
Anyelir berdiri di atas balkon kamarnya, sembari menatap ke arah pintu pagar. Walaupun dia ditinggalkan begitu saja oleh Arjuna tadi, dia tetap merasa khawatir karena suaminya itu belum kembali dari tadi.
"Kemana sih dia? kenapa belum pulang dari tadi?" raut wajah Anyelir benar-benar tergambar rasa khawatir yang terkira.
Anyelir melirik ke arah handphonenya dan melihat kalau jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam.
Anyelir baru saja hendak masuk ke dalam kamar, ketika sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah.
"Itu mobil siapa? itu kan bukan mobil Juna?" Anyelir menyipitkan matanya, menatap penasaran pada mobil yang baru saja masuk.
Anyelir melihat ada sosok pria yang keluar dari dalam mobil dan terlihat seperti buru-buru mengitari mobilnya untuk membuka pintu mobil yang satu lagi.
"Haris? itu kan Haris!" gumam Anyelir.
"Tunggu! bukannya itu Juna?" lanjut Anyelir kembali begitu melihat Haris membantu seorang pria keluar dari dalam mobil dan memapahnya masuk ke dalam rumah.
Anyelir sontak berlari masuk ke dalam kamar dan keluar untuk menemui Haris dan Juna.
Anyelir, membuka pintu tepat bersamaan, Haris yang hendak membuka pintu.
"Haris kenapa dengan kakakmu? kenapa dia bisa seperti ini?" cecar Anyelir dengan raut wajah panik.
Tampak Arjuna yang terlihat tidak tenang dengan wajah yang memerah.
"Lepaskan aku, Ris. Aku sudah tidak kuat lagi!" terdengar suara Arjuna, memohon dengan suara yang bergetar,sama hal seperti tubuhnya yang juga bergetar. Apalagi ditambah dengan kehadiran sosok Anyelir.
"Anyelir,aku mohon hanya kamu yang bisa menolong Kakakku sekarang. Aku yakin kamu bukan orang bodoh, kamu pasti tahu apa yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kak Juna sekarang. Intinya hanya kamu yang bisa menolongnya," Haris menahan tubuh Arjuna yang terlihat mulai berontak untuk melepaskan dirinya.
Anyelir menoleh ke arah Arjuna. Wanita itu seketika paham apa yang terjadi pada suaminya itu. Dia tahu jelas kalau suaminya itu sedang berada di bawah obat perangsang.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Anyelir dengan alis yang bertaut, menyelidik.
__ADS_1
"Nania. Dia ingin menjebak Kak Arka. Wanita ular itu dibantu seorang pria bernama Satria,"
"Arghh, lepaskan aku!" dengan sekuat tenaga Satria akhirnya bisa lepas dari cengkeraman Haris. Pria itu sontak berlari menuju kamarnya.
"Anyelir, kali ini hanya kamu yang bisa menolongnya. Beruntung aku tidak terlambat tadi. Aku melihat Kakak Arjuna keluar dari rumah dengan emosi,makanya aku membuntutinya.Dia tadi pergi ke bar yang kebetulan ada Satria dan Nania di sana. Tadi dia sudah berusaha kabur ketika dia merasa ada yang aneh di tubuhnya, tapi Satria berusaha menahannya, untung aku langsung datang. Arghh, pokoknya aku mohon tolong Kak Juna. Obat perangsang yang mereka pakai , dosisnya tinggi, jadi tolong Kak Arjuna, sebelum terjadi hal yang fatal!" mohon Haris dengan raut wajah memelas.
"Ta-tapi ...."
"Aku mohon, Anyelir! Tadi aku sudah sempat berpikir untuk membayar seorang wanita, tapi Kak Arjuna bilang lebih baik dia mati kalau harus melakukan dengan wanita-wanita bayaran itu. Aduh, waktu semakin habis kalau kita masih terus bicara di sini. Aku mohon sekali lagi, tolong bantu dia. Aku tahu kalau kamu mencintai Kak Juna, dan aku yakin Kak Juna juga sudah mulai mencintaimu, hanya saja dia belum menyadarinya. Aku yakin kalau dia tidak akan menolak melakukannya denganmu!" Haris berucap dengan berapi-api dan wajah yang khawatir.
Anyelir menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali. Ia memejamkan matanya sambil dan kemudian berlari menuju kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Juna!" panggil Anyelir ketika sudah masuk ke dalam kamar. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari sosok suaminya itu.
Samar-samar dia mendengar suara air dari kamar mandi dan dia yakin kalau suaminya itu ada di dalam sana.
Dengan sangat hati-hati, Anyelir membuka pintu kamar mandi dan benar saja, pria itu ada di dalam sana, untuk berendam di air dingin berusaha menghilangkan efek obat.
"Anyelir tolong pergi dari sini! aku tidak mau khilaf dan memaksamu untuk melakukannya," mohon Arjuna dengan tubuh yang bergetar, berusaha menahan gairah yang sudah mencapai ubun-ubunnya.
"Kenapa? apa karena aku bukan Shakila?"
"Tidak sama sekali! aku __"
Belum sempat Arjuna menyelesaikan ucapannya, Anyelir sudah masuk ke dalam bath tub dan duduk di atas tubuh Arjuna.
"Ingat,aku ini istrimu. Sudah kewajibanku menolongmu! aku ikhlas!" ucap Anyelir, lirih.
Gairah Arjuna semakin meledak-ledak. Namun pria itu berusaha untuk tetap menahannya. "Aku tidak mau melakukannya dengan keadaan seperti ini. Aku mau melakukan hal itu dengan keadaan sadar, agar kamu bisa terlihat berharga. Dengan keadaan seperti ini, itu sama saja aku seperti menganggapmu sebagai pemuas naf*su. Jadi, tolong biarkan aku berusaha menghilangkan efek ini dengan cara seperti ini," tutur Arjuna dengan lirih.
__ADS_1
Anyelir sontak merasa terharu, merasa dihargai sebagai seorang wanita. Dia kembali berdiri dan hendak keluar dari dalam bathtub. Namun dia kembali melihat ke arah Arjuna yang tubuhnya sudah menggigil. Akhirnya Anyelir pun nekad kembali duduk di atas tubuh Arjuna dan mencium bibir pria itu.
"Aku ikhlas! aku anggap kamu melakukannya dengan keadaan sadar," bisik Anyelir sembari kembali mendaratkan bibirnya di bibir Arjuna.
Arjuna yang sudah dipenuhi dengan gairah, akhirnya tidak bisa menahan diri lagi.
Pria itu akhirnya mulai melu*mat bibir Anyelir dengan ganas. Pria itu mengangkat tubuh Anyelir dan membawa tubuh wanita itu keluar dari dalam kamar mandi.
Ia pun mulai melucuti pakaiannya yang basah dan juga tidak lupa melucuti pakaian Anyelir.
Anyelir menutup matanya, saat melihat tubuh Arjuna yang sudah polos tanpa sehelai benangpun.
Bagaimana dengan Arjuna? gairah pria itu semakin meningkat melihat tubuh Anyelir yang juga sudah sama seperti dirinya.
"Apa kamu benar-benar ikhlas?" tanya Arjuna sebelum kembali melanjutkan aksinya.
Anyelir pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Arjuna pun mulai melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.
Ketika pria itu hendak mengarahkan tongkat miliknya ,ke arah milik Anyelir, Anyelir tiba-tiba menahan tubuh pria itu.
"Siapa aku?" tanya Anyelir. Entah apa tujuan wanita itu menanyakan hal itu.
"Kamu, Anyelir, istriku!" sahut Arjuna di sela-sela gairah yang memuncak.
Anyelir sontak menyelipkan sebuah senyuman di bibirnya saat Arjuna menyadari kalau dia Anyelir bukan Shakila.
"Lakukanlah!" Anyelir kini sepenuhnya sudah pasrah.
"Dia suamimu Anyelir dan yang kalian lakukan ini bukan dosa," batin Anyelir, menenangkan diri sendiri.
__ADS_1
"Aaaaa!" terdengar teriakan kesakitan dari Anyelir ketika benda tumpul milik Arjuna berhasil menembus miliknya. Namun rasa sakit itu hanya bertahan untuk beberapa saat, setelah itu, suara kesakitan kini berganti dengan suara lenguhan dari mulut keduanya.
Tbc