Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Lupakan apa yang terjadi


__ADS_3

Mentari pagi kini kembali datang menyapa. Sinarnya membias masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Arjuna dan Anyelir. Keduanya tampak masih bergelung di bawah selimut dengan tubuh yang saling berpelukan.


Tidak beberapa lama, tampak ada pergerakan dari tubuh Arjuna. Pria itu membuka matanya perlahan-lahan dan meringis karena kepalanya yang masih terasa pusing. Di saat hendak memijat kepala, mata Arjuna terbuka lebar melihat Anyelir yang tertidur dengan kulit pundak yang terlihat. Pria itu sontak menyingkap selimut dan melihat baik tubuhnya dan tubuh Anyelir tidak mengenakan pakaian alias polos.


Arjuna menyipitkan matanya, berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam. Setelah dia berhasil mengingatnya, pria itu mengembuskan napasnya dan entah kenapa Arjuna menyelipkan sebuah senyuman di bibirnya.


"Jadi, aku sudah melakukannya dengannya," bisik pria itu pada dirinya sendiri.


Arjuna memutuskan untuk tidak langsung beranjak dari tempat tidur. Dia menatap wajah polos Anyelir dengan dalam dan cukup lama. Setelah merasa puas menatap wajah wanita itu, Arjuna dengan sangat hati-hati turun dari ranjang, agar tidak membuat Anyelir terganggu.


"Kok punggungku sakit sekali?" raut wajah Arjuna meringis kesakitan sembari menyentuh punggungnya. Kemudian pria itu melangkah ke arah cermin untuk melihat apa yang menjadi penyebab punggungnya sakit.


"Astaga! apa tadi malam Anyelir berubah jadi singa? kenapa punggungku banyak bekas cakarannya?" Arjuna menggerutu di dalam hati sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kemudian pria itu memungut pakaiannya dan Anyelir yang masih basah di lantai lalu membawanya ke kamar mandi.


Sementara itu, setelah beberapa lama Arjuna ada di dalam kamar mandi, Anyelir juga tampak mulai menggeliat pertanda wanita itu akan bangun dari tidurnya.


"Sudah jam berapa ini?" gumam wanita itu sembari menoleh ke arah nakas. Mata wanita itu sontak membesar begitu melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi.


"Mati aku! kenapa aku bisa bangun jam segini?" Anyelir berniat hendak melompat dari tempat tidur. Namun tiba-tiba dia meringis karena merasakan sakit di bagian intimnya. Wanita itu sontak menyingkapkan selimutnya dan melihat ke bawah tubuhnya.


"Astaga! kenapa aku bisa telan*jang?" Anyelir kembali mengingat kejadian tadi malam.


"Jadi yang tadi malam itu benar terjadi? bukan hanya mimpi?" Anyelir memejamkan matanya sejenak sembari mengembuskan napasnya.


Tiba-tiba dia mendengar tugas pintu kamar mandi yang berputar pertanda akan ada yang keluar dari dalamnya. Anyelir sontak masuk kembali ke dalam selimut, bersembunyi dari Arjuna.


"Dia belum berangkat kerja? mati aku! apa dia ingat kejadian tadi malam? atau dia akan menuduhku memanfaatkan kejadian itu?" Anyelir mulai menebak-nebak dengan raut wajah khawatir.


Sementara itu, Arjuna yang baru saja keluar dari kamar mandi mengrenyitkan keningnya, menatap ke arah ranjang.


"Kenapa kamu sembunyi?" Arjuna mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh Anyelir. Namun sekuat tenaga Anyelir berusaha menahannya.


"Jangan tarik selimutnya!" ucap wanita yang sudah tidak gadis itu lagi, dari balik selimut.

__ADS_1


"Kenapa?" alis Arjuna bertaut.


"Aku malu! aku tidak memakai ...." Anyelir menggantung ucapannya,merasa risih mengatakan kalau dirinya tidak berpakaian.


"Tidak memakai apa?" Arjuna menyelipkan seulas senyuman geli, karena dia tahu kalau Anyelir saat ini tengah malu.


"Jangan pura-pura tidak tahu!" Anyelir seketika merasa kesal, dan menurunkan selimut sampai batas dada, hingga memperlihatkan kulitnya yang banyak tanda merah.


"Kenapa dengan kulitmu? kenapa semuanya memerah?" goda Arjuna pura-pura tidak tahu.


Pertanyaan Arjuna itu seketika membuat wajah Anyelir muram. Dia merasa ketakutannya yang dia pikirkan terjadi. Entah kenapa dia merasa kalau Arjuna melupakan apa yang sudah terjadi dan dia yakin kalau sebentar lagi pria itu akan menghujaninya dengan banyak pertanyaan yang menyudutkan.


"Jadi kamu tidak lupa apa yang terjadi tadi malam?" suara Anyelir terdengar lirih.


Arjuna sontak tersadar dan langsung mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Aku mengingatnya! apa kamu takut kalau aku akan menuduhmu, memanfaatkan situasi?" tanya Arjuna tepat pada sasaran.


Anyelir tidak menjawab sama sekali. Namun wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


Bukannya merasa bahagia kalau dirinya akan terlepas dari tuduhan, raut wajah Anyelir masih memperlihatkan kesedihan. Entah kenapa, ucapan terima kasih yang baru saja terlontar dari mulut Arjuna,hanya sebatas rasa terima kasih biasa seperti pada umumnya kalau ada orang yang menolong. Jauh di dalam lubuk hatinya ada hal yang ingin dia dengarkan dari mulut Arjuna, lebih dari kata terima kasih, yaitu masalah hubungan mereka kedepannya. Apakah pria itu akan tetap meninggalkannya kalau wanita yang dicintai suaminya itu kembali, atau akan mempertahankannya.


"Kenapa kamu masih diam di sana? apa kamu tidak mau mandi?" suara Arjuna kembali menyadarkan Anyelir dari lamunannya.


"Iya, aku akan mandi. Kamu berbalik dulu, jangan melihatku!"


"Kenapa tidak bisa melihat? tadi malam aku sudah melihatnya bahkan bukan hanya sekedar melihat, aku juga sudah__"


"Stop! jangan katakan itu!" pekik Anyelir dengan mata yang mendelik tajam. "Kalau kamu menyinggung masalah itu lagi, aku akan melemparkanmu dari atas sini ke bawah!" ancam Anyelir dengan tatapan yang semakin tajam.


Bukannya merasa takut dengan tatapan dan ancaman Anyelir, Tawa Arjuna justru pecah.


"Apa dengan tubuh kecilmu, bisa mengangkat dan menjatuhkanku ke bawah sana? sudahlah jangan bersikap seakan kamu


paling kuat. Jangankan mengangkatku, mendorongku keluar sana pun belum tentu kamu mampu!" ucapan Arjuna benar-benar mengandung ejekan.

__ADS_1


"Kamu jangan coba-coba meragukanku! asal kamu tahu, kecil-kecil begini aku bisa mengangkat benda berat, termasuk kamu!jadi, sekarang tolong berputar,aku mau ke kamar mandi!"


Arjuna menyelipkan seulas senyuman dan berputar menatap ke arah lain, sesuai dengan permintaan Anyelir.


Anyelir menarik selimut agar tubuhnya tetap tertutup. Wanita itu menapakkan kakinya di lantai dan berdiri. Di saat dia hendak melangkah, wanita itu seketika meringis karena bagian pangkal pahanya kembali terasa sakit.


"Hei, jangan lihat ke sini!" pekik Anyelir begitu melihat kepala Arjuna yang hendak berputar.


"Aku tidak akan melihat! Jadi cepatlah ke kamar mandi! Aku akan menunggumu di sini agar kita bisa turun sama-sama untuk sarapan!" ucap Arjuna, dengan tatapan yang masih setia menatap ke arah lain.


Anyelir akhirnya berjalan dengan sedikit tertatih-tatih menuju kamar mandi. Karena terlalu sibuk memperhatikan Arjuna, wanita itu tidak sadar menginjak lantai yang masih basah bekas pakaian mereka tadi malam. Alhasil wanita itu pun terpeleset terduduk di lantai dengan selimut yang terlepas dari dadanya, hingga dua buah benda bulat yang menempel di dada Anyelir terpampang jelas dan dilihat oleh Arjuna yang sempat menghambur untuk menolong Anyelir.


Mata pria itu membola, melihat pemandangan indah itu. Pria itu menelan ludahnya dengan kasar dan darahnya kembali bergejolak.


"Hei tutup matamu! jangan melihat!" pekik Anyelir, yang kembali menarik selimut ke dadanya. Wajah wanita itu sekarang benar-benar memerah, kesal bercampur malu.


"Kamu kenapa sih? bukannya tadi malam aku sudah menyentuh bahkan mencicipinya?" ucapan Arjuna kini sudah terlalu eksplisit.


"Jangan mengucapkannya!" Anyelir berusaha untuk berdiri, namun kesulitan karena rasa sakit di pangkal pahanya semakin meningkat, akibat terjatuh tadi.


Arjuna akhirnya berinisiatif untuk membantu Anyelir berdiri. Namun tangan Anyelir menepis tangan pria itu.


"Jangan keras kepala! kalau kamu tidak mau aku bantu berdiri, jangan salahkan aku kalau aku akan menggendongmu ke kamar mandi!" ancaman Arjuna ternyata berguna. Anyelir akhirnya menerima uluran tangan Arjuna dan berdiri dengan tangan Arjuna yang satu lagi terayun merangkul pinggang Anyelir.


Mata Anyelir dan Arjuna sontak saling terkunci untuk beberapa saat. Mata Arjuna sontak menyoroti wajah Anyelir dan seketika fokus pada bibir Anyelir yang sekarang sudah menjadi candu buatnya. Bibir itu seakan memiliki magnet, menarik bibir Arjuna yang akhirnya kembali merasakan bibir itu.


Tanpa diminta, cairan bening seketika merembes turun dari sudut mata Anyelir karena dia masih merasa hubungannya dengan Arjuna belum jelas ke depannya.


Ciuman Arjuna kini terlepas. Pria itu pun menyeka air mata Anyelir dengan jarinya.


"Lupakan apa yang terjadi!" ucap pria itu, yang membuat Anyelir salah paham, hingga membuat raut wajah wanita itu sedih.


"Mudah sekali dia mengatakan untuk melupakan apa yang terjadi? bagaimana aku bisa melupakan semua ini?" bisik Anyelir pada dirinya sendiri.


"Maksudku, lupakan kesepakatan kita dulu. Kita mulai dari awal lagi hubungan kita dengan hubungan yang sebenarnya!" Arjuna mengubah perkataannya karena melihat wajah sendu Anyelir.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2