
Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah tiga bulan semenjak Arjuna tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Shakila. Namun pria itu sama sekali belum berkunjung ke Singapura untuk mengunjungi mantan kekasihnya itu. Bukan tidak ingin, tapi pria itu benar-benar ingin membuat Shakila menyadari kalau pria yang ada untuknya selama ini adalah Radit. Secara tidak langsung Arjuna menginginkan Shakila ketergantungan pada Radit.
Bagaimana kehidupannya dengan Anyelir? kehidupan rumah tangganya berjalan seperti biasa. Pria itu melakukan kewajibannya sebagai seorang suami, tanpa pernah terucap sekalipun rada cinta pada Anyelir. Sementara Anyelir juga menjalankan kewajibannya, dengan berusaha membaca perasaan sang suami untuknya, dan hasilnya wanita itu sampai sekarang sama sekali masih gagal memahami perasaan sang suami.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Arjuna tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena dia bermimpi Anyelir pergi dari hidupnya.
Pria itu sontak melihat ke sampingnya dan dia mengembuskan napas lega begitu melihat Anyelir yang masih terlelap di sampingnya. Arjuna memanfaatkan momen itu untuk menatap wajah Anyelir yang terlihat sangat cantik walaupun tanpa polesan apapun.
"Segitu takutnya aku kamu pergi meninggalkanku? apa yang akan terjadi padaku kalau kamu benar-benar pergi? aku tidak bisa membayangkannya? aku pernah linglung ketika Shakila pergi,aku rasa kalau kamu pergi aku akan lebih dari itu. Apa ini maksudnya aku sudah mencintaimu?" batin Arjuna dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari wajah Anyelir.
Tiba-tiba, mata Anyelir terbuka dan tatapannya langsung bersirobok dengan mata Arjuna. Arjuna tersentak kaget, namun pria itu berusaha untuk bersikap biasa saja.
Anyelir berniat untuk menutup matanya lagi, karena dia merasa kalau dia masih berada di dunia mimpi.
"Kami masih mengantuk ya?" Arjuna buka suara, membuat Anyelir kembali membuka matanya.
Mata wanita itu membesar dan langsung duduk.
"Gawat! aku sepertinya ketiduran lagi!". Anyelir berniat untuk turunkan dari ranjang.
"Kamu mau kemana?" Arjuna menyentuh pundak Anyelir untuk mencegah wanita itu beranjak dari tempat tidurnya.
"Aku mau ke bawah, untuk membantu Mbok buat sarapan," jawab Anyelir dengan raut wajah panik.
Arjuna tergelak, melihat raut wajah Anyelir, hingga membuat wanita itu kebingungan.
"Kenapa kamu tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Anyelir dengan kening berkerut.
"Tentu saja ada yang lucu. Kamu mau masak apa jam segini?" tanya Arjuna disela-sela tawanya.
"Emangnya sudah jam berapa?" bukannya aku sudah kesiangan?" kening Anyelir semakin berkerut.
"Bagaimana kamu bisa berpikir kalau kamu sudah kesiangan?"
"Kamu sudah bangun. Biasanya aku yang bangun lebih dulu. Jadi kalau kamu sudah bangun, berarti aku sudah kesiangan," sahut Anyelir, lugas dan yakin.
Arjuna menarik napas dalam-dalam dan turun dari ranjang. Pria itu meraih jam di atas nakas dan memberikannya pada Anyelir.
"Nih, kamu lihat. Ini baru hampir jam setengah tiga," Anyelir menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Kenapa bisa? jam ini pasti sudah rusak," ujar Anyelir.
Arjuna mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan dan meraih tangan Anyelir.
"Kalau kami tidak percaya, mari kita lihat keluar!" Arjuna mengajak Anyelir ke arah jendela dan membuka tirainya.
__ADS_1
"Kamu sudah percaya sekarang?" Anyelir menganggukkan kepalanya seraya nyengir memperlihatkan deretan giginya yang rata.
"Kalau begitu ayo kita tidur lagi!" Anyelir melangkah dan naik kembali ke atas ranjang. Kemudian membaringkan tubuhnya.
Sementara Arjuna menggaruk-garuk kepalanya, seperti ada hal yang pria itu inginkan. Yang pastinya bukan tidur.
Di saat Arjuna merangkak naik kembali ke atas ranjang, Anyelir tiba-tiba duduk kembali, hingga membuat Arjuna terjengkit kaget, hampir jatuh.
"Kenapa kamu tiba-tiba duduk?" protes Arjuna dengan tangan yang memegang dada.
"Aku baru berpikir, kenapa kamu belum tidur jam segini?"
"Bukannya belum tidur, lebih tepatnya terbangun," sahut Arjuna sembari merebahkan tubuhnya disusul oleh Anyelir.
"Kenapa? apa kamu tidak nyaman tidur atau ada yang mengganggu pikiranmu?" mata Anyelir menatap dalam mata Arjuna.
"Tidak ada sama sekali! hanya saja aku tadi ...." Arjuna menggantung ucapannya. Hampir saja pria itu keceplosan, kalau dia bermimpi Anyelir meninggalkannya.
"Hanya saja apa?" Anyelir mengrenyitkan keningnya.
"Tidak ada! lupakan saja!" Arjuna seketika memejamkan matanya. Sementara itu, Anyelir memaknai lain, ketidak jujuran Arjuna.
"Sepertinya Arjuna sedang teringat pada Shakila sekarang. Mungkin, Arjuna tidak akan pernah bisa melupakan wanita itu," bisik Anyelir pada dirinya sendiri.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Arjuna, yang merasa kalau istrinya itu sedang memikirkan sesuatu yang membuat embusan napas wanita itu terasa berat.
"Tidak ada sama sekali!" sahut Anyelir, dengan senyum terpaksa.
"Kamu jangan bohong! aku tahu kalau kamu sedang memikirkan sesuatu."
"Apa kamu sedang memikirkan Shakila, makanya kamu tidak bisa tidur tenang? kalau iya, kenapa kamu tidak menghubungi Radit dan tanyakan bagaimana kondisinya sekarang. Kalau tidak, kenapa kamu tidak langsung pergi saja ke sana? agar kamu bisa lihat langsung agar kamu bisa tenang,"
Arjuna menghela napasnya dengan sekali hentakan. Seperti dugaannya, istrinya itu sedang memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Kenapa kamu bisa berpikir ke arah sana?"
"Kalau tidak memikirkan hal itu, sama sekali tidak mungkin kan? apa lagi yang bisa membuat kamu tidak tenang, kecuali Shakila? kamu pasti sekarang sangat tidak merasa nyaman dan sangat ingin melihat kondisi Shakila secara langsung. Kalau iya, kamu __"
Anyelir sontak berhenti bicara karena tiba-tiba bibir Arjuna menempel di bibirnya. Arjuna yang awalnya hanya menempelkan bibirnya, agar istrinya itu berhenti bicara, kini mulai menggerakkan bibirnya, melu*mat bibir Anyelir dengan lembut.
"Jun, kenapa kamu menciumku? belakangan ini kamu sudah sering melakukannya," protes Anyelir ketika Arjuna melepaskan ciumannya.
"Kenapa? apa ada masalah dan ada yang keberatan? bukannya aku sudah mengatakan kalau kamu harus terbiasa dengan sentuhanku? kita juga sudah sering melakukannya kan? bibir kamu, tubuhmu sudah jadi candu, bagiku!" goda Arjuna, membuat pipi Anyelir memerah. Beruntungnya cahaya lampu di kamar mereka cukup temaram sehingga pipi merah Anyelir tidak terlalu terlihat.
"Ta-tapi, kamu__" belum sempat Anyelir menyelesaikan ucapannya, bibir Arjuna kembali mendarat di bibir Anyelir, sehingga lagi-lagi Anyelir berhenti bicara.
__ADS_1
"Tadi kamu mengatakan, selain Shakila siapa lagi yang aku pikirkan? ada ... kamu mau tahu siapa?" bisik Arjuna dengan nada sensual hingga membuat Anyelir merinding.
"Siapa?" tanya Anyelir dengan nada yang sangat pelan.
"Kamu," bibir Arjuna yang tadinya berada di telinga Anyelir, kembali mendarat di bibir wanita itu.
"Aku?" bisik Anyelir pada dirinya sendiri dengan kening berkerut, gagal memaknai ucapan suaminya.
Merasa tidak ada perlawanan dari Anyelir, membuat Arjuna mengigit sedikit bibir Anyelir hingga membuat mulut Anyelir terbuka. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Arjuna seketika langsung mengeksplor dalamnya mulut Anyelir dan sesekali membelit lidah wanita itu.
Anyelir yang juga kini sudah mulai terpancing, akhirnya membalas serangan Arjuna, hingga membuat wanita itu lupa menanyakan maksud ucapan suaminya itu.
Arjuna kini menginginkan lebih dari ciuman. Akhirnya hal tadinya yang pria itu inginkan, ketika Anyelir hendak tidur kembali, berhasil dia dapatkan.
Sementara itu, jauh di Negara tetangga, Shakila merasakan sakit yang amat sangat, hingga membuat Maya panik, dan langsung membangunkan Radit yang kebetulan ikut menginap di rumah sakit, karena kondisi Shakila yang belakangan ini semakin drop.
"Nak Radit, tolong panggilkan dokter!" pekik Maya dengan raut wajah yang ingin menangis.
Radit sontak berlari, keluar untuk mencari dokter. Pria itu lupa, kalau untuk memanggil dokter, bisa tinggal menekan bel.
Tidak perlu menunggu lama, Dokter dan dua orang perawat, masuk ke dalam ruangan Shakila dan langsung melakukan pemeriksaan.
Dokter itu menghela napasnya, dan raut wajahnya menyiratkan kalau Shakila tidak baik-baik saja.
"Kenapa,Dok? apa yang terjadi dengan putriku?" tanya Maya dengan raut wajah khawatir.
"Nyonya, penyakit Nona Shakila semakin parah. Kita harus secepatnya melakukan transplantasi hati. Kalau tidak, aku tidak bisa menjamin kalau putri ibu akan bisa bertahan lagi. Selama ini pengobatan yang kita lakukan hanya sebatas memperlambat penyebaran sel kankernya, tapi untuk sekarang,hal seperti itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk kita lakukan," terang dokter itu, membuat Maya tersungkur, lemah.
setelah Shakila sedikit tenang dan sudah tidur, dokter dan dua perawat itu keluar dari ruangan itu.
Radit menatap wajah Shakila yang walaupun sedang tertidur, tapi tetap memperlihatkan rasa sakit.
Radit menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa dengan tatapan yang kosong.
"Nak Radit,apa Tante bisa minta tolong?"
"Apa itu,Tan? selagi aku mampu, sebisaku aku akan berusaha untuk menolong,"
"Bisa tidak kamu meminta Arjuna datang ke sini? aku mau melihat Shakila bahagia,"
Radit merasa tenggorokannya seperti tercekat dan hatinya merasa sakit. Bagaimana tidak? dia yang selalu berada di di samping Shakila ternyata belum cukup. Ternyata wanita itu masih mengharapkan kehadiran Arjuna yang sama sekali sudah mengatakan tidak akan kembali lagi pada Shakila.
"Bagaimana,Nak Radit? kamu bisa memintanya ke sini? kalau istrinya itu juga ikut, tidak apa-apa, bahkan lebih bagus," ucap Maya, ambigu. Entah apa yang direncanakan oleh wanita paruh baya itu.
Tbc
__ADS_1