Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Pendonor sebenarnya


__ADS_3

Proses transplantasi hati Shakila berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Sekarang tinggal menunggu wanita itu siuman saja.


Maya berharap,hati baru yang baru saja diterima Shakila bisa diterima dengan baik.


"Bangun, Sayang!" bisik Maya tepat pada telinga putrinya itu.


"Tante,apa Tante tahu siapa yang sudah mendonorkan hatinya pada Shakila?" Haris buka suara.


"Aku sudah menanyakannya pada dokter, tapi dokter tidak mau memberitahukanku,. karena permintaan orang itu. Tante sebenarnya masih sangat penasaran siapa orang baik itu," sahut Maya.


"Aku sudah tahu,siapa orang itu Tante. Karena aku melihatnya sendiri dan sudah bertanya sendiri padanya. Dia membenarkan dan memintaku juga untuk merahasiakan dari Tante dan Shakila," tutur Haris, membuat Maya terkesiap kaget.


"Siapa orangnya, Nak Haris? apa dia Anyelir?" tanya Maya, yang sebenarnya juga bertanya-tanya di mana keberadaan Anyelir. Karena semenjak pamit ke toilet, batang hidung wanita itu sama sekali belum muncul.


Haris menggelengkan kepalanya. "Bukan! bukan Anyelir, tapi Radit."


Mulut Maya terbuka, terkesiap kaget mendengar ucapan Haris. Wanita itu baru menyadari kalau memang dari tadi batang hidung pria itu tidak tampak sama sekali.


"Kamu jangan bercanda, Nak Haris! bagaimana mungkin itu dia?" Maya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"Apanya yang tidak mungkin? Radit sangat mencintai putrimu,"


"Kalau memang itu dia, kenapa tidak dari dulu dia melakukannya? kenapa harus menunggu semakin parah dulu?"


"Untuk masalah itu, Tante silakan tanya sendiri padanya. Dia ada di ruang perawatan sekarang," Haris menyebutkan ruangan tempat Radit dirawat yang ternyata di sebelah ruangan Shakila.


"Jadi, dimana Anyelir dan Arjuna?" tanya Maya.


"Anyelir memang awalnya ingin berniat mendonorkan hatinya, tapi kak Arjuna bersikeras melarang. Di saat Anyelir tetap kekeuh, Anyelir tiba-tiba pingsan karena kecapean dan terlalu banyak pikiran. Sekarang Anyelir dirawat di rumah sakit ini dan Arjuna menemaninya," terang Haris, panjang lebar dan tanpa jeda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Maya membuka pintu ruangan Radit dengan sangat hati-hati. Wanita paruh baya itu masuk perlahan dan trenyuh melihat kondisi Radit yang terbaring lemah di atas ranjang.


Merasa ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya, Radit seketika membuka matanya. Pria itu benar-benar kaget melihat siapa yang masuk, karena awalnya dia mengira kalau yang datang adalah mamanya.


"Tante Maya? dari mana Tante tahu aku di sini?" suara Radit terdengar sangat lemah.


"Harusnya Tante yang bertanya, kenapa kamu bisa ada di ruangan ini? kenapa kamu akhirnya mendonorkan hatimu?"


Radit tidak langsung menjawab. Pria itu justru menatap ke arah langit-langit kamar. Setelah terdiam untuk beberapa saat, Radit mengembuskan napasnya dengan berat, lalu kembali menatap ke arah mamanya Shakila.


"Tante pasti bertanya-tanya, kenapa baru sekarang aku mendonorkan hatiku. Sebenarnya aku sudah lama melakukan pemeriksaan dan aku sudah tahu kalau hatiku cocok. Tapi, ketika meminta persetujuan dari keluarga, mamaku tidak mau menandatanganinya. Bukan karena mamaku tidak menyayangi Shakila, tapi itu semua karena mamaku takut aku kenapa-kenapa. Waktu aku kecil aku mengalami sakit jantung bawaan, tapi aku memang sudah melakukan operasi. Namun, sampai sekarang Mama masih trauma dan benar-benar takut kalau aku sampai mendonorkan hatiku, jantungku akan bermasalah lagi," terang Radit.


"Tapi kenapa akhirnya kamu memutuskan untuk mendonorkan hatimu? apa mamamu akhirnya setuju?" alis Maya bertaut.


Radit menyelipkan senyuman yang sangat tipis dan menggelengkan kepalanya.


"Mama sama sekali belum setuju. Tapi aku benar-benar tidak punya jalan lain. Aku memaksa dokter untuk mengambil hatiku, walaupun itu tanpa persetujuan mamaku," terang Radit.


Sementara itu Radit berjalan mundur dan menjauh. Raut wajah pria itu terlihat mengeras dan tangannya juga terkepal.


"Kali ini tidak boleh ada yang mencegahku lagi!" bisik pria itu pada dirinya sendiri, sembari menatap ke arah empat orang yang berada di tempat itu, bergantian, lalu perlahan-lahan menyingkir dari tempat itu.


Radit merogoh sakunya celananya dan mengeluarkan ponselnya. Pria itu segera mencari nama kontak mamanya dan menghubungi wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Ma, kali ini jangan halangi aku lagi untuk mendonorkan hatiku! Shakila benar-benar sangat membutuhkannya, kalau tidak dia tidak akan bisa bertahan hidup lagi!" ucap Radit to the point tanpa basa-basi.


"Radit, mama mohon jangan, Nak! kamu tidak kasihan pada mama? mama tahu kalau dia wanita yang kamu cintai, tapi apa kamu tega membuat mama hidup sendiri kalau nanti kamu kenapa-napa?" terdengar suara mamanya Radit, yang menolak keras.


"Ma, tapi tidak ada jalan lain lagi, Ma! Shakila benar-benar sudah kritis sekarang dan harus melakukan transplantasi hati hari ini juga. Izinkan aku ya, Ma?" mohon Radit.


"Tidak,Nak! mama tidak mau mengambil resiko. Kalau dia sembuh dia bisa hidup bahagia, tapi bagaimana dengan mama kalau kamu sampai kenapa-kenapa? mama akan hidup sendiri di dunia ini," terdengar Isak tangis dari wanita paruh baya di seberang sana.

__ADS_1


"Ma, percayalah! aku tidak akan kenapa-kenapa! aku janji pada mama akan tetap kuat. Sekali lagi, maaf,Ma! kali ini aku harus membantah,Mama!" Radit memutuskan panggilan secara sepihak, sebelum sang mama kembali mengajukan protesnya.


Radit kemudian mendatangi dokter yang menangani Shakila dan yang juga pernah melakukan pemeriksaan terhadapnya.


"Dok, aku benar-benar ingin mendonorkan hatiku pada Shakila. Aku mohon lakukan sekarang juga!" pinta Radit begitu masuk ke dalam ruangan sang dokter.


"Tapi, Tuan Radit kita membutuhkan tanda tangan persetujuan dari keluarga anda, karena itu sudah menjadi prosedurnya. Kami tidak mau nanti ada tuntutan dari pihak keluarga anda," tolak dokter itu.


"Dok tolong jangan memikirkan prosedur lagi. Ini posisinya sudah tidak bisa menunggu lagi. Kalau Dokter takut, nih anda rekam suaraku. jadi ketika mamaku nanti menuntut, Dokter bisa menjadikan rekaman suaraku ini sebagai bukti kalau aku yang memaksa dokter melakukannya. Aku mohon,Dok, lakukan sekarang sebelum terlambat." desak Radit dengan tidak sabar.


Dokter itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.


"Baiklah! kita lakukan sekarang!" Dokter itu berdiri dari tempat duduknya dan memberikan isyarat pada Radit untuk mengikutinya.


Flash back end


"Jadi, kenapa kamu tidak ingin Tante dan Shakila tahu? kenapa kamu harus merahasiakannya?" tatapan Maya, benar-benar penuh tanya.


"Itu karena aku tahu, kalau Shakila tidak mau melihatku lagi! dia begitu benci padaku, Tante. Aku tidak mau, kalau dia tahu, aku yang mendonorkan hatiku padanya, dia akan merasa berhutang budi. Jadi, biarlah ini menjadi rahasia. Tolong katakan padanya kalau aku sudah pergi jauh dan tidak akan muncul di depannya lagi, seperti permintaannya tadi," ucap Radit dengan seulas senyum terpaksa di bibirnya.


"Tapi, perkataan Shakila tadi sebenarnya tidak dari__"


"Tante, Shakila sudah sadar dan dia mencari Tante," tiba-tiba Haris muncul, hingga membuat ucapan Maya, hanya sampai di tenggorokannya saja.


Tbc


Donor hati bisa didapatkan dari orang yang hidup ya guys tidak harus dari orang yang sudah meninggal. Si pendonor juga bisa tetap akan baik-baik saja karena organ hati bisa tumbuh kembali.



__ADS_1


Aku lebih dulu riset dari berbagai sumber. 😁😁😁


__ADS_2