
"Untuk apa kamu membawanya ke sini? apa kamu sengaja untuk membuatku sakit?" Shakila mulai sesunggukan.
Arjuna menarik napas dalam-dalam dan menghampiri Shakila.
"Kila,maaf kalau kamu berpikir bahwa aku membawanya untuk membuat hatimu sakit. Tapi, aku membawanya bersamaku untuk bersama-sama memberikan kamu dukungan agar tetap semangat untuk sembuh," tutur Arjuna dengan nada suara yang lembut.
Shakila sontak menatap wajah Arjuna dengan mata yang mengecil, berusaha memahami makna ucapan yang baru saja terlontar dari mulut pria itu.
"Memberitahukan dukungan bersama? maksudnya?"
"Aku rasa kamu pasti paham maksudku,"
"Aku tidak paham dan juga tidak mau paham! yang aku pahami, kamu sendiri datang ke sini untuk memberikan aku semangat sembuh, agar kita kembali bersama lagi, melanjutkan kembali rencana pernikahan kita dulu," ujar Shakila dengan air mata yang tidak pernah berhenti menetes.
Arjuna menoleh ke arah Anyelir yang juga tengah menatapnya, seperti menanti respon Arjuna akan ucapan Shakila. Sementara Arjuna melemparkan senyum tipisnya, seakan memberikan tanda agar Anyelir tenang.
Kemudian Arjuna kembali menatap Shakila yang menatapnya dengan tatapan penuh harapan.
"Shakila, aku tahu dulu kita pernah berencana untuk menikah, tapi maaf mungkin itu hanya rencana saja, karena kenyataannya aku sudah menikah dan aku__"
"Stop! hentikan! aku tidak mau mendengar apapun!" Shakila menutup telinganya sembari menggelengkan kepalanya. "Aku tahu, kamu menikahinya hanya untuk memancing aku agar muncul. Aku memang salah, tidak muncul, tapi kamu tahu apa alasannya kan?" lanjut Shakila lagi dengan mata yang semakin berlinang.
"Shakila, sekali lagi maaf! kita tidak bisa bersama lagi, tapi aku berjanji akan ada untukmu, sebagai teman atau sahabat. Aku sudah memutuskan untuk mempertahankan pernikahanku, karena aku menyadari kalau pernikahan itu bukan untuk dipermainkan," ucap Arjuna tegas.
"Kamu jahat, Arjuna! kamu tahu aku meninggalkanmu bukan karena laki-laki lain. Aku meninggalkanmu hanya karena aku terlalu mencintaimu. Aku tidak mau, kamu sedih melihat keadaanku dan aku tidak ingin kamu yang melayaniku, karena aku merasa kalau akulah yang seharusnya melayanimu sebagai seorang istri. Awalnya aku memang menginginkan kamu bahagia dengan siapapun kamu menikah, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku, Jun, rasanya sangat sakit, membayangkan kamu dengan wanita lain. Kenyataan bahwa kamu menikahinya hanya karena ingin memancingku muncul, dan masih berharap padaku, memberikan aku harapan dan semangat untuk sembuh lagi agar kita bisa bersama. Tapi apa yang kudapat? kamu malah ... ah, aku benar-benar merasa sakit mengucapkannya,"
__ADS_1
Arjuna tidak memberitahukan jawaban apapun sama sekali. Dia memberikan kesempatan pada wanita itu menyampaikan semua uneg-unegnya.
"Kila, aku tahu kamu wanita yang mempunyai hati yang besar. Jadi, sekali lagi maafkan aku!" nada suara Arjuna terdengar sangat lirih.
"Mbak, Kila, maaf kalau__"
"Aku tidak memintamu untuk bicara!" sentak Shakila memotong Anyelir yang hendak buka suara.
"Selamat, kamu sudah berhasil merebut hati Arjuna. Entah pelet apa yang kamu pakai, membuat Arjuna semudah itu bisa berpaling padamu. Aku tahu, kamu tidak mencintai Arjuna, kamu hanya mencintai uangnya saja, karena aku tahu kalau kamu ingin keluar dari kehidupan kalian yang miskin," sambung Shakila kembali dengan tatapan penuh kebencian pada Anyelir.
"Shakila, jangan menyalahkan Anyelir! kalau kamu mau menyalahkan seseorang, akulah yang pantas untuk kamu salahkan. Anyelir tidak pernah berniat untuk merebutku darimu, tapi memang Tuhan yang mempersatukan kita," Arjuna kembali buka suara.
"Jun, kamu benar-benar membela dia? ternyata kamu benar-benar bukan Arjunaku yang dulu. Yang selalu membelaku dari orang-orang yang menghinaku. Air mata Shakila kembali menetes.
"Mas Juna, sebaiknya aku keluar dulu. Kalian berdua perlu bicara empat mata. Mungkin kehadiranku di sini, membuat Mbak Shakila, tidak nyaman," Anyelir kembali buka suara dan hendak berlalu pergi.
"Aku tidak akan kemana-mana, Mas. Aku menunggumu di luar. Dan untuk kamu, Mbak Shakila, aku memang miskin, tapi aku dan mamaku tidak pernah mengemis belas kasihan siapapun. Munafik kalau kami tidak menginginkan hidup lebih baik, tapi untuk mendapatkan hidup lebih baik itu, kami tidak akan pernah pun niat untuk mendapatkannya dengan cara licik. Aku dan mamaku masih punya harga diri. Maaf,aku pamit dan aku berdoa semoga kamu cepat sembuh!" pungkas Anyelir sembari beranjak pergi.
Sementara itu, begitu mendengar ucapan Anyelir yang tegas, ada rasa sakit dan sedih yang menusuk relung hati Shakila dan wanita itu tidak tahu kenapa dia bisa berubah sedih mendengar ucapan Anyelir.
Di lain sisi,Maya juga merasakan hal yang sama, tapi wanita itu berusaha untuk menepis perasaan itu.
"Anyelir, kalau kamu keluar, aku juga akan ikut keluar," Arjuna masih berusaha untuk mencegah Anyelir pergi.
"Mas, aku sudah bilang kalau aku tidak akan kemana-mana. Mas perlu bicara baik-baik dengan Mbak Shakila. Aku menunggumu di luar," Anyelir melemparkan senyum manisnya, meyakinkan Arjuna.
__ADS_1
Arjuna akhirnya mengembuskan napasnya dengan berat dan menganggukkan kepalanya.
"Kamu tunggu aku!" ucap pria itu dengan nada lembut.
Anyelir, kemudian berbalik dan mengayunkan kakinya melangkah menuju pintu.
"Mama juga akan keluar sebentar. Kalian berdua bicaralah baik-baik!" Melihat kepergian Anyelir, membuat Maya pun ikut menyusul keluar, untuk memberikan kesempatan untuk Arjuna dan Shakila untuk berbicara empat mata.
"Apa kamu sudah mencintainya?" celetuk Shakila begitu tubuh Anyelir dan mamanya sudah hilang di balik pintu.
"Hah, kamu ngomong apa tadi?" tanya Arjuna, yang samar mendengar apa yang ditanyakan oleh Shakila, karena pria itu fokus melihat kepergian Anyelir.
"Sudahlah! aku tidak perlu bertanya lagi, karena aku sudah menemukan jawabannya. Kamu benar-benar sudah mencintainya," ucap Shakila dengan tersenyum, miris.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Anyelir, bisa kita bicara sebentar?" tanya Maya ketika Anyelir baru saja mendaratkan tubuhnya duduk di kursi besi. Ya, alasan Anyelir keluar, selain untuk memberikan kesempatan pada Arjuna dan Shakila bicara, wanita hamil itu juga ingi istirahat karena dia merasa sudah sangat lelah berdiri.
"Mau bicara apa, Tante?" Anyelir mengrenyitkan keningnya.
"Emm, tidak di sini. Kita cari tempat yang lain saja."
"Tempat lain? kenapa tidak di sini saja? kenapa harus cari tempat lain?" kening Anyelir semakin berkerut.
"Karena yang ingin aku bicarakan ini adalah hal yang sangat penting. Aku tidak mau ada orang yang mendengarnya," ucapan Maya semakin membuat Anyelir bingung. Sebenarnya, rasa lelah di tubuhnya masib sangat terasa,tapi karena penasaran akhirnya wanita itu, berdiri kembali dari tempat dia duduk dan menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan Maya.
__ADS_1
Maya menuntun Anyelir menuju sebuah taman yang merupakan taman dari rumah sakit. Tanpa mereka sadari ada seorang pria yang mengikuti mereka dari belakang.
Tbc