Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Siapa yang akan kamu lamar?


__ADS_3

"Aaa!" akhirnya kenyang juga," Arjuna mengelus-elus perutnya. Kemudian dia mengalihkan tatapannya ke arah Anyelir yang ternyata sudah tertidur di kursi dengan kepala yang menempel ke meja.


"Anye! Nye!" Arjuna menekan-nekan pundak Anyelir untuk membangunkan wanita itu. Namun, Anyelir sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Arjuna. Anyelir sepertinya benar-benar mengantuk.


Arjuna kemudian ikut menempelkan kepalanya ke atas meja dan menatap wajah Anyelir dengan cukup lama.


"Kenapa kamu bisa membuat hari-hariku yang biasanya datar, menjadi lebih berwarna dengan celotehan kamu? sampai kapan kamu bisa bertahan hidup di sampingku?" ucap Arjuna dengan suara yang sangat pelan.


Cukup lama Arjuna menatap wajah polos Anyelir yang tertidur pulas. Tanpa sadar pria itu mendekatkan bibirnya ke bibir Anyelir.


"Astaga, apa yang aku lakukan tadi? aku menciumnya?" Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tidak boleh jadi ini. Aku harus tidur." Arjuna berdiri dari kursinya dan beranjak pergi. Baru beberapa langkah, pria itu kembali berbalik dan memutuskan untuk menggendong Anyelir dan membawanya ke kamar.


Ketika hampir dekat dengan kamar, Arjuna merasa kesulitan untuk menyingkap gorden di pintu kamar. Mau tidak mau, pria itu pun menggunakan kakinya. Namun tetap saja dia mereka kesulitan. Akhirnya dia memutuskan untuk memutar tubuhnya dan jalan mundur. Sialnya ketika Arjuna sedang memutar tubuhnya,tanpa sengaja kepala Anyelir membentur tembok.


"Aduh, sakit!" pekik wanita itu, sembari memegang kepalanya.


Karena kaget mendengar jeritan Anyelir, Arjuna tanpa sadar melepaskan gendongannya dan membuat Anyelir terjatuh. Beruntungnya Arjunapun dengan sigap masih bisa menangkap tangan Anyelir, sehingga bo*kong wanita itu terhindar jatuh ke lantai. Anyelir tidak jadi jatuh ke lantai, tapi justru Arjuna lah yang mendarat ke lantai dengan tubuh Anyelir yang berada tepat di atas tubuh Arjuna. Mata keduanya sontak terkunci saling menatap untuk sepersekian detik.


"Astaga! apa yang kalian berdua lakukan di sini? apa kamar itu kurang luas untuk kalian gunakan?" tiba-tiba Mirna yang merasa terganggu dengan suara ribut, keluar dari kamarnya.


Anyelir benar-benar tersentak kaget. Wanita itu sontak berdiri dengan wajah memerah. Sementara Arjuna berusaha untuk tetap stay cool.


"Bu-bukan begitu, Ma. Tadi itu aku tidak sengaja jatuh," ucap Anyelir gugup.


"Udah, kalian tidur sana! ini sudah sangat larut, kalian berdua belum tidur juga," Mirna masuk kembali ke dalam kamar.


Setelah mamanya sudah kembali masuk ke dalam kamar, Anyelir sontak menoleh ke arah Arjuna dan menatap pria itu dengan tajam.


"Kamu tadi sengaja ya, membenturkan kepalaku?" tukas Anyelir.


"Aku sudah mengantuk. Ayo tidur!" bukannya menjawab, Arjuna malah mendorong sedikit tubuh Anyelir ke samping dan pria itu langsung masuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Arjuna benar-benar tidak bisa tidur di samping ranjangnya yang tidak seempuk miliknya, juga arena udara yang cukup panas baginya. Kipas angin kecil yang berputar, sama sekali tidak bisa menghalau cuaca panas di kamar itu.


"Kamu bisa tenang nggak sih? dari tadi mutar sana, mutar sini! benar-benar mengganggu tidurku!" protes Anyelir di sela-sela ngantuknya.

__ADS_1


"Panas sekali, Anye di sini! aku benar-benar tidak bisa tidur,"


"Kan tadi aku sudah bilang kalau di sini tidak ada AC. Aku sudah memintamu untuk pulang kan?" Anyelir berucap dengan mata yang masih terpejam.


Arjuna menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Berpikir keras bagaimana caranya agar bisa tidur dengan nyaman.


Anyelir, membuka sedikit matanya, untuk melihat apa yang dilakukan oleh Arjuna. Wanita itu berusaha menahan tawa melihat Arjuna yang dari tadi mengibas-ngibaskan tangannya, mengipas diri sendiri.


Merasa tidak ada cara lain lagi, akhirnya Arjuna membuka pakaiannya, sehingga memperlihatkan perutnya.


"Hei, apa yang kamu lakukan? pakai baju kamu lagi!" pekik Anyelir seraya duduk dan menatap tajam ke arah Arjuna.


"Panas. Tenang saja aku tidak akan macam-macam!" ucap Arjuna tanpa peduli langsung membaringkan tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari pagi kini sudah masuk ke dalam kamar tempat di mana dua sejoli masih tertidur. Siapa lagi mereka kalau bukan Arjuna dan Anyelir.


Merasa ada sesuatu yang menimpa wajahnya, Anyelir membuka matanya perlahan-lahan. Seperti biasa wajah pertama yang dia lihat adalah wajah tampan Arjuna yang berada tepat di depan matanya. Seperti biasa juga, Anyelir selalu terbangun dengan kondisi memeluk pria itu.


Anyelir tidak langsung turun dari ranjang. Wanita itu seperti biasa selalu memanfaatkan momen untuk bisa menatap wajah Arjuna, berlama-lama.


"Hmm, ingat bangun juga kamu ternyata. Aku kirain kamu tidak akan bangun sampai siang nanti." tegur Mirna yang ternyata sudah selesai memasak.


"Di mana suamimu? apa dia belum bangun juga?" Mirna menatap ke belakang Anyelir untuk mencari keberadaan menantunya.


"Mas Juna belum bangun, Ma," ucap Anyelir yang terlihat masih mengantuk.


"Tadi malam kalian berdua ngapain aja sih? mama dengar kamu suruh dia pakai baju. Kalau berbuat seperti itu, jangan keras-keras suaranya, malu sama tetangga,"


"Ma, tadi malam kami tidak__" Anyelir berhenti bicara, karena tiba-tiba terdengar seseorang mengucapkan salam dari pintu.


"Siapa tuh, Ma?"


Mirna mengangkat bahunya, pertanda kalau wanita paruh baya itu juga tidak tahu.


"Coba kamu lihat aja siapa di luar sana!" titah Mirna , dan Anyelir menganggukkan kepalanya.


Begitu membuka pintu, Anyelir tersentak kaget melihat sosok pria yang merupakan kakak kelasnya di SMA dan pernah dekat dengannya. Hanya sekedar dekat, sama sekali tidak memiliki hubungan apapun, karena pada saat itu dia berpacaran dengan Bayu.

__ADS_1


"Hai, Anyelir, I am back!" wajah pria itu terlihat berbinar menatap Anyelir penuh kerinduan.


"Kak Satria! kapan Kakak pulang dari luar negeri?" Anyelir juga terlihat begitu bahagia.


"baru tadi malam dan pagi ini aku langsung ke sini. Lihat aku bawa apa untukmu?" pria yang bernama Satria itu mengangkat sebuah kantong yang dia tenteng.


"Apa itu, Kak?" Anyelir terlihat begitu antusias.


"Aku bawa tas dan parfum yang aku yakin kamu pasti suka. Nih untukmu!" Anyelir dengan raut bahagia, meraih kantong yang diberikan oleh Satria.


"Ayo masuk, Kak!" Anyelir memberikan jalan pada Satria.


Satria tersenyum dan masuk ke dalam dan langsung duduk setelah dipersilakan.


"Ma, lihat nih siapa yang datang!" teriak Anyelir.


Mirna yang penasaran seketika langsung datang dan kaget melihat keberadaan Satria.


"Nak Satria, kapan pulang ke Indonesia?" sapa Mirna sembari menyambut uluran tangan pria itu.


"Baru tadi malam, Tan. Ini oleh-oleh buat Tante!" Satria memberikan kantongan selain milik Anyelir.


"Oh, kalian berdua bicara saja dulu, Tante ke belakang sebentar!" Mirna melangkah kembali ke dapur, setelah Satria menganggukkan kepalanya.


"Kak Sat, kenapa kamu bisa berubah seperti ini? kacamata tebalmu, dan rambut licinmu kamu kemanain?" tanya Anyelir, kagum melihat perubahan penampilan Satria yang dulunya cupu.


"Kamu ini bertanya atau lagi meledekku?" tanya Satria sembari tersenyum.


Anyelir terkekeh mendengar ucapan Satria.


"Aku kan memang harus merubah


penampilan agar aku bisa mendapatkanmu. Kamu ingat kan janjiku dulu, kalau setelah aku menyelesaikan kuliahku, dan mendapatkan pekerjaan yang bagus aku akan kembali dan melamarmu. Nah, sekarang here I am!"


Senyum Anyelir sontak menyurut mendengar ucapan Satria. Dia tidak menyangka kalau pria di depannya itu serius dengan ucapannya dulu. Padahal dulu, Anyelir menganggap kalau pria itu hanya bercanda.


"Siapa yang akan kamu lamar?" tiba-tiba Arjuna, muncul dari dalam kamar Anyelir dengan sorot mata tajam, menatap Satria. Bahkan pria itu juga tidak sempat mengenakan bajunya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2