Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Terima kasih sudah mencintaiku


__ADS_3

"Mas Juna, aku sudah baikan! sepertinya kita sudah bisa keluar dari ruangan ini dan melihat kondisi Shakila," ucap Anyelir yang wajahnya masih terlihat pucat.


"Shakila sudah baik-baik saja. Aku baru mendapatkan informasi dari Haris kalau operasinya berjalan lancar. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi dan istirahat dulu di sini!" ucap Arjuna, menolak permintaan Anyelir Dey lembut.


"Tapi,Mas. Aku benar-benar ingin melihat kondisi Shakila sekarang,"


"Kamu kenapa selalu keras kepala sih? bisa tidak kamu nurut untuk kali ini? kamu itu butuh istirahat," Kekesalan yang dari tadi berusaha ditahan oleh Arjuna, kini sudah mulai diperlihatkan oleh pria itu.


Anyelir terdiam tidak berani untuk membalas ucapan Arjuna.


"Tadi, kalau aku tidak ada, coba kamu bayangkan apa yang akan terjadi padamu? asal kamu tahu, aku benar-benar kesal padamu yang sempat ingin mengambil tindakan sendiri. Coba kalau kamu berhasil mengelabuiku dan berhasil untuk mendonorkan hatimu pada Shakila? arghh aku benar-benar tidak bisa membayangkannya!" Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maaf!" desis Anyelir lirih.


"Sekarang kamu istirahat saja dulu. Wajahmu masih terlihat sangat pucat. Aku tidak mau kalau nanti terjadi apa-apa pada anak kita,"


Ucapan kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Arjuna, sama sekali tidak membuat Anyelir bahagia. Karena wanita itu menarik kesimpulan, kalau suaminya itu hanya khawatir pada janin yang ada di rahimnya bukan pada dirinya.


Keheningan kemudian kembali tercipta di antara Anyelir dan Arjuna. Mereka berdua sibuk dengan pemikiran masing-masing. Arjuna terlihat mengembuskan napas lega, ketika mendapatan informasi kalau Shakila sudah siuman.


"Shakila sudah siuman dan dia baik-baik saja!" celetuk Arjuna sembari menyelipkan sebuah senyuman di bibirnya.


Sementara itu, Anyelir memaknai lain, senyum dan kebahagiaan yang terpancar di wajah Arjuna.

__ADS_1


"Begitu bahagianya dia mendengar Shakila sembuh. Apa ini pertanda kalau dia nantinya akan meninggalkanku setelah anak ini lahir dan kembali pada Shakila? Apa yang harus aku lakukan kalau itu terjadi? Shakila, ternyata bukan orang lain juga,dia itu kakakku. Haruskah aku merelakan Arjuna padanya? bagaimanapun mereka berdua saling mencintai," raut wajah Anyelir terlihat sedih sembari mengelus-elus perutnya yang masih rata.


Arjuna mengrenyitkan keningnya, melihat ekspresi wajah sedih yang terpancar di wajah istrinya. Pria itu yang tadinya duduk di sofa, bangkit berdiri dan menghampiri Anyelir.


"Kamu kenapa? apa ada sesuatu yang sedang membebani pikiranmu?" tanya Arjuna dengan lembut seraya mengelus puncak kepala wanita itu


Anyelir menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Anyelir mencoba untuk tersenyum.


"Tapi, kenapa aku tidak yakin ya? aku merasa kalau kamu sedang memikirkan sesuatu. Apa yang kamu pikirkan?" kembali Arjuna bertanya dan kali ini dengan sorot mata yang menuntut.


"Mas, operasi Shakila berjalan lancar, apa itu berarti kamu akan __"


"Tidak!" sambar Arjuna dengan cepat, sebelum Anyelir menyelesaikan ucapannya, karena pria itu sudah bisa menangkap ke arah mana pembicaraan Anyelir.


"Apa kamu masih tidak percaya padaku?" mata Arjuna memicing dan nada suaranya terdengar kalau pria itu sedang kesal.


Arjuna berdecak kesal dan mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan.


"Kenapa sih kamu bisa menarik kesimpulan seperti itu? apa perhatian yang aku tunjukkan, rasa tidak sukaku melihat kamu dengan pria lain, masih kurang menunjukkan kalau aku memilihmu bukan hanya sekedar rasa tanggung jawab saja? apa perasaan cinta itu harus diungkapkan, baru kamu akan percaya?" nada suara Arjuna mulai meninggi.


"Ma-maksudnya?" Anyelir mengrenyitkan keningnya.


"Kamu mau mendengar kalau aku mencintaimu kan? iya, aku mencintaimu Anyelir! entah kapan aku merasakan cinta itu, aku juga bingung. Tapi ketika ada pria yang jelas-jelas menunjukkan kalau dia menyukaimu, aku tidak rela. Ketika ada pria yang menatap kagum padamu ingin rasanya aku mencongkel mata pria itu. Ketika aku tidak menemukanmu di rumah saat aku pulang kerja, aku tidak suka, karena aku menginginkan wajah yang pertama aku lihat menyambutku, ketika pulang kerja, itu adalah wajahmu. Bukan karena aku mengganggap kalau kamu itu Shakila, tapi aku benar-benar menyadari kalau kamu itu Anyelir bukan Shakila. Hidupku yang dulunya datar, terasa lebih berwarna dengan kehadiranmu yang selalu ceria, cerewet dan apa adanya. Yang jelas sekarang aku sangat mencintaimu. Nama yang ada di dalam hatiku sekarang itu nama Anyelir, bukan Shakila!" Arjuna mengungkapkan isi hatinya dengan panjang lebar dan berapi-api.

__ADS_1


Anyelir sontak terdiam, benar-benar speechless.


"Kenapa kamu diam? apa kamu sama sekali belum bisa percaya? kenapa aku malam kejadian itu aku sangat marah dan pergi meninggalkan rumah? aku benar-benar tidak terima saat kamu mengungkit masalah berpisah. Saat itu, mataku gelap pemikiranku kacau dan hatiku benar-benar tidak terima kamu mengatakan perpisahan. Kenapa? apa kamu menganggapku gila? terserah kalau kamu menggangapku gila. Yang jelas, aku tidak akan melepaskanmu pada siapapun itu, termasuk pada Satria si brengsek itu!"


Air mata Anyelir tiba-tiba menetes, wanita itu turun dari ranjang dan langsung merangkul pinggang Arjuna dan menempelkan kepalanya ke dada Arjuna.


"Tidak! kamu sama sekali tidak gila. Tidak mungkin aku mencintai pria yang gila!" ucap Anyelir yang seketika membuat Arjuna tercenung. Wajah pria itu seketika memerah, mengingat caranya mengungkapkan cintanya tadi. Dulu saat mengungkapkan cinta pada Shakila, dia tidak berlebihan seperti yang dilakukannya barusan.


Anyelir mengrenyitkan keningnya, karena tiba-tiba Arjuna diam seribu bahasa. Anyelir melerai pelukannya dan menatap ke wajah Arjuna dengan alis yang bertaut.


"Kenapa, diam, Mas? apa kamu menyesal mengatakan ucapanmu tadi? apa kamu mau menarik kata-kata itu lagi?"


Arjuna dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menarik kembali tubuh Anyelir ke dalam pelukannya. "Tidak, tidak sama sekali! aku tidak anak menarik dan tidak akan pernah menarik semua ucapanku. Aku benar-benar mencintaimu. Aku diam karena aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu juga mencintaiku," ucap Arjuna sembari mendaratkan ciuman di puncak kepala Anyelir berkali-kali.


Arjuna kemudian mengulas sebuah senyuman di bibirnya.Hatinya tiba-tiba merasa tenang, karena sudah mengungkapkan semua isi hatinya.


Arjuna melerai pelukannya dan kembali menatap wajah Anyelir lekat-lekat, hingga membuat Anyelir kebingungan dan bertanya-tanya.


"Mas Juna, kenapa kamu melihatku seperti itu? ada apa?" tanya Anyelir dengan kening yang berkerut.


Arjuna sama sekali tidak memberikan jawaban, hingga membuat Anyelir semakin kebingungan. " Mas Juna, apa kamu baik-baik saja?"


Arjuna tersenyum dan kembali menarik tubuh kecil Anyelir, menenggelamkan kepala wanita itu ke dalam dekapannya, kembali mendarat ciuman yang cukup lama di kepala Anyelir.

__ADS_1


"Terima kasih, sudah mencintaiku!" bisik Arjuna, yang membuat tubuh Anyelir meremang.


Tbc


__ADS_2