Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Bukan salah mereka kalau jatuh cinta


__ADS_3

Setelah pesawat yang membawa Radit tiba di Jakarta, pria itu langsung menuju kantor karena kebetulan hari juga masih menjelang siang.


Semua karyawan kantor, menyapa dan membungkukkan tubuhnya, ketika berpapasan dengan Radit dan pria itu membalas dengan senyum tipis.


Sesampainya di depan ruangan Arjuna, Radit mengetuk pintu dengan perlahan.


"Masuk!" suara Arjuna terdengar tegas dari dalam sana.


Radit pun masuk dan menutup pintu kembali.


"Eh, Dit kamu kenapa sudah pulang? bukannya kamu harus mengurus perusahaan cabang di Singapura?" Arjuna mengrenyitkan keningnya.


"Emm, bukannya dulu kamu bilang kalau projectnya sudah selesai dan setelah grand opening, Haris yang akan mengurus perusahaan di sana?"


Arjuna berdecak lalu mengembuskan napasnya.


"Sepertinya Haris lupa ngasih tahu kamu. Aku sudah meminta dia untuk mengabari kamu agar kamu yang mengurus perusahaan di sana dan Haris membantuku di sini. Mengingat Tante Reni melakukan perawatan di sana. Jadi, kamu tidak bolak-balik Singapura dan Jakarta," jelas Arjuna.


"Haish, kenapa tidak kasih tahu sih? tahu begitu aku tidak akan pulang," Radit berdecak kesal. Namun ada kebahagiaan yang timbul mengingat kalau dirinya akan bisa menemani Shakila nanti jika dia benar-benar harus berada di Singapura.


"Kalau begitu, aku akan balik ke sana nanti sore," lanjut Radit lagi.


Arjuna melirik ke arah ponselnya ada bunyi notifikasi pesan masuk.


Arjuna tersenyum melihat isi pesan yang ternyata dari Anyelir. Sementara itu, Radit mengrenyitkan keningnya, melihat sikap Arjuna.


"Sepertinya isi pesan itu menyenangkan Jun. Pesan dari siapa?"


"Oh, ini dari Anyelir. Katanya dia dalam perjalanan ke sini, membawa makan siang. Tadinya aku mau mengajaknya makan siang di restoran tapi dia bilang mending dia yang masak saja dan bawa ke kantor," jelas Arjuna panjang lebar dan penuh semangat.


Radit menyipitkan matanya, menatap Arjuna dengan tatapan curiga.


"Sepertinya hubungan kalian berdua ada perkembangan, apa dugaanku benar?" nada suara Radit terdengar dingin.


Arjuna menghela napasnya dengan sekali hentakan. "Emm,boleh dikatakan seperti itu. Aku sudah memutuskan untuk benar-benar menjalankan pernikahanku dengan Anyelir , Dit. Karena bagaimanapun aku dan dia sudah sah secara hukum dan agama. Kalau aku__"


"Brengsek kamu Juna! bukannya kamu mengatakan kalau Anyelir itu hanya istri sementaramu dan akan menunggu Shakila kembali dan kamu meminta penjelasannya kenapa dia pergi meninggalkanmu? tapi kenapa baru tiga bulan kamu sudah berubah pikiran begini, hah?!" Radit benar-benar terlihat marah sekarang.


Arjuna memicingkan matanya, menatap Radit dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa kamu semarah ini? dengar! aku sudah memberikan dia kesempatan selama tiga bulan ini untuk datang dan memberikan penjelasan kenapa dia pergi. Tapi apa? dia sama sekali tidak muncul kan? jadi aku anggap dia memang sama sekali tidak peduli, aku menikah dengan wanita lain. Aku anggap juga kalau dia memang tidak ingin menikah denganku selama ini,"


"Tapi, bagaimana kalau alasan dia pergi itu karena sesuatu hal yang sulit untuk dia jelaskan, Jun. Bagaimana kalau sebenarnya dia pergi bukan karena tidak mencintaimu?" nada suara Radit benar-benar meninggi dan sorot mata pria itu berapi-api dan rahangnya juga mengeras.


"Apapun alasannya dia, sekarang aku sudah memutuskan untuk tetap bersama dengan Anyelir. Karena bagaimanapun aku juga tidak mau mempermainkan yang namanya pernikahan,"


Brakk

__ADS_1


Radit tiba-tiba menggebrak meja dengan sangat keras.


"Kenapa bukan dari awal kamu berpikir seperti itu? bukannya aku sudah mengingatkanmu agar jangan gegabah untuk langsung menikah. Tapi, kamu mengatakan kalau itu jalan satu-satunya memancing Shakila muncul. Sekarang kamu baru berpikir tidak mau mempermainkan pernikahan,"


Arjuna berdiri dari kursinya dan menatap Radit dengan mata yang menyipit.


"Kenapa kamu semarah ini? ada apa?"nada suara Arjuna terdengar curiga. Sementara Radit, langsung terdiam.


Sebenarnya bukan karena Arjuna yang sudah mulai membuka hati pada Anyelir yang membuat dia begitu marah, tapi dia marah pada dirinya sendiri karena dia merasa sudah memberikan harapan pada Shakila, seperti yang dikatakan oleh mamanya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Shakila nanti kalau ternyata harapan yang dia berikan kemarin ternyata tidak sesuai dengan harapan.


"Bukannya aku sudah mengatakan kalau aku sudah memberikan waktu tiga bulan untuk Shakila, muncul? tapi dia sama sekali tidak muncul. Menurutmu apa aku harus menggantung status Anyelir sampai Shakila datang, begitu? sampai kapan? sampai kapan aku berlaku tidak adil pada Anyelir? kalau sampai bertahun-tahun Shakila tidak muncul, apa Anyelir juga akan aku gantung sampai bertahun-tahun? kan aku juga sudah mengatakan, kalau Shakila tidak muncul dalam waktu yang cepat, itu berarti dia memang tidak menginginkanku lagi," lanjut Arjuna lagi, begitu melihat Radit terdiam.


"Tapi asal kamu tahu, dia pergi bukan karen kemauannya. Dia sakit, Jun, dia sakit parah!" tanpa terkontrol lagi, Radit tanpa sadar mengingkari janjinya pada Shakila.


"Sa-sakit?" gumam Arjuna dengan alis bertaut.


"Apa maksudmu dengan kata sakit? dan dari mana kamu tahu kalau dia sakit parah?" mata Arjuna menatap Radit dengan tatapan sangat tajam.


Radit sontak terdiam dan merutuki mulutnya yang keceplosan.


"Cepat katakan, Radit! jangan bilang kalau kamu sudah tahu dia di mana?" Arjuna semakin menuntut dengan nada mengintimidasi.


"Dia ada di Singapura. Dan dia sedang sakit kanker hati," nada suara Radit kini sudah merendah dan terdengar lirih.


Mulut Arjuna terbuka, berjalan mundur hampir tersungkur.


"Kamu jangan bercanda! kamu pasti bercanda kan?"


"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, hah?" bentak Arjuna.


"Karena aku tahunya ketika aku bertemu dia di rumah sakit di Singapura. Aku ingin mengabarimu tapi dia memohon untuk tidak memberitahukanmu. Aku benar-benar bingung Jun. Aku benar-benar dilema. Sekarang, setelah aku memberikan dia harapan, agar dia semangat untuk sembuh, dengan mengatakan kamu masih mencintainya, kamu ternyata sudah memutuskan untuk menjalani pernikahan yang sesungguhnya dengan Anyelir. Bagaimana nanti aku memberitahukannya kalau kamu dan dia sudah tidak bisa bersama lagi? aku tidak bisa membayangkan kesedihannya, Jun!"


"Dasar bodoh! kenapa dia bisa bertindak sendiri? bagaimana dia bisa berpikir kalau aku ... arghh benar-benar gadis bodoh!" Arjuna menggusak rambutnya dengan kasar.


Sementara itu, tanpa mereka sadari, Anyelir yang ternyata sudah tiba di depan ruangan Arjuna, mendengar semua pembicaraan dua pria di dalam sana.


Wanita itu akhirnya memutuskan untuk tidak jadi masuk dan berbalik hendak pergi. Dia melangkah ke arah meja sekretaris, dan meletakkan kotak makan siang yang dia bawa.


"Mas Juna sepertinya sedang sibuk, aku tidak mau mengganggunya. Jadi, aku minta tolong untuk memberikan kotak makanan ini nanti ke Mas Juna ya!"


"Baik, Bu!" sahut sekretaris itu dengan sopan.


"Terima kasih!" Anyelir masih berusaha untuk tersenyum pada sekretaris itu. Kemudian dengan langkah gontai, wanita itu beranjak pergi dari tempat itu.


Sementara itu di dalam ruangan sana pembicaraan masih tetap berlanjut.


"Tapi aku benar-benar sudah tidak bisa kembali lagi pada Shakila, Dit. Aku bukan pria brengsek yang suka mempermainkan wanita,"

__ADS_1


"Apa maksudmu? bukannya kamu sudah mengatakan kalau alasan Shakila pergi dan masuk akal kamu akan bisa menerima dia kembali dan meninggalkan Anyelir?" nada suara Radit kembali meninggi.


"Dit, permasalahannya tidak sesimpel yang kamu piku lagi. Aku dan Anyelir sudah menyatu bukan hanya di buku nikah saja tadi juga dengan ...." Arjuna menggantung ucapannya, karena dia tahu Radit pasti tahu apa yang dia maksud.


"Jangan bilang kalau kamu dan Anyelir sudah ...."


"Iya! aku sudah melakukannya padanya dan bagaimanapun aku harus bertanggung jawab, dan aku juga sudah berjanji pada mamanya untuk tidak akan meninggalkannya,"


"Brengsek! kamu benar-benar brengsek,Jun! jadi bagaimana dengan Shakila sekarang? hah!" Radit terlihat begitu marah dan frustasi.


"Kamu berkali-kali mengatakan aku brengsek! apa dengan aku kembali lagi pada Shakila, baru kamu mengatakan kalau aku tidak brengsek? apa tidak lebih brengsek lagi kalau aku meninggalkan Anyelir begitu saja, hah?"


"Ada apa ini?" tiba-tiba Haris muncul dengan kotak makanan yang dibawa oleh Anyelir tadi.


"Kalian berdua ribut di kantor, apa kalian tidak malu? dan kamu Kak Radit, kamu tidak tahu masalah yang sebenarnya, jadi jangan terlalu menuntut Kaka Juna. Seandainya Anyelir adik kamu, dan Kak Juna melakukan hal yang tidak adil untuknya, apa kamu rela? kamu jangan melihat dalam satu sisi saja! seakan-akan yang paling menderita di sini adalah Shakila. Ini semua tidak akan terjadi kalau dia tidak pergi. Dengan dia pergi, berarti dia sudah siap untuk tidak bersama dengan kak Juna. Takdir, Jodoh dan maut itu ada di Tangan Tuhan," sorot mata Haris terlihat marah saat menatap Radit.


"Tapi dia sendiri yang dulu mengatakan kalau dia menikahi Anyelir hanya untuk__"


"Hanya untuk memancing Shakila muncul, begitu? tapi dia tidak muncul, Kak Radit. Asal kamu tahu, Kak Juba juga selama tiga bulan ini menahan diri untuk tidak menyentuh Anyelir. Tapi mungkin dengan kejadian malam itu, adalah cara Tuhan, untuk membuat Kak Juna dan Anyelir bersatu. Dan baik kamu maupun Shakila tidak bisa menentang itu!" tutur Haris panjang lebar.


"Kejadian malam itu?" Radit mengrenyitkan keningnya.


Haris akhirnya mengungkapkan semua yang terjadi, apa yang menimpa Arjuna.


Radit tercenung dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Jadi itu yang terjadi?" Radit diam sejenak, lalu mengembuskan napasnya.


"Tapi aku rasa bukan hanya karena itu. Aku yakin, kalau kamu Arjuna, sudah jatuh cinta pada Anyelir. Karena aku tahu, kalau seandainya kamu tidak mencintai Anyelir, kamu akan tetap bertahan untuk tidak menyentuhnya, sekuat apapun reaksi obat itu. Apa dugaanku benar?"


Arjuna terdiam, bingung mau menjawab apa. Perhatiannya dari tadi tertuju pada kotak makanan yang dibawa oleh Haris.


"Yang jelas, aku mungkin sudah tidak ditakdirkan bisa hidup bersama dengan Shakila. Namun, aku akan selalu memberikan dukungan padanya untuk tetap sembuh, tapi kali ini hanya sebagai sahabat bukan sebagai kekasih ataupun calon suami," tegas Arjuna


Radit tersenyum tipis,dia menyadari kalau perasaan Arjuna sepertinya sudah berubah, walaupun pria itu tidak mengatakannya secara langsung.


"Ris, dari mana kamu mendapatkan kotak makanan itu?" Arjuna tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.


"Dari meja sekretaris. Katanya itu titipan dari Anyelir,"


"Sialan! berarti dia sudah mendengar semuanya dan dia pasti salah paham!" Arjuna begitu panik dan tanpa permisi langsung berlari keluar, berharap Anyelir masih belum terlalu jauh.


"Kamu lihat itu? aku yakin kalau Kak Juna sekarang takut kehilangan Anyelir.Hanya saja Kak Juna belum mengerti dengan perasaannya sendiri," ucap Haris dengan bibir yang tersenyum. Kemana dia menoleh ke arah Radit.


"Kak Radit,aku tahu kalau kamu sebenarnya sudah lama memendam cinta pada Kak Shakila, benar kan?"


Radit terkesiap kaget mendengar ucapan Haris yang tepat sasaran.


"Kakak jangan menyangkalnya! aku bukan orang bodoh yang tidak bisa melihat itu. Aku bisa membacanya dari mata Kak Radit," Haris seketika langsung melanjutkan kembali ucapannya begitu melihat Radit yang ingin buka mulut.

__ADS_1


" Kakak hanya ingin melihat Shakila bahagia, tapi Kakak lupa kalau ada wanita lain juga yang ingin bahagia yaitu Anyelir. Dalam hal ini, Kak Anyelir tidak salah, dia tidak merebut Kak Juna dari Shakila. Hanya saja kepergian Kak Shakila membuat Kak Juna dan Anyelir bersatu. Dan Kalaupun akhirnya cinta tumbuh di antara mereka berdua, itu adalah takdir. Sekarang, ini adalah kesempatan Kak Radit untuk berjuang mendapatkan cinta Shakila.Manfaatkan baik-baik kesempatan itu!" pungkas Haris sembari beranjak pergi.


Tbc


__ADS_2