Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Apa kamu sudah hamil?


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, demikian juga bulan sudah tiga kali berganti. Itu berarti sudah tiga bulan Arjuna menikah dengan Anyelir. Selama itu pula Arjuna sama sekali tidak pernah menyentuh Anyelir. Namun pria itu sama sekali tidak pernah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


Hari sudah sudah senja, langit yang tadinya cerah kini sudah berganti warna menjadi warna jingga, pertanda malam akan datang.


Pria tampan dan kharismatik itu mengemudikan mobilnya membelah kemacetan yang memang sudah menjadi langganan di jam-jam pulang kantor seperti ini. Di saat sedang menunggu lampu merah berganti menjadi lampu hijau, handphone Arjuna berbunyi pertanda ada panggilan masuk.


Pria itu melihat nama Anyelir sedang menghubunginya.


"Iya, ada apa?" tanya Arjuna to the point.


"Mas, malam ini aku tidak pulang ya! aku nginap di rumah mama. Mama kurang sehat soalnya. Tadi aku sudah izin pada mama Dewi," ucap Anyelir.


"Iya tidak apa-apa! sampaikan salamku pada Mama Mirna!" Arjuna memutuskan panggilan setelah mendengar jawaban iya dari Anyelir.


"Haish,kenapa tiba-tiba aku jadi malas pulang ke rumah?" batin Arjuna tidak semangat.


"Atau aku ajak Radit ke cafe aja kali ya?" bisik Arjuna pada dirinya sendiri.


"Astaga, aku kenapa jadi pelupa begini? Radit kan lagi ke Singapura, bawa Tante Maura berobat, " Arjuna mengembuskan napas kesal.


Suara klakson mobil di belakangnya, menyadarkan Arjuna kalau ternyata lampu merah sudah berubah ke hijau. Arjuna pun langsung menjalankan mobilnya kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arjuna masuk ke dalam kamarnya, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Setelah Arjuna selesai mandi pria itu kembali keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian rumahan. Ia merebahkan tubuhnya, menerawang menatap ke langit.


Ia merasa suasana kamar yang biasanya berisik tiba-tiba terasa sepi.


"Jun, makan malam dulu, Nak!" terdengar suara mamanya dari luar yang disertai dengan ketukan pintu.


Arjuna bangkit berdiri dan melangkah keluar dan membuka pintu.


"Aku belum lapar, Ma! Mama makan saja dulu!" ucap Arjuna sembari tersenyum tipis.


"Belum lapar atau tidak terbiasa karena tidak ada Anyelir?" goda Dewi, tersenyum meledek.


"Tidak sama sekali, Ma. Aku memang benar-benar belum lapar," sangkal Arjuna. "Nanti kalau aku lapar aku akan ambil sendiri," lanjutnya kembali.


"Sudah tiga bulan aku menikah,tapi tidak ada tanda-tanda Shakila kembali. Apa dia tidak melihat pemberitaan pernikahanku atau dia dengar tapi dia tidak peduli? apa dia benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?" bisik Arjuna pada dirinya sendiri.


"Tapi, kenapa belakangan ini, aku jarang mengingat dia lagi? kenapa justru sekarang aku sangat semangat menunggu sore hari, dan tidak sabar untuk pulang? ada apa sebenarnya ini?" lagi-lagi Arjuna mengajak hatinya untuk berbicara, walaupun dirinya tidak menemukan jawaban dari sang hati.


Cukup lama Arjuna melamun. Suasana kamar begitu hening, sehingga yang terdengar hanya suara detak jam di dinding.


"Seharusnya suasana hening seperti ini kan yang kuinginkan? tapi kenapa rasanya tidak enak begini ya?" Arjuna menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Pria itu menatap ke arah tembok dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pria itu meraih ponselnya untuk memeriksa apakah ada panggilan atau pesan yang masuk dari Anyelir.


"Apa? dia tidak ada mengirimkan pesan sama sekali?" Arjuna meletakkan ponselnya dengan kasar ke sampingnya.

__ADS_1


Sementara itu, di lain tempat Anyelir duduk di teras rumah mamanya sembari menatap ke arah langit.


Langit tampak begitu sangat indah, karena penuh bertabur bintang yang bersinar bak Kilauan berlian. Namun, Anyelir sama sekali tidak menikmati keindahan malam itu karena pikirannya sedang menerawang ke suatu tempat.


Sebenarnya, mamanya tidaklah sakit, tapi Anyelir menjadikan alasan itu agar bisa menginap di rumah mamanya untuk menghindari Arjuna untuk sementara walaupun hanya untuk satu malam saja. Tapi anehnya dia sama sekali tidak merasa nyaman hingga tidak bisa tidur sama sekali.


Belakangan ini Anyelir sama sekali tidak mengerti dengan perasaan yang dia miliki. Dia merasa jantungnya selalu berdetak kencang setiap kali melihat wajah Arjuna. Dia berusaha untuk menepis perasaannya dengan menekankan pada dirinya sendiri kalau dirinya hanyalah wanita pengganti, tapi dia sama sekali tidak kuasa untuk menolak pesona Arjuna.


"Anye, kenapa kamu melamun di luar sini, Nak? ayo masuk! di luar banyak nyamuk dan nanti kamu masuk angin," tiba-tiba Mirna sang mama sudah berdiri di ambang pintu.


Adelia menoleh ke arah mamanya, dan tersenyum menatap ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Sebentar lagi, Aku masuk, Ma. Aku belum mengantuk sama sekali," ucap Anyelir dengan lembut. "Mama sendiri kenapa keluar? Mama masuk aja, karena nanti jadinya mama yang masuk angin," Anyelir berdiri dan hendak membantu mamanya itu untuk masuk ke dalam.


"Tidak perlu, Nak! Mama mau duduk sebentar karena mama ingin menanyakan sesuatu padamu,"


Anyelir mengrenyitkan keningnya, melihat wajah mamanya yang terlihat serius.


"Mama mau bicara apa?" alis Anyelir bertaut.


"Mama mau tanya, apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil? atau kamu dan Arjuna, menunda untuk memiliki anak?"


Anyelir menelan ludahnya dengan susah, kaget mendengar pertanyaan mamanya yang hampir sama dengan pertanyaan mertuanya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2