Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Jangan membenci Shakila lagi


__ADS_3

Satria berjalan dengan gaya angkuhnya, menuju ke ruangan pribadinya sebagai kepala keuangan di Murphy group.


"Lho Tuan Satria, kenapa sudah masuk kerja? bukannya cutinya seminggu lagi?" sapa seorang karyawan yang merupakan bawahannya.


"Aku bosan dan rindu bekerja," sahut Satria yang membuat karyawan tadi berdecak kagum, merasa kalau Satria adalah sosok yang workaholic.


"Wah, aku salut, Tuan. Anda benar-benar pekerja keras!" puji Karyawan itu.


Dari arah yang berlawanan, seorang pria yang merupakan asisten dari Dean, memicingkan matanya, berusaha memastikan kalau yang dia lihat adalah Satria. Setelah benar-benar yakin, pria itu langsung melangkah menghampiri Satria.


"Satria, kebetulan kamu sudah datang. Kamu diminta untuk ke ruangan Tuan Dean!"


Satria menganggukkan kepalanya seraya melemparkan senyum ke arah asisten pribadi Dean itu.


"Sepertinya anda akan mendapat promosi jabatan lagi! aku yakin itu!" ucap bawahan Satria tadi, membuat Satria membusungkan dadanya.


"Aku rasa juga begitu. Aku ke sana dulu ya!" Satria mengurungkan niatnya masuk ke dalam ruangannya dan langsung melangkah menuju ruangan Dean.


Sesampainya di depan ruangan Dean,Satria merapikan dasinya, kemudian mengetuk pintu.


Setelah mendengar perintah untuk masuk, Satria pun membuka pintu dan masuk.


"Tuan memanggilku?" tanya Satria dengan sopan.


"Iya, silahkan duduk!" ucap Dean dengan ekspresi wajah datar seperti biasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Brengsek! semuanya jadi kacau!" umpat Satria sembari menghamburkan barang- barang yang berada di apartemennya.


Pria itu terlihat benar-benar murka karena harapannya akan mendapat penghargaan ketika dipanggil Dean, ternyata hanya angan-angan saja. Ternyata pria itu dipecat dengan tidak hormat karena terbukti sudah melakukan korupsi besar-besaran.

__ADS_1


Pria itu tidak diberikan apapun, bahkan diminta untuk mengembalikan semua uang yang dia korupsi, kalau tidak akan dilaporkan dan dijebloskan ke penjara.


"Semua usahaku hancur berantakan. Aku sudah tidak memiliki apapun! pulang ke Indonesia pun juga tidak ada gunanya. Arjuna sudah memasukkan namaku ke dalam daftar hitam. Di negara ini pun juga sama. Arghh ... apa yang harus aku lakukan sekarang? ini semua gara-gara Arjuna. Ternyata dia bersahabat dengan Tuan Dean. Kenapa aku tidak menyadarinya ya?" Satria menggusak rambutnya dengan kasar.


"Satu-satunya yang kumiliki sekarang hanya apartemen ini. Sepertinya aku harus menjualnya dan mencari apartemen murah untuk disewa. Aku harus mulai bekerja dari bawah lagi untuk menyambung hidup. Jadi pelayan pun mau tidak mau aku harus terima," Satria merebahkan tubuhnya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru apartemen miliknya yang bisa dipastikan sebentar lagi akan ganti pemilik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Arjuna, sekarang jelaskan ke,Mama kenapa tadi kamu terburu-buru dan mencari Anyelir? apa kalian berdua ada masalah?" baru saja Arjuna dan Anyelir menapakkan kaki di rumah mereka langsung diberondong pertanyaan oleh Dewi.


"Lho, Ma ini sudah jam berapa? kenapa Mama belum tidur?" bukannya menjawab pertanyaan mamanya, Arjuna malah sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana, Mama bisa tidur? mama benar-benar tidak merasa tenang. Mama takut kalau kalian berdua ada masalah. Apalagi sampai malam begini kalian berdua baru pulang,"


Arjuna menyelipkan seulas senyum tipis.


"Tadi kami menjemput Mama mertuaku dari rumah sakit, Ma. Makanya kami baru pulang,"


"Mama hanya kecapean saja kok, Ma. Dan sekarang sudah baik-baik saja," Anyelir buka suara.


"Oh, syukurlah!" Dewi menarik napas lega.


"Sekarang kalian berdua jelaskan ke Mama, apa kalian berdua ada masalah?" Dewi kembali pada topik semula.


"Tidak ada kom,Ma. Mama kan bisa lihat sendiri kalau kami baik-baik saja," Arjuna dengan sengaja merangkul pinggang Anyelir, untuk membuktikan pada sang Mama kalau dia dan Anyelir baik-baik saja.


"Tapi kenapa, tadi mama merasa kalau kalian berdua ada masalah? Juna,Mama itu wanita yang melahirkanmu, jadi mama tahu kalau kamu ada masalah atau tidak.Dari caramu yang panik dan tidak menggubris panggilan mama,mama sudah yakin kalau kamu dan Anyelir pasti ada masalah. Tapi, kalau kamu merasa mama tidak berhak tahu, ya tidak apa-apa, karena mama tahu setiap suami istri pasti ada masalah yang tidak harus orang lain tahu walaupun itu keluarga dekat sendiri. Cuma, Mama hanya mau bilang jangan pernah terlalu cepat untuk mengucapkan kata pisah,di saat sedang emosi. Kalau bisa kalian harus menyelesaikannya dengan kepala dingin dulu. Sekarang mama tenang melihat kalian berdua yang sudah baik-baik saja. Kalian istirahat saja sekarang, karena kalian berdua pasti capek. Mama juga mau istirahat," Dewi memutar tubuhnya dan beranjak pergi.


"Ma, tunggu dulu!"


Baru saja melangkah beberapa langkah, Dewi menyurutkan langkahnya ketika mendengar suara Arjuna yang memanggilnya. Wanita itu kembali berbalik dan menatap ke arah Arjuna.

__ADS_1


"Ada apa?" Dewi mengrenyitkan keningnya.


"Ma, kita duduk dulu sebentar! ada hal yang mau aku bicarakan!"


Raut wajah Dewi semakin terlihat bingung, tapi dia tetap saja mendudukkan tubuhnya di sofa.


Arjuna menarik napas terlebih dahulu, dan mengembuskannya ke udara.


"Ma, Aku sudah tahu di mana Shakila sekarang!" Arjuna mulai buka suara.


"Jadi, kalau kamu sudah tahu buat apa? kamu mau kembali lagi ke dia? dan kamu mau meminta restu, Mama? kalau itu yang kamu inginkan, mama tidak akan memberikan restu. Menantu mama, hanya Anyelir dan yang akan menjadi istri Haris nanti!" tegas Dewi seraya berdiri kembali dan hendak melangkah. Sementara itu, Anyelir yang mendengar ucapan mertuanya,merasa terharu hingga membuat matanya berkaca-kaca.


"Ma, jangan pergi dulu! aku belum selesai bicara!" cegah Arjuna yang ikut juga berdiri.


"Apa lagi? apa ucapan Mama tadi kurang tegas?" raut wajah Dewi sekarang terlihat sangat dingin.


"Ma, aku tidak punya niat untuk kembali pada Shakila, hanya saja aku merasa kalau mama berhak tahu apa yang menyebabkan Shakila meninggalkanku, agar mama tidak salah paham lagi padanya," ucap Arjuna.


"Maksudnya?" alis Dewi bertaut tajam.


"Akhirnya Arjuna pun mengungkapkan apa yang dialami Shakila sehingga wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh darinya.


Sementara itu, Dewi terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kebencian yang tadinya ada di hatinya untuk Shakila, tiba-tiba menguap entah kemana. Sementara itu, ketakutan kembali datang kepada Anyelir. Wanita itu merasa takut kalau ibu mertuanya itu menyarankan Arjuna untuk kembali lagi pada Shakila.


"Jadi, apa keputusanmu sekarang? apa kamu akan kembali padanya karena rasa kasihan atau tetap bersama Anyelir? bagi mama, kamu boleh kasihan pada Shakila, tapi mama ingin agar kamu tidak meninggalkan Anyelir, karena bagaimanapun istrimu sekarang adalah Anyelir,"


Mendengar ucapan mertuanya, cairan bening seketika keluar dari sudut mata Anyelir, tapi buru-buru dia seka.


Sementara itu Arjuna tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. " Aku juga sudah memutuskan seperti itu, Ma. Tujuanku memberitahukan tentang Shakila pada Mama, hanya supaya Mama tidak membenci Shakila lagi,"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2