
"Bukannya aku sudah bilang kalau aku bisa pulang sendiri?" protes Anyelir yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Arjuna.
"Jun, kamu dengar aku nggak sih?" Anyelir benar-benar kesal.
"Jangan banyak protes! ikut saja!" ucap Arjuna dingin.
Anyelir membuang napasnya. Berharap kekesalannya ikut terbuang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa kamu masih di sini?" sana kembali ke stand kamu!" Vika mendelik tajam ke arah Haris. "Kalau mau menangis jangan di depanku, aku tidak punya tissue buat hapus air matamu," lanjut Vika lagi, meledek.
"Jangan galak-galak Napa, Vik? lagian siapa yang mau nangis coba?" ucap Haris yang bukannya pergi, malah duduk di sebuah kursi plastik.
"Mana tahu kan, lihat Anyelir dijemput sama suaminya kamu cemburu dan mau menangis. Jadi sebelum kamu menangis, ya sebaiknya aku kasih tahu dulu kalau aku tidak punya tissue," Vika kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
"Lagian kamu kenapa malah duduk di sini lagi sih? aku tidak mau ya, fans-fans gilamu di sini, marah-marah ke aku. Jadi, sebaiknya kamu pergi saja!" Vika kembali mengusir Haris.
Haris terkekeh,sama sekali tidak peduli dengan aksi Vika yang mengusirnya.
"Dasar aneh! diusir malah tertawa!" Vika menaikan sedikit ujung bibirnya.
"Kamu lucu,Vik. Kamu takut juga ternyata kalau wanita-wanita yang aku goda marah-marah ke kamu. Aku kirain, kamu akan bisa melawan mereka semua," ucap Haris, dibarengi dengan tawa kecilnya.
"Aku bukannya takut. Aku tidak takut pada siapapun kecuali dengan dosa. Cuma aku masih butuh pekerjaan ini,dan aku mau bekerja dengan tenang, Ris. Itu saja! Aku hanya bisa bermimpi suatu saat ada pria mapan yang mencintaiku," tutur Vika.
"Kenapa sih kamu selalu mencari pria mapan. Padahal yang belum mapan sepertiku tidak tertutup kemungkinan bisa menjadi mapan, di saat sudah menikah nantinya. Atau. bagaimana kalau kita saja yang pacaran?"
Vika sontak menghentikan kegiatannya dan menatap tajam ke arah Haris.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? apa karena kamu merasa tidak akan mungkin bisa mendapatkan Anyelir lagi makanya kamu mengajakku pacaran? apa kamu kira aku segampang itu? sekarang kamu pergi dari sini deh, jangan buat kepalaku jadi tumbuh tanduk," nada suara Vika terdengar sangat ketus.
"Kenapa kamu tidak mau? apa karena aku belum mapan? sampai kapan kamu mau mencari pria-pria mapan?" terlihat kali ini wajah Haris dalam mode serius, hingga membuat alis Vika bertaut. Karena sangat jarang Haris dalam mode serius seperti itu.
__ADS_1
"Ris, semua wanita menginginkan hidup yang lebih baik ke depannya, tidak terkecuali aku. Apa salah aku punya impian bisa menikah dengan pria mapan? Dari dulu aku sudah hidup susah, masa aku harus hidup seperti itu sampai aku tua nanti?"
"Tapi kamu salah, Vik. Itu sama saja kamu menjudge takdirmu sendiri yang kamu akan hidup susah seterusnya kalau kamu tidak menikah dengan pria mapan. Jadi, sampai kapan kamu akan menunggu datangnya pria mapan itu?"
Vika terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan Haris.
"Sudahlah. Lain kali kita bahas lagi. Sekarang kamu sebaiknya kembali bekerja. Aku tidak mau dipecat gara-gara kamu ajak bicara terus!" Vika sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Vika, bagaimana dengan permintaanku tadi? apa kamu mau menjalin hubungan denganku?" Haris kembali mengulangi pertanyaannya dan kali ini wajah pria itu terlihat sangat serius.
"Ris, kamu salah makan ya? atau kepalamu tadi terbentur sesuatu? ingat aku bukan Anyelir dan kamu jangan menjadikanku pelarian karena Anyelir tidak bisa kamu miliki. Jadi, sebaiknya kamu pergi saja dan lupakan niat kamu itu. Aku pun akan menganggap ucapanmu itu hanya candaan," pungkas Vika sembari berlalu pergi.
"Tapi yang aku cintai kamu bukan Anyelir!" ucap Haris tiba-tiba, sebelum Vika benar-benar menjauh.
Vika sontak menghentikan langkahnya mendengar pengakuan Haris. Wanita itu memutar tubuhnya dan menatap Haris dengan tatapan menyelidik.
"Kamu kira aku bodoh?" ucap Vika.
"Kamu memang bodoh! kamu tidak pernah bisa merasakan apa yang aku rasakan. Asal kamu tahu, aku mendekati Anyelir hanya ingin melihat bagaimana reaksimu. Begitu juga kalau aku menggoda gadis-gadis di depanmu.Itu semua aku lakukan hanya ingin melihat kamu kesal dan cemburu. Kamu bisa lihat sendiri kan,aku langsung mengatakan kalau aku hanya bercanda ketika mereka mulai menanggapiku? kamu tidak mengerti sama sekali,apa namanya coba kalau bukan bodoh?" suara Haris mulai terdengar berapi-api.
"Kenapa? kenapa kamu mau pergi lagi? apa karena aku bukan pria mapan seperti yang kamu inginkan?" kembali Haris bersuara, menghentikan langkah Vika.
Vika memutar tubuhnya kembali dan melangkah menghampiri Haris.
"Bukan karena itu. Tapi coba kamu lihat ke sekelilingmu. Semua wanita-wanita yang pernah kamu goda itu, tatapannya sangat menyeramkan. Aku kan sudah bilang mau bekerja dengan aman. Jadi, kita pacarannya diam-diam saja ya," bisik Vika, membuat mata Haris membesar dengan sempurna.
"Jadi kamu menerimaku?" Haris ikutan berbisik, sulit percaya atas apa yang baru saja didengarnya.
"Iya,"
"Tapi, aku buka pria mapan seperti impianmu," bisik Haris lagi.
"Itu kan hanya impian. Namanya impian, tidak semuanya akan bisa kita capai. Lagian sebenarnya, pria mapan, tampan hanya bonus bagiku. Yang lebih penting sebenarnya bagiku, pria itu memiliki tanggung jawab dan pekerja keras dan itu aku bisa lihat ada di kamu,"
__ADS_1
Haris tersenyum tipis. Sumpah demi apapun kalau bisa dibuka, hati pria itu sudah penuh dengan bunga berwarna -warni sekarang.
Ya, sebenarnya orang yang dicintai pria itu adalah Vika bukan Anyelir. Semua godaan yang dilakukannya pada Anyelir, bertujuan untuk membuat Vika cemburu. Karena itulah ketika sang Kakak, berterus terang dan meminta maaf padanya karena ingin menikahi Anyelir, pria itu tidak keberatan. Tapi, dia meminta agar tidak membongkar penyamarannya, sebelum tujuannya untuk mendapatkan hati Vika tercapai.
"Emm, apa kamu menerimaku, hanya karena rasa kasihan atau bagaimana?" bisik Haris lagi, yang membuat karyawan-karyawan lain, mengrenyitkan kening, bingung melihat Haris dan Vika yang sekarang saling berbisik satu sama lain.
Vika menundukkan kepalanya. Tiba-tiba semburat merah singgah di pipi wanita itu.
"Sebenarnya aku juga menyukaimu, tapi aku menyembunyikannya karena aku mengira kalau kamu itu menyukai Anyelir. Jadi, aku selalu berusaha untuk bersikap biasa ketika kamu menggoda Anyelir atau perempuan lainnya. Aku selalu sembunyi dengan kata-kataku yang ingin memiliki kekasih pria mapan, agar kamu mengira kalau aku tidak menyukaimu," ucap Vika dengan panjang lebar, dan nada suara yang sangat pelan.
Haris refleks ingin memeluk Vika, tapi Vika dengan sigap memundurkan tubuhnya.
"Jangan main peluk-peluk! bukannya aku sudah bilang kalau aku masih mau berkerja dengan aman. Kamu juga mau kan bekerja dengan aman?" Vika mendelik tajam.
Haris tertawa kecil dan menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Vika.
"Sekarang aku mau membuat pengakuan. Aku sebenarnya adik Kak Arjuna, suaminya Anyelir. Dan Mall ini milik keluarga kami," bisik Haris membuat mata Vika membesar.
"Ka-kamu jangan bercanda!" gumam Vika, di sela-sela rasa kagetnya.
Kamu tidak percaya? nih coba lihat ini!" Haris menunjukkan photo keluarga yang ada di handphonenya. Kamu masih belum percaya, aku akan menghubungi Kak Arjuna.
Haris melakukan panggilan ke nomor Arjuna dan menghidupkan speakernya.
"Hallo! sapa Arjuna dari ujung sana.
"Halo, Kak. Aku sudah berhasil!" ucap Haris, dengan wajah bahagia.
"Bagus! makanya aku sudah katakan, kamu harus berani mengungkapkannya. Masalah berhasil atau tidak, itu urusan belakang," ucap Arjuna. "Udah ya, sekarang kamu sudah bisa kembali ke rumah kan? main kucing-kucingannya sudah selesai," panggilan akhirnya terputus setelah Haris mengiyakan.
Sementara itu, Anyelir yang masih berada di dalam mobil, mengrenyitkan keningnya, menatap bingung pada Arjuna.
"Siapa itu tadi? siapa yang main kucing & kucingan? siapa yang baru saja mengungkapkan cinta? Radit ya?" tanya Anyelir secara beruntun, dan satupun tidak dijawab oleh Arjuna.
__ADS_1
Tbc