Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Akan melakukan transplantasi hati


__ADS_3

"Bagaimana, Dok? Putriku baik-baik saja kan?" cecar Maya, begitu dokter keluar dari dalam ruangan.


"Aku benar-benar minta maaf, Nyonya! Nona Shakila benar- benar harus melakukan transplantasi hati hari ini juga. Kalau tidak, aku tidak bisa menjamin kalau dia akan bisa bertahan hidup."Tutur dokter itu dengan ekspresi wajah sendu.


Maya lagi-lagi tersungkur dan Haris dengan sigap menahan tubuh wanita paruh baya itu.


Setelah bisa berdiri kembali dengan tegak, Maya langsung masuk ke dalam ruangan Shakila.


Sementara itu, Anyelir juga berjalan mundur dan terduduk dengan lemah di kursi besi.


"Mas, bagaimana ini? apa aku harus mendonorkan hatiku? bagaimanapun yang di dalam sana adalah kakakku," Anyelir benar-benar terlihat putus asa.


"Apa yang kamu katakan? bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?"pekik Arjuna.


"Mas, aku tahu kalau ini pilihan yang sama berat. Tapi nyawa seseorang sekarang benar-benar sangat terancam. Aku merasa kalau diriku benar-benar tidak berguna! seumur hidup aku akan hidup dengan membawa beban rasa bersalah, setiap aku melihat anak kita nanti," Anyelir menangis sesunggukan.


Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu benar-benar merasa dilema sekarang. Di lain sisi dia membenarkan ucapan Anyelir, tapi di lain sisi dia benar-benar tidak mau kehilangan anak yang dikandung istrinya itu.


"Biar aku saja yang mencoba untuk memeriksakan hatiku. Mudah-mudahan, cocok!" pungkas Arjuna memutuskan.


"Tidak bisa! biar aku saja yang memeriksakan diriku. Anyelir sedang hamil, dan dia butuh kamu di sampingnya. Kalau kamu mendonorkan hatimu, itu berarti kamu akan melakukan pemulihan, yang berimbas kamu tidak akan bisa menjadi calon ayah yang siaga," Haris buka suara.


"Tidak Haris! kamu tidak perlu harus mengorbankan dirimu," tolak Arjuna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua orang kini sudah berkumpul di ruangan Shakila. Wajah wanita itu terlihat begitu pucat dan masih tetap setia dengan mata yang terpejam.


Maya, bersamaan dengan air mata yang tidak berhenti menetes, akhirnya menyampaikan pesan Shakila pada Arjuna dan Anyelir sebelum wanita itu benar-benar tidak sadarkan diri. Hal itu tentu saja membuat Anyelir semakin merasa tidak berguna. Arjuna dan Haris sudah melakukan pemeriksaan, dan hasilnya sama sekali tidak cocok. Sekarang, Maya sekarang hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi nantinya pada Shakila.


"Mas, aku mau ke toilet sebentar!" bisik Anyelir.


"Ya udah. Itu toiletnya, kamu tidak perlu keluar," Arjuna menunjuk ke arah toilet.


"Anyelir melangkah masuk ke dalam toilet dan menutup pintu dari dalam. Namun, masih sebentar di dalam toilet, Anyelir keluar kembali.

__ADS_1


"Di dalam tidak ada tissue. Aku ke toilet lain saja. Karena aku benar-benar sudah tidak tahan," ucap Anyelir.


"Aku akan menemanimu!" Arjuna meraih tangan Anyelir.


"Mas, aku bisa sendiri! Mas di sini saja, menemani Tante Maya. Aku tidak mau dia berpikir kalau kita tidak memiliki rasa empati sedikitpun," bisik Anyelir.


"Tapi ...." Arjuna terlihat sangat keberatan.


"Aku mohon, Mas!" tatapan Anyelir terlihat sangat memelas.


"Aku yang akan menemani Tante Maya di sini. Kak Juna temani Anyelir saja," Haris buka suara.


Anyelir menghela napasnya dan sama sekali tidak punya alasan lagi untuk mengurungkan niat Arjuna untuk menemaninya.


Setelah pamit pada mamanya Shakila, Arjuna dan Anyelir akhirnya keluar dari ruangan itu.


Sementara itu, Haris melangkah masuk ke dalam kamar mandi, untuk memastikan apakah tissue benar-benar habis atau itu hanya alasan Anyelir saja. Karena sebenarnya, pria itu curiga dengan sikap Anyelir yang dari tadi terlihat tidak tenang.


Haris melihat di gantungan tissue,benda itu benar-benar tidak ada. Kemudian pria itu menginjak, injakan tempat sampah, benar saja tissue yang ternyata masih banyak, teronggok di dalam tong sampah itu. Sepertinya Anyelir membuang tissue itu ke dalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cukup lama,Shakila tidak sadarkan diri, dan. Maya pun berkali-kali berusaha memanggil nama putrinya itu.


Sementara itu Haris begitu resah, karena sudah cukup lama Anyelir dan Arjuna belum kembali, setelah meminta izin ke Toilet tadi.


"Sial! apa Anyelir benar-benar nekad? pesanku juga dari tadi tidak dibaca oleh Kak Juna," Haris menggerutu di dalam hati.


"Atau, jangan-jangan Anyelir berhasil membujuk Kak Juna untuk mengiklaskan bayi yang ada di kandungannya, demi menyelamatkan nyawa Shakila?" Haris sibuk menduga-duga dalam hati. Pria itu berulang-ulang berdiri dari tempat duduknya dan duduk kembali seraya menatap ke arah pintu, berharap Arjuna dan Anyelir muncul dari sana.


"Ada apa, Ris? kamu sepertinya tidak tenang?" tanya Maya, yang menyadari sikap Haris.


"Tidak ada apa-apa, Tante! aku hanya bingung, kenapa Kak Juna dan Anyelir belum kembali juga?" sahut Haris jujur.


"Mungkin mereka ada keperluan. Kamu tenang saja!" ucap Maya dengan nada lemah sembari tetap menatap wajah pucat Shakila.

__ADS_1


"Aku keluar sebentar mencari mereka, Tan!". Haris sudah tidak bisa menunggu lagi. Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke pintu.


Baru saja, pria itu hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang dari luar. Dan ternyata yang datang adalah dokter yang menangani sakit Shakila.


"Nyonya,Maya, kita akan melakukan operasi transplantasi hati untuk Nona Shakila, karena akhirnya sudah ada donor hati yang cocok," ucap dokter itu dengan raut wajah berbinar.


Mendengar itu ada dua reaksi yang berbeda dari dua orang di ruangan itu. Haris dengan ekspresi kaget dan Maya dengan ekspresi wajah yang berbinar.


"Benarkah, Dok?" tanya Maya, memastikan.


Bibir wanita paruh baya itu kembali tersenyum ketika melihat dokter itu menganggukkan kepalanya.


"Kapan operasinya,Dok?"


"Sekarang juga!" tegas dokter itu.


Kemudian, dokter itu menoleh ke arah para perawat yang mendampinginya.


"Kalian bawa, pasien ke ruangan operasi!" titahnya.


Para perawat itu dengan sigap, langsung menghampiri ranjang Shakila dan mendorong ranjang itu keluar.


Sementara itu, tanpa pamit pada Maya, Haris langsung berlari keluar untuk mencari keberadaan kakaknya dan Anyelir.


"Aku harus bisa mencegahnya! tekad pria itu,


sembari berlari mendahului dokter menuju ruangan operasi. Entah kenapa, dia yakin kalau si pendonor adalah Anyelir.


"Dasar bodoh! Arjuna adalah pria yang paling bodoh kalau mengizinkan Anyelir mendonorkan hatinya!" umpat Haris,. dengan tetap berlari.


"Tunggu dulu! ruang operasi kan tidak cuma satu. Ke ruang operasi mana,Shakila akan dibawa? Sial! kenapa aku berlari lebih dulu?" Haris merutuki kebodohannya.


"Aku coba masuk ke ruang operasi itu dulu! mudah-mudahan ruangan itu yang akan digunakan.


Baru saja Haris hendak menggerakkan kakinya, pria itu dikagetkan dengan seseorang yang baru saja dibawa keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2