Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Aku pasti akan bahagia


__ADS_3

"Mama, aku pulang!" teriak Anyelir begitu masuk ke dalam rumahnya.


Seorang wanita paruh baya yang melilitkan sebuah syal di lehernya keluar dari dalam kamar, dan seketika langsung mengrenyitkan keningnya, melihat penampilan putrinya.


"Anyelir, dari mana gaun itu?" wanita yang ternyata mamanya Anyelir itu juga tidak lupa melihat ke bawah, dan kaget juga melihat sepatu cantik yang dipakai putrinya itu.


"Sepatumu juga kamu dapat dari mana? kamu tidak aneh-aneh kan di luar sana?" lanjut mamanya Anyelir.


"Ma, tenang aja. Aku tidak melakukan hal aneh apapun. Ini semua aku dapat dari calon suamiku," ucap Anyelir sembari duduk di kursi yang terbuat dari rotan itu.


"Calon suami? jangan bilang kamu berhubungan lagi dengan Bayu. Mama tidak akan pernah setuju. Lebih baik kita hidup sederhana daripada kamu harus kembali pada pria pecundang itu," ucap mamanya Anyelir dengan tegas dan sorot mata yang berapi-api.


"Ish, siapa juga yang kembali dengan Bayu, Ma? aku juga tidak bodoh mau jatuh ke dalam lobang yang sama," mimik wajah Anyelir terlihat sangat sinis.


"Jadi, siapa yang kamu katakan calon suamimu? Haris? kalau itu mama sangat setuju. Walaupun dia tidak kaya, tapi kalau mama lihat dia itu baik," wajah wanita setengah baya itu terlihat berbinar.


"Ih, Mama! bukan Haris. Aku sama Haris tuh tidak ada hubungan apa-apa. Hubungan kami itu murni pertemanan!" ucap Anyelir dengan tegas dan penuh penekanan pada kata pertemanan.


"Jadi dengan siapa dong? kamu jangan berbelit-belit! sekarang katakan siapa pria yang kamu katakan calon suamimu itu?" mata wanita setengah baya yang biasa dipanggil Ibu Mirna itu, terlihat sangat tajam, menuntut jawaban dari sang putri.


"Dia anak ketiga dan kelima dari Dewi Kunti dan Pandu, Ma," sahut Anyelir ambigu.


"Dewi Kunti? Pandu? siapa mereka? apa mama kenal?" Mirna mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Ahh Payah! Mama percuma penggemar film Mahabarata, masa tidak kenal sih sama mereka. Mereka orangtuanya Pandawa Lima," sahut Anyelir, santai.


"Anyelir! mama tidak bercanda. Kamu jangan ajak mama berteka-teki, harus menebak nama.Kamu kan bisa tinggal sebutkan namanya tanpa harus berbelit-belit!" Mirna terlihat mulai kesal.


"Ma, Pandawa Lima siapa yang paling tampan menurut Mama?" bukannya langsung memenuhi permintaan mamanya, Anyelir justru malah kembali membuat mamanya harus berpikir lagi.


"Arjuna," sahut Mirna.


"Nah, tuh dia namanya, Ar-Juna! Mama memang penggemar Mahabarata sejati," ucap Anyelir.


"Oh, namanya Arjuna!" Mirna mengangguk-anggukan kepalanya. "Tapi tunggu dulu, kamu bilang tadi anak ketiga dan anak ke lima, jangan bilang kalau kamu mau menikah dengan dua orang pria," sambung Mirna, teringat kembali ucapan putrinya sebelumnya.


"Satu orang, Mah. Coba mama ingat lagi, nama anak ke lima di Pandawa Lima siapa?"


"Iya, iya deh. Mama ah nggak asik. Giliran aku tanya yang paling tampan aja langsung ingat. Giliran nanya nama yang lain, mendadak lupa. Mama, Mandang fisik ah,"


"Anyelir! bilang nggak siapa namanya!" suara Mirna meninggi, benar-benar kesal dengan sang putri.


"Mama ih buat kaget aja. Iya aku akan katakan. Nama anak ketiga tadi kan Arjuna, anak ke lima itu Sadewa. Nah,nama pria itu Arjuna Sadewa, Ma! Sepertinya mamanya, penggemar Mahabarata juga seperti Mama," ucap Anyelir akhirnya.


"Cuma bilang begitu aja,kamu berbelit-belit. Tunggu darah naik dulu baru kamu sebutkan, buat kesal aja kamu!" ucap Mirna yang dibalas kekehan dari Anyelir.


"Sekarang kamu jelaskan,kapan kalian bertemu dan kapan kalian berdua mulai berhubungan?"

__ADS_1


"Dia pewaris Sadewa group, perusahaan terbesar dan pemilik mall tempat aku kerja, Ma,"


"Apa Sadewa group?" Mata Mirna membesar terkesiap kaget.


"Tunggu dulu, Ma, Kagetnya ditunda dulu! aku belum selesai bicara! pertanyaan Mama kan tadi ada dua, jadi tunggu dulu aku jawab dua-duanya baru Mama kaget." Anyelir masih berusaha untuk bercanda, padahal sebenarnya dia hanya ingin suasananya tidak tegang saja.


" Kami sudah kenal lama,dan tadi dia langsung mengajak aku menikah karena dia nggak mau berlama-lama lagi. Mungkin dia sangat mencintaiku dan tidak mau kehilanganku lagi. Karena katanya dia sudah lama jatuh cinta padaku, bahkan ketika aku masih bersama Bayu dulu," tutur Anyelir, memilih untuk tidak jujur.


"Jadi kamu jawab apa? apa kamu bersedia menikah dengannya?" Anyelir menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Mirna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali keluar, seraya memejamkan matanya sekilas.


"Anyelir, kenapa kamu tidak berpikir lebih dulu? dia dan kita itu sangat berbeda. Mama tidak mau, kamu nanti akan jadi bahan hinaan di keluarganya. Sakit, Nak. Sebaiknya kamu berpikir ulang lagi, ya! Mama tidak ingin kamu terburu-buru dalam mengambil keputusan," raut wajah Mirna sekarang sudah terlihat serius demikian juga dengan Anyelir.


"Ma,aku sudah berpikir matang-matang! Mama percaya deh kalau aku akan baik-baik saja. Kalau masalah hinaan, mama kan tahu kalau anakmu ini sudah kebal dengan itu semua. Selama suamiku baik dan tidak melihat latar belakangku, aku jamin aku akan baik-baik saja." ucap Anyelir untuk menenangkan hati mamanya, padahal dirinya sendiripun sebenarnya meragukan ucapannya. Karena sebenarnya, selama ini dia menyembunyikan kesedihannya di balik keceriaan yang selalu dia pertontonkan di depan orang.


"Nak, Mama hanya ingin kamu bahagia. Mama tidak bangga kalau kamu menikah dengan anak orang kaya, kalau pada akhirnya nanti kamu akan selalu mendapat hinaan. Mama lebih bangga kamu menikah dengan seorang pria yang sederhana, tapi bertanggung jawab. Tapi, kalau menurutmu, menikah dengan pria pilihanmu ini adalah yang terbaik,mama hanya bisa memberikan restu dan doa. Mudah-mudahan pernikahanmu bahagia," ucap Mirna dengan mata yang berkaca-kaca.


Anyelir, tercenung. Wanita itu melihat ke atas untuk mencegah agar air mata yang dia tahan dari tadi tidak jatuh. Dia tidak mau, wanita yang melahirkannya itu melihat dia menangis.


"Mama tenang saja! aku pasti akan bahagia!" pungkas Anyelir akhirnya sembari memeluk mamanya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2