
"Apa kamu benar-benar akan kembali ke Jakarta, besok?" tanya Shakila di saat Radit kembali mengunjunginya untuk yang ke berapa kalinya.
Radit tidak langsung menjawab. Pria itu terlebih dulu mengembuskan napasnya dengan berat karena memang dirinya berat untuk meninggalkan Shakila.
"Mau bagaimana lagi, aku memang harus segera kembali ke Jakarta. Cabang perusahaan Sadewa group di Singapura ini sudah akan dibuka sebentar lagi. Jadi sebelum diresmikan aku harus kembali dulu ke sana. Mungkin untuk beberapa saat, Haris yang akan menggantikanku di sini," jelas Radit dengan nada berat.
"Oh, seperti itu. Berarti aku tidak akan ada teman bicara lagi di sini? aku akan kembali kesepian, karena hanya mama saja temanku," raut wajah Shakila terlihat sendu.
"Kamu tenang saja, aku akan tetap menghubungimu nanti. Dan mungkin aku juga akan secepatnya ke sini lagi," Radit mencoba untuk menghibur Shakila dengan menyelipkan senyuman lebarnya.
"Oh ya, kamu masih ingat permintaanku kan?"
"Permintaan apa?" Radit mengrenyitkan keningnya.
"Aku kan memintamu untuk merahasiakan tentang keberadaanku pada Arjuna. Kamu juga harus menjaga rahasia, mengenai kondisiku saat ini,"
Radit membeku. Kalau ingin mengikuti kata hati, sebenarnya dia benar-benar ingin memberitahukan keberadaan Shakila pada Arjuna. Satu tujuannya, ingin membuat Shakila punya semangat untuk sembuh jika ada Arjuna di samping wanita itu , karena dia yakin kalau Arjuna pasti akan memberi dukungan pada gadis itu.
"Kenapa aku tidak boleh memberitahukan keberadaan dan kondisimu ke Arjuna? aku yakin kalau dia tahu dia akan memberikan dukungan padamu, dan akan selalu ada di sampingmu," ucap Radit dengan lembut
"Jujur kalau aku egois, aku sebenarnya menginginkan hal itu. Tapi, sekarang kondisinya sudah berbeda. Arjuna sudah menjadi seorang suami untuk seorang wanita lain. Sebagai wanita,aku pasti akan hancur, kalau pernikahan yang kita harapkan untuk seumur hidup, ternyata hanya bertahan sebentar.Aku tidak mau ada hati wanita yang hancur, disebabkan olehku," nada suara Shakila terdengar lemah,namun wanita itu masih tetap berusaha untuk tersenyum.
"Kenapa sih kamu selalu memikirkan perasaan orang lain? bagaimana dengan perasaanmu sendiri? apa kamu tidak merasa sakit sangat mengucapkannya? tolong berhenti memikirkan orang lain terus! dalam beberapa hal, kita juga bisa bersikap egois, Kila!" nada suara Radit mulai meninggi.
Lagi-lagi Shakila tersenyum menanggapi sikap Radit. "Dit, dalam kasus ini wanita itu juga tidak bersalah. Dia tidak dengan sengaja merebut Arjuna dariku. Apa pantas wanita yang katamu juga baik itu, mendapat perlakuan tidak adil? lagian, ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Arjuna aku sudah mempersiapkan hatiku untuk siap dan ikhlas jika Arjuna dengan wanita lain. Yang penting wanita yang bersamanya adalah wanita yang baik,"
__ADS_1
Radit berdecak, merasa bingung dengan sikap Shakila yang walaupun dalam keadaan sakit, masih bisa setegar itu.
"Kila, bukannya aku sudah mengatakan, kalau pernikahan mereka pun tidak serius. Aku rasa Arjuna masih berharap kamu pulang. Wanita itu juga sudah tahu akan hal itu, dan dia sendiri yang menyetujui akan pergi jika kamu kembali,"
"Bagaimana menurutmu? apa menurutmu wanita itu ikhlas mengatakan hal itu? entah kenapa aku yakin kalau wanita itu terpaksa mengiyakan permintaan Arjuna,"
Radit terdiam, mendengar ucapan Shakila yang menurutnya benar adanya.
"Tapi bagaimana kalau Arjuna benar-benar masih mencintaimu. Apa menurutmu wanita itu juga akan bahagia hidup dengan pria yang tidak mencintainya? tidak kan?"
Kini giliran Shakila yang terdiam.
"Kila, kamu jangan selalu memikirkan orang lain. Kamu juga berhak bahagia. Sekarang yang penting kamu semangat untuk sembuh dulu. Masalah Arjuna aku akan usahakan untuk tetap mengingatkan dia agar tetap menunggumu. Aku yakin kamu pasti akan sembuh. Percaya padaku!" pungkas Radit dengan lugas dan tegas.
"Sekarang, aku mau pergi dulu! besok sebelum aku pulang ke Jakarta, aku akan datang ke sini lebih dulu. Jaga dirimu baik-baik!" Radit mengelus lembut kepala Shakila, dan berlalu pergi.
"Apakah aku memang masih memiliki harapan untuk bisa bersama dengan Arjuna lagi? benar kata Radit, kalau Arjuna tidak mencintai wanita itu, wanita itu pun tidak akan pernah bahagia hidup bersama dengan Arjuna. Jadi, aku sama sekali tidak bersalah kalau memang aku dan Arjuna ditakdirkan bersama lagi. yup, aku harus semangat untuk sembuh!" Shakila menyelipkan sebuah senyuman di bibirnya, seakan semangatnya kembali lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa kamu memberikan harapan lagi pada Shakila?" Radit tersentak kaget, mendengar pertanyaan mamanya yang tiba-tiba.
"Mama ngagetin aja," Radit berpura-pura mengelus dadanya. "Mama sudah makan?" Radit dengan sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Mama bertanya padamu Radit. Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!" wanita yang melahirkan Radit itu, menatap tajam, menuntut penjelasan dari sang putra.
__ADS_1
"Pertanyaan yang mana, Ma?" Radit berlalu dari depan mananya.
"Kamu jangan berpura-pura tidak mendengar. Mama tanya, kenapa kamu memberikan harapan pada Shakila seakan Arjuna benar-benar masih menunggunya kembali, walaupun dia sudah menikah?" ulang wanita setengah baya itu masih dengan tatapan yang sama.
"Apa aku salah, mengatakan hal itu? tidak kan?"
"Dari mana keyakinan kamu itu datang kalau Arjuna masih benar-benar mencintai Shakila? apa kamu bisa mempertanggungjawabkannya?"
"Ma,aku sudah kenal Arjuna dengan cukup lama. Dia itu sangat sulit untuk jatuh cinta dan sekali cinta dia akan sangat setia. Jadi,aku sangat yakin kalau dia masih menunggu Shakila kembali padanya," sahut Radit.
"Dan bagaimana dengan Anyelir? apa menurutmu Arjuna bisa lepas lepas dari pesona istrinya itu? ingat, selain mirip dengan Shakila, wanita itu punya pribadi yang menarik. Sangat mudah baginya untuk membuat seseorang jatuh cinta dan ini tidak terkecuali Arjuna, apalagi mereka hidup di dalan satu atap dan bahkan satu kamar. Menurutmu apa tidak terjadi kemungkinan kalau mereka akhirnya saling mencintai?"
Radit tercenung, merasa ucapan mamanya sangat benar. Pria itu tidak membantah kalau Anyelir adalah sosok wanita yang penuh pesona, dan apa adanya, tanpa kemunafikan. Bahkan mamanya Arjuna yang dulunya sedikit susah menerima Shakila, hanya butuh hitungan menit langsung menyukai Anyelir.
"Apa aku salah, Ma menginginkan Shakila bahagia? aku merasa Shakila akan bahagia kalau bersatu dengan Arjuna," nada suara Radit sekarang terdengar lirih.
"Kamu tidak salah menginginkan kebahagiaan, Shakila, tapi cara kamu yang salah,Dit. Sadar tidak kamu, kalau kamu sudah memberikan harapan semu pada Shakila? bagaimana nantinya di saat dia benar-benar sembuh dan muncul kembali di depan Arjuna, sementara Arjuna sudah sangat mencintai Anyelir? apa menurutmu dia tidak akan kecewa. Bahkan yang lebih fatal, dia yang dulunya baik, bisa berubah jahat, dengan memiliki niat ingin merebut Arjuna dari Anyelir. Itu terjadi karena dia merasa perjuangannya untuk sembuh selama ini sia-sia," tutur mamanya Radit panjang lebar.
Radit diam seribu bahasa. Dia tidak memiliki kekuatan untuk membantah ucapan mamanya yang memang benar adanya.
"Mama tahu, kamu sangat mencintai Shakila. Mama justru menyarankan agar kamu sekarang melakukan pendekatan padanya dan memberikan selalu support kamu padanya. Urusan dia akan mencintai kamu balik nanti serahkan pada yang kuasa,"
"Ini tidak akan berhasil,Ma. Dia sangat mencintai Arjuna. Mama lihat sendiri, karena dia terlalu mencintai Arjuna, dia bahkan rela pergi dan merahasiakan penyakitnya. Dia tidak ingin membebani pikiran Arjuna dengan penyakit yang dia miliki," Radit terlihat lesu.
"Kamu tidak boleh menyimpulkan kalau kamu belum mencobanya. Anggap saja dengan penyakit yang dimiliki oleh Shakila, jalan untuk membuat kalian berdua bersatu. Tapi, balik lagi ke kamu kamu mau tetap ingin melihat dia bahagia dengan Arjuna, atau kamu yang mengambil alih untuk membahagiakannya,"
__ADS_1
Tbc