
Di sini lah Arjuna dan Anyelir sekarang. Tepat di sebuah mall, tempat menjual perlengkapan bayi.
Raut wajah Arjuna dari tadi terlihat ditekuk karena di tangannya sudah banyak menentang kantongan berisi pakaian-pakaian bayi, namun Anyelir sepertinya tidak punya niat untuk keluar dari tempat itu. Mata wanita hamil itu seakan lapar dan ingin membeli semuanya.
"Sayang, mau berapa lama lagi kita ada di tempat ini? apa kamu belum puas?" tanya Arjuna yang merasa kaki dan tangannya sudah sangat pegal.
Anyelir sontak menoleh ke arah Arjuna dengan mata yang sangat tajam.
Kalau kamu tidak ikhlas menemaniku belanja, kamu pulang saja!" cetus Anyelir, untuk kesekian kalinya. Karena memang Arjuna sudah bertanya tentang hal yang sama, beberapa kali.
"Bukan tidak iklhas, Sayang! hanya saja aku sudah sangat lelah. Apa kamu tidak kasihan padaku? tahu begini tadi, aku izinkan mama ikut belanja," ucap Arjuna masih berusaha lembut di tengah kondisi kekesalannya.
"Aku di sini!" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang sangat familiar di telinga Arjuna.
"Mama!" seru Arjuna dengan ekspresi wajah yang kaget. Ya, ternyata Dewi, diam-diam mengikuti Arjuna dan Anyelir dari belakang, karena wanita setengah baya itu juga tidak mau ketinggalan untuk membelikan perlengkapan cucu pertamanya.
"Mama? Mama membelikan ini semua?" mata Arjuna membesar melihat tangan mamanya yang sudah penuh dengan kantongan berisi pakaian bayi.
"Iya, emangnya kenapa? tidak suka? kamu mau protes? kalau mau protes , sana ke pemerintah!" cetus Dewi.
"Sudahlah, Kak! kita diam saja, dan terima nasib!" tiba-tiba Haris sudah berdiri di belakang Dewi dengan tangan yang bahkan sudah lebih banyak membawa kantongan.
"Haris, kenapa kamu juga bisa ada di sini?" Arjuna benar-benar bingung.
"Kakak tanya saja Mama! tadi memintaku meninggalkan kantor dengan nada yang panik, bilangnya ada hal yang sangat urgent. Aku mengira terjadi sesuatu, eh ternyata mama memanggilku hanya untuk ini! membawa benda-benda ini!" Haris menggerutu. Jangan lupakan Anyelir yang sudah cekikikan.
"Ya, ampun! kalau begini, kamu datangin pengelola toko ini, katakan kalau kita akan memborong semua pakaian yang ada di sini dan suruh antar ke rumah!" titah Arjuna.
"Nggak boleh begitu! kamu borong semuanya buat apa, Mas? nggak kepakai nanti, jadinya kan mubazir, " Anyelir kembali buka suara menolak.
"Jadi menurutmu, ini semua juga nanti bakal Ke pakai? ini sudah sangat banyak, Anyelir!" Arjuna menekan kata banyak, sembari tetap menahan Kekesalannya.
"Banyak apanya? ini masih sedikit, Nak! kamu jangan memarahi Anyelir!" Dewi kembali buka suara menimpali ucapan putranya itu.
"Ini sudah banyak, Ma!" Arjuna masih bersikeras.
"Mama bilang ini masih sedikit, Juna.a emangnya kamu pernah menjadi seorang Ibu? tidak kan? mama aja yang sudah melahirkan dua kali,bilangnya ini masih sedikit," Dewi tidak mau kalah.
Arjuna ingin rasanya mengusap wajahnya p dengan kasar, tapi dia tidak memiliki sisa tangan yang menganggur, begitu juga dengan Haris.
__ADS_1
"Ayo, Anyelir kita lihat-lihat lagi mana yang harus dibeli!" Dewi meraih tangan Anyelir dan berlalu pergi meninggalkan Arjuna dan Haris, yang akhirnya tidak punya cara lain selain mengikuti dua wanita berbeda usia itu
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anyelir memilih untuk tetap tinggal di mall, sementara Haris kembali ke kantor dan Dewi pulang ke rumah. Sementara semua belanjaan mereka, akan diantar oleh pihak toko ke kediaman Arjuna.
Arjuna juga akan kembali ke kantor setelah orang yang ditunggu istrinya itu datang. Siapa lagi yang ditunggu Anyelir kalau bukan Shakila.
Dua wanita kakak beradik yang bertemu setelah dewasa itu janjian bertemu untuk makan siang bersama dan anehnya, anyelir meminta Arjuna nantinya tidak boleh gabung dengan mereka berdua.
"Anye!" dari arah yang tidak terlalu jauh, Shakila yang ternyata sudah tiba, memanggil Anyelir. Wanita itu berjalan menghampiri Anyelir dan Arjuna dengan seulas senyuman di bibir.
"Tuh Kak Shakila sudah datang. Mas Juna bisa ke kantor sekarang!" ucap Anyelir, seraya membalas senyum Shakila.
"Apa kamu tega meminta suami pergi dengan perut lapar seperti ini? apa tidak sebaiknya aku makan siang dengan kalian berdua dulu, baru aku kembali ke kantor?"
"Tidak boleh! Mas tidak mungkin paham dengan pembicaraan dua wanita. Lagian kami mau menghabiskan waktu berdua, untuk menebus waktu selama ini. Kami hanya mau berdua, titik tidak pakai koma!" tegas Anyelir tidak mau dibantah.
"Ya udah deh!" pungkas Arjuna akhirnya mengalah.
"Kila, titip istriku ya! kalau ada apa-apa, langsung kabari aku!" ucap Arjuna sebelum pria itu beranjak pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku mau makan di warteg! aku rindu makanan warteg," sahut Anyelir yang membuat mata Shakila membesar.
"Warteg? maksudmu makanan di warung-warung kecil begitu?" ulang, Shakila memastikan.
Anyelir, dengan wajah berbinar menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Kalau begitu, kenapa kita tadi tidak janjian saja di luar mall ini? kenapa aku harus masuk, kalau akhirnya kita harus keluar lagi?" Shakila menggerutu.
"Karena, nanti kalau mas Juna tahu, dia tidak akan mengizinkan. Dia merasa makanan di warteg itu kurang bersih dan kurang sehat. Padahal kan, dia tidak tahu bagaimana enaknya makanan itu. Dia juga belum pernah merasakannya. Buktinya aku jarang sakit. Padahal, asal kamu tahu, aku biasa makan makanan warteg. Mas Juna saja yang berlebihan," tutur Anyelir panjang lebar
"Emm, gimana ya? aku juga tidak terbiasa makan makanan warteg," ucap Shakila dengan nada sangat hati-hati, khawatir Anyelir merasa tidak nyaman.
"Makanya kita coba dulu! kamu pasti suka! ayo!" Anyelir menarik tangan Shakila. Mereka kemudian beranjak keluar dari gedung mall.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mata Anyelir berkilat-kilat dan wajahnya berbinar, melihat deretan makanan yang berjejer rapi di dalam sebuah steling makanan.
Wanita hamil itu, bahkan sampai meneguk air liurnya berkali-kali, seakan tidak sabpar untuk melahap makanan-makanan itu.
"Kak, kamu pesan aja apa yang kamu mau," ucap Anyelir setelah wanita itu menelan air liurnya untuk yang kesekian kalinya.
"Anye, sepertinya tidak ada yang cocok untuk aku makan. Aku takut, karena kamu tahu kalau aku belum bisa makan makanan seperti itu," bisik Shakila, agar tidak didengar oleh pemilik warung.
"Aduh maaf, Kak! aku? sama sekali tidak ingat kalau makanan kamu tidak bisa sembarangan. Jadi, bagaimana ini? apa kita harus pergi lagi?" raut wajah Anyelir terlihat tidak enak hati.
"Tidak perlu! kamu makan saja, dan aku akan menemanimu makan. Aku juga belum lapar," ucap Shakila, sembari menyelipkan senyumannya.
"Benar, Kak?" tanya Anyelir, memastikan dan Shakila menganggukkan kepalanya.
Anyelir kemudian kembali tersenyum dan kembali menatap ke arah deretan makanan.
"Bu, aku mau yang ini, ini, ini dan ini!" Anyelir sibuk menunjuk makanan yang hendak dia pesan.
"Oh, iya Mbak! tunggu sebentar ya! Kita kehabisan piring. Piringnya masih dicuci," sahut wanita pemilik warung itu, sopan.
"Nania! bawa piringnya kemari!" teriak Ibu itu dengan wajah yang mengarah ke dapur.
"Iya,Bu!" sahut seseorang dari dalam sana.
"Suara itu? sepertinya aku kenal," batin Anyelir.
"Nania? apa dia Nania yang aku kenal?" bisik Anyelir kembali pada hatinya.
"Ah, tidak mungkin! Nania tidak mungkin mau berada di tempat seperti ini. Apalagi tadi, mencuci piring? ah benar-benar tidak mungkin," Anyelir menggeleng-gelengkan kepalanya, hingga membuat Shakila mengreyitkan keningnya.
"Kamu kenapa, Anye?" tanya Shakila.
"Aku __"
"Ini piringnya, Bu!" belum sempat Anyelir bicara, orang yang sedang dia pikirkan muncul dari dalam.
Mata Anyelir membesar melihat sosok yang benar-benar Nania, mantan sahabatnya.
"Nania!" seru Anyelir.
__ADS_1
Merasa namanya disebut oleh seseorang, Nania menoleh ke arah suara itu.
"A-Anyelir?"