Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Masih banyak laki-laki yang menginginkannya


__ADS_3

Makan malam di kediaman Arjuna berlangsung dengan hening. Yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


"Aku pulang!" keheningan itu terpecahkan oleh suara seseorang yang berteriak dengan begitu bahagia.


Semua yang berada di tempat itu sontak menoleh ke arah datangnya suara dan semuanya pun tersenyum melihat sosok yang baru saja datang, kecuali Anyelir yang justru membesarkan matanya.


Bagaimana tidak kaget, sosok yang baru muncul itu adalah Haris, pria yang selama ini selalu tidak pernah berhenti mengganggu dan menggodanya.


"Haris?" suara Anyelir seperti tercekat saat menyebutkan nama itu.


"Hei, jangan bengong kakak ipar!" Haris menjentikkan jarinya di depan mata Anyelir.


"Kakak ipar?" Anyelir mengrenyitkan keningnya.


"Dia itu adikku!" celetuk Arjuna, membuat Anyelir semakin terkesiap kaget.


"A-adik? maksudnya adik yang bagaimana?"


"Haris ini putra keduaku, Anyelir. Berarti adiknya Arjuna," sekarang Dewi yang buka suara.


"Ta-tapi bagaimana bisa? dia ini teman kerjaku,Ma. Dia ini ___"


"Suka mengganggu dan menggodamu, iya kan?" sambar Haris dengan cepat.


"Kamu pasti merasa sok cantik kan, aku godain terus?" ledek Haris sembari duduk.


"Kan aku memang cantik," Anyelir mengerucutkan bibirnya.


"Iya sih, tapi sayangnya bagiku ada yang lebih cantik darimu. Kamu tidak menganggap aku serius menyukaimu kan?"


nada sudah Haris masih sama, yaitu menyiratkan sebuah ledekan.


"Jadi, kamu tidak benar-benar menyukaiku?"


"Hahahaha, berarti kamu menganggapnya serius. Kamu mau tahu jawabannya? jawabannya, 'big no'!" Haris membalikkan piring, dan menyendokkan nasi ke piringnya.


"Jadi, apa maksud dan tujuanmu, menggodaku selama ini?" Anyelir mendelik tajam ke arah Haris.


"Tentu saja karena mau melihat reaksi seseorang dan aku yakin kalau kamu sudah bisa menarik kesimpulan siapa orang itu. Itu pun kalau otak kecil kamu masih jalan ya!"ledek Haris, tertawa kecil.


"Haris!" Dewi mendelik ke arah putra keduanya itu.


"Becanda, Ma! kakak iparku ini memang pintar, tapi kalau dalam membaca perasaan dia bodoh. Makanya dia sering dibodoh-bodohin sama laki-laki. Benar nggak Kakak ipar?"


Sementara itu, Anyelir sama sekali tidak tersinggung dengan ledekan Haris, karena memang pria itu sudah terbiasa dari dulu mengatain dia bodoh. Yang jadi pikirannya sekarang adalah siapa sosok wanita yang dimaksud oleh pria itu.


"Masa Vika sih? kalian berdua kan kaya Tom and Jerry?" gumam Anyelir. "Tapi kalau bukan Vika siapa lagi?" lanjut Anyelir lagi.


"Tuh kan, Ma. Benar yang aku katakan tadi. Dia memang bodoh dalam membaca perasaan seseorang. Dia tidak bisa menilai yang mana tindakan yang dilakukan untuk cari perhatian atau memang karena tidak suka," sindir Haris, tersenyum tipis.

__ADS_1


"Jadi, emang benar Vika? serius?" wajah Anyelir sontak berbinar.


Haris berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tau ah!" Haris menggerutu sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kalau begitu Vika harus tahu ini," Anyelir bersorak bahagia , merasa punya cara membuat Haris malu di depan Vika.


"Telatttt! Vika sudah tahu dan bahkan kami sudah pacaran!" Haris menjulurkan lidahnya ke arah Anyelir.


"Haris!" Arjuna yang dari tadi diam saja, kini buka suara kembali dan menatap adiknya itu dengan tatapan yang sangat tajam.


"Jangan bicara, kalau sedang makan!"tegur pria itu dengan nada suara yang sany dingin.


Haris sontak terdiam dan kembali melanjutkan makannya. Pria itu memang tidak pernah berani membantah ucapan Arjuna.


Sementara itu Anyelir masih setia dengan mulut terbuka saking kagetnya mendengar pengakuan Haris.


"Tutup mulut kamu!" tegur Arjuna, membuat mulut Anyelir terkatup seketika.


"Jadi kalian berdua sudah pacaran?" ulang Anyelir untuk memastikan pendengarannya.


Wanita itu bertepuk tangan dengan pelan, ketika melihat kepala Haris terangguk mengiyakan.


"Tidak boleh jadi nih. Berarti aku harus minta traktir jajan bakso pada Vika," Anyelir terlalu bersemangat sampai lupa, kalau uangnya lebih banyak dari sahabatnya itu.


"Dasar, tukang makan! kamu tidak malu, minta traktir sama orang yang uangnya pas-pasan?" sindir Haris.


"Haish,katanya sahabat.Bagaimana bisa kamu tidak tahu karakter sahabatmu sendiri.Dia tidak mau menggunakan uangku karena aku belum jadi suaminya," Haris menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengembuskan napasnya.


"Eh iya ya!" Anyelir nyengir memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Hmm, tapi kalau kamu mau,nanti aku yang akan traktir kamu!"


"Ehem,ehem!" Arjuna berdeham, merasa diabaikan oleh istri dan adiknya itu. Jangan lupakan Dewi yang juga hampir terlupakan keberadaannya.


"Kenapa, Mas? kamu tersedak ya?" Anyelir yang sama sekali tidak peka, dengan kekesalan sang suami bertanya dengan ekspresi wajah polosnya. "Nih minum,Mas!" Anyelir memberikan segelas air putih pada Arjuna, yang akan dia panggil mas jika di depan mama dan mama mertuanya.


"Haris, berapa kali lagi aku harus bicara? bukannya aku tadi sudah bilang jangan bicara ketika lagi makan!" Arjuna sama sekali tidak menerima air putih dari tangan Anyelir. Bahkan pria itu tidak menatap ke arah wanita itu sedikitpun.


"Jangan salahkan aku, Kak! salahkan istrimu yang dari tadi cerewet. Aku hanya menanggapi istrimu, kasihan kan kalau tidak ditanggapi?"


Anyelir sontak mengerucutkan bibirnya, mendengar sindiran Haris, sementara wanita setengah baya yang dari tadi hanya menjadi pendengar, tertawa kecil.


"Sudah, sudah! sekarang lanjutkan makanmu! dan mama pertama kali bertemu Vika, saat pernikahan kakakmu. Jadi mama mau kalau kamu punya waktu,bawa Vika bertemu dengan Mama!"


"Emangnya kapan sih dia tidak punya waktu? dia sama sekali tidak pernah membantu di perusahaan," sebelum Haris menanggapi permintaan Dewi, Arjuna sudah lebih dulu menyambar dengan menyelipkan sindiran di balik ucapannya.


"Mulai sekarang aku akan mulai membantu. Kakak kan tahu sendiri alasan kenapa aku tidak di perusahaan selama ini?" Haris menanggapi ucapan Arjuna seraya mendorong piringnya yang sudah habis.


"Baguslah! kalau begitu kamu tangani project di Singapura, agar Radit bisa kembali ke sini! kamu sanggup?" raut wajah Arjuna terlihat sangat serius.

__ADS_1


"Bagaimana bisa Kakak memintaku untuk langsung terjun ke Singapura? bukannya aku tidak sanggup, tapi aku baru saja mendapatkan cintaku, masa Kakak langsung tega memisahkan kami? lagian, aku rasa lebih baik Kak Radit di sana, agar tidak bolak-balik melakukan pengobatan ke mamanya. Dan biarlah aku yang membantu Kakak di sini menggantikan tugas Kak Radit. Aku janji akan profesional," tutur Haris, dengan tegas dan meyakinkan.


Arjuna tidak langsung menanggapi. Pria itu terlihat diam, memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh adiknya itu.


"Baiklah, kalau begitu! di antara kita tidak ada bos dan tidak ada anak buah. Posisi kita sama, jadi yang diperlukan adalah kesadaran masing-masing untuk melakukan tanggungjawab dalam perusahaan. Kamu paham?" Haris menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Setelah pembicaraan dengan Arjuna selesai dan sudah mendapat kesepakatan, Haris kembali menoleh ke arah Dewi mamanya.


"Ma, tadi mama bilang mau bertemu Vika,apa Mama mau langsung melamar Vika untukku?"


Mata Anyelir kembali membola, terkesiap kaget mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Haris. Sementara itu, Dewi yang mendapat pertanyaan hanya tersenyum menanggapi.


"Emangnya kamu sudah siap?" goda Dewi.


" Siaplah! untuk apa ditunda-tunda lagi? aku bahkan sudah lama menunggu hal ini. Aku rasa pacaran ketika sudah menikah tidaklah buruk. Lagian,Mama ingin cepat-cepat punya cucu kan?" ekor mata Haris sedikit bergerak melirik ke arah Arjuna.


"Hush, biarlah kakakmu dulu yang memberikan mama cucu, iya kan Jun, Anye?"


Anyelir sontak terdiam dan menunjukkan kepalanya. Kemudian wanita itu mengangkat kembali wajahnya dan berusaha untuk tersenyum. "Bagaimana mau punya anak? Arjuna aja bahkan belum menyentuhku sama sekali. Jadi, salahkan Arjuna, jangan aku!" ucap Anyelir yang tentu saja hanya dia ucapkan dalam hati.


Sementara itu, Arjuna terlihat sangat seperti tidak terusik sama sekali dengan ucapan Mamanya yang mengandung keinginan kuat untuk segera memiliki cucu.


"Tapi, kan Ma, tidak ada salahnya kalau aku lebih dulu memberikan cucu buat mama? mana tahu Kak Juna dan Anyelir masih menunda. Masa aku harus menunggu mereka punya anak dulu baru menikah," lanjut Haris lagi, yang seakan sedang memanasi-manasi kakaknya.


"Ma, aku ke atas dulu ya!"celetuk Anyelir, sembari berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi tanpa permisi pada Arjuna dan Haris.


"Haris, lihatlah! Anyelir pasti merasa tidak enak hati karena ucapanmu! masalah ini kita bicarakan saja nanti!" pungkas Dewi sembari beranjak pergi.


"Apa maksud ucapanmu tadi? kenapa kamu menyinggung masalah anak? kamu sengaja ya?" Arjuna bertanya beruntun dibarengi dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Kenapa, Kak? apa yang aku katakan salah? tidak kan? atau jangan-jangan Kakak sama sekali belum menyentuh Anyelir? hebat juga Kakak bisa menahan diri," sindiran Haris tepat pada sasaran.


"Atau jangan-jangan, Kakak tidak normal?"


"Jangan sembarangan bicara!" nada suara Arjuna terdengar sangat marah.


"Kenapa Kakak jadi marah? bukannya pertanyaanku benar? bagaimana Kakak bisa bertahan tidak menyentuh wanita secantik Anyelir yang setiap malam tidur di ranjang yang sama. Kalau tidak normal apalagi namanya coba?" Haris sama sekali tidak takut dengan kemarahan yang ditunjukkan oleh Arjuna.


"Kamu tidak tahu apa-apa, jadi lebih baik kamu diam!" Arjuna berbalik, hendak berlalu dari depan adiknya itu.


"Apa ini semua masih karena wanita itu? apa Kakak masih memikirkan Shakila?" celetuk Haris, sebelum Arjuna benar-benar pergi.


Arjuna tercenung. Pria itu mengrenyitkan keningnya, bingung dengan diri sendiri. Pria itu seketika tersadar kalau sudah sebulan ini,dia sama sekali tidak pernah mengingat nama Shakila lagi.


"Kenapa Kakak diam? Kakak tidak bisa menjawabnya? ingat Kak, kalau Kakak tidak menginginkan Anyelir, lepaskan dia! karena masih banyak pria di luar sana yang menginginkannya," pungkas Haris sembari berlalu, melewati kakaknya itu.


Arjuna mengepalkan kedua tangannya dengan kencang, karena seketika di kepalanya berkelebat wajah Satria yang jelas-jelas menginginkan Anyelir.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2