Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Berbicara dengan Nania


__ADS_3

"Nania, ini benar-benar kamu?" tanya Anyelir memastikan. Karena Nania tidak terlihat seperti dulu lagi. Tubuh wanita itu terlihat kurus, kurang diurus, wajahnya yang dulu sangat mulus kini terlihat kusam. Pakaiannya juga hanya celana tiga perempat yang dipadupadankan dengan kaos oblong, yang warnanya hampir memudar.


Nania tidak menjawab sama sekali.


"Mau pesan apa,Mbak?"itulah yang keluar dari mulut Nania. Wanita itu bertindak seakan-akan tidak mengenali Anyelir.


"Nania, kamu lanjutkan saja cucian di dapur, takutnya nanti akan banyak pelanggan yang datang lagi!"


"Baik, Bu!"sahut Nania sembari beranjak pergi ke dapur.


"Mau pesan yang mana tadi, Mbak?" tanya ulang, wanita pemilik warung.


Anyelir yang masih menatap kepergian Nania tersentak kaget ketika ditanya kembali wanita paruh baya di depannya.


"Oh, yang ini, ini, ini dan ini, Bu," Anyelir kembali menunjuk ke arah makanan yang dia inginkan.


"Oh ya, Bu? itu Nania, bekerja di sini?" Anyelir sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi.


"Oh, iya,Mbak! waktu datang meminta pekerjaan ke sini, keadaannya sangat memprihatinkan. Katanya dia diceraikan suaminya, kedua orangtuanya, mengusirnya karena katanya dia sudah tidak berguna lagi. Karena katanya selama ini kedua orangtuanya selalu meminta uang padanya. Jadi ketika dia diceraikan suaminya, orangtuanya menganggap dia tidak berguna lagi," tutur wanita itu sembari menyendokkan pesanan Anyelir ke dalam piring.


"Kamu mengenalnya?" bisik Shakila yang dari tadi hanya diam, di tengah rasa penasarannya.


"Dia mantan sahabatku, Kak. Dia yang dulu merebut pacarku yang sempat menjadi suaminya. Dia juga yang sempat ingin menjebak mas Arjuna. Ah, sudahlah, semuanya sudah berlalu. Sekarang aku sangat kasih melihat keadaannya," ucap Anyelir dengan raut wajah sendu.


"Kamu jangan terkecoh dengan penampilannya yang miris. Ini adalah karma. buat dia," ujar Shakila.


"Jadi aku harus apa , Kak? apa aku harus tertawa puas? kalau begitu, berarti aku sama seperti dia dong. Aku tahu jelas, Kak kalau sebenarnya dulu dia melakukan hal jahat padaku karena keadaan," jelas Anyelir, sembari kembali melihat ke arah dapur.


"Sudahlah! kamu makan saja makananmu!" Shakila menunjuk ke arah piring berisi makanan yang sudah ada di depan Anyelir.


"Cuma satu yang harus kamu tahu, apapun keadaan atau alasannya dulu, hal yang dia lakukan dulu itu, tetap saja tidak baik," lanjut Shakila, lagi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bu, Nania itu teman lama saya, bisa tidak aku izin membawa dia sebentar?" ucap Anyelir setelah makanan di piringnya sudah habis.


Wanita paruh baya itu, tidak langsung menjawab,tapi dari raut wajahnya terlihat kalau wanita itu cukup keberatan.


"Kalau dia pergi, siapa yang akan membantuku di sini? kalau mau mengajak dia pergi, sebaiknya nanti sore saja, setelah warung ini tutup. Rumah kontrakan dia itu, di sana!" wanita itu menunjuk ke arah rumah petak, yang terlihat sangat kecil.


"Emm, tidak bisa ya? bagaimana kalau aku bayar semua harga makanan ini semua? apa Ibu mengizinkannya?" Anyelir sama sekali tidak putus asa.


Wanita itu berpikir sejenak dan kemudian tersenyum lebar, kemudian menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Nania, kamu ke sini sebentar!" teriak wanita itu memanggil Nania keluar.


"Kamu buat apa sih, mau membawa dia dari sini? kamu mau cari bahaya?" bisik Shakila, keberatan.


"Kakak tenang saja, kali ini aku yakin dia tidak akan membahayakan," bisik Anyelir yakin.


" Nania! kamu di mana sih?" wanita paruh baya itu berteriak lagi, dengan nada kesal.


"Iya, Bu!" Nania keluar dari dapur dengan tergopoh-gopoh. Lagi-lagi matanya bersirobok dengan mata Anyelir.


"Kamu kalau dipanggil itu, harus cepat datang! apa sih yang kamu lakukan di dapur sana? apa cuci piringnya belum selesai juga?" bentak wanita itu.


"U-udah kok, Bu!" sahut Nania sembari menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa malunya di depan Anyelir.


"Tuh, katanya dia teman lamamu. Dia ingin bicara denganmu. Jadi, kamu pergi dengan dia. Tapi, ingat besok seperti biasa kami harus sudah datang ke sini,"


"Ta-tapi, Bu,aku __" Nania menggigit bibirnya, sembari melirik sekilas kearah Anyelir yang tersenyum padanya.


"Sudahlah sana! Ibu tidak mau kehilangan uang," ucap wanita itu lagi, menegaskan tidak menerima bantahan dari Nania.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kamu membawaku ke sini? apa kamu mau menghinaku? kalau iya, silakan, hinalah sepuasmu!" ucap Nania dengan nada yang dingin.


Sementara itu, Shakila diam-diam mengirimkan pesan pada Arjuna, mengabari pria itu, kalau Anyelir sekarang sedang berbicara dengan seorang wanita bernama Nania. Mantan kekasih Arjuna itu juga tidak lupa mengambil photo Nania diam-diam.


"Kenapa kamu masih saja berpikiran buruk tentangku? aku tidak mungkin melakukan hal itu. Terlepas dari hal jahat yang kamu lakukan padaku, bagaimanapun kamu pernah menjadi sahabatku, sampai rasa iri itu datang dan menghancurkan persahabatan kita bertiga," ucap Anyelir, yang masih diselipi dengan senyuman.


"Aku malu, Nye! aku malu bertemu denganmu lagi. Sekarang aku sudah menerima karmaku. Ternyata, kebahagiaan yang berasal dari hasil kecurangan, tidak akan kekal. Semuanya pasti akan berakhir," sahut Nania tersenyum miris.


"Seperti yang kamu katakan, aku melakukan hal itu semua, karena aku iri padamu. Kamu mau tahu kenapa aku bisa iri padamu?"


"Sebenarnya, aku sudah tahu," sahut Anyelir. Tentu saja jawab Anyelir membuat Nania terkesiap kaget.


"Ka-kamu, tahu?" suara Nania terdengar bergetar.


"Iya, aku tahu. Tapi itu hanya dugaanku saja.Dan aku ingin mendengar sendiri darimu," ucap Anyelir santai.


Shakila menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya keluar.


" Aku iri melihat kebahagiaanmu, Anye. Kamu hanya memiliki seorang Ibu, hidup pas-pasan tapi kamu selalu mendapatkan kasih sayang full. Sedangkan aku ... aku punya orang tua lengkap, tapi mereka sama sekali menganggapku beban buat mereka. Mereka selalu menuntutku untuk menjadi anak yang berbakti dengan memberikan mereka uang, bagaimanapun caranya. Kamu hidup pas-pasan, tapi banyak orang menyukaimu, baik itu dari guru-guru, adik kelas bahkan kakak kelas. Sedangkan aku? aku seperti tidak terlihat di depan mereka. Aku benar-benar semakin iri Ketika Bayu, laki-laki yang aku suka justru menyukaimu. Makanya aku tega memfitnahmu,demi bisa mendapatkan dia. Asal kamu tahu, ini semua juga saran dari mamaku, yang benar-benar menginginkan menantu orang kaya. Sekarang, setelah aku diceraikan Bayu, aku justru diusir,Nye! Nania menjelaskan panjang lebar tanpa jeda dan mulai terisak-isak.


"Maafkan aku Anye! aku benar-benar malu bertemu denganmu. Sekarang, kamu pergilah jauh dariku, anggap kita tidak pernah kenal. Aku sedang mencoba menjadi pribadi yang lebih baik lagi sekarang.


Anyelir kembali tersenyum dan meraih tubuh Nania dan memberikan pelukan pada wanita itu.


"Aku mendukungmu untuk menjadi pribadi yang baik. Kamu memang pernah melakukan hal jahat padaku, tapi aku sudah memaafkanmu. Sekarang aku menganggap yang terjadi padaku itu sebagai jalan untuk mempersatukanku dengan Arjuna. Kamu tetap menjadi temanku. Aku sangat merindukan kebersamaan kita dulu, aku yakin Vika juga pasti merindukanmu,"


Air mata Nania semakin banyak keluar dari mata yang sudah sudah seperti mata panda itu. "Terima kasi, Anye! aku sekarang tenang menjalani hari-hariku, mendengar kamu sudah memaafkanku," senyum di bibir Nania melebar di sela isak tangisnya.


Sementara itu, Arjuna yang panik ketika membaca pesan yang dikirimkan Shakila, langsung keluar dari kantor diikuti oleh Radit. Arjuna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju alamat yang juga disertakan Shakila di dalam pesannya.

__ADS_1


Namun, alangkah kagetnya dua pria itu ketika melihat pemandangan di depannya, di mana Anyelir dan Nania bercengkrama dengan begitu akrabnya, bahkan sampai tertawa- tawa.


Tbc


__ADS_2