
Anyelir diam begitu lama mendengar kenyataan yang baru saja diceritakan oleh Maya.
"Kamu sudah mendengarnya, dan aku sama sekali tidak berbohong. Sekarang semua tergantung padamu. Aku yakin, kalau mama kamu juga pasti akan sedih nanti jika salah satu putrinya, tidak bisa diselamatkan padahal kesempatan itu ada. Yang ada mama kamu pasti akan menyalahkanmu yang memiliki kesempatan untuk menolong, tapi tidak kamu lakukan," Maya mencoba membawa-bawa Mirna, untuk menggugah hati Anyelir. Wanita paruh baya itu begitu yakin kalau Anyelir memiliki hati yang sama dengan Mirna mamanya.
"Tante, aku tidak menyangka kalau ternyata penderitaan yang ditanggung oleh mamaku begitu berat. Dan anda masih tetap dengan keegoisan anda, yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri,"
Ucapan Anyelir seketika membuat Maya terkesiap kaget, tidak menyangka kalau reaksi Anyelir sangat dingin. Awalnya dia berharap kalau Anyelir akan menangis sesunggukan dan tanpa berpikir panjang akan mendonorkan hatinya. Bahkan wanita itu berharap mendapat bonus, Anyelir akan memberikan Arjuna sekalian pada Shakila.
"Maksud kamu apa?" Maya mengrenyitkan keningnya.
"Coba Tante bayangkan, mamaku membawaku pergi dan membesarkanku sendiri dengan segala keterbatasannya. Dan Shakila sendiri, dia mendapatkan kasih sayang yang utuh, dari anda, dari pria yang kamu sebut papaku,bahkan keluarga papa yang pasti sangat menyayanginya. Aku tidak iri dengan semua itu, bukan! karena itu adalah nasib baiknya. Tapi yang benar-benar tidak aku sangka, bagaimana bisa anda meminta seorang anak yang besar tanpa seorang ayah ini berkorban? Apa menurut anda, mamaku akan benar-benar bahagia bila aku mendonorkan hatiku? atau anda sebenarnya hanya takut kehilangan hak waris yang jatuh pada Shakila,kalau sampai Shakila tidak sembuh? maaf sekali lagi, Tante, aku tetap tidak bisa!" tegas Anyelir.
"Bagaimana mungkin sikap kamu bisa berbeda dengan mamamu? mamamu begitu pengertian dan sangat murah hati. Kepada orang lain saja, kalau kita bisa menolong, kita akan tolong, ini Shakila, dia itu kakakmu sendiri. Apa salahnya kamu mendonorkan hatimu, toh kamu masih bisa hidup karena hati itu bisa tumbuh kembali," Maya mulai terlihat berang.
"Kenapa aku bisa berbeda dengan mamaku? ya, jelas sekali. Itu karena apa yang dialami mamaku,aku jadikan pembelajaran. Aku melihat penderitaan mamaku dari aku kecil, masa aku mau juga seperti itu? dan untuk masalah hati yang bisa tumbuh kembali, aku tidak memungkiri itu. Tapi, aku tidak mau karena mendonorkan hatiku, ada jiwa yang harus aku korbankan." sahut Anyelir, membuat Maya mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Apa maksudmu? jiwa siapa yang kamu maksud?"
"Maaf, Tante dengan berat hati aku harus mengakui kalau di rahim aku sedang bertumbuh jiwa baru. Anakku dan Arjuna,"
Maya sontak membesarkan matanya, terkesiap kaget mendengar pengakuan Anyelir.
"Seandainya aku mau mendonorkan hatiku, aku yakin dokter juga tidak akan mau melakukannya pada seorang wanita hamil, karena bagaimanapun untuk pencangkokan hati dan pemulihan akan ada tindakan medis yang akan dilakukan dan itu pasti membahayakan janinku," lanjut Anyelir kembali.
"Ka-kamu hamil? jadi hubungan kalian berdua sudah terlalu jauh?" gumam Maya di sela-sela rasa kagetnya.
"Maaf, kalau aku harus membenarkannya. Karena itulah aku akan akan tetap mempertahankan Mas Juna, karena aku tidak mau anak ini sama sepertiku yang tumbuh tanpa seorang ayah. Maaf kalau aku terkesan tidak memiliki empati, tapi rasanya sangat sakit, Tante, di saat teman-teman menceritakan tentang ayah masing-masing, aku hanya bisa menceritakan ayah hayalanku," ucap Anyelir dengan mata yang sudah berair.
__ADS_1
"Aku rasa dokter tidak akan keberatan kalau kamu tidak jujur mengatakan kondisimu. Tolong lah kali ini saja. Tidak ada salahnya kamu berkorban untuk kakakmu sendiri. Kamu masih sangat muda, kamu masih bisa hamil lagi nanti, kalaupun janin kamu tidak bisa diselamatkan. Toh, janin kamu itu masih belum berbentuk manusia, jadi tidak salah kamu mengorbankan janinmu demi seseorang yang benar-benar sudah menjadi manusia dan kakakmu sendiri. Aku yakin Shakila akan menghargai pengorbananmu itu nanti," Maya masih mencoba membujuk.
Anyelir berdecak kesal. "Anda benar-benar wanita yang tidak punya hati. Walaupun janinku belum berbentuk manusia, tapi dia adalah anugerah dan dia itu bernyawa. Secara tidak langsung anda sudah memintaku untuk menjadi seorang pembunuh. Dan yang aku bunuh adalah darah dagingku sendiri. Shakila bisa saja menghargai pengorbananku, tapi apa itu sebanding dengan kebencian dari Arjuna dan keluarganya?
"Darimana kamu tahu Arjuna akan membencimu? bagaimana kalau dia berterima kasih, karena kamu sudah menyelamatkan Shakila? bagaimana kalau Arjuna ternyata lebih peduli dengan kesembuhan Shakila daripada anak yang kamu kandung? asal kamu tahu, aku yakin kalau Arjuna itu masih sangat mencintai Shakila. Dia memilih bersamamu hanya demi tanggung jawab semata,"
Anyelir seketika terdiam, tidak bisa menjawab perkataan wanita paruh baya itu, karena memang sampai sekarang pun, dia belum pernah mendengar Arjuna mengatakan kalau dia mencintainya.
"Kamu diam, berarti tebakanku benar. Jadi, kalau menurutku, akan lebih baik kamu memilih tidak melahirkan anak itu. Karena percuma saja, anak itu pasti bukan anak yang tidak diinginkan,"
"Kalau Mas Juna tidak menginginkan anak ini, aku yang menginginkannya. Dan yang aku tahu, adik ipar dan mertuaku juga sangat menginginkannya. Jadi, anak ini tidak akan kekurangan kasih sayang. Sekarang aku baru menemukan jawaban, kenapa dulu Anda tidak bisa hamil," pungkas Anyelir sembari berbalik dan beranjak pergi meninggalkan Maya.
"Maafkan aku, Kak Shakila! aku benar-benar tidak bisa membantumu kali ini," batin Anyelir yang sebenarnya jauh di dalam hatinya, merasa bersalah karena tidak bisa membantu.
Maya, yang merasa geram, seketika menyusul Anyelir dan hendak berpura-pura tidak sengaja tersandung batu dan berniat membentur tubuh Anyelir. "Aku harus melakukan, hal licik ini demi Shakila. Walaupun dia buka anak kandungku, tapi aku benar-benar menyayanginya. Maafkan aku Anyelir! aku tidak berniat melakukan hal ini, tapi dengan terpaksa aku harus melakukannya," Baru saja Maya hendak melakukan niatnya, tiba-tiba tubuh wanita paruh baya itu, ditahan oleh sebuah tangan besar.
Maya sontak menoleh ke belakang dan kaget melihat sosok pria yang sangat dia kenal.
"Ha-Haris?"
Ya, pria itu adalah Haris. Mendengar kalau Arjuna akan ke Singapura membawa Anyelir ikut serta, tanpa sepengetahuan Arjuna, pria itu ikut terbang ke Singapura. Karena dia merasa tidak tenang dan khawatir kalau-kalau kakaknya itu berubah pikiran dan meninggalkan Anyelir.
Sementara itu, mendengar suara Haris, Anyelir ikut menoleh ke belakang dan kaget melihat kehadiran adik iparnya itu.
"Haris, kenapa kamu bisa berada di sini?"
"Tentu saja, mau jalan-jalan. Aku tidak mau sibuk kerja sendiri," sahut Haris, masih menyempatkan waktu untuk bercanda.
__ADS_1
"Kamu, itu harus bersikap hati-hati, Kakak ipar. Karena bahaya bisa saja mengintai di mana-mana," lanjut Haris lagi, sembari menyelipkan sindiran pada Maya.
Anyelir mengrenyitkan keningnya, berusaha mencerna maksud ucapan Haris yang tumben-tumbenan memanggilnya kakak ipar.
"Ah, sudahlah tidak perlu bingung seperti itu. Yang jelas kamu harus memberitahukan kabar bahagia itu pada kak Juna. Atau kamu menginginkan aku yang memberitahukannya?" Haris mengerlingkan matanya.
"Jangan! biar aku yang akan memberitahukan sendiri!" Anyelir mendelik tajam ke arah Haris.
"Yes, sebentar lagi aku akan jadi seorang paman. Ayo kita pergi!" Haris merangkul pundak Anyelir, seperti halnya seorang sahabat.
"Ternyata, semua keluarga Arjuna sudah menerima kehadiran Anyelir. Astaga, setan apa tadi yang berbisik di telingaku? aku hampir saja mencelakai Anyelir. Bagaimana mungkin aku bisa setega tadi, mengatakan hal-hal jahat padanya?" Maya merutuki niat jahatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Shakila menangis sesenggukan, karena Arjuna masih tetap pada pendiriannya, untuk tetap bersama dengan Anyelir.
"Kenapa kamu bisa setega ini, Jun? Apa kamu lupa dengan perkataanmu dulu yang akan membahagiakanku?"
"Aku tidak ingkar. Hanya saja yang kamu yang membuatku gagal memenuhi ucapanku dulu. Kamu sendiri yang sudah memilih untuk pergi. Bukannya sebelum kamu pergi kamu sudah menyiapkan hatimu untuk kehilanganku? maaf, bukannya aku tidak memiliki empati sama sekali, tapi aku tidak mau memberikan kamu harapan. Tapi, seperti yang aku katakan tadi, aku akan tetap memberikan dukungan padamu, sebagai seorang sahabat," tutur Arjuna, panjang lebar tanpa jeda, membuat Shakila semakin menangis sesunggukan.
"Jadi,benar dugaanku tadi, kalau sebenarnya kamu sudah mencintainya? kalau iya, itu berarti aku memang sudah tidak memiliki harapan lagi,"
Arjuna menghela napasnya dengan sekali hentakan, kemudian mengangguk, mengiyakan.
Melihat anggukan kepala Arjuna, membuat napas Shakila terasa sesak, hingga membuat Arjuna benar-benar panik dan langsung menekan bel untuk memanggil dokter.
Tbc
__ADS_1