Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Semuanya punya takdir yang berbeda


__ADS_3

Arjuna berjalan menyusuri jalan setapak untuk mencari tempat yang dikatakan oleh Mirna. Dari arah jauh pria itu melihat sosok wanita yang duduk menyender di bawah sebuah pohon dengan kepala yang tertunduk dan tangan yang memeluk lututnya.


Arjuna menghela napas terlebih dahulu dan kembali melanjutkan langkahnya untuk menghampiri wanita itu yang sudah dipastikan adalah Anyelir istrinya.


Tanpa menyala sedikitpun pria itu mendudukkan dirinya sendiri di samping Anyelir, hingga membuat wanita itu tersentak kaget.


"Ma-Mas Arjuna? ke-kenapa kamu ada di sini?"


"Aku yang seharusnya nanya, apa yang kamu lakukan di sini?" Arjuna balik bertanya.


"Aku tidak ngapa-ngapain. Aku hanya ... eh, dari mana kamu tahu tempat ini?" Anyelir mengrenyitkan keningnya.


"Aku tahu dari Mama Mirna. Aku tadi ke rumah sakit mencarimu, jadi Mama memberitahukanku tempat ini," sahut Arjuna.


Keheningan tercipta untuk beberapa saat di atas dua insan itu.Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Arjuna sendiri bingung mau memulai dari mana.


"Kenapa kamu tadi tidak masuk ke ruanganku dan malah menitipkan kotak makanan di meja sekretaris?" akhirnya Arjuna buka suara, menghentikan keheningan yang sempat tercipta.


"Emm, aku cuma tidak mau mengganggu pembicaraanmu dengan Radit. Sepertinya pembicaraan kalian berdua sangat penting," nada bicara Anyelir terdengar lirih. Wanita itu berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.


"Seandainya,kalau kamu masuk ke dalam pun tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak keberatan, karena dengan begitu aku __"


"Dengan begitu kamu bisa langsung bisa memutuskan untuk kembali pada Shakila, di depanku," potong Anyelir, tidak memberi kesempatan untuk Arjuna melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu? bagaimana kamu bisa berpikir ke arah sana?"


"Mas Juna, aku sudah tahu kalau Shakila mengidap kanker hati. Dia pergi karena dia tidak ingin menyusahkanmu. Aku yakin kalau hati kamu pasti akan tergugah dan ingin menemani dia untuk melewati semuanya. Aku sama sekali tidak apa-apa, Mas. Aku sudah memutuskan untuk mundur, karena aku tahu cinta kalian berdua sangat besar. Kamu tidak perlu memikirkan apa yang sudah terjadi di antara kita. Aku ikhlas menerima semua itu. Sekarang kamu kembalilah pada Shakila, karena dia sangat membutuhkanmu!" tutur Anyelir dengan suara bergetar, menahan rasa sakit di hatinya.


Arjuna menggeram dan menatap Anyelir dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Apa yang kamu bicarakan? apa kamu bicara seperti ini dalam keadaan waras?" cetus Arjuna dengan nada kesal.


"Tentu saja aku waras. Aku hanya mau kamu kembali pada Shakila karena dia sudah banyak menderita. Aku yakin kalau kamu ada di sampingnya dan memberi dukungan, dia akan memiliki semangat untuk sembuh,"


"Tidak! aku tidak akan kembali padanya!"


Anyelir tersentak kaget. Ia mengira kalau Arjuna akan bersorak dan berterima kasih padanya karena sudah merelakan dirinya kembali pada Shakila. Namun ternyata apa yang dipikirkannya salah.


"Tapi kenapa? bukannya kamu dan dia saling mencintai? bukannya kepergiannya bukan karena dia mencintai laki-laki lain? dia pergi karena tidak ingin menyusahkanmu, Jun. Itu dia lakukan karena cintanya sangat besar untukmu, begitu jug kamu. Aku tahu, kamu memilih untuk tetap bersamaku, karena kamu merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi. Bukannya aku sudah mengatakan kalau aku sudah ikhlas dan tidak akan mempermasalahkannya? kamu tenang saja, aku tidak akan pernah menyimpan dendam padamu," air mata Anyelir mengalir begitu saja, saat mengucapkan ucapannya.


"Dengar, aku sudah mengatakan kalau aku akan tetap bersamamu, dan itu mutlak tidak bisa diganggu gugat. Untuk masalah Shakila, aku tetap bisa mendukungnya tanpa harus kembali padanya sebagai sepasang kekasih. Aku bisa memberikan dukungan dan semangat sebagai seorang sahabat. Cukup itu saja!"


Anyelir mengerjap-erjapkan matanya, saat Arjuna mengatakan semua ucapannya sembari menatap matanya dengan dalam.


"Anyelir,kamu jangan selalu memikirkan orang lain. Kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri. Aku tahu, kamu merasa Shakila akan sakit hati melihat aku dan kamu, tapi bagaimana dengan kamu? apa kamu tidak merasa sakit juga saat mengucapkan kata-kata itu? Semua orang mengalami takdir yang berbeda. Aku dan kamu menikah adalah takdir,dan takdir pernikahan kita, tercipta karena perginya Shakila. Demikian juga dengan apa yang dialami oleh Shakila adalah takdir untuknya. Jadi kita tidak boleh menyalahkan takdir. Tuhan membiarkan dia mengalami hal itu, karena Tuhan tahu dia sanggup melewatinya. Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan kita. Tugas kita sekarang mendoakan dan mendukung Shakila agar mampu melewati semua ini. Kamu mau kan membantuku untuk memberikan dukungan pada Shakila?"


Tatapan Arjuna semakin dalam, hingga membuat Anyelir menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Jujur, awalnya dia memang benar-benar meragukan Arjuna. Namun kesungguhan pria itu saat mengucapkan ucapannya, mengikis keraguan di hati Anyelir.Walaupun sebenarnya dia tahu kalau Arjuna mempertahankannya bukan karena cinta melainkan karena rasa tanggung jawab.

__ADS_1


"Mas, Apa kita akan ke Singapura untuk memberikan dukungan padanya?" tanya Anyelir setelah mereka diam untuk beberapa saat.


Arjuna tidak langsung menjawab. Pria itu memejamkan matanya sejenak dan membukanya kembali seiring dengan embusan napas yang keluar dari mulutnya.


"Aku rasa untuk sekarang tidak dulu,"


"Kenapa?" alis Anyelir, bertaut.


"Karena menururku, untuk sekarang sangat tidak memungkinkan. Aku memutuskan untuk memberi Radit kesempatan untuk bisa membuat Shakila menyadari dan terbiasa dengan kehadiran Radit di sampingnya. Kalau sekarang kita ke sana, aku takut Shakila akan semakin sedih dan memperburuk keadaan,"


"Terbiasa dengan Radit? maksudmu?" Anyelir benar-benar gagal paham dengan maksud ucapan Arjuna.


"Sebenarnya, aku sudah lama tahu kalau Radit menyimpan rasa pada Shakila. Hanya saja aku berpura-pura tidak tahu dan bersikap egois karena pada saat aku mengenal Shakila, aku juga jatuh cinta padanya. Radit tahu aku menyukai Shakila, dan dengan bodohnya dia malah mendukungku untuk mendekati wanita yang dia cintai. Dengan peristiwa yang sudah terjadi, entah kenapa aku menyadari kalau mungkin ini adalah rencana Tuhan untuk menyatukan mereka berdua dengan membuat Shakila menyadari bahwa ada pria yang sudah sangat lama mencintainya dengan tulus dan selalu ada untuknya," tutur Arjuna dengan seulas senyum tipis di bibirnya.


"Jadi sekarang kamu mau gantian berkorban pada Radit, dengan memberikan kesempatan pada sahabatmu itu, untuk menunjukkan rasa cintanya pada Shakila, walaupun kamu terluka karena kehilangan orang yang kamu cintai?" ada rasa sakit seperti tercubit, saat Anyelir melontarkan kata-katanya itu.


"Maksudmu?" alis Arjuna bertaut.


"Kamu tidak mungkin kan tidak mengerti, dengan apa yang aku maksud? kamu masih sangat mencintai Shakila kan? tapi kamu merelakan orang yang kamu cintai pada sahabatmu,"


Arjuna tercenung. Pria itu tiba-tiba mempertanyakan bagaimana perasaannya pada Shakila. Apa dia benar-benar masih mencintai Shakila seperti yang dikatakan Anyelir atau perasaan cinta itu sudah terkikis. Karena, setelah dipikir-pikir, entah kenapa tidak ada rasa sakit yang muncul ketika dia mengatakan, memberikan kesempatan pada Radit untuk bisa mendekati Shakila. Demikian juga ketika pria itu mencoba membayangkan Radit menikah dengan Shakila, Arjuna sama sekali tidak merasakan sakit apapun.


"Kenapa kamu diam? apa kamu mulai menyesal dengan keputusanmu untuk mendekatkan mereka?" Anyelir memaknai lain, diamnya Arjuna.

__ADS_1


"Tidak sama sekali! aku hanya ... ah, sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi! Sekarang aku sudah lapar. Kita cari makan siang yuk! aku yakin makanan yang kamu bawa tadi pasti sudah dihabiskan Haris," Arjuna berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Anyelir berdiri.


Tbc


__ADS_2