
Arjuna sudah sampai di lobby, tapi dia tidak menemukan Anyelir lagi. Pria itu itupun merogoh sakunya dan mencoba menghubungi nomor sang istri, terhubung, tapi tidak diangkat.
Arjuna pun mencoba menghubungi supir yang mengantarkan Anyelir ke kantor.
"Pak apa istriku ada bersama, Bapak?" tanya Arjuna, tanpa basa-basi.
"Emm, Tidak ada, Tuan! Bukannya Non Anyelir di kantor, Tuan? tadi begitu Non Anyelir turun, aku diminta untuk langsung pulang, karena katanya Non Anyelir akan pulang bersama Tuan," sahut supir itu, jujur.
"Oh, ya udah Pak!" Arjuna sontak memutuskan panggilan secara sepihak dan berlari menuju parkiran tempat di mana mobilnya terparkir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jun, kenapa jam segini sudah pulang? di mana Anyelir?" Dewi mengedarkan pandangannya menatap ke belakang Arjuna.
"Emm, jadi Anyelir tidak pulang ke rumah, Ma?"
Dewi mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Kenapa kamu aneh begini? bukannya Anyelir tadi ke kantor kamu?"
Arjuna tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru berbalik dan berlari keluar.
"Arjuna, kamu belum jawab mama!" teriak Dewi. Namun, Arjuna tidak peduli dan tetap masuk ke dalam mobilnya.
"Rumah sakit, pasti dia ke rumah sakit," ucap Arjuna sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Tidak perlu waktu yang lama, Arjuna kini sudah tiba di rumah sakit. Pria itu langsung berlari menuju ruangan di mana ibu mertuanya dirawat.
Arjuna membuka pintu dengan perlahan dan mengintip lebih dulu. Pria itu mengrenyitkan keningnya, ketika tidak melihat sosok Anyelir di dalam ruangan itu.
"Nak Arjuna, kenapa kamu tidak masuk?" tegur Mirna yang menyadari kalau ada seseorang yang membuka pintu.
__ADS_1
Arjuna menyelipkan seulas senyuman dan berjalan masuk. "Ma, apa Anyelir tadi ke sini?"
Mirna mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Bukannya tadi pagi dia pulang ke rumah kalian? apa dia tidak benar-benar pulang?"
"Oh, dia pulang kok, Ma. Yang aku tanya barusan? apa dia datang ke sini barusan?" Arjuna benar-benar terlihat sangat hati-hati bertanya.
"Dia tidak datang ke sini sama sekali. Apa kalian ada masalah?" sudut alis Mirna Naim sedikit ke atas, menyelidik.
"Emm, tidak ada, Ma. Cuma aku khawatir kalau Anyelir salah paham padaku,"
"Salah paham kenapa?"
Akhirnya Arjuna mengungkapkan kabar yang baru saja dia tahu mengenai alasan kepergian Shakila, mantan kekasihnya.
"Tadi Anyelir ke kantor dan mendengar pembicaraanku dengan Radit, Ma. Tapi, dia langsung pergi tanpa mendengar keseluruhan," terang Arjuna dengan raut wajah lelah.
"Nak Arjuna, setelah mendengar alasan kepergian wanita itu, tentu saja Anyelir akan berpikir kalau kamu pasti akan memilih untuk kembali pada wanita itu. Dan jika kamu mau kembali pada wanita itu, mama yakin juga kalau Anyelir akan merelakanmu, karena mama tahu, Anyelir memiliki hati yang sensitif, mudah kasihan pada orang.Sekarang, Mama hanya ingin memastikan, apa kamu benar-benar akan tetap bertahan dengan Anyelir atau kembali pada wanita itu?"
"Ma, aku bukan pria yang suka melanggar komitmen. Aku sudah berkomitmen untuk tetap bersama dengan Anyelir, jadi aku harus tidak akan merubah komitmen yang aku buat," jawab Arjuna dengan tegas.
Mirna menyelipkan seulas senyuman, mendengar ucapan tegas Arjuna.
"Kalau begitu, tugas kamu meyakinkan Anyelir. Kamu tahu, Anyelir dari kecil tumbuh tanpa seorang ayah. Aku membesarkannya dengan tangan ini sendiri dan satu-satunya yang kuharapkan adalah melihatnya bahagia, tidak sepertiku yang harus berjuang sendiri tanpa adanya suami," Mirna berhenti sejenak, untuk mengambil jeda. Dari sudut mata wanita paruh baya itu, terlihat setetes cairan bening,yang buru-buru diseka oleh wanita itu. Sepertinya ada sesuatu yang menyedihkan berkelebat di pikiran wanita itu.
"Awalnya, ketika aku mendengar dari Satria, alasan kalian berdua menikah, aku tiba-tiba merasa kalau nasib Anyelir tidak jauh beda dariku. Tapi, aku kembali tenang ketika ternyata apa yang kutakutkan tidak terjadi. Dan sekarang aku memohon padamu, agar mau menjaga dan melindungi putriku. Dia sudah terlalu banyak hidup menderita bersamaku. Asal kamu tahu, selama ini aku bertahan hidup hanya untuk melihat dia bahagia," kali ini air mata Mirna sudah tidak tertahan lagi. Air mata itu dengan lancang menerobos bendungan yang dibangun oleh wanita itu.
Arjuna menghela napasnya dan menganggukkan kepalanya. "Seperti yang aku katakan tadi,Ma. Aku tidak akan memegang komitmen yang sudah aku buat,"
"Satu lagi, Nak, apa kamu mencintai Anyelir?"
__ADS_1
Arjuna tercenung. Merasa bingung hendak memberikan jawaban apa.
"Kalau kamu tidak mencintainya, Mama harap kamu bisa mencintainya, bukan hanya sekedar rasa tanggung jawab. Tapi, kalau kamu tidak bisa juga mencintainya, sebelum dia terlanjur benar-benar mencintaimu, segera kembalikan dia ke mama, Tangan Mama masih terbuka lebar untuk menyambutnya. Mama tidak akan membencimu, karena mama tahu kalau cinta tidak bisa dipaksakan," tutur Mirna diselipi dengan senyum tipis.
"Ma, aku__"
"Kamu tidak perlu jawab sekarang. Kamu pikirkan baik-baik bagaimana perasaanmu. Sekarang kamu cari Anyelir di belakang rumah. Di sana ada pohon besar tempat yang sering dia sering dia gunakan untuk berkeluh kesah. Di pohon itu, dia melukis sosok laki-laki yang dia anggap sebagai ayahnya,"
Untuk beberapa saat Arjuna, diam terpaku. Ada rasa sakit yang seketika mencubit hatinya. Dia tidak menyangka, di balik keceriaan yang selalu dipertontonkan oleh Anyelir, di depan semua orang ada cerita sedih yang disembunyikannya.
"Nak Arjuna, apa kamu masih mau di sini?" Mirna kembali buka suara, menyadarkan Arjuna dari alam bawah sadarnya.
"I-iya,Ma. Aku pergi sekarang! nanti sore aku akan jemput Mama dan antar pulang,"
Mirna kembali menyelipkan senyuman dan menganggukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anyelir berdiri di depan sebuah pohon besar dan membelai lembut lukisan yang dia buat sendiri.
Wanita itu tersenyum dan memeluk pohon itu.
"Hai, Papa! apa kabar?" seperti biasa tidak ada suara yang menjawab sapaan Anyelir.
"Pa, aku kangen. Maaf sudah lama tidak mengunjungimu. Papa pasti kesal kan? dan aku yakin Papa pasti sudah bisa menebak kenapa aku datang ke sini. Pasti papa tahu kalau aku hanya ingin berkeluh kesah. Aku memang anak yang tidak berbakti. Datang hanya untuk menyampaikan keluhan saja. Tapi, Papa tidak bosan kan mendengar keluh kesahku?" Anyelir masih berusaha untuk tersenyum.
"Pa, sebenarnya aku ingin sekali bisa melihat bagaimana wajahmu, tapi kata mama, dia sama sekali tidak punya photomu. Papa pasti tampan kan? iya dong, makanya aku bisa cantik." Seperti biasa Anyelir memuji dirinya sendiri.
"Pa, kata Mama kamu itu sosok yang baik. Tapi kalau Papa baik, kenapa Papa tidak ada bersama mama dan aku? Mama bilang, Papa sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi di mana makam Papa? kenapa mama juga tidak tahu?"
" Pa, aku mencintai seorang laki-laki, tapi apa dia juga sama sepertimu yang tidak mencintai mama? Eh, tidak mungkin, sih Mama kan cantik, baik, pasti papa juga cinta mama kan? Tapi, kenapa aku selalu mendengar dari orang-orang kalau papa membuang Mama? apa nasibku juga akan sama nanti dengan mama, dibuang laki-laki itu? apa aku yang mendapat karma yang Papa lakukan ke mama? tapi aku kan tidak jahat, Pa? jadi aku tidak akan mendapatkan karmanya kan? Pa, saat aku merasa lemah, untuk menghadapi kegilaan dunia ini sendirian, aku tidak bisa seperti orang lain yang memiliki seorang ayah yang siap pasang badan untuk melindungi. Yang aku inginkan, bisa mendapat seorang pria yang bisa menggantikan sosokmu. Apa aku akan bisa menemukan sosok itu, Pa?"
__ADS_1
Tbc