
Setelah seminggu berada di Singapura dan setelah semua urusan dianggap sudah selesai, Arjuna akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Haris diminta untuk tinggal di Singapura, menggantikan Radit mengurus perusahaan yang selama ini dikelola Radit.
Kali ini, Arjuna sengaja menggunakan pesawat pribadi, agar Anyelir merasa nyaman. Di samping itu juga karena Radit dan mamanya meminta ikut kembali ke Jakarta.
"Kamu benar-benar memutuskan untuk kembali ke Jakarta, Dit?" tanya Arjuna, memastikan.
"Iya, Dit. Aku benar-benar sudah memutuskannya," sahut Radit, mantap.
"Kenapa kamu tidak mau menemui Shakila lebih dulu?"
"Aku rasa tidak perlu. Yang terpenting sekarang, dia sudah baik-baik saja," Radit tersenyum,miris.
"Dit, aku yakin kalau ucapannya itu tidak tulis dari dalam hati. Menurut yang aku lihat, sepertinya dia menunggu kamu datang," Arjuna mencoba mengubah pemikiran Radit.
Radit menghela napasnya dengan cukup berat dan menatap jauh ke depan dengan tangan yang berada di dalam saku.
"Aku bisa menilai Jun. Ucapannya itu benar-benar tulus dari dalam hatinya. Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk bisa menerima kehadiranku,"
Arjuna mengembuskan napasnya, tidak bisa memaksakan kehendaknya. "Sekarang terserah kamu saja. Aku hanya ingin mengingatkan kamu saja agar tidak menyesal nantinya," pungkas Arjuna, menghentikan pembicaraan.
__ADS_1
"Oh ya,apa dadamu sekarang baik-baik saja dan memungkinkan untuk bisa naik pesawat?" Arjuna mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kata dokter aku baik-baik saja dan bisa naik pesawat. Kata dokter, pemulihan bagi si pendonor hanya memerlukan waktu satu minggu. Jadi kamu tenang saja. Setelah sampai di Indonesia, aku hanya butuh checkup rutin," jelas Radit.
"Baiklah kalau seperti itu. Aku bisa tenang sekarang! Ayo naik. Mamamu dan Anyelir pasti sudah lama menunggu kita. Lagian kita harus secepatnya berangkat, karena aku takut, Haris datang menyusul dan tidak mau tinggal di Singapura. Kamu tahu sendiri, kalau dia baru menjalin hubungan dengan gadis incarannnya," Arjuna terkekeh demikian juga dengan Radit.
Dua pria itu kini sudah masuk ke dalam pesawat dan menuju tempat duduk masing-masing. Arjuna duduk di samping Anyelir, Sedangkan Radit di samping mamanya.
"Kamu menghubungi siapa?" tanya Arjuna, karena Anyelir baru saja memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
"Ka Shakila. Aku hanya ingin pamit sekali lagi. Aku benar-benar tidak enak karena langsung meninggalkannya , padahal dia belum pulih benar," sahut Anyelir.
"Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama, Sayang. Dan kalau aku pulang sendiri, aku juga tidak akan fokus melakukan pekerjaanku, karena mengkhawatirkanmu. Kamu tenang saja, kita tetap akan bisa mengetahui kondisi Shakila melalui telepon," ucap Arjuna sembari mengelus lembut kepala Anyelir.
"Bagaimana kabar anak papa di dalam sana? siap untuk pulang? pasti siapkan? kita akan ketemu dua Oma di Jakarta. Mereka pasti bahagia nanti. Baik-baik ya di dalam rahim Mama!" Arjuna mengecup perut Anyelir dengan cukup lama.
Pesawat yang membawa mereka akhirnya mulai bergerak dan tidak menunggu lama akhirnya sudah berada di udara.
"Akhirnya aman. Sudah amankan?" tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang kursi yang ditempati oleh Arjuna dan Anyelir.
__ADS_1
Arjuna dan Anyelir sontak menoleh ke belakang dan terkesiap kaget melihat keberadaan Haris.
"Haris kenapa kamu ada di sini? bukannya aku memintamu untuk menggantikan Radit, mengurus perusahaan di sini?" bentak Arjuna, dengan raut wajah kesal.
"Aku kan tidak ada mengiyakannya. Aku jelas-jelas menolak. Kakak aja yang memaksa," sahut Haris santai.
"Sejak kapan kamu masuk ke dalam pesawat?"
"Sebelum Kalian semua sampai ke landasan," ucap Haris sembari memamerkan gigi putihnya yang rata.
"Astaga, Haris kenapa sih kamu suka berbuat semaunya. Aku dan Anyelir ke Singapura, kamu ikut diam-diam dan meninggalkan perusahaan di Jakarta. Sekarang aku memintamu untuk tetap tinggal di Singapura, kamu malah diam-diam ikut pulang. Aku benar-benar tidak tahu mau mengatakan apa lagi," Arjuna mengembuskan napas kesalnya.
"Lagian Kakak sih, masa bisa setega itu memintaku tinggal di Singapur? aku sudah sangat merindukan Vika. Bagaimana kalau Kakak saja yang berjauhan dengan Anyelir, bisa tidak? pasti tidak bisa kan? aku juga begitu. Aku sudah satu minggu tidak bertemu dengannya, aku sudah sangat merindukannya. Vika,Abang pulang!" ucap Haris dengan mimik wajah yang lucu, hingga membuat Anyelir tergelak.
"Ah, sudahlah. Terserah kamu! aku benar-benar pusing! Jadi, bagaimana dengan perusahaan di Singapura sekarang kalau kita semua kembali?" Arjuna benar-benar kesal.
"Kakak tenang saja. Perusahaan itu akan berjalan seperti biasa. Aku sudah meminta Doni berangkat dari Jakarta hari ini juga dan menggantikan Kak Radit di Singapura. Aku juga sudah meminta seorang karyawan untuk menjemput Doni nanti dan mengantarkannya ke flat yang sudah aku sewa setahun ke depan. Kakak kan juga sudah tahu kemampuan, Doni," terang Haris, merasa hebat.
Arjuna berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau adiknya itu sudah memikirkan semuanya lebih dulu. Dia memang tidak meragukan kemampuan Doni, sahabat adiknya itu dalam menjalankan suatu pekerjaan.
__ADS_1
"Ya udah terserah kamu saja," pungkas Arjuna akhirnya mengalah.
Tbc