Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Kekhawatiran Haris


__ADS_3

"Di mana aku? apa aku masih hidup?" desis Shakila sesaat setelah wanita itu siuman.


Maya tidak langsung menjawab. Wanita paruh baya itu masih menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Shakila.


"Bagaimana, Dok? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Maya, tidak sabar.


Dokter itu menyelipkan sebuah senyuman lebar dan menganggukkan kepalanya.


"Semuanya berjalan dengan baik. Tubuh Nona Shakila menerima donor hati itu dengan sangat baik. Sekarang tinggal pemulihannya saja, seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya," sahut dokter itu dengan senyum yang tidak pernah memudar.


"Baiklah, Dok! terima kasih banyak!" Maya menyeka air mata bahagia dari sudut matanya.


"Kalau begitu kami izin keluar dulu, Nyoya!" dokter itu beranjak keluar, setelah Maya menganggukkan kepalanya.


"Ma, aku sebenarnya ada di mana? apa aku sudah berada di surga? tapi kenapa tempat ini tidak seperti surga yang aku bayangkan?" Shakila kembali bersuara.


"Kamu masih hidup, Nak? kamu benar-benar masih hidup. Kamu masih diberikan kesempatan untuk hidup oleh Tuhan. Di saat yang tepat, kamu mendapatkan donor hati," ucap Maya dengan air mata bahagia yang menetes membasahi pipinya.


"Ma, mama jangan bercanda! aku tahu, kalau Mama berkata seperti itu, hanya ingin membuatku senang, iya kan? sekarang aku yakin kalau sekarang aku sudah tidak ada di dunia lagi,"suara Shakila nasib terdengar sangat lemah.


"Mama tidak bercanda, Kil. Untuk hal seperti ini, bagaimana Mama masih bisa menjadikannya sebagai candaan. Kamu benar-benar sudah mendapatkan donor dan sekarang kamu tidak boleh bergerak sembarangan, karena mungkin kamu akan merasakan saki. Jadi kamu harus menunggu dengan sabar, agar semuanya berjalan dengan baik.


Shakila sontak bergerak sedikit dan seketika meringis karena merasa sakit di bagian dada.


Wanita itu sontak menyentuh bagian dadanya yang masih tertutup oleh perban.


"Ma,jadi ini benar terjadi? aku sudah mendapatkan donor hati?" pekik Shakila dengan air mata yang mengalir.


"Iya, Nak, kamu akan sembuh,"ucap Maya.


Shakila tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, untuk mencari keberadaan seseorang. Siapa lagi yang dia cari kalau bukan Arjuna.


"Kak Juna menemani Anyelir, karena Anyelir dirawat juga di sini," celetuk Haris yang mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Shakila.

__ADS_1


"A-Anyelir kenapa? jangan bilang dia yang mendonorkan hatinya padaku?" Shakila tiba-tiba gemetar. "Jangan katakan kalau dia harus mengorbankan janinnya, karena ingin menyelamatkanku? aku benar-benar tidak akan bisa hidup tenang kalau itu sampai terjadi," lanjut Shakila lagi.


"Bukan, bukan dia yang mendonorkan hatinya padamu. Awalnya dia memang ingin melakukannya, tapi Kak Arjuna berhasil mencegahnya. Dia dirawat, karena kecapean saja dan banyak pikiran," terang Haris.


Shakila mengembuskan napas lega. Namun raut wajah leganya hanya bertahan untuk beberapa saat, karena tiba-tiba ada rasa sesak yang dia rasakan begitu mengingat perkataan Haris, pada bagian Arjuna berhasil mencegah Anyelir.


"Ternyata dia benar-benar mencintai Anyelir. Dia lebih peduli pada Anyelir daripada aku. Padahal nyawaku sudah hampir tidak bisa diselamatkan lagi," dari sudut mata Shakila kembali mengalir cairan bening, sebening kristal dan buru-buru dia seka.


"Sudah, kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu! sekarang kamu istirahat ya, Sayang!" Maya kembali buka suara, paham dengan apa yang dirasakan oleh Shakila sekarang.


"Sampai kapan aku akan ada di rumah sakit,Ma?"


"Kata dokter, kamu kemungkinan dapat pulang ke rumah sekitar 2 minggu setelah operasi dilaksanakan. Tapi belum bisa beraktivitas seperti biasanya. Kamu perlu cek rutin hatimu, untuk beberapa bulan ini, untuk menghindari ada efek sampingnya. Jadi, kamu harus tetap bersabar ya, Nak?" Maya mengelus lembut rambut Shakila.


"Ma,boleh aku bertanya sesuatu lagi?"


"Boleh, tentu saja boleh," sahut Maya, dengan senyuman yang tidak pernah memudar.


Maya, seketika terdiam. Tenggorokannya seperti tercekat, sehingga untuk menelan ludahnya sendiri juga dia sangat kesulitan.


"Emm, untuk sekarang Mama tidak bisa memberitahukan padamu. Tapi, Mama janji, setelah kamu sudah lebih baik nanti, Mama akan kasih tahu siapa orang itu,"


"Kenapa,Mama tidak bisa memberitahukan sekarang? bagaimana aku bisa tenang kalau aku tidak tahu dan belum berterima kasih pada orang itu?"


"Nak, tolong mengerti. Kamu masih baru melakukan transplantasi hati, dan kamu masih dalam tahap pemulihan. Mama tidak mau hanya karena ingin mengucapkan terima kasih pada orang itu, kamu nekad turun dari atas kasurmu. Mama tidak mau itu terjadi," Maya mengungkapkan alasannya, dengan lembut.


Sebenarnya bukan hanya karena alasan yang baru saja diungkapkan oleh Maya, membuat wanita itu masih merahasiakan, tentang Radit. Namun, wanita paruh baya itu tidak ingin juga kalau sang putri menemui Radit di saat pria itu masih salah paham dan Maya juga tidak ingin Shakil menjadi merasa sangat bersalah, sehingga memperlambat pemulihannya.


Sementara itu,Haris hanya menjadi pendengar pembicaraanya dua wanita berbeda usia itu.Walaupun sebenarnya ada hal yang sangat dia tunggu-tunggu, keluar dari mulut Maya.


"Sekarang kamu tidur lagi ya, Sayang! kamu harus memulihkan kondisimu. Mama janji, kalau mama akan benar-benar mengatakan siapa pendonor itu,"


Maya kembali mengelus-elus rambut Shakila. Sementara Shakila mulai memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


Setelah beberapa lama,Haris berdiri dari tempat dia duduk dan melihat ke arah Shakila untuk memastikan apakah wanita itu sudah tidur atau belum.


"Tante Maya, kapan Tante berterus terang pada Shakila kalau Anyelir adalah adik kembarannya? Apa Tante berencana akan menyembunyikannya selamanya?" tanya Haris, setelah memastikan kalau Shakila sudah tidur kembali.


"Apa yang kamu bicarakan? kenapa kamu harus membicarakannya di sini?" Maya sontak panik dan menoleh ke arah Shakila, takut putrinya itu belum benar-benar tertidur.


"Kenapa tidak boleh membicarakannya di sini? aku yakin Shakila sudah tidur. Aku hanya memastikan, apakah Tante punya rencana untuk memberitahukan kenyataan itu,atau akan tetap menyembunyikannya?"


"Kenapa kamu terlalu mencampuri hal itu?kamu sama sekali tidak punya hak untuk itu?" sorot mata Maya mulai memperlihatkan kekesalan.


"Aku memang tidak punya hak, tapi Tante jangan lupa kalau Anyelir adalah kakak iparku. Jadi,aku punya kewajiban untuk melindungi pernikahan mereka," sahut Haris, santai.


"Maksud kamu apa?" Maya mengrenyitkan keningnya.


"Aku rasa, Tante cukup paham dengan apa yang aku maksud. Aku tidak mau nantinya Shakila menginginkan Arjuna kembali padanya, karena dia merasa sudah sembuh. Aku memang tahu kalau Shakila adalah wanita yang baik, dan dia sudah mengatakan kalau dia ikhlas dan mendoakan kebahagiaan Kak Arjuna dan Anyelir. Tapi, Jujur saja, aku masih khawatir kalau perkataan itu keluar dari mulutnya hanya karena tadinya, dia sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi dan akan berubah setelah dia merasa kalau dia sudah sembuh dan layak untuk mendapatkan Arjuna kembali. Setidaknya, dengan dia mengetahui kalau Anyelir adalah adiknya sendiri, ada harapan dia bisa benar-benar ikhlas," tutur Haris panjang lebar dan tanpa jeda.


"Tidak. Untuk sementara ini, aku tidak ingi Shakila tahu. Aku mohon padamu agar tidak memberitahukannya?" Maya kembali panik.


"Kenapa? apa yang Tante takutkan? Apa Tante takut kalau nanti keluarga besar almarhum suami Tante tahu yang sebenarnya Tante akan dibenci dan diusir?" Mata Haris memicing, curiga.


"Tidak! bukan itu yang aku takutkan. Aku tidak takut dibenci oleh keluarga besar almarhum suamiku. Aku tidak takut jatuh miskin. Yang paling aku takutkan, kalau aku dibenci oleh Shakila dan menganggap kalau aku sudah memisahkan dia dari ibu dan adiknya. Satu-satunya yang paling aku takutkan adalah kehilangan Shakila. Persetan dengan harta," ucap Maya, yang dibarengi dengan isak tangis.


Untuk sesaat Haris kehilangan kata-kata karena merasa kasihan dengan Maya.


"Tante, aku paham dengan apa yang Tante takutkan. Tapi, apakah Tante nanti tidak akan merasa bersalah, kalau terjadi pertikaian antara kakak adik hanya karena seorang laki-laki?"


Maya sontak terdiam, tidak bisa menjawab sama sekali, karena yang dikatakan oleh Haris itu benar adanya.


"Nak Haris, aku tahu kalau kamu sangat mengkhawatirkan hubungan Kakakmu dan Anyelir mendapat gangguan dari Shakila. Tapi, aku sudah mengenal Shakila. Walaupun dia bukan darah dagingku karena tangan ini yang membesarkannya dari dia bayi. Aku tahu dan sangat yakin kalau dia tidak akan pernah lakukan hal yang kamu takutkan tadi. walaupun dia sudah sembuh, aku pastikan kalau Shakila tidak akan merebut Arjuna dari Anyelir. Kamu harus percaya kata-kataku!"tegas Maya, dengan raut wajah yang sangat yakin.


Tanpa mereka sadari Shakila yang sebenarnya belum sepenuhnya tertidur, sudah mendengar pembicaraan mamanya dan Haris. Dari sudut mata wanita itu kini mengalir air mata.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2