk jidatnya, merasa sangat bodoh.


Bayu kemudian melangkah kembali mendekati ranjang Nania. Entah kenapa pria itu benar-benar merasa grogi sekarang. Apalagi tatapan Nania tidak pernah lepas darinya.


"Mas Bayu kenapa ada di sini?" tanya Nania, dengan tatapan penuh tanya. Sementara Bayu menekan bel untuk memanggil dokter.


"Kenapa? apa kamu tidak suka aku ada di sini?" Bayu justru balik bertanya.


"Bukan seperti itu! masalahnya kan Mas Bayu membenciku. Jadi, rasanya sangat aneh kalau Mas Bayu tiba -tiba ada sini," sahut Nania jujur.


Bayu menyelipkan sebuah senyuman mendengar ucapan Nania. Pria itu kemudian membelai lembut rambut wanita itu.


"Siapa bilang aku membencimu? aku tidak pernah membencimu, hanya saja aku kecewa dengan apa yang kamu perbuat dulu. Itu saja," sahut Bayu mantap.


Nania tercenung. Mata wanita itu tampak mulai berembun menahan tangis.


"Jadi, kenapa Mas bisa ada di sini? dari mana Mas tahu aku kecelakaan? Apa Mas tahu semua ini dari Anyelir?" Nania mengulang kembali pertanyaannya di awal.


Bayu menghela napas dan kembali tersenyum. Kemudian pria itu menceritakan bagaimana dia bisa tahu dia ada tempat itu kecuali tentang kenyataan kalau Nania hanyalah seorang anak angkat.


"Oh seperti itu? Terima kasih ya,Mas sudah mau mendonorkan darahmu untukku. bagaimana keadaan Anyelir sekarang? dia baik-baik saja kan?" raut wajah Nania seketika berubah panik.


"Syukurlah!" Nania menghela napas lega.


Suasana kembali hening. Nania seketika merasa canggung karena berduaan di satu ruangan dengan pria yang dulu pernah menjadi suaminya dan bahkan masih dicintainya.


"Nania, apa kamu butuh sesuatu? lapar mungkin?" Bayu kembali buka suara mencairkan kecanggungan di antara mereka.


Nania tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Mas, kenapa kamu mau mendonorkan darahmu untukku? bukannya kamu sangat membenciku?" akhirnya Nania tidak bisa menahan lagi tanda tanya yang ada di dalam hatinya.


Bayu tidak langsung menjawab. Pria itu justru menatap Nania dengan tatapan yang sukar untuk dibaca. Sementara Nania yang ditatap seperti itu seketika merasa grogi dan langsung menundukkan kepalanya.


"Aku tidak membencimu hanya kecewa dengan apa yang kamu lakukan dulu. Masalah donor darah, jika kita mampu kenapa tidak? apalagi orang yang membutuhkan darah itu orang yang kita cintai,"


Ucapan Bayu barusan sontak membuat kepala Nania terangkat kembali.


"Ma-maksudnya?" tanya Nania dengan suara bergetar.


"Apa kamu masih belum paham maksud perkataanku? apa perlu aku ulangi lagi?" Bayu mendekatkan wajahnya ke wajah Nania.


Nania memundurkan wajahnya dengan mata yang mengerjap-erjap.

__ADS_1


"Aku mencintaimu,Nania. Aku sangat kehilanganmu setelah kita bercerai. Sekarang kalau kamu berkenan,mau kah kamu memperbaiki semuanya dari awal kembali denganku?" tanya Bayu dengan penuh harap.


Nania terdiam, tidak menjawab pertanyaan Bayu dengan cukup lama. "Jadi yang aku dengar tadi sewaktu belum bangun benar-benar nyata, bukan hanya mimpi?" gumam Nania yang masih bisa didengar oleh Bayu.


"Jadi kamu mendengar semua yang aku katakan ketika kamu belum sadar?" celetuk Bayu, tersenyum dan Nania hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Senyum di bibir Bayu semakin lebar. "Iya itu nyata bukan hanya mimpi. Apa yang kamu dengar itu, tulus dari hatiku. Bagaimana? apa kamu mau kita kembali bersama lagi?" desak Bayu tidak sabar.


"Ta-tapi bagaimana dengan ibumu? aku tidak mau karena kamu memilihku, hubunganmu dan ibumu jadi renggang. Karena aku tahu, mamamu tidak pernah menyukaiku," ucap Nania.


Bayu kembali tersenyum dan membelai lembut rambut Nania. "Kamu tidak perlulah khawatir dengan mamaku. Dia sudah memaafkanmu dan tidak membencimu lagi. Aku justru ada di sini juga sudah atas seizin mama,"


Nania mengrenyitkan keningnya dan menatap mata Bayu untuk melihat apakah pria itu sedang berkata benar atau bohong.


"Kamu sepertinya tidak percaya. Makanya sebelum kembali ke sini, mama ingin kamu melihat ini," Bayu menunjukkan sebuah video dimana mamanya mengatakan kalau dia sudah tidak membenci Nania lagi dan juga sudah memaafkan kesalahan wanita itu.


Melihat video rekaman itu, cairan bening seketika merembes keluar dari mata Nania.


"Tapi maaf,Mas aku tetap tidak bisa kembali bersamamu lagi,"


Ucapan Nania barusan sontak membuat Bayu terkesiap kaget dan tidak menyangka akan mendapat penolakan dari Nania.


"Kenapa? apa karena kamu tidak mencintaiku lagi?"


"Bukan karena aku tidak mencintaimu lagi, tapi karena ada alasan lain yang tidak bisa aku katakan," sahut Nania, ambigu.


"Apa aku bisa tahu alasannya?" desak Bayu.


"Maaf, bukannya aku sudah mengatakan kalau aku tidak bisa mengatakannya?" Nania masih Keukeh menolak.


Bayu mengembuskan napasnya dan memutuskan untuk beranjak keluar guna menenangkan diri.


Ketika pria itu membuka pintu, bersamaan dengan itu tampak Anyelir yang ditemani oleh Arjuna juga hendak masuk


"Lho Bayu kamu mau kemana? apa Nania sudah bangun?" tanya Anyelir.


Bayu tidak menjawab sama sekali. Pria itu hanya menghela napas dan berlalu begitu saja.


Anyelir dan Arjuna saling silang pandang dan langsung masuk untuk mencari jawaban.


Pasangan suami istri itu melihat Nania yang sedang menangis sesunggukan di atas ranjang.


"Nania, kamu kenapa?"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2