Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Kamu hamil?


__ADS_3

"Kenapa sih kamu terlalu jujur, Juna? tidak bisakah kamu berpura-pura, memberikan harapan pada Shakila?" Radit terlihat begitu marah, begitu tahu kalau Shakila drop lagi.


"Aku tidak mau dia salah paham, Dit. Aku tahu kejujuran Itu kadang memang menyakitkan, tapi bagaimanapun kita harus tetap melakukannya. Akan lebih sakit jika suatu saat, tahu kalau semuanya hanya kebohongan," sahut Arjuna, yang sebenarnya merasa bersalah.


"Tapi, kenapa ketika kondisi Shakila parah? Seharusnya kamu tunggu kondisi Shakila sedikit membaik dulu, baru kamu jujur. Sekarang, kamu lihat sendiri,dia sangat shock," nada suara Radit mulai meninggi.


"Kamu jangan hanya menyalahkanku. Apa kamu tidak menyadari kalau kamu juga ada andil dalam masalah yang terjadi? bukannya kamu yang mengembalikan harapan itu pada Shakila?"


Radit terdiam, tidak memberikan jawaban atasnya kemarahan Arjuna yang memang benar adanya.


Melihat Radit yang terdiam, Arjuna menghela napasnya dengan sekali hentakan dan menghampiri Radit.


"Dit, sekarang tidak ada gunanya kalau marah-marah! kamu tahu sendiri kalau aku juga dalam pilihan yang sulit. Sekarang yang terbaik dan harus kita lakukan adalah berdoa, semoga Shakila baik-baik saja," Arjuna menepuk-nepuk pundak Radit, untuk menenangkan sahabatnya itu.


Walaupun pikiran Arjuna resah dengan kondisi Shakila, sebenarnya pria itu juga resah karena tidak menemukan Anyelir di luar ruangan seperti yang dijanjikan oleh istrinya itu, ketika keluar dari ruangan Shakila, ditambah, dia juga tidak menemukan Maya, Mamanya Shakila.


"Di mana sih Anyelir? dia baru saja di negara ini. Apa dia pergi?" batin Arjuna sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


Mata pria tampan itu tiba-tiba menyipit ketika melihat sosok Anyelir yang berjalan dengan seorang pria yang sangat di kenal.


"Haris? itu Haris kan?" gumam Arjuna, memastikan.


"Hai, Kak? jangan melihatku seperti itu? aku benar-benar Haris," sapa Haris yang mengerti makna ekspresi wajah kakaknya itu.


"Kenapa kamu ada di sini? kenapa kamu meninggalkan perusahaan?" sorot mata Arjuna sangat tajam.


"Aku juga butuh jalan-jalan," sahut Haris santai.


Arjuna berdecak. Ingin rasanya dia mengumpat,tapi dia tahan karena situasi yang tidak memungkinkan. Kemudian, dia menarik tangan Anyelir, menjauhkan tubuh istrinya itu dari sang adik, hingga membuat Haris mendengkus, karena jengah melihat reaksi Arjuna.


"Kamu kemana saja? bukannya tadi, kamu bilang kalau kamu akan menungguku di luar? apa kamu dipaksa dia untuk jalan-jalan?" cecar Arjuna dengan pertanyaan yang beruntun.


"Aku hanya di taman, Mas. Dan tidak ada sangkut pautnya dengan Haris. Aku justru baru bertemu dengannya.


"Kenapa sih kamu suka pergi, tanpa izin? kamu baru saja menginjak negara ini, kalau kamu tersesat bagaimana?"


Anyelir menyelipkan sebuah senyuman, merasa bahagia mendengar Arjuna yang mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Sudahlah! buktinya aku baik-baik saja kan? Oh ya, Kenapa kalian berdua di luar? siapa yang menemani Shakila di dalam?" Anyelir sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Shakila sedang diperiksa. Tadi dia tiba-tiba drop," jelas Arjuna dengan nada lirih.


"Apa? Shakila drop lagi?" pekik Maya yang ternyata sudah menyusul.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dok, bagaimana dengan kondisi anakku?" tanya Maya begitu dokter yang memeriksa Shakila keluar dari dalam ruangan.


Raut wajah dokter itu terlihat sendu, pertanda kalau tidak ada kabar baik.


"Seperti yang aku katakan tadi, Nona Shakila harus secepatnya mendapatkan donor hati. Hatinya sudah mulai tidak berfungsi," jelas dokter itu.


Maya kemudian segera menghambur ke arah Anyelir dan berlutut. "Aku memohon kali ini Anyelir. Tolong bantu Shakila! aku yakin hati kamu pasti cocok. Kamu dengar sendiri kan, kalau hanya itu jalan satu-satunya?" mohon wanita paruh baya itu.


"Maaf, Tante! aku tetap tidak bisa. Aku ingin sekali menolong,tapi seperti yang aku katakan tadi,aku benar-benar tidak bisa!" tolak Anyelir dengan raut wajah sendu.


"Tadi? maksudnya? apa tadi kamu sudah diminta untuk mendonorkan hatimu?" Arjuna buka suara.


"Emm, aku memintanya mendonorkan hatinya pada Shakila, karena mereka itu kembar. Jadi, aku yakin kalau hati mereka pasti cocok," terang Maya yang membuat Arjuna tersentak kaget.


"Tante Maya, bukannya


Tante sudah tahu alasan Anyelir menolak permintaan Tante? tapi kenapa Tante meminta kembali pada Anyelir untuk meminta hal yang tidak mungkin untuk dia lakukan?" kali ini Haris kembali buka suara.


Maya tercenung dan akhirnya hanya bisa menangis sesenggukan, seraya masuk ke dalam ruangan putrinya.


"Kenapa kamu tidak bisa menolong? kalau kamu memang benar-benar, kembaran Shakila bukannya seharusnya kamu bisa menolong? untuk masalah cocok atau tidaknya kan bisa dilihat setelah melakukan pemeriksaan?" Radit buka suara, menatap ke arah Anyelir, dengan tatapan seakan menyalahkan istri dari sahabatnya itu.


"Kak Radit, kalau kamu tidak tahu masalahnya , lebih baik kamu diam!" Haris benar-benar terlihat jengkel sekarang.


"Asal kamu tahu, Anyelir bukannya tidak ingin menolong, tapi __"


"Tunggu dulu! kenapa tidak ada yang memberikan jawaban padaku? Anyelir kembar dengan Shakila, ini apa maksudnya?" Arjuna memotong, sebelum Haris selesai bicara.


"Ini Kakak lebih baik dengar sendiri?" Haris memberikan video rekaman pembicaraan Maya dengan Anyelir tadi di taman.

__ADS_1


Ekspresi wajah Arjuna berubah kaget, demikian juga dengan Radit.


"Jadi, kamu kembar dengan Shakila?" desis Arjuna.


"Dan alasan kenapa Anyelir menolak untuk mendonorkan hatinya karena alasan ini. Kakak bisa lihat juga di video ini," Haris kembali memutar video rekaman berikutnya.


Ekspresi Arjuna semakin kaget dan langsung menatap Anyelir. "Kamu ha-hamil?" tanya Arjuna memastikan apa yang baru saja dia dengar


Anyelir menghela napasnya dan menganggukkan kepalanya.


"Iya, Mas. Inilah alasan kenapa Mas tidak menemukanku di rumah. Aku pergi memeriksakannya ke rumah sakit. Ini hasilnya,"Anyelir mengeluarkan bukti hasil USG dari dalam tasnya.


Tangan Arjuna bergetar saat menerima hasil USG itu, dan matanya seketika berkaca-kaca saat melihat hasil yang ada di tangannya.


"Ja-jadi kamu benar-benar hamil?" ulang pria itu memastikan dan Anyelir mengangguk lemah.


"Apa Mas Juna, tidak senang?" tanya Anyelir dengan jantung yang berdetak kencang.


Arjuna tidak menjawab sama sekali, tapi pria itu justru menarik tubuh Anyelir ke dalam dekapannya. "Bagaimana bisa aku tidak bahagia? sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah," Arjuna mengeratkan pelukannya dan memberikan kecupan di kepala Anyelir berkali-kali.


"Kenapa kamu tidak jujur tadi kalau kamu ke rumah sakit? aku bahkan sudah sempat mengabaikanmu tadi di bandara. Kalau aku tahu, aku bisa membatalkan keberangkatan kita ke sini. Seandainya terjadi apa-apa bagaimana?" perasaan bahagia, merasa bersalah dan marah kini bercampur menjadi satu pada Arjuna.


"Ma-Maaf, Mas! tadi dokternya mengatakan kalau aku bisa naik pesawat, dan aku sudah mengkonsumsi obat penguat janin," sahut Anyelir, menenangkan Arjuna.


Arjuna mengembuskan napas lega dan kembali menarik tubuh Anyelir ke dalam dekapannya.


Sementara itu Radit datang menghampiri Anyelir dan Arjuna.


"Anyelir, maaf! tadi aku sempat berpikir kalau kamu egois, aku benar-benar tidak tahu kalau kamu hamil," suara Radit terdengar lemah, dan raut wajah merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Dit. Kamu tidak tahu sama sekali," sahut Anyelir dengan bibir yang berusaha untuk tersenyum.


"Aku akan jadi seorang ayah. Aku tidak bermimpi kan?" Arjuna masih saja bergumam dengan tangan bergetar melihat hasil USG.


"Iya,Kak. Kamu jadi ayah dan aku jadi uncle," celetuk Haris sembari menepuk pundak kakaknya. Sementara itu, Anyelir menatap lekat-lekat raut wajah Arjuna, untuk melihat apakah pria itu benar-benar bahagia atau tidak.


"Selamat ya,Jun!" Radit mengulurkan tangannya, dengan senyum tipis. Bukannya dia tidak ikut bahagia untuk Arjuna, tapi pria itu benar-benar tidak bisa membayangkan kalau Shakila tahu kabar kehamilan Anyelir. Pria itu takut kondisi Shakila akan semakin menurun.

__ADS_1


"Aku mau masuk melihat Shakila dulu! sebaiknya kalian jangan masuk dulu, agar Shakila bisa lebih tenang." Radit beranjak masuk ke dalam ruangan.


Tbc


__ADS_2