Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Cerita Maya


__ADS_3

"Mau bicara apa, Tante?" tanya Anyelir to the point, begitu mereka berdua sudah duduk di sebuah kursi besi yang anda di taman.


Maya, tidak langsung berbicara. Wanita paruh baya itu menarik napas dalam-dalam lebih dulu dan mengembuskannya keluar. Sementara itu, Anyelir dengan sabar menunggu wanita paruh baya itu buka mulut, walaupun dia sudah mulai menebak-nebak apa yang akan dibicarakan oleh wanita itu.


"Nak Anyelir, aku rasa kamu sudah tahu bagaimana hubungan Arjuna dan Shakila dulu. Mereka sudah lama menjalin hubungan, dan bahkan sudah merencanakan pernikahan. Namun, karena penyakitnya membuat Shakila pergi jauh dan kamu tahu alasannya apa,"


"Tidak usah berbelit-belit, Tante! apa Tante mau memintaku untuk mundur dan menyatukan Arjuna dan putri Tante?" tukas Anyelir, dengan sorot mata tajam.


"Sepertinya kamu sudah bisa menebaknya tanpa perlu aku jelaskan. Ya, itu yang ingin tante minta ke kamu. Karena aku yakin kalau kamu yang meminta sendiri pada Juna, dia akan mau menurutinya. Aku mohon, Nak Anyelir, hanya itu yang bisa membuat Shakila bahagia dan semangat menjalani pengobatan. Aku tidak bisa membayangkan kalau Shakila nantinya akan patah semangat dengan keputusan Arjuna yang memutuskan bersamamu," raut wajah Maya terlihat sangat memelas.


"Maaf, Tan aku tidak bisa! Karena aku juga butuh bahagia," tolak Anyelir, tegas.


"Nak Anyelir, kamu ini sehat, dan kamu bisa mendapatkan kebahagiaan dari pria lain, sementara Shakila? dia bisa bahagia hanya dengan hidup bersama Arjuna. Jadi, aku mohon kebaikan hatimu, untuk meminta pada Arjuna untuk meninggalkanmu dan kembali pada Shakila. Kamu lihatlah, ada seorang ibu yang memohon demi anaknya," Maya menangkupkan kedua tangannya, memohon pada Anyelir. Bahkan dari mata wanita setengah batang itu juga sudah mengalir air mata.


"Tante, anda adalah seorang Ibu yang ingin membahagiakan putri Tante,tapi apakah anda menyadari kalau aku juga putri dari seorang wanita yang juga mengharapkan kebahagiaanku? Bagaimana mungkin aku tega membuat wanita yang melahirkanku menangis, bersedih demi membuat Ibu orang lain bahagia?" tutur Anyelir, membuat Maya tercenung tidak bisa membalas ucapan istrinya Arjuna itu.


"Mamaku sudah membesarkanku sendiri tanpa seorang ayah, dan berjuang sendirian, melakukan apapun demi aku. Satu-satunya harapannya adalah bisa melihatku bahagia dengan rumah tangga yang aku bangun bersama dengan Arjuna, apa menurut Tante aku akan tega mematahkan harapan mamaku sendiri? Aku membuat anda bahagia, tapi aku membuat mamaku sendiri menangis. Apa menurut anda ini adil buatnya?" Anyelir sudah mulai meneteskan air matanya, membuat mulut Maya semakin terbungkam.


"Aku adalah saksi hidup, perjuangan mamaku, Tante. Kalau aku memilih mundur dan merelakan Arjuna dengan Shakila, itu sama saja aku membunuh mamaku sendiri pelan-pelan. Terserah Tante, mau menganggap aku egois, aku tidak peduli. Karena sebenarnya yang egois itu adalah Tante sendiri. Ingat, Tan, aku tidak pernah merebut Arjuna dari Shakila sama sekali, takdir saja yang membuat kami bersatu," Anyelir berdiri dari tempat duduknya, dan hendak pergi meninggalkan Maya.

__ADS_1


"Tunggu, jangan pergi dulu!" cegah Maya sembari mencengkram pergelangan tangan Anyelir.


"Ada apa lagi, Tante? apa semuanya belum jelas?" Anyelir mengrenyitkan keningnya.


"Kamu duduk dulu sebentar lagi, Nak Anyelir!"


Anyelir mengembuskan napasnya dengan berat, sembari duduk kembali.


"Kalau kamu tidak mau mundur? apa kamu mau memenuhi permintaanku yang lain?" tanya Maya, ambigu.


"Permintaan yang lain? maksudnya?" lagi-lagi alis Anyelir bertaut tajam, menyelidik.


Anyelir berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa anda masih waras? kenapa bukan anda sendiri yang mendonorkan hati buat putri anda sendiri?"


"Kalau hatiku cocok, sudah dari dulu aku mendonorkannya. Tapi hatiku dan sama sekali tidak cocok dengan Shakila. Sudah banyak juga pendonor yang mau mendonorkan hatinya pada Shakila, tapi sama sekali tidak ada yang cocok," Maya terlihat putus asa.


"Jadi atas dasar apa, anda yakin kalau hatiku cocok dengan Shakila?"


"Karena ... karena kamu dan dia ...." Maya menggantung ucapannya, seakan berat untuk mengucapkan kalimat yang sekarang sudah sampai di tenggorokannya.

__ADS_1


"Karena aku dan dia apa? apa karena kamu berdua mirip, makanya Tante yakin kalau hati kami cocok? belum tentu, Tante. Jadi lupakan saja!" Anyelir kembali berdiri dan hendak beranjak pergi.


"Karena Shakila adalah saudari kembarmu!" celetuk Maya, sebelum Anyelir benar-benar pergi.


Anyelir, terkesiap kaget dan sontak kembali berbalik menatap Maya dengan mata yang membola.


"Saudari kembarku? a-apa maksud, Tante? jangan membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu!" Anyelir terlihat mulai kesal.


"Tapi yang Tante katakan bukan lelucon, tapi kenyataan. Shakila bukan putri kandung Tante, kamu dan Shakila adalah kembar. Dia adalah kakak kandungmu yang lahir dari rahim seorang wanita bernama Mirna dan ayah kalian berdua adalah suami Tante,"


Anyelir semakin kaget sekaligus bingung dengan ucapan Maya yang benar-benar ambigu baginya.


"Maaf, Tante. Aku sama sekali tidak mengerti dan ini sangat sulit dipercaya karena mamaku sama sekali tidak pernah memberitahukan apapun tentang aku yang memiliki saudara kembar," Anyelir menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"Aku tidak sedang membual, Anyelir. Dulu aku dan papa kalian berdua menikah karena kami saling mencintai. Tapi, pernikahan kami yang sudah cukup lama tidak juga mendapatkan keturunan. Aku dan papamu sudah melakukan segala cara, tapi selalu gagal, sampai aku didiagnosa tidak akan bisa memiliki keturunan. Namun kami selalu didesak oleh mertuaku, atau nenek kamu, untuk segera memberikan keturunan yang suatu saat akan mewarisi perusahaan keluarga. Mama mertuaku mengancam akan meminta papa kalian menceraikanku, kalau aku tidak juga bisa memberikan keturunan pada keluarga papamu. Akhirnya karena putus asa, aku akhirnya mengusulkan untuk mencari wanita, untuk bisa memberikan papamu anak. Kami bertemu mamamu yang saat itu sedang dalam kesulitan dan membutuhkan banyak uang untuk pengobatan mamanya. Kami menawarkan banyak uang, dan mau tidak mau,mama kamu menyetujuinya," Maya berhenti sejenak untuk mengambil jeda. Sementara Anyelir, terdiam menunggu wanita paruh baya itu menyelesaikan ucapannya.


"Mama kamu saat itu, bersedia tapi dia meminta syarat agar tetap menikah dengan papamu lebih dulu. Karena menurutnya, bagaimanapun kalau dia hamil, anak itu tetap akan menjadi anak di luar nikah dan tetap anak hasil hubungan zinah. Karena aku sudah tidak punya pilihan lain lagi, aku akhirnya setuju, dengan syarat begitu anak itu lahir, mereka berdua akan bercerai." Maya kembali mengembuskan napasnya dan memejamkan matanya sekilas.


"Benar saja, setelah papamu dan mamamu menikah, tidak perlu menunggu lama mama kamu hamil, tapi aku yang berpura-pura hamil di depan mertuaku. Kamu tahu, kehamilan pura-puraku disambut bahagia oleh keluarga besar papamu. Namun, seiring berjalannya waktu, entah karena apa, papamu diam-diam jatuh cinta pada mamamu dan begitu juga mamamu. Aku benar-benar merasa sakit hati. Namun, Mamamu mengatakan akan tetap memenuhi janjinya untuk pergi dan bercerai dengan papamu, setelah janin yang dia kandung dilahirkan. Tapi dengan syarat, dia bisa membawa anak-anaknya itu bersamanya. Karena pada saat itu mamamu mengandung anak kembar. Tentu saja aku tidak setuju, karena bagaimanapun aku menginginkan seorang anak. Aku mengancamnya akan menjebloskan ke dalam penjara, karena sudah melanggar perjanjian dan mengembalikan semua uang pengobatan ibunya. Akhirnya setelah berembuk dengan begitu lama, akhirnya disepakati kalau dia akan mendapatkan satu anak dan satu lagi diserahkan padaku. Begitu kalian berdua lahir, mamamu membawamu dan Shakila diberikan padaku."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2