Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Kekesalan Haris


__ADS_3

Kediaman keluarga Arjuna kini terlihat dana ramai, karena akan ada perayaan tujuh bulanan atas kehamilan Anyelir.


Raut wajah Anyelir terlihat tidak tenang, dan berkali-kali melihat ke arah pintu masuk, seperti menunggu kedatangan seseorang. Ya, wanita hamil itu, sedang menunggu kedatangan Mirna mamanya,yang sudah dua jam yang lalu menginformasikan padanya kalau sudah berangkat.


"Kamu kenapa sih, Sayang? kenapa dari tadi kamu nggak tenang?" bisik Arjuna.


"Mas,mama kenapa belum sampai juga ya? aku hubungi dari tadi, juga nggak ada jawaban." sahut Anyelir dengan mata yang masih belum lepas dari pintu.


"Sabar! mungkin jalanan lagi macet," Arjuna mencoba menenangkan hati Anyelir.


"Tapi,Mas ... kenapa teleponnya tidak diangkat? harusnya dijawab, supaya aku tidak khawatir," Arjuna kali ini sudah tidak bisa menjawab lagi, karena memang pria itu juga bertanya-tanya, kenapa telepon Anyelir tidak mendapat respon dari ibu mertuanya.


"Ini nih,Mama. Sangat keras kepala. Dibilang akan dijemput, tidak mau. Diminta untuk pindah dari rumah itu,juga tidak mau," Anyelir menggerutu tidak jelas. Dan kalau sudah sudah seperti ini, Arjuna hanya bisa diam saja, daripada kena omelan istrinya itu.


Arjuna memang sudah meminta ibu mertuanya pindah karena Arjuna akan Membelikan rumah pada mertuanya itu. Namun sang mertua menolak, dan malah tetap berniat untuk tetap tinggal di rumah kontrakannya itu. Alhasil Arjuna akhirnya memutuskan untuk membeli rumah itu dan merenovasinya.


"Anyelirrrrr!" suara cempreng seseorang berteriak begitu heboh memanggil nama Anyelir. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Vika sahabatnya.


"Sayang, jangan berlari, nanti yang kita buat tadi malam jatuh!" pekik Haris, ambigu.


Vika mendelik tajam ke arah Haris yang cengengesan.


"Apa yang kita buat emangnya tadi malam?" cetus Vika, kesal.


"Apa ya? bukannya aku menciummu dan menemanimu tidur?" ucapan Haris membuat siapapun yang mendengarnya, akan berpikir yang tidak-tidak.


"Me-menemaniku tidur? se-sejak kapan? kita tadi malam juga tidak bertemu," wajah Bima memerah sembari melihat ke sekeliling, malu kalau ada tamu yang mendengar.


Wanita itu langsung terjengkit kaget, begitu melihat sosok Dewi mamanya Arjuna dan Haris sudah berdiri di belakangnya.


"Ta-Tante?" tenggorokan Vika seketika seperti tercekat, Karena takut mamanya Haris beranggapan kalau dia bukan wanita baik-baik.


"Haris! apa maksud perkataanmu? kamu menemaninya tidur? sudah sampai batas mana yang kamu lakukan? kamu kan belum menikah dengan Vika? bagaimana mungkin kamu bisa menemaninya tidur? kamu tidak tahu batasanmu ya?" Dewi memarahi Haris dengan suara yang pelan, karena takut di dengar para tamu yang sudah mulai berdatangan.


"Apaan sih, Ma? kenapa responnya berlebihan begini?" Haris terlihat sangat santai.

__ADS_1


"Haris, maksudmu mama akan tenang saja, begitu? mama akan tenang, mendengar anak laki-laki mama tidur dengan wanita yang belum terikat pernikahan. Kalau kalian sudah tidur bersama dalam satu kamar, tidak mungkin kalau kalian tidak melakukan apa-apa. Apalagi posisinya kalian berdua saling mencintai?"


"Ta-Tante, sumpah demi apapun, aku tidak pernah tidur dalam satu kamar dengan Haris. A-aku juga bingung kenapa dia bisa berkata seperti itu," Vika buka suara kembali, berusaha menjelaskan agar mamanya Haris tidak salah paham.


" Nak Vika,kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi. Aku tidak menyalahkanmu, karena aku yakin pasti Haris yang salah. Dia pasti yang sudah memaksamu kan? karena dia dari kemarin-kemarin sudah meminta untuk menikahimu. Tadi mama dengar kalau dia takut, yang kalian buat tadi malam akan jatuh. Haris benar, Nak. Kamu harus jaga, walaupun memang belum tentu jadi. Mana tahu kan, benaran jadi," Dewi mengelus perut rata Vika.


"Apanya yang jadi, Tante? aku dan Haris benar-benar tidak melakukan apa-apa!" suara Vika, terdengar bergetar, seperti ingin menangis.


Sementara itu, tawa Haris pecah, hingga membuat Dewi mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Ma, yang bilang kami tidur bersama dalam satu kamar siapa?" ucap Haris di sela-sela tawanya.


"Haris, mama benar-benar tidak mengerti. Bukannya kamu tadi bilang kalau kalian tidur bersama tadi malam dan kamu menciumnya? kalau sudah mencium kan, pasti merembes kemana-mana,"


"Ma,kami memang tidur bersama, tapi tidak satu kamar. Dia di kamarnya dan aku di kamarku. Kenapa tadi aku mengatakan aku menciumnya, ya ... ketika dia tidur, aku mencium layar handphoneku,"


"Maksudnya, kalian melakukan panggilan video, dan kalian tidur tanpa mematikan panggilan?" pekik Dewi.


"Tuh, mama tahu!" Haris kembali tertawa dan kali ini Arjuna juga ikut tertawa, sementara Anyelir masih sulit untuk tertawa, karena hati wanita itu sama sekali belum tenang.


"Sudah,kamu jangan mau lagi sama dia. Nanti Tante akan carikan pria lain yang lebih baik padamu. Oh iya, mending kamu sama Doni, dia anak angkat Tante, mau kan? dari pada sama dia," tutur Dewi, sengaja ingin membuat Haris kesal.


"Iya kah, Tante? Si Doni itu tampan dan baik nggak?" Vika yang mengerti maksud perkataan Dewi, mencoba mengikuti permainan mamanya Haris itu.


"Mama, apa-apa sih?" nggak ada kenalan-kenalan sama Doni!" protes Haris. "Kamu juga, kenapa kamu mau , dikenalkan dengan Doni? asal kamu tahu, lebih tampan aku!" sambung Haris, menatap Vika dengan kesal.


"Jangan percaya! Doni lebih tampan dari Haris. Nih, Tante punya photonya," Dewi dengan sengaja menunjukkan photo Doni di handphonenya.


"Wah, tampan sekali, Tante! sepertinya dia juga baik. Dia juga sepertinya__" Vika berhenti bicara dan mata wanita itu membesar, karena tiba-tiba tangannya ditarik oleh Haris, dan bibir pria itu menempel ke bibirnya.


"Haris!" pekik Dewi, kaget melihat reaksi putra keduanya yang terbilang cukup berani.


"Jangan sesekali kamu memuji pria lain di depanku! aku bisa bertindak lebih gila dari ini!" bisik Haris, setelah dia melepaskan ciumannya.


Sementara itu, Vika benar-benar shock karena sejujurnya inilah pertama kali ada bibir seorang pria yang menyentuh bibirnya,apalagi dilakukan di depan orang.

__ADS_1


"Haish, kamu terlalu berlebihan! mama dan dia tadi hanya bercanda," Dewi mendorong pelan tubuh Haris dan meraih tangan Vika.


"Lihat, dia sampai kaget begini!" Dewi masih mengomel, sementara Haris menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Plak ...


Tangan Arjuna, tiba-tiba melayang di kepala adiknya itu.


"Selamat siang!" terdengar suara yang ditunggu-tunggu oleh Anyelir.


"Mama! kenapa Mama baru sampai? kenapa aku hubungi mama nggak jawab?" cecar Anyelir dengan beruntun.


Mirna, menyelipkan sebuah senyuman.


" Handphone Mama ketinggalan. Mama kirain mama sudah memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas, setelah mama mengabarimu tadi. Mama juga baru sampai karena keasikan ngobrol dengan anak mama yang satu lagi," ucap Mirna ambigu.


"Anak yang satu lagi? maksudnya?" Anyelir mengrenyitkan keningnya.


"Apa yang dimaksud mama Kak Shakila? bukannya Mama belum tahu keberadaan Kak Shakila ya? dan bukannya Kak Shakila masih di Singapura?" batin Anyelir bertanya-tanya.


"Hai, Anyelir!" tiba-tiba orang yang dipikirkan Anyelir muncul dengan senyum manis di bibirnya. Yang lebih membuat kaget, ketika dia melihat tangan kakaknya itu berada di genggaman tangan Radit. Bukan hanya Anyelir yang kaget, Arjuna, Haris dan Dewi juga merasakan kekagetan yang sama. Sementara Vika, lebih ke arah speechless melihat wajah mirip Shakila dengan Anyelir.


"Ka, Shakila! ka-kamu sudah pulang? dan apa maksudnya ini? " tanya Anyelir di sela-sela rasa kagetnya sembari menunjuk ke arah dua tangan yang saling bertaut itu.


"Ya, seperti yang kamu lihat. Aku sudah pulang. Dan kenapa kamu bingung melihat tangan kami? apa ada yang salah?" Shakila tersenyum misterius.


"Radit, apa ada yang harus kamu jelaskan?" Arjuna buka suara.


"Emm,apa ya? ya, seperti yang kamu lihat, tangan yang dulu kamu genggam ini, ya sekarang jadi milikku. Aku rasa, kamu tidak bodoh untuk mengartikannya," sahut Radit, tegas, membuat Arjuna dan yang lainnya tersenyum bahagia.


Sementara itu, di tempat lain, tampak seorang pria keluar dari bandara. Pria itu tidak lain adalah Satria. Yang setelah cukup lama dan merasa aman, kembali lagi ke Indonesia.


Tbc


Maaf ya, kemarin aku tidak update. Itu karena tangan kananku tiba-tiba sakit. Ini aja masih sakit, tapi aku usahakan untuk nulis. 🙏🏻🥰

__ADS_1


__ADS_2