Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Aku tidak mengenalnya


__ADS_3

"Bagaimana? apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang Satria?" Arjuna langsung bertanya pada Haris. Pria yang tadinya ingin menghabiskan waktu di rumah, akhirnya memutuskan untuk menemui adiknya itu ke kantor.


"Tentu saja sudah. Satria bekerja di sebuah perusahaan besar di London Dia bekerja di sana begitu dia menyelesaikan kuliahnya.


Dia itu, salah satu teman SMA Anyelir yang pintar, sehingga mendapat beasiswa kuliah ke London." terang Haris dengan detail.


Arjuna tampak menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.


"Kalau boleh tahu, dia bekerja di perusahaan apa?"


"Murphy group, yang berpusat di Irlandia,"


"Murphy group? oh aku tahu perusahaan itu. Itu miliknya Tuan Daven Alexander Murphy bukan? dan sekarang dipegang kendali oleh Dean putranya," Arjuna tersenyum smirk.


"Iya, kamu benar. Itu perusahaan terbesar di Irlandia dan juga di London. Dia termasuk hebat sih kalau bisa bekerja di perusahaan itu. Kamu tahu sendiri kan, Dean itu sangat selektif memilih karyawan?"


"Pantas saja dia berani menantangku," Arjuna berdecih dengan sudut bibir yang terselip seringaian sinis


"Tapi sepertinya dia salah mengambil lawan. Dia tidak tahu kalau aku dan Dean adalah sahabat, waktu aku kuliah di London,"


"What? Dean sahabatmu?" Haris tersentak kaget.


"Iya. Aku dulu sangat dekat dengannya. Dia pribadi yang sangat sukar untuk didekati. Sangat dingin dan misterius. Tapi, entah kenapa dia cocok denganku. Jadi sekarang aku akan menghubungi dia dulu," Arjuna meraih ponselnya dan mencari nomor kontak Dean Edzhar( Yang pernah membaca novel yang berjudul Cinta terhalang janji, pasti tahu siapa Dean. Kalau belum baca, silakan berkunjung ke sana!😁)


Setelah menemukan nomor kontak yang dia cari, Arjuna langsung menyambungkan panggilan. Setelah terhubung dengan cukup lama dan tidak dijawab dua kali, akhirnya orang yang dihubungi menjawab juga.


Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya Arjuna mengungkapkan kemauannya dan pria yang ada di ujung telepon mendengar dengan serius.


"Jun, dalam dunia bisnis kita tidak boleh menggabungkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Sebelum kamu memintaku untuk mengeluarkan dia dari perusahaanku, aku sebenarnya sedang menyelidiki kasus penggelapan uang, dan orang yang aku curigai adalah dia. Aku tahu dia sudah menyinggungmu, tapi aku belum menemukan bukti akurat untuk menyingkirkan dia dari perusahaan. Jadi, tidak etis dan sama sekali tidak profesional rasanya kalau aku memecatnya dengan alasan sudah menyinggungmu,"


Arjuna mengembuskan napas,merasa yang dikatakan oleh Dean itu benar adanya. Pria di ujung sana itu memang dari dulu dikenal sangat bijaksana.


"Kamu benar. Maaf kalau aku mengganggu kesibukanmu," ucap Arjuna akhirnya.

__ADS_1


"Hahahaha,kamu lupa kalau di sini masih pagi dan aku belum ke kantor. Tadi aku sedang membantu Jeslyn untuk mengganti popok anakku, makanya aku tidak cepat menjawab panggilanmu," Suara tawa Dean terdengar renyah dari ujung sana.


"Eh iya, aku lupa!" Arjuna akhirnya memutuskan panggilan setelah pamit lebih dulu.


"Bagaimana? apa dia mau memecat Satria?" cecar Haris dan Arjuna menggelengkan kepalanya lemah.


"Aku lupa kalau dia itu orang yang sangat profesional. Dia tidak mau menggabungkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan," sahut Arjuna dengan lirih.


"Sekarang aku harus berpikir keras, bagaimana caranya menyingkirkan si brengsek itu!" mata Arjuna terlihat berapi-api penuh amarah.


Baru saja Arjuna hendak berdiri, handphonenya kembali berbunyi. Arjuna merogoh sakunya dan melihat kalau yang menghubunginya adalah orang yang baru saja dia hubungi, yang tak lain, Dean.


Setelah Selesai berbicara dengan Dean, Arjuna menyelipkan seulas senyum di bibirnya.


"Sepertinya ada sesuatu yang membahagiakan makanya Kakak tersenyum. Apa aku boleh tahu?" Haris menatap Arjuna dengan tatapan penuh tanya.


"Dean bilang, kalau baru saja asistennya mengirimkan bukti kejahatan Satria, yang membuat perusahaan mengalami kerugian. Jadi, begitu Satria nanti kembali ke London,Dean akan langsung memecatnya,dan memasukkannya ke dalam daftar hitam di negera itu. Setelah dia kembali ke negara ini,aku juga akan melakukan hal yang sama. Dia tidak akan pernah bisa menemukan pekerjaan di perusahaan besar lagi." Arjuna menyeringai sinis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Raut wajah pria itu terlihat benar-benar penuh amarah.


"Sialan, tujuanku cuti benar-benar sia-sia. Padahal aku berharap, kembali ke London sudah tidak sendiri lagi," Satria merutuki kesialannya.


"Lebih baik, aku kembali ke London hari ini juga. Aku yakin Arjuna pasti akan langsung mencariku setelah kejadian itu." Satria langsung bangkit berdiri dan tanpa membawa barang apapun, pria itu langsung beranjak pergi dengan buru-buru. Tujuannya hanya satu, bandara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Langit kini berganti warnanya menjadi jingga pertanda malam akan datang menyapa. Radit terlihat turun dari sebuah mobil di parkiran sebuah flat kawasan Orchard. Pria itu langsung menuju lantai 10, flat yang disewa oleh Shakila dan mamanya selama berada di Singapura.


Setelah menekan bel, seketika dibuka oleh mamanya Shakila.


"Eh, Nak Radit. Kata Shakila, bukannya kamu besok pagi akan kembali ke Jakarta?"wanita paruh baya itu menatap Radit dengan mata yang memicing.

__ADS_1


"Iya, Tante. Makanya aku putuskan untuk datang lagi malam ini, karena aku belum tahu kapan aku akan kembali ke Singapura. Apa aku boleh masuk, Tan?" Radit menyelipkan sebuah senyuman di bibirnya.


"Oh iya,maaf! silakan masuk!" Maya atau mamanya Shakila menyingkir memberikan jalan untuk Radit bisa masuk.


"Oh ya, dari mana kamu tahu kalau Shakila sudah tidak di rumah sakit lagi?" tanya Maya sembari menutup pintu.


"Aku tadi sempat ke rumah sakit lagi, Tan. Tapi ternyata Shakila katanya sudah pulang," senyum Radit tidak pernah memudar dari bibirnya.


"Iya. Tadi Tante sudah membujuknya untuk tetap tinggal di rumah sakit, tapi dia bilang mau pulang saja, dan akan ke rumah sakit kalau mau kontrol lagi. Kamu mau bertemu dengannya?


"Kalau dia sedang istirahat, lain kali aja Tante," raut wajah Radit benar-benar merasa tidak enak.


"Dia memang baru saja istirahat. Kalau mau menunggu tidak apa-apa,"


"Oh, tidak perlu, Tan. Aku langsung pulang saja. Sampaikan salamku untuknya," Radit berdiri dari duduknya dan mengayunkan kaki melangkah ke arah pintu.


"Nak Radit, tunggu dulu!" Radit yang belum benar-benar sampai di pintu menyurutkan langkahnya dan kembali berbalik menghadap Maya,mamanya Shakila.


"Ada apa, Tante?" Radit mengrenyitkan keningnya.


"Emm, ada sesuatu yang mau Tante tanyakan," Maya diam sejenak dan Radit dengan sabar menunggu apa Maya mengajukan pertanyaannya.


"Emm, Tante mau tanya, apa kamu tahu Anyelir itu anaknya siapa?" setelah berhasil melawan keraguannya Maya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Radit tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat diam, berusaha mengingat nama ibunya Anyelir.


"Emm, kalau tidak salah nama ibunya Anyelir itu Mirna, Tante,"


Raut wajah Maya sontak berubah pucat mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh Radit.


"Kenapa Tante? apa Tante mengenal beliau?" alis Radit bertaut tajam.


"Ti-tidak! A-aku tidak mengenalnya. Aku hanya bertanya saja," terlihat jelas kalau Maya, gugup.

__ADS_1


Tbc


Maaf ya,aku bawa-bawa nama Dean Edzhar dari novelku Cinta terhalang janji. Dia hanya figuran kok di novel ini. 😁😁😁


__ADS_2