Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Emosional


__ADS_3

Why can't you hold me in the street?


Why can't I kiss you on the dance floor?


I wish that it could be like that


Why can't we be like that?


'Cause I'm yours


Why can't I say that I'm in love?


I wanna shout it from the rooftops


I wish that it could be like that


Why can't we be like that?


'Cause I'm yours


… I don't wanna live love this way


I don't wanna hide us away


I wonder if it ever will change


I'm living for that day


Someday


Lagu ini menyambut Arjuna, begitu masuk ke dalam kamar dan itu terdengar dari arah kamar mandi. Sepertinya Anyelir menyanyikannya dengan penuh perasaan dan seperti tengah menumpahkan apa yang dia rasakan selama ini.

__ADS_1


Arjuna mengayunkan kakinya ke arah ranjang dan duduk. Lagu itu terdengar dinyanyikan berulang -ulang oleh Anyelir, dengan lirik yang itu-itu saja.


Lambat laun suara Anyelir terdengar merendah dan Arjuna segera berdiri dari ranjang dan melangkah ke arah pintu kamar mandi.


Pintu dibuka oleh Anyelir dari dalam, dan wanita itu terjengkit kaget melihat Arjuna yang sudah berdiri di depan pintu dengan sorot mata yang sangat tajam, siap menghujam jantung.


"Ju-Juna!" ka -kamu kapan masuk?" bibir Anyelir terlihat bergetar.


"Kenapa kamu menyayikan lagu itu?" bukannya menjawab pertanyaan Anyelir, Arjuna justru balik bertanya.


"Emangnya kenapa? itu kan hanya lagu. Dan kenapa kamu peduli dengan lagu itu?" Anyelir kini sudah kembali bersikap biasa dan santai.


Wanita itu, melangkah hendak melewati tubuh Arjuna, tapi dengan sigap Arjuna langsung menarik tangan Anyelir dan mendorong tubuh wanita itu hingga menempel ke tembok. Arjuna menempelkan kedua tangannya di tembok, mengurung tubuh Anyelir.


"Aku tahu itu hanya lagu, tapi apa kamu kira aku tidak bisa memaknai bagaimana nada serius atau hanya main-main saat menyanyikannya? lihatlah mata kamu bahkan sampai bengkak. Kamu menangis ya di dalam?" sorot mata Arjuna terlihat semakin tajam.


"Juna, singkirkan tanganmu! aku tidak serius menyanyikan lagu itu. Dan walaupun aku serius, apa pedulimu?" Anyelir mendongakkan kepalanya menantang tatapan Arjuna.


Mata Anyelir berkilauan, karena matanya kini sudah dipenuhi oleh cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya.


"Dasar laki-laki gila! singkirkan tanganmu!"


Anyelir mengangkat tangannya hendak menepis tangan Arjuna yang mengungkungnya, namun dengan sigap Arjuna menangkup pipi Anyelir dan mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu, hingga membuat mata Anyelir membesar dengan sempurna.


Anyelir membeku untuk beberapa saat saat bibir Arjuna yang tadinya hanya menempel, mulai bergerak. Namun detik berikutnya Anyelir tersadar dan mendorong tubuh Arjuna, hingga mundur beberapa langkah.


"Kamu gila,Juna!" umpat Anyelir yang tanpa bisa lagi menahan air matanya.


Arjuna mengusap bibirnya dan menatap Anyelir dengan tersenyum smirk.


"Kamu bertanya kapan semuanya akan berubah, dan kamu akan pergi di hari itu. Apa kamu pikir kamu akan mudah pergi begitu saja?" nada bicara Arjuna terdengar sangat dingin.

__ADS_1


"Kamu benar-benar gila,Juna. Ingat itu hanya syair dari lagu! kenapa kamu bisa-bisanya mengatakan itu ungkapan hatiku? kamu benar-benar sudah tidak waras!"


"Diam! walaupun itu hanya syair lagu, tapi kamu menyayikannya dengan emosional, karena itu ungkapan hati kamu kan?" napas Arjuna terlihat memburu.


Anyelir berdecak, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak paham, kenapa kamu bisa berpikir kalau itu isi hatiku. Dan seandainya kalau itu memang isi hatiku, apa pedulimu? bukannya aku hanya wanita pengganti bagimu, yang suatu saat akan tersingkir kalau dia sudah kembali? kenapa kamu marah ketika aku mengatakan akan pergi suatu saat?" Anyelir mulai terlihat berapi-api. Sementara Arjuna tercenung, diam seribu bahasa.


"Sial, kenapa aku bisa terusik hanya karena lagu sih?" Arjuna merutuki kebodohannya sendiri.


"Jun, sepertinya aku sudah capek dengan pernikahan kita yang tidak jelas ini. Dulu kamu mengatakan Kalau pernikahan kita hanya untuk memancing Shakila kembali menemuimu, tapi sampai sekarang dia tidak kunjung muncul. Apa kamu akan menahanku sampai dia muncul? dan itu sampai kapan? apa sampai aku benar-benar mencintaimu, hah?" pekik Anyelir dengan pipi yang sudah basah . Sementara itu, Arjuna masih tetap bergeming, tidak tahu hendak mengatakan apa.


"Apa kamu pikir setelah kita benar-benar mencintai seseorang dan kita dicampakkan begitu saja, rasanya tidak sakit? justru rasanya akan sangat sakit, Juna." lanjut Anyelir kembali.


"Apa kamu kira aku wanita kuat yang bisa menahan semua rasa sakit. Seberapa percayanya kamu padaku, bisa yakin kalau aku wanita yang kuat? Asal kamu tahu, justru sakit yang akan kamu torehkan ,kalau Shakila kembali dan kamu membuangku, lebih sakit dibandingkan dengan penghianatan Bayu dulu padaku. Kenapa? karena posisi sekarang akan banyak yang tersakiti. Aku akan semakin dipandang hina, perasaan mamaku pasti akan sakit. Apa kamu pernah berpikir ke arah sana, Hah?" emosi Anyelir sepertinya sudah mulai tidak terkendali lagi.


" Aku capek, Jun. Capek berbohong pada mamaku dan mamamu. Mereka berharap banyak, mendoakan kita agar selalu bahagia, secepatnya memiliki keturunan, tapi justru kita yang membuat doa mama-mama kita yang tulus tidak terkabul. Jadi, dari tadi aku sudah berpikir matang-matang, sebaiknya sebelum perasaanku lebih dalam ke kamu, sebaiknya kita berpisah saja. Karena aku juga tidak mau mengorbankan masa depanku denganmu yang sama sekali tidak jelas,"


Tubuh Arjuna seketika bereaksi mendengar ucapan Anyelir. Pria itu kembali menempelkan tubuh Anyelir ke tembok dan mengungkung tubuh wanita itu. Pria itu terlihat benar-benar marah. Hal itu terlihat dari matanya yang memerah dan rahangnya yang mengeras.


Arjuna tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, untuk meluapkan amarahnya. Pria itu justru kembali menangkup pipi Anyelir dan Melu*mat bibir wanita itu dengan sedikit kasar.


Sementara itu, Anyelir berusaha untuk melepaskan ciuman Arjuna. Namun tenaganya sama sekali tidak berdaya.


Ketika Anyelir sudah pasrah Arjuna melepaskan ciumannya dan Anyelir langsung tersungkur duduk di lantai.


Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar dan langsung beranjak pergi keluar dari kamar, meninggalkan Anyelir yang menangis sesenggukan.


Arjuna masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Brengsek! berani-beraninya dia mengatakan kata pisah!" umpat Arjuna sembari memukul kemudi.


Ya,yang membuat amarah Arjuna meluap bukan karena kata-kata Anyelir yang panjang lebar, tapi kata berpisah yang keluar dari mulut wanita itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2