Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Tidak selalu hanya uang


__ADS_3

"Aduh, Vik. Terima kasih banyak ya! tapi, entah kenapa aku ragu kalau dia tidak akan macam-macam. Aku merasa dia akan melakukan hal licik. Kamu tahu dia kan?" ucap Anyelir, dengan ekspresi khawatir.


"Mudah-mudahan, yang kamu pikirkan itu tidak terjadi. Aku yakin kalau dia tidak mau kehilangan sumber uangnya," Vika mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Mudah-mudahan yang kamu katakan itu bena," Anyelir mengembuskan napas pasrah.


"Hmm, tumben Haris tidak kelihatan. Kemana dia?" Anyelir mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Haris.


"Entahlah!" Vika mengangkat kedua bahunya. "Semenjak kamu nikah dia jarang aku lihat masuk kerja. Pas muncul selalu menggoda karyawati yang lainnya. Giliran wanita itu udah baper, eh malah dia patahkan dengan bilang, kalau dia hanya bercanda. Kelewatan kan dia? Sepertinya dia patah hati benaran, karena ditinggal nikah sama kamu," lanjut Vika lagi sembari menggelengkan kepalanya.


"Masa sih? kalau menurutku dia sama sekali tidak menyukaiku. Aku digodain sama seperti wanita lainnya. Dia kan memang suka tebar pesona,"


"Siapa yang suka tebar pesona?" tiba-tiba orang yang mereka bicarakan sudah berdiri di belakang Anyelir.


Anyelir dan Vika sontak menatap ke arah Garis yang berdiri dengan kedua tangan yang bersedekap di dada. Pria tampan itu menatap tajam ke arah Anyelir yang justru balas menatap tatapan Haris.


"Kalau bukan kamu siapa lagi?" Vika buka suara dengan sudah bibir dinaikkan ke atas.


"Emangnya salah ya, kalau aku tebar pesona. Kan aku memang mempesona, jadi sebenarnya tanpa aku tebar sudah banyak yang terpesona," ucap Haris dengan penuh percaya diri.


"Huekkks!" Vika membuat gerakan mau muntah. "Buktinya Anyelir tidak terpesona ke kamu," lanjut Vika kembali dengan nada mengejek.


" Bukan tidak terpesona, hanya belum saja. Nah bagaimana dengan kamu, apa kamu tidak terpesona padaku? ayo ngaku, kamu terpesona kan?" goda Haris yang membuat Vika melengos dengan raut wajah sinis.


"Cih, kepedean!" ujar wanita itu.

__ADS_1


Haris terkekeh, merasa geli melihat kekesalan Vika. Kemudian pria itu menoleh kembali ke arah Anyelir.


"Nyir, Di mana suami kamu? kamu sendirian kan ke sini?" tanya Haris.


"Nyir,nyir enak saja, plesetin nama cantikku. Namaku Anyelir bukan Anyir," ucap Anyelir kesal, membuat Haris tertawa kecil.


"Buat apa kamu cari suamiku? aku ke sini datang sendiri, emangnya kenapa?" lanjut Anyelir lagi.


"Kalau suamimu nggak ada, aku kan jadi bebas godain kamu. Mana tahu kali ini, kamu merasa kalau aku lebih baik dari suamimu,"


Plak


tiba-tiba kepala Haris terkena pukulan tangan Vika.


"Vik, kenapa kamu pukul aku?" Haris mengusap-usap kepalanya.


"Setidaknya aku tampan seperti yang kamu katakan tadi," ucap Haris.


"Kamu kira hidup ini yang dibutuhkan hanya tampan saja? semuanya butuh uang. Memang tidak semuanya diukur dengan uang, tapi hidup tanpa uang, kita hidup pun jadi segan, ingin mati rasanya," ucap Vika.


"Kamu ya, uang


saja yang ada di pikiranmu," Haris mendorong pelan jidat Vika. "Contoh dong, Anyelir tidak matre. Iya kan Nye?"


"Siapa bilang? aku itu juga pecinta uang. Eits ingat bukan matre namanya, tapi realistis karena sekarang ini, hampir semuanya butuh uang. Betul nggak ,Vik?" bukannya menyetujui perkataan Haris, Anyelir justru balik menyangkal pria itu.

__ADS_1


"Cih, kalian sama saja! Tapi, kan Nye, Vik rejeki orang itu siapa yang tahu. Bisa saja orang seperti aku yang awalnya hanya seorang karyawan biasa, nasibnya bisa berubah naik drastis karena kerja keras. Seharusnya bukan hanya melulu soal uang yang harus kalian utamakan. Apa gunanya punya uang, kalau tidak bertanggung jawab. Mau sebanyak apapun uangmu, kamu tidak akan pernah bahagia kalau pria itu tidak pernah menganggap kamu,"


Anyelir seketika tercenung, merasa kalau ucapan Haris itu untuk dirinya. Ya, benar seperti yang dikatakan oleh Haris, dia memang punya uang berlebih sekarang, tapi dia tidak seutuhnya bahagia.


Ponsel Anyelir seketika berbunyi, pertanda ada telepon yang masuk. Wanita itu merogoh ponselnya dan melihat ada nama Arjuna sedang menghubunginya.


"Halo!"


"Apa urusan dengan sahabatmu itu sudah selesai? kalau sudah kita pulang!" sahut Arjuna dari ujung telepon tanpa basa-basi.


"Pulang? aku masih mau di__"


"Aku bilang pulang ya pulang! kamu lihat ke sebelah kirimu sekarang!"


Anyelir mematuhi apa yang diperintahkan oleh Arjuna. Alangkah kagetnya dia, ketika melihat suaminya itu sedang berdiri sembari menatap ke arah mereka dengan tajam.


"Baiklah, aku pulang!" pungkas Anyelir akhirnya mengalah. Wanita itu pun kembali memasukkan handphonenya ke dalam tas dan tersenyum menatap Vika dan Haris.


"Emm, aku pulang dulu ya! tuh suamiku sudah jemput!" mata Haris dan Vika sontak menatap ke arah tangan Anyelir menunjuk.


"Bye, bye Vika! lain kali aku datang lagi, atau pas kamu libur kita, jalan!"Anyelir memeluk Vika.


"Bye Haris!" Anyelir hendak memeluk Haris. Namun Haris seketika mundur.


"Maaf, aku masih mau hidup!" ucap pria itu meletakkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Cih,sok nolak!" ucap Anyelir, ketus. Kemudian wanita itu berbalik dan sedikit berlari menghampiri Arjuna.


Tbc


__ADS_2