
"Mas Juna, apa yang mereka katakan? mereka mau kan mendonorkan darah pada Nania?" tanya tidak sabar.
Arjuna menghela napasnya dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca.
"Mas, kenapa kamu diam? mereka mau kan?$ desak Anyelir.
Karena desakan Anyelir, akhirnya Arjuna menceritakan apa yang baru saja dia dengar dari pembicaraan kedua orang tua angkat Nania.
"Ja-jadi mereka bukan orang tua kandung Nania?" Arjuna menganggukkan kepala mengiyakan.
"Pantas saja sikap mereka tidak baik pada Nania," raut waja Anyelir berubah menjadi kasihan.
"Tidak selamanya orang tua angkat itu seperti mereka. Banyak yang baik dan menganggap anak angkat mereka seperti anak kandung sendiri, bahkan cinta mereka bisa melebihi orang tua kandung anak angkat mereka itu. Mungkin Nania hanya sial saja mendengar orang tua angkat yang licik dan egois," tutur Arjuna panjang lebar dan Anyelir menganggukkan kepala setuju dengan pendapat Arjuna.
"Jadi bagaimana,Mas? apa kamu akan tetap memberikan uang itu pada mereka? kamu tahu sendiri kalau bukan mereka yang mendonorkan darah pada Nania,"
Sudut bibir Arjuna melengkung membentuk senyuman licik.
"Cara licik harus kita balas dengan cara licik juga. Handphoneku sudah dari awal diatur untuk merekam pembicaraanku dengan orang di telepon. Jadi, semua pembicaraan mereka tadi sudah ada di rekaman. Biarkan saja, orang suruhan mereka mendonorkan darah dulu pada Nania dan ketika mereka datang meminta bayaran, baru kita perdengarkan pada mereka rekaman ini. Uang itu tetap aku berikan pada orang yang mendonorkan darahnya bukan pada dua orang licik itu," jelas Arjuna dengan sangat mantap.
"Mas aku sudah lapar lagi, apa kita bisa cari makan dulu sebentar? Kak Shakila juga belum makan tadi," ucap Anyelir sembari melihat ke arah Shakila yang sibuk dengan ponselnya.
Shakila yang menyadari kalau Anyelir menyebut namanya dan melihat ke arahnya, sontak menyelipkan senyumannya.
"Eh, kalian membicarakanku? tidak apa-apa, kalian berdua pergi makan berdua saja, karena Radit sebentar lagi akan tiba. Kami akan makan bersama nanti," ucap Shakila.
"Jadi kamu tidak apa-apa kami tinggal?" tanya Arjuna memastikan dan lagi-lagi Shakila tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Kami tunggu di sini saja, sampai Radit datang," pungkas Anyelir yang langsung mendaratkan tubuhnya duduk di samping Shakila.
__ADS_1
Ketika mereka sedang asik bercengkrama, tiba-tiba dari arah kiri mereka tampak seorang pria yang mendorong sebuah kursi roda yang didudukinya oleh seorang wanita paruh baya.
"Nak Anyelir? ini benar-benar kamu kan?" merasa ada yang memanggil namanya, Anyelir sontak menoleh ke arah datangnya suara. Demikian juga dengan Arjuna yang penasaran siapa yang mengenal istrinya itu.
Mata Anyelir membesar terkesiap kaget melihat sosok wanita itu. Wanita yang dulu begitu dekat dengannya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan mamanya Bayu dan pria yang mendorongnya adalah Bayu sendiri.
"Tante Dara? apa kabar?" Anyelir sontak berdiri dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Seperti yang kamu lihat, Tante baru saja mau pulang dari rumah sakit ini. Sudah seminggu ini, Tante mengalami hipertensi. Oh ya,kamu lagi hamil ya?" Wanita yang bernama Dara itu menatap ke arah perut Anyelir yang membuncit.
"Iya, Tante," sahut Anyelir dengan seulas senyuman. Jangan lupakan Arjuna yang menatap sengit pada Bayu yang menatap Anyelir dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.
"Jangan menatap istriku terlalu lama, kalau kamu masih mau wajahmu aman!" celetuk Arjuna dengan nada dingin dan tatapan sinis.
"Maaf! tapi apa salah aku menatapnya? kalau aku menciumnya? kalau aku menciumnya, kamu baru bisa marah," sahut Bayu, santai.
"Sialan, kenapa Anyelir harus punya mantan sih?" Arjuna menggerutu di dalam hati.
"Maaf,Nak. Kamu jangan cemburu! Bayu sama sekali tidak memiliki niat untuk merebut Anyelir lagi darimu, karena yang aku lihat, Anyelir bahagia hidup denganmu. Aku memang dulu menyesalkan perlakuan anakku yang menghianati Anyelir, karena aku sangat ingin memiliki menantu seperti dia. Tapi, entah kenapa, dia malah tertarik dengan wanita licik,mata duitan,murahan seperti Nania. Tapi, sekali lagi aku yakinkan, kalau Bayu tidak akan merebut Anyelir darimu," tutur Dara panjang lebar.
"Tante Dara, bisa aku meluruskan sesuatu?" tanya Anyelir dengan sangat hati-hati.
"Tentu saja boleh,Nak!"
"Tolong jangan menyebut Nania murahan dan licik serta mata duitan. Sebenarnya dia sama sekali tidak seperti itu. Keadaan yang membuatnya seperti itu," ucap Anyelir yang tentu saja membuat Bayu dan mamanya mengrenyitkan kening.
"Kamu sudah disakitinya, tapi kenapa kamu masih membelanya?" tanya Bayu.
Anyelir tidak langsung menjawab. Wanita itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali. Kemudian Anyelir mulai menceritakan semua tentang Nania dan alasan kenapa wanita itu melakukan itu semua.
__ADS_1
"Dia dituntut kedua orangtuanya untuk membalas budi dan meminta Nania untuk merebutmu dariku. Sebenarnya dia tidak mencintai uangmu, tapi dia tulus mencintaimu," ucap Anyelir, mengakhiri ceritanya.
Bayu tercenung, tidak menjawab sama sekali. Karena sesungguhnya pria itu juga merasa kehilangan semenjak menceraikan Nania. Jujur, selama menikah Nania sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik, tapi sikap apatisnya lah yang membuat Nania mengulah.
"Asal kamu tahu, semenjak kamu menceraikannya, Nania bekerja di sebuah warteg karena dia diusir orang tuanya. Dia dianggap tidak bisa memberikan keuntungan lagi pada mereka," sambung Anyelir lagi.
"Ja-jadi selama ini dia semenderita itu?" suara Bayu terdengar lirih.
"Bayu jangan gara-gara ini, kamu mau mencari wanita itu lagi! walaupun dia diminta oleh kedua orangtuanya, kalau dia wanita baik-baik, dia bisa menolak melakukan hal itu," terlihat kekhawatiran pada Dara. Wanita itu sepertinya tidak menginginkan Bayu luluh dan mencari Nania lagi.
"Tante, tidak boleh seperti itu! aku tahu kalau Tante kecewa pada Nania. Tapi, coba buka mata hati Tante dan bayangkan kalau Tante ada di posisi Nania. Kalau orang lain yang meminta, mungkin dia bisa menolak seperti yang Tante ucapkan tadi. Tapi, ini kedua orang tua yang dia anggap sudah berjasa membesarkannya, Tan. Dia sama sekali tidak sanggup untuk menolak," Dara tercenung, tidak bisa membalas ucapan Anyelir. Wanita paruh baya itu tiba-tiba mengingat sikap buruknya pada Nania dulu dan Nania yang selalu diam saja, walaupun diperlakukan buruk.
" Dan satu lagi, kami baru tahu kalau kedua orang tua itu ternyata bukan orang tua kandung Nania. Mereka hanya orang tua angkat," sambung Anyelir kembali hingga membuat Bayu dan mamanya semakin kaget.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Bayu.
Anyelir meminta ponsel Arjuna dan memperdengarkan rekaman suara pembicaraan kedua orang tua angkat Nania.
"Tu-tunggu dulu! Nania butuh donor darah, ini maksudnya apa? apa yang sebenarnya terjadi pada Nania?" raut wajah Bayu seketika berubah panik.
"Aduh, maaf! aku belum memberitahukanmu ya. Nania sedang kritis dan membutuhkan dua kantong donor darah A Rhesus negative. Tadi dia menyelamatkanku dari seseorang yang hendak mencelakaiku," terang Anyelir.
"Jadi Nania ada di dalam sana!" Bayu menunjuk ke arah ruangan yang tertutup.
"Iya,"
"Golongan darahku A Rhesus negative. Aku yang akan mendonorkan darahku padanya," ucap Bayu dengan sangat yakin.
Tbc
__ADS_1