
"Hei, kamu Satria ya?" tanya seorang wanita pada Satria yang terlihat frustasi di sebuah bar.
Merasa ada yang mengenalnya, Satria menoleh ke arah datangnya suara. Pria itu mencipitkan matanya berusaha mengingat wanita yang baru saja menegurnya.
"Kamu kenapa menatapku seperti itu? kamu tidak mengenalku ya?" wanita itu menautkan kedua alisnya.
"Hmm, tunggu dulu! sepertinya aku mengenalmu. Bukannya kamu Nania, sahabat Anyelir dulu. Dan aku dengar-dengar kamu yang menusuk Anyelir dari belakang, bukankah begitu?" Satria kini menatap wanita yang ternyata Nania itu dengan sinis.
"Ingatan kamu ternyata kuat juga. Tapi bukan salahku kalau memang aku dan Bayu ujung-ujungnya saling menyukai kan? Oh ya,kamu terlihat berubah dari yang dulu. Kamu sekarang terlihat lebih tampan dan sepertinya kamu sudah jadi pria yang sukses," Nania menatap Satria dari atas sampai ke bawah
Satria tidak menanggapi pujian Nania sama sekali. Pria itu justru meminta waitress untuk mengambilkan sebotol minuman untuknya.
"Kamu mau aku temani minum?" Nania memutuskan untuk duduk di samping Satria walaupun pria itu belum mengiyakan.
"Kamu benar-benar tidak punya harga diri ya? siapa yang memintamu duduk menemaniku? dan kenapa kamu ada di tempat seperti ini? apa kamu sudah dicampakkan Bayu juga?" Satria menyelipkan sebuah sindiran pada wanita yang dia anggap tidak punya malu itu.
"Aku tidak dicampakkan, cuma tidak dipedulikan saja. Aku bosan di rumah, jadi aku memilih ke sini untuk mencari hiburan. Kalaupun aku pulang malam, toh dia juga tidak akan bertanya apapun. Dia mendekatiku kalau hanya ingin butuh kenikmatan saja dan aku juga sama sekali tidak peduli, yang penting uang tetap jalan," sahut Nania sembari ikut meminta sebotol minuman ke waitress.
Satria tersenyum sinis dan memalingkan wajahnya. Terlihat jelas kalau pria itu sama sekali tidak menyukai keberadaan wanita itu.
"Niatku, ke sini untuk meringankan beban pikiranku, tapi yang ada aku kesal seperti ini dengan adanya wanita ini. Benar-benar bikin muak!" umpat Satria dalam hati.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?kamu lagi banyak pikiran ya?" Nania sama sekali tidak peduli dengan ekspresi tidak suka yang ditunjukkan oleh Satria. Karena ekspresi seperti itu sudah biasa dia dapatkan dari keluarga besar Bayu. Jadi, dia sudah sangat kebal.
"Yang jelas aku ingin menenangkan pikiranku, bukan untuk mencari kekesalan dengan kehadiranmu di sini. Apa kamu sama sekali tidak malu ya, karena sebenarnya kehadiranmu tidak disambut baik olehku," nada ucapan Satria terdengar sangat lembut, tapi di balik ucapan itu terselip sindiran yang sarkastik.
__ADS_1
Bukannya tersinggung, Nania justru terkekeh ringan. "Aku sudah terbiasa mendapat penolakan dan aku sama sekali tidak peduli lagi. Tujuan kita ke sini sama, untuk mencari ketenangan, jadi aki pikir tidak ada salahnya aku menemanimu, terlepas kamu menolak atau tidak," ucapnya sembari meneguk habis alkohol yang ada di gelasnya.
Satria mendengkus dan akhirnya lebih memilih untuk tidak peduli dan tidak menganggap keberadaan Nania.
"Aku sering berpikir, apa sih kelebihan Anyelir dibandingkan aku? soal cantik,aku juga cantik. Tapi kenapa nasib baik selalu berpihak padanya? Dari dulu semua orang menyukainya. Mulai dari guru-guru,kakak kelas,adik kelas dan Bayu, laki-laki idola di sekolah, bahkan aku yakin,kamu juga menyukainya iya kan? Aku benar-benar iri padanya." sepertinya Nania mulai mabuk, sehingga bicaranya mulai melantur.
Satria sama sekali tidak menanggapi. Pria itu malah asik meneguk minumannya.
"Tapi, aku sedikit bahagia sekarang. Kamu tahu kenapa? karena ternyata Anyelir hanya wanita pengganti lebih kasarnya wanita cadangan untuk suaminya itu. Hahahaha, rasain kamu Anye!" Nania tersenyum sinis sembari memutar-mutar gelas di tangannya.
Sementara itu Satria sontak merasa penasaran dengan perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Nania.
"Apa maksudmu? wanita pengganti?" ulang Satria memastikan.
"Iya, wanita pengganti!" Nania menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Aku tidak bercanda sama sekali. Aku mendengar sendiri pembicaraannya dengan Vika. Sialnya aku tidak bisa menyebarkannya, karena Vika si brengsek itu, mengancam akan memberitahukan rahasiaku pada Bayu. Benar-benar sial nasibku," Mata Nania tampak berkilat-kilat penuh kebencian saat mengucapkan perkataannya.
"Jadi, Anyelir hanya wanita pengganti? brengsek!" umpat Satria, dengan sorot mata penuh kebencian.
Namun sorot mata penuh kebencian itu seketika berubah. Sudut bibir pria itu kini menerbitkan sebuah senyuman licik.
"Kalau begitu, aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan Anyelir. Aku rasa Tante Mirna belum tahu masalah ini. Kamu tidak bisa menyebarkannya,tapi aku bisa!"
"Jangan!" cegah Nania dengan cepat.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena sekali saja itu tersebar, yang tertuduh pasti aku. Aku tidak mau kehilangan Bayu untuk sekarang," ucap Nania dengan mata yang sudah terlihat mulai mengantuk.
"Dasar payah! baru minum sedikit saja kamu sudah mabuk!" Tapi, aku sama sekali tidak peduli dengan masalahmu. Justru hal itu yang aku inginkan. Aku yang menyebarkannya tapi kamu yang tertuduh. Jadi, aku bisa leluasa mendekati Anyelir dengan bertindak menjadi penolongnya nanti," senyuman licik di sudut bibir Satria sama sekali tidak menyurut.
"Tolong jangan lakukan itu! karena aku pasti akan hancur!"
"Aku sama sekali tidak peduli!" Satria berdiri dari kursinya dan hendak beranjak meninggalkan Nania. Namun masih beberapa langkah, pria itu kembali memutar tubuhnya dan menghampiri Nania.
"Oh ya, terima kasih ya atas informasinya. Kekesalanku karena gangguanmu tadi, hilang karena ternyata kamu menemaniku ada untungnya juga," pungkas Satria sembari hendak kembali melangkah.
"Tolong jangan menyebarkannya! karena pernikahanku dan Bayu bisa hancur nantinya!" Nania berusaha meraih tangan Satria untuk mencegah pria itu pergi.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan rumah tanggamu!" Satria menepis tangan Nania dengan kasar, lalu dia kembali melanjutkan langkahnya.
Satria melangkahkan kakinya dengan senyuman yang seakan enggan untuk pergi dari bibir itu. Di dalam kepalanya, mulai muncul rencana-rencana licik. Senyum pria itu semakin lebar, ketika membayangkan kalau nantinya Anyelir,akan menjadi miliknya seutuhnya.
Belum mencapai pintu keluar, tatapan Satria seketika menatap sebuah pemandangan yang membuat dia kembali memutar tubuhnya dan memutuskan untuk kembali menghampiri Nania.
"Nania,aku punya penawaran untukmu dan penawaran ini juga sangat menguntungkan kalau kamu berhasil. Tapi,aku pastikan kalau ini bakal berhasil. Kalau kamu berhasil, aku bisa pastikan aku tidak akan menyebarkan informasi yang tadi kamu katakan tadi, bagaimana?"
"Apa itu? apapun akan aku lakukan, asal pernikahanku aman," sahut Nania dengan antusias.
Satria kembali menyelipkan sebuah senyuman licik di sudut bibirnya. Pria itu, duduk kembali di tempat dia semula dan mulai mengungkapkan rencananya.
__ADS_1
Tbc