
Mama mau tanya, apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil? atau kamu dan Arjuna, menunda untuk memiliki anak?"
Anyelir menelan ludahnya dengan susah, kaget mendengar pertanyaan mamanya yang hampir sama dengan pertanyaan mertuanya.
"Emm, tidak menunda sama sekali, Ma. Mungkin belum dikasih Tuhan aja," Anyelir berucap dengan bibir yang gemetar.
"Oh, yang sabar ya! masih tiga bulan kok. Masih banyak waktu. Mama doakan supaya kamu secepatnya hamil," ucap Mirna sembari mengelus lembut puncak kepala anyelir
Anyelir menggigit bibirnya sendiri dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wanita itu seketika merasa bersalah telah berbohong pada mamanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita paruh baya itu nanti seandainya tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Sampai saat ini, aku bahkan masih tersegel,Ma!" ucap Anyelir yang tentu saja hanya dia ucapkan dalam hati.
Setelah bisa menguasai dirinya, Anyelir kembali menoleh ke arah mamanya dengan bibir yang tersenyum.
"Ya udah, Ma. Kita masuk aja ya! sudah sangat larut soalnya. Mama seharusnya jam segink sudah tidur," Anyelir mengajak mamanya berdiri dan masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
Baru saja Anyelir dan Mirna berjalan beberapa langkah, terdengar ketukan dari pintu.
"Siapa sih malam-malam begini bertamu?" ucap Anyelir seraya menoleh ke arah mamanya.
"Entahlah! coba kamu lihat!" ucap Mirna.
Anyelir kembali melangkah ke arah pintu dan membukanya. Matanya sontak membesar, terkesiap kaget begitu melihat sosok pria yang baru saja mengetuk pintu. Siapa lagi pria itu kalau bukan Arjuna.
"Mas Juna!"seru Anyelir di sela-sela rasa kagetnya. " Kenapa malam-malam begini datang ke sini? bukannya aku sudah izin kalau aku akan menginap di rumah mamaku malam ini, ya?" Anyelir memicingkan matanya, menatap Arjuna dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Kamu seharusnya suruh aku masuk dulu, baru bertanya," sahut Arjuna dengan wajah datar.
"Anyelir benar kata Nak Juna. Seharusnya kamu suruh dulu Nak Junanya masuk!" Mirna yang berdiri di belakang Anyelir buka suara.
"Eh, Mama. Bagaimana keadaannya Ma? sudah baikan?" tanya Arjuna dengan sopan.
"Baikan? memangnya mama ada __"
"Mama sudah baikan kok. Hanya masih perlu diperhatikan untuk malam ini saja, jaga-jaga takut kambuh lagi," Anyelir seketika langsung menyambar, takut mamanya mengakui kalau dirinya sebenarnya tidak sakit.
"I-iya, Nak Juna. Mama sudah baikan!" ucap Mirna akhirnya, mengerti kalau putrinya sedang berbohong.
"Oh syukurlah, Ma!" Arjuna tersenyum tipis.
"Mas Juna ke sini mau ngapain? mau jemput aku ya? Mas Juna pulang saja dulu, besok aku pasti akan pulang kok," Anyelir akhirnya mencoba kembali ke topik awal.
"Tentu saja boleh. Rumah ini sekarang kan juga rumahmu," Mirna tersenyum lebar. Kemudian wanita paruh baya itu menoleh ke arah Anyelir.
"Anye,bawa suamimu ke kamar!" titahnya. Kemudian wanita paruh baya itu kembali menatap Arjuna.
"Mama, masuk kamar dulu ya, Nak Juna!" lanjut wanita itu, kembali melemparkan senyum lebarnya. Wanita itu kemudian masuk kedalam kamar, setelah Arjuna mengiyakan.
Setelah memastikan, kalau sang mama benar-benar sudah berada di dalam kamar, Anyelir langsung menarik tanga Arjuna, untuk sedikit menjauh dari depan kamar mamanya.
"Mas, kamu gila ya? kamarku itu sempit dan tidak ada AC. Kamu nanti pasti akan kepanasan dan pasti tidak akan bisa tidur." ucap Anyelir dengan suara yang sangat pelan, takut didengar mamanya.
__ADS_1
"Aku tidak masalah sama sekali! Jadi, kamu tenang saja! Ayo kita tidur! di mana kamarmu? ini ya?" Arjuna menunjuk ke arah kamar persis tepat di samping kamar mertuanya.
"Selain itu, emangnya di mana lagi?" Anyelir mengerucutkan bibirnya.
"Kalau begitu ayo masuk!" Arjuna masuk ke dalam lebih dulu. Sementara Anyelir diam-diam menyunggingkan senyum, merasa bahagia melihat Arjuna yang menyusulnya.
Baru saja Anyelir masuk ke dalam kamar, Arjuna sudah berdiri di depannya sembari memegang perutnya.
"Ada apa?" Anyelir mengrenyitkan keningnya.
"Aku lapar," bisik Arjuna.
"Kamu belum makan?" tanya Anyelir, dengan mata membesar.
"Belum! di sini ada makanan yang bisa di makan kan?" tanya Arjuna.
Anyelir menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya kembali guna membuang rasa kesalnya.
"Harus dimasak dulu! jadi kamu harus bersabar! itupun mungkin hanya mie instan dan telur," ucap Anyelir.
"Ya udah, tidak apa-apa! yang penting aku makan," ucap Arjuna, masih dengan raut wajah datar.
Anyelir berbalik dan kembali keluar dari kamar disusul oleh Arjuna dari belakang.
"Kamu nyusahin aku aja! harusnya jam segini aku sudah tidur, bukan masak lagi!" Anyelir menggerutu sembari mengambil panci.
__ADS_1
Tbc