
"Mas, bangun! temanin aku jalan-jalan pagi yuk! soalnya kakiku makin bengkak nih." Anyelir mengguncang-guncang tubuh Arjuna, yang masih bergelung di bawah selimutnya.
"Emmm, sebentar lagi ya, Sayang! aku masih mengantuk. Kamu tahu sendiri kan resepsi Haris selesai jam berapa tadi malam?" Arjuna menutup kembali tubuhnya sampai menutupi kepalanya dengan selimut.
"Ya udah! kalau tidak mau, aku pergi sendiri aja." Anyelir turun dari tempat tidur dengan hati yang benar-benar dongkol.
Mendengar ucapan sang istri dan menyadari kalau sang istri sedang kesal, Arjuna sontak melompat dari atas tempat tidur dan berlari masuk ke kamar mandi. "Jangan pergi tanpaku! kamu tunggu aku di bawah!" kepala Arjuna kembali muncul dari balik pintu, hingga membuat senyum di bibir Anyelir kembali terbit.
******
" Sayang, kita sebenarnya mau jalan pagi atau mau wisata kuliner?" Raut wajah Arjuna sudah terlihat sangat kesal, dikarenakan setiap mereka berjumpa dengan pedagang makanan, Anyelir pasti berhenti untuk membelinya. Kalau makanannya dimakan habis, tidak apa-apa.Yang ada wanita hamil itu hanya makan sedikit, dan Arjuna yang diwajibkan menghabiskannya.
"Sekalian, Mas. Itung-itung kita bantuin mereka juga kan? Ingat, agar persalinanku lancar, kita harus sering berbagi, " sahut Anyelir sembari menunggu pesanan batagornya datang.
"Berbagi itu, tidak harus berbagi kan? kita bisa tinggal kasih uangnya pada mereka. Kamu tidak bisa lihat, kalau perutku sudah sangat penuh?" cetus Arjuna, kesal.
"Idihh, baru aja segitu majunya, lah kamu lihat aku, majunya seberapa jauh." ucap Anyelir seraya mendengus. "
"Ini, Mba batagornya," " tiba-tiba pedagang batagor sudah ada di depan Arjuna dengan sepiring batagor di tangannya.
"Terima kasih, Pak!" Mata Anyelir berbinar-binar menatap piring yang berisi batagor. Penampakan batagor itu benar-benar terlihat sangat lezat di matanya.
"Mas, ini sangat lezat, kamu coba deh!" Anyelir mengulurkan sendok berisi batagor ke mulut Arjuna.
"Kamu makan aja ya, Sayang, perut aku sudah sangat penuh," tolak Arjuna dengan lembut.
Anyelir mengerucutkan bibirnya dan menarik kembali sendok yang terulur ke arah suaminya
Baru saja makan beberapa suap, tiba-tiba wajah Anyelir terlihat pucat dan seperti sedang menahan sakit.
"Sayang, kamu kenapa?" Arjuna yang menyadari perubahan wajah Anyelir, sontak berubah panik.
"P-perutku sakit sekali, Mas!" sahut Anyelir sembari meremas pakaiannya.
"Sakit? kenapa bisa? Pak, batagornya, bapak kasih apa? kenapa perut istriku tiba-tiba sakit? Intonasi suara Arjuna meninggi ke arah pedagang batagor. Mendengar bentakan Arjuna, pria paruh baya pedagang batagor itu, langsung berubah ketakutan.
"Mas, jangan salahin bapaknya, perutku yang mau meletus," Anyelir mencengkram tangan Arjuna dengan kuat.
__ADS_1
"Makanya Sayang, jangan makan terlalu banyak, jadi sakit perut kan?" ucap Arjuna kesal.
"Hei, Tuan! jangan salahin istri anda! yang salah itu anda. Apa anda tidak bisa lihat, kalau sekarang istri anda itu udah mau melahirkan!" bentak seorang ibu yang merasa geram melihat Arjuna yang tidak peka.
"Hah, mau melahirkan? jadi aku harus bagaimana?" Arjuna sontak panik, tidak tahu harus berbuat apa
"Istrinya bawa ke rumah sakit lah Tuan! gimana sih, tahu buatnya, tapi gak tahu hal seperti itu saja."
"Mas, sakit! bawa aku ke rumah sakit sekarang," Anyelir kembali berteriak.
Seakan memiliki tenaga lebih, Arjuna langsung mengangkat tubuh Anyelir. Seakan sedang didukung semesta, taksi tiba-tiba muncul dan langsung dicegat oleh Arjuna.
"Buruan Pak! aku mau melahirkan. Eh istriku yang mau melahirkan." Arjuna karena terlalu panik, hampir saja salah berucap.
Sambil tetap memegang tangan Anyelir, Arjuna meraih ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi keluarganya, dan meminta kelurganya untuk segera menghubungi rumah sakit, agar siap sedia menanti kedatangan mereka,di pintu masuk rumah sakit.
15 menit kemudian, taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah sakit. Dokter dan para perawat terlihat sudah bersiap-siap di depan rumah sakit,dan begitu melihat Arjuna turun dari dalam taksi,mereka dengan sigap langsung membantu pria itu untuk membaringkan Anyelir di atas bed dorong atau brangkar rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anyelir mencoba berjalan, berjongkok sesuai saran dari dokter, yang katanya bisa mempercepat pembukaan. Karena terlalu antusias, Arjuna tiba-tiba mengcopy apa yang dilakukan Anyelir. Pria itu ikut-ikutan berjongkok seperti yang dilakukan istrinya itu.
"Tuan Arjuna, maaf, anda tidak perlu ikut berjongkok seperti istri anda. Anda hanya perlu menyemangatinya!" ucap dokter, sambil berusaha menahan tawa.
"Oh, seperti itu ya? baiklah!" ucap Arjuna dengan raut wajah datar, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Dok, aku sudah tidak kuat lagi!" Anyelir terduduk di lantai dengan nalas yang tersengal-sengal.
Melihat hal itu, sontak saja membuat Arjuna seketika panik.
"Dok, aku tidak mau tahu, pokoknya sekarang,keluarkan anakku segera!" titah Arjuna dengan tatapan dan ucapan yang mengintimidasi.
"Mas, kalau kamu tidak bisa diam, kamu mending keluar dari sini!" Dengan wajah yang meringis kesakitan dan nafas yang memburu, Anyelir membentak dan menatap kesal ke arah Arjuna. Tentu saja tatapan itu membuat nyali Arjuna seketika menciut
"Kita berbaring lagi yuk Nona Anyelir! kita lihat dulu, sudah pembukaan berapa sekarang." ucap dokter itu tetap tenang, tidak menghiraukan tatapan tajam Arjuna.
"Hmm, sekarang sudah pembukaan tujuh. Sabar ya,Nona, tinggal nunggu sebentar lagi, pembukaannya akan sempurna." senyum dokter tetap tidak tanggal dari bibirnya.
__ADS_1
"Dok, sakit banget Dok!" rintih Anyelir kembali, sambil mencengkram kuat lengan Arjuna, hingga lengan suaminya itu mengeluarkan darah akibat terkena kuku-kuku Anyelir yang cukup panjang. Akan tetapi, Arjuna sama sekali tidak memperdulikan rasa sakit di lengannya itu. Karena menurutnya, rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Anyelir saat ini.
"Sayang, aku yakin kamu pasti bisa. Ingat, sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita. Kamu harus tetap semangat," ucap Arjuna, memberikan semangat.
Setelah menunggu sekitar 30 menit, Dokter itu, kembali mengecek pembukaan Anyelir. Senyum dokter itu langsung mengembang ketika pembukaannya sudah sempurna.
Proses persalinan akhirnya mulai dilaksanakan. Sang dokter meminta Anyelir melakukan seperti yang dia minta.
Anyelir terdengar semakin meraung-raung karena, rasa sakitnya semakin bertambah. Sepertinya bayinya sekarang benar-benar ingin menerobos jalan lahir dengan paksa.
"Ayo, Nona dorong kuat! kepala bayinya sudah terlihat, ayo semangat!" dokter berkali-kali memberikan semangat.
"Ayo, Sayang,kamu pasti bisa! I love you Sayang!" Arjuna juga tidak berhenti untuk memberikan semangat.
Di saat Arjuna membisikkan kata I love you, di saat itu pula kekuatan Anyelir serasa berkumpul menjadi satu. Dengan semangat dia berteriak dengan keras sambil mendorong bayinya. Suara tangisan bayi laki-laki langsung terdengar mengisi ruangan itu.Lalu dokter itu,menyerahkannya pada perawat agar segera membersihkan bayinya.
Tanpa disadari, pipi Arjuna kini sudah basah dengan air mata, melihat perjuangan istrinya saat melahirkan anaknya.
Keluarga yang di ternyata sudah berkumpul di luar seketika menarik nafas lega, begitu mendengar tangisan bayi dari dalam.
Tidak berselang lama, Anyelir tiba-tiba merasakan sakit di perutnya lagi.
" Dok, kenapa perutku sakit lagi?" rintih Anyelir.
"I-istriku kenapa lagi, Dok?" mendengar rintihan Anyelir, sontak membuat Arjuna panik lagi.
"Tenang Tuan, biar saya periksa dulu!" ucap dokter.
"Wah, Nona Anyelir ternyata mengandung anak kembar! Ayo Nona, dorong lagi seperti tadi. Anda pasti bisa!" dokter kembali memberikan semangat, sedangkan Arjuna membeku di tempatnya, dengan wajah yang terlihat bingung.
Suara tangisan bayi kedua yang kali ini berjenis kelamin perempuan , langsung menyadarkan Arjuna dari kebingungannya. air mata pria itu kembali merembes membasahi pipinya.
Keluarga yang ada di luar juga, tersentak kaget begitu mendengar suara tangisan bayi lagi.
"Lho kok ada tangisan bayi lagi?" tanya Dewi dengan kening yang berkerut yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Mirna.
Tbc
__ADS_1