
Anyelir memutuskan untuk mencuci piring bekas makan dirinya dan Arjuna, mengingat dia dan pria itu sudah telat sarapan.
Sementara itu Arjuna memutuskan untuk benar-benar tidak berangkat ke kantor hari ini. Pria itu memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kerjanya dan melakukan pekerjaan di ruangan itu.
"Haris, coba kamu cari informasi mengenai Satria! dan untuk urusan Nania, biar aku yang handle," titah Arjuna pada adiknya melalui sambungan telepon.
Arjuna memutuskan panggilan setelah mendengar kesanggupan sang adik. Setelah itu,Ia pun menyalakan laptopnya dan melakukan pekerjaannya.
Sementara itu, setelah selesai membersihkan bekas makannya dan Arjuna, Anyelir berjalan menuju kamar. Wanita itu pun mulai melepaskan seprei saksi percintaannya dengan Arjuna. Kemudian dia menggantinya dengan yang baru.
"Dimana aku mencuci ini ya? di kamar mandi sama sekali tidak ada deterjen untuk mencuci pakaian. Lain kali sepertinya aku harus menyiapkan deterjen di dalam kamar mandi," Anyelir memasukkan spreinya ke dalam keranjang kain kotor, dan membawanya keluar,bersama dengan pakaian basah Arjuna dan miliknya.
Baru saja Anyelir henda membersihkan noda darah di sprei, tiba-tiba Dewi mama mertuanya sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa kamu yang mencuci pakaian, Anye?"
Anyelir terjengkit kaget, mendengar teguran mertuanya.
"A-aku hanya ingin mencuci sendiri hari ini, Ma!" sahut Anyelir gugup.
Dewi melirik ke arah sprei dan melihat noda darah itu. Wanita itu seketika mengrenyitkan keningnya, penasaran dengan noda itu.
"Hmm, noda apa itu? sepertinya noda darah?" mata Dewi terlihat memicing.
"Emm, A-aku lagi datang bulan, Ma, dan kebetulan terkena spreinya,"
Raut wajah Dewi seketika berubah lemas. Terlukis jelas ada kekecewaan di wajah yang masih cantik itu ketika mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Anyelir.
"Oh, jadi kamu lagi datang bulan ya? itu berarti kamu belum ...." Dewi menggantung ucapannya, karena menurutnya pembahasan ini sedikit sensitif.
Anyelir seketika menggigit bibirnya, karena dia sangat paham apa maksud mertuanya, walaupun wanita paruh baya itu tidak mengucapkan secara eksplisit.
"Maaf,Ma sudah buat kecewa!" Anyelir menundukkan kepalanya.
Dewi sontak tersadar, telah membuat sang menantu sedih. Wanita itu seketika menyelipkan senyuman di bibirnya.
"Aduh, yang seharusnya minta maaf itu Mama. Maaf ya! Mama terkesan menuntutmu untuk cepat-cepat memberikan mama cucu. Padahal kan,anak itu rejeki dari Tuhan. Kalau belum dikasih, berarti belum rejeki dan Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik nanti pada saatnya. Lagian kan, kalian berdua masih tiga bulan menikah, masih terbilang baru. Lagian dalam pernikahan itu tidak melulu memikirkan masalah anak, walaupun memang kita berharap memilikinya. Mama minta masalah ini, jangan jadi bahan pikiran ya nanti buat kamu,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Brakk
Arjuna dikagetkan dengan pintu yang tiba-tiba dibuka oleh seseorang dengan sangat keras. Pria itu hampir saja melontarkan kata-kata pedas, tapi begitu melihat yang muncul adalah sosok Anyelir, pria itu seketika menggantung ucapan pedasnya di tenggorokan.
"Ada apa? kenapa kamu terlihat panik?" Arjuna mengrenyitkan keningnya sembari berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Anyelir yang ngos-ngosan.
"Jun,mama ... mamaku, Jun!" napas Anyelir tersengal-sengal, sulit untuk bicara.
"Kenapa dengan Mamamu?"
"Mamaku masuk rumah sakit, bisa tidak kamu antarkan aku ke sana?" Anyelir menatap Arjuna dengan tatapan penuh harap.
"Ayo, kita berangkat sekarang! di rumah sakit mana?" Anyelir segera menyebutkan nama rumah sakit tempat mamanya dilarikan oleh tetangga mamanya tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah bertanya pada resepsionis, dan mendapat informasi di ruangan mana sang mama dirawat, Anyelir sontak berlari meninggalkan Arjuna. Mau tidak mau Akhirnya Arjuna pun ikut berlari menyusul Anyelir.
Setelah menemukan ruangan yang dituju, Anyelir langsung masuk dan menangis melihat mamanya yang terbaring lemah.
"Ma, kenapa Mama bisa tiba-tiba sakit? apa yang terjadi?"
Mata Mirna yang tadinya terpejam, terbuka perlahan-lahan begitu mendengar suara tangisan Anyelir.
"Iya, Ma? Mama kenapa bisa begini?"
"Anyelir, kenapa kamu dan Arjuna membohongi Mama?" bukannya menjawab pertanyaan Anyelir, Mirna justru membuat Anyelir dan Arjuna saling silang pandang, kebingungan.
"Berbohong? maksud, Mama?"
"Apa benar kamu dinikahi Nak Arjuna bukan karena cinta? Apa benar dia menikahimu hanya sebagai wanita cadangan dan akan dibuang setelah kekasihnya kembali?"
Anyelir dan Arjuna sontak terkesiap kaget, mendengar pertanyaan Mirna.
"Ma, itu kata siapa? itu tidak benar sama sekali," sangkal Anyelir.
"Ma, benar kata Anyelir. Itu semua__"
"Aku tidak bicara denganmu! aku mau mendengar penjelasan anakku. Buat apa kamu datang ke sini?" Mirna menyela ucapan Arjuna dengan nada ketus dan sorot mata yang sangat dingin, membuat Arjuna terdiam.
__ADS_1
Setelah Arjuna terdiam,Mirna pun kembali menoleh ke arah Anyelir.
"Kenapa kamu masih mau berbohong,Nak? Mama sudah tahu semuanya dari Satria. Kenapa Nak, kenapa kamu berbohong pada Mama?" dari sudut mata Mirna menetes cairan bening. Wanita paruh baya itu benar-benar terlihat rapuh sekarang.
Arjuna terlihat menggeram, mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kencang.
"Brengsek kamu Satria! kamu benar-benar salah memilih lawan. Bersiaplah untuk kehilangan segalanya!" umpat Arjuna, dalam hati.
"Ma, itu sama sekali tidak benar. Satria berbohong,Ma. Dia sengaja memfitnah Arjuna Ma. Mama tidak boleh terlalu percaya padanya," Anyelir mencoba meyakinkan Mamanya.
"Buat apa dia memfitnah Arjuna? tidak ada untungnya sama sekali. Dia itu dari dulu pemuda baik dan jujur. Dia hanya menginginkan kebaikanmu, makanya dia memutuskan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi jangan memfitnah Satria!"
"Ma, Satria menyukaiku dan ingin merebutku dari Mas Juna. Jadi dia berusaha untuk melancarkan niatnya itu, dengan berbagai cara licik termasuk memfitnah kami. Mama harus percaya pada kami," Anyelir masih berusaha menjelaskan dengan sabar berharap mamanya percaya.
"Ma, benar yang dikatakan Satria! memang pernikahanku dan Anyelir bukan karena cinta!" tiba-tiba Arjuna buka suara.
"Mas!" seru Anyelir sembari mendelik tajam ke arah Arjuna.
"Kita tidak boleh berbohong lagi Anyelir. Kita harus jujur."
"Jadi benar yang dikatakan oleh Satria! kalau begitu pergi dari sini dan tinggalkan anakku!" Mirna berucap sembari menyentuh dadanya.
"Tunggu dulu, Ma! aku belum selesai bicara! Maaf, kalau hal ini membuat Mama sakit hati. awalnya memang seperti itu, tapi bisa aku pastikan sekarang semuanya sudah berubah. Sekarang aku dan Anyelir sudah serius menjalankan pernikahan kami dengan pernikahan yang sebenarnya. Sekarang aku dengan tegas mengatakan kalau aku akan menjaga dan melindungi Anyelir. Mama bisa pegang kata-kataku!"
Mirna menatap mata Arjuna dalam-dalam, mencari kejujuran di sana dan dia benar-benar menemukan kejujuran itu.
"Apa kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu?" suara Mirna terdengar lirih
"Bukannya tadi aku sudah mengatakan, kalau Mama bisa memegang kata-kataku?"
"Bagaimana kalau wanita itu kembali?" tanya Mirna memastikan.
Arjuna, tidak langsung menjawab. Pria itu menghela napasnya lebih dulu.
"Ma, aku adalah pria yang selalu berkomitmen dengan keputusan yang aku ambil. Mulai dari tadi malam aku sudah mengambil keputusan, seandainya wanita itu kembali lagi, dan apapun alasannya meninggalkanku, aku tidak akan kembali lagi padanya. Aku sudah bersatu dengan putrimu sah, secara lahir dan batin, itu berarti aku harus bertanggung jawab atas dirinya secara lahir dan batin juga!"
Anyelir menatap ke arah Arjuna dengan tatapan terharu. Dia tidak menyangka kalau Arjuna bisa mengucapkan kalimat seperti itu. Namun, lagi-lagi keraguan akan perkataan Arjuna barusan kembali menghampiri, mengingat pria itu tidak menyingung sama sekali tentang perasaannya.
"Mungkin,Juna berkata seperti itu, hanya supaya Mama tidak khawatir dan tidak jatuh sakit. Aku tidak boleh terlalu berharap," bisik Anyelir pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, sebuah senyuman kembali menyapa bibir Mirna. Wanita itu terlihat mulai tenang melihat Arjuna yang terlihat sungguh-sungguh.
"Brengsek! sepertinya aku gagal!" umpat seorang pria dari balik pintu yang dari tadi ternyata menguping pembicaraan tiga orang di dalam ruangan itu. Siapa lagi pria itu kalau bukan Satria.