Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Kita serahkan semua pada takdir


__ADS_3

"Wah, kamarnya luas sekali! lebih besar dari rumahku!" seru Anyelir berdecak kagum melihat kamar Arjuna yang mulai sekarang juga akan menjadi kamarnya.


"Kasurnya juga sangat besar!" Anyelir mengangkat gaunnya dan berjalan ke arah ranjang. Wanita itu pun kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Wah, empuk sekali! benar-benar beda dengan kasurku. Bisa-bisa aku akan sulit bangun nanti saking nyenyaknya tidur!" ucap Anyelir sembari berguling-guling. Tiba-tiba aksinya berhenti, karena melihat sebuah pigura yang terletak di atas nakas.


"Kenapa ada photoku di sini?" Anyelir mengrenyitkan keningnya. "Tapi, sepertinya aku tidak pernah berphoto seperti ini dan aku tidak punya pakaian seperti yang dia pakai. Ini bukan aku. Tapi siapa dia? kenapa bisa mirip denganku?" batin Anyelir, dengan perasaan yang berkecamuk.


Mata Anyelir tiba-tiba membesar, ketika mengingat mamanya memanggilnya dengan nama Shakila ketika pertama kali bertemu.


"Apa wanita ini yang bernama Shakila? apa karena aku mirip dengannya makanya Arjuna menikahiku? kalau begitu, aku hanyalah wanita pengganti baginya," bisik Anyelir padahal dirinya sendiri.


Cklek


Pintu tiba-tiba dibuka seseorang, hingga membuat Anyelir kaget dan menjatuhkan photo yang ada di tangannya.


Sosok yang baru masuk yang tidak lain adalah Arjuna sontak kaget dan langsung menghambur ke arah photo yang jatuh.


"Kenapa kamu lancang menyentuh photo ini?" Arjuna meraih pigura itu dan memastikannya tidak pecah. Beruntungnya photo itu sama sekali tidak pecah, karena jarak tangan Anyelir ke lantai tidak terlalu tinggi.


"Siapa dia? apa dia yang namanya Shakila?" tanya Anyelir to the point.


Arjuna sontak menatap Anyelir dengan alis yang bertaut tajam. "Dari mana kamu tahu tentang Shakila?" tanyanya dengan tatapan curiga.

__ADS_1


"Karena mama kamu memanggilku dengan Shakila pertama kali. Jadi aku yakin, ketika mamamu melihatku pertama kali, dia pasti mengira kalau aku Shakila," ujar Anyelir, membuat Arjuna terdiam.


"Iya, dia Shakila! wanita yang aku cintai, tapi sekarang aku tidak tahu dia di mana dan kenapa dia meninggalkanku di saat aku sudah berencana akan menikahinya," tutur Arjuna, akhirnya.


"Jadi kamu menikahiku karena aku mirip dengannya, begitu? kamu tidak menganggap aku Shakila kan?" tanya Anyelir dengan mata yang berembun.


"Aku tahu kamu bukan Shakila karena walaupun kalian berdua mirip, tapi sifat kalian berdua benar-benar berbeda. Kamu impulsif sedangkan dia selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Dia anggun, tidak bar-bar seperti kamu,"


"Jadi, kalau kamu tahu sikap kami berdua berbeda, kenapa kamu malah tetap ingin menikahiku? apa sebenarnya alasanmu?" sikap Anyelir kali ini benar-benar berbeda dari biasanya. Wanita itu sekarang terlihat tegas dan dingin.


Arjuna tidak langsung menjawab. Pria itu menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya kembali.


"Baiklah, aku akan menjelaskan padamu, apa alasannya." Arjuna berhenti sejenak, berjalan ke arah sofa dan duduk.


"Jadi, aku hanyalah wanita pengganti yang juga akan segera terganti kalau Shakila kembali lagi?" Anyelir menatap Arjuna dengan tatapan sendu.


"Tergantung," jawab Arjuna singkat.


"Maksudnya?" kening Anyelir berkerut, bingung.


"tergantung, alasan dia kenapa tiba-tiba menghilang. Karena itulah aku mengadakan pernikahan besar-besaran seperti ini, dan diliput oleh media. Aku sebenarnya ingin memancing dia muncul kembali agar aku bisa bertanya apa alasannya menghilang tiba-tiba."


"Jadi kalau alasannya masuk akal apa yang akan kamu lakukan?" tanya Anyelir.

__ADS_1


"Kalau masuk akal, dan bisa dibuktikan, mungkin aku akan kembali padanya. Tapi kalau karena dia pergi bersama dengan laki-laki lain,aku akan mundur. Makanya aku pernah mengatakan jangka waktu pernikahan kita tidak menentu," sahut Arjuna.


"Menurutmu, apa yang kamu lakukan ini tidak terlalu kejam? apa menurutmu, apa yang kamu lakukan ini adalah sikap egois dan mempermainkan pernikahan? kamu menikah seorang wanita hanya demi kepentingan dirimu sendiri. Posisiku sekarang sama saja seperti ban serep yaitu hanya cadangan, yang diperlukan sebagai jaga-jaga saja."


"Jangan samakan dirimu dengan ban serep?". Arjuna merasa tidak suka.


"Jadi apa kalau bukan itu? hanya wanita pengganti, begitu? kan sama saja." Arjuna tercenung mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Anyelir.


"Sekarang aku mau tahu, kenapa kamu memilihku untuk menjadi pengganti, bukan wanita lain? apa karena kamu menganggapku bodoh dan mudah dipermainkan? atau karena aku miskin, dan kamu yakin kalau aku pasti mau menikah dengan orang kaya sepertimu?" lanjut Anyelir lagi.


"Kamu jangan berpikir negatif seperti itu! tidak ada hubungannya dengan status miskin dan aku juga tidak menganggap kamu bodoh. Aku hanya merasa kalau kamu beda dari wanita lain yang menginginkanku karena harta yang kumiliki," ujar Arjuna dengan tegas.


"Baiklah kalau begitu! terima kasih sudah menjelaskannya padaku. Setidaknya aku bisa membatasi diriku dan bisa menjadi pengingat pada diriku sendiri kalau aku 'hanyalah wanita pengganti' yang harus siap diganti kapan saja. Benar-benar miris, takdirku!" Anyelir masih berusaha untuk tersenyum. Sementara Arjuna hanya bisa diam.


"Tapi, bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Tuan Arjuna?" kembali Anyelir buka suara.


"Tentu saja. Apapun yang kamu minta akan aku usahakan untuk kasih, selagi aku bisa," ucap Arjuna menyanggupi.


"Permintaanku sangat sederhana. Aku tidak akan meminta kamu memberikan uang yang banyak padaku. Aku hanya ingin agar kamu menutupi perpisahan kita pada mamaku, seandainya nanti keinginan kamu tercapai, di mana Shakila langsung muncul, dan alasan yang dia berikan masuk akal seperti yang kamu katakan. Aku tidak ingin membuat mamaku sakit karena memikirkan apa yang terjadi pada putrinya. Aku mungkin sudah biasa menanggung rasa sakit, dihina dan ditinggalkan, tapi aku tidak akan pernah bisa kuat jika melihat mamaku sakit, apalagi jika itu disebabkan karenaku," ucap Anyelir panjang lebar dan tanpa jeda, membuat Arjuna seketika terpaku.


"Tuan Arjuna, kenapa kamu diam? apa kamu bisa berjanji dan menyanggupi permintaanku?" tanya Anyelir melihat Arjuna yang diam saja.


Arjuna mengembuskan napasnya dengan cukup berat. "Baiklah! tapi aku ingin kamu tidak berpikir terlalu jauh dulu untuk hal yang belum pasti. Kita serahkan semua pada takdir!" pungkas Arjuna, akhirnya memutuskan.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2