Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Salah sebut nama


__ADS_3

Anyelir turun ke bawah bermaksud untuk membuatkan sarapan walaupun sebenarnya dia tidak tahu mau menyiapkan sarapan jenis apa.


Ternyata di dapur sudah terlihat kesibukan dan Dewi mama mertuanya sudah ikut berada di dapur.


"Wah, Mamanya Arjuna walaupun orang kaya tidak gengsi ya turun ke dapur," batin Anyelir dalam hati.


"Selamat pagi, Ma!" sapa Anyelir sembari melemparkan senyum termanisnya.


Dewi bersama dengan seorang asisten rumah tangga sontak menoleh ke arah Adelia.


"Selamat pagi, Sayang! kenapa kamu turun?" tanya Dewi.


" Aku mau bantu-bantu buat sarapan, Ma. Apa ada sesuatu yang boleh aku bantu?" tanya Adelia dengan sopan.


Dewi seketika menerbitkan seulas senyum di bibirnya. Ingatannya ketika pertama kali jadi seorang istri tiba-tiba berkelebat di pikirannya. Di mana merasa tidak enak untuk bangun lama dan tidak ingin dianggap wanita pemalas. Jadi, dia merasa kalau Anyelir juga sama seperti yang dia rasakan dulu.


"Kamu tidak perlu sungkan, Anyelir, sampai kamu harus ikut turun dan menyiapkan sarapan. Kamu sebaiknya istirahat, karena mama maklum kok, kalau kamu pasti kecapean tadi malam," ucap Dewi ambigu.


"Kecapean? kecapean ngapain ya? alis Anyelir bertaut.


"Ya, kecapean itu lah. Iya kan, Bi?" Dewi meminta dukungan dari asisten rumah tangga.


"Iya, Nyonya!" asisten itu, terkikik, geli.


"Anyelir, coba kamu jalan sebentar ke sana, Mama mau lihat sesuatu!"


Anyelir kembali mengrenyitkan keningnya. Wanita itu kemudian berjalan dengan sedikit terpincang karena tadi kakinya terbentur akibat terburu-buru keluar dari kamar mandi.


Melihat langkah kaki Anyelir, Dewi dan asisten rumah tangga saling silang pandang, dan tersenyum penuh makna.


"Wah, sepertinya Arjuna ganas ya, Bi?"


"Iya, Nya! Bibi benar-benar tidak menyangka!".


pembicaraan dua wanita di depannya itu benar-benar ambigu bagi Anyelir.


"Dia memang ganas, Ma, Bi!" ucap Anyelir yang memaknai lain ucapan kedua wanita itu. Menurut pemikiran Anyelir, ganas yang dimaksud oleh kedua wanita itu adalah, dalam hal tindakan pria itu yang bisa melakukan berbagai cara untuk mencapai kemauannya.


Dewi dan asisten rumah tangga itu sontak tertawa mendy pengakuan Anyelir.


"Ya udah m, sekarang kamu duduk saja. Atau kamu bisa kembali ke kamar. Arjuna mungkin berharap kamu menemaninya. Mama maklum kok, sama pengantin baru,".


"Astaga, aku lupa!" Anyelir sontak menepuk jidatnya. Bukan karena paham akan ucapan mertuanya, melainkan karena mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Ada apa, Anyelir?" Dewi mengrenyitkan keningnya.


"Mas Arjuna demam, Ma. Jadi aku harus mengompres keningnya dulu. Apa kita ada obat demam, Ma?"


"Demam? kenapa bisa? bukannya tadi malam masih baik-baik saja?" Dewi terlihat khawatir.


"Aku juga tidak tahu,Ma. Sepertinya hanya masuk angin," sahut Anyelir.


"Ohhhh,masuk angin!" Dewi tertawa geli, disusul oleh sang asisten rumah tangga.


"Masuk angin karena tidak pakai ehmm ehem semalaman, Nya!" ucap asisten rumah tangga itu yang membuat tawa Dewi pecah. Jangan lupakan ekspresi Anyelir yang semakin kebingungan.


"Tidak pakai ehem ehem? maksudnya,Bi?". tanya Anyelir dengan kening berkerut.


"Tidak ada apa-apa! sekarang kamu kembali saja ke kamar! kamu bawa sarapannya ke atas, kompres keningnya,kasih dia makan baru kasih obat. Mungkin karena dia beli terbiasa makanya cepat masuk angin. Lama-lama nanti juga akan terbiasa kok," ucapan Dewi mertuanya semakin terasa ambigu di telinga Anyelir.


"Bi, ambil obat demam ya!" titah Dewi pada asisten rumah tangga yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Kamu duduk dulu, biar mama yang menyiapkan makanan untuk Arjuna kali ini. Besok-besok baru kamu yang ambilkan!". Dewi membantu Anyelir duduk di kursi, dan Anyelir terlihat patuh saja, karena memang wanita itu sangat kebingungan.


Dewi terlihat memasukkan makanan ke dalam dua piring, buat Arjuna dan juga Anyelir. Sementara itu sang asisten yang sudah kembali, menyiapkan air hangat dan juga handuk kecil untuk mengompres Arjuna.


"Bi,bantu Anyelir bawa semua ini ke atas ya!"


Asisten itu menganggukkan kepalanya dan meraih nampan berisi makanan.


"Tidak apa-apa, Non! Nona juga lagi susah untuk berjalan. Jadi,biar Bibi aja yang bawa," tolak pembantu itu.


Anyelir tersenyum kecut, dan akhirnya memilih untuk meraih baskom yang berisi air hangat .


"Kalau begitu, aku ke atas dulu ya, Ma?" Dewi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jun, kamu bangun dulu, sarapan!". Anyelir menepuk-nepuk pundak Arjuna dengan pelan.


"Aku masih mengantuk! bisa tidak kamu jangan ganggu aku dulu!" Arjuna menarik kembali selimutnya sampai menutup seluruh tubuhnya kecuali kepala.


"Nanti kamu bisa lanjutkan tidurnya! sekarang kamu makan dulu!" Anyelir menyingkirkan selimut Arjuna.


"Shakila, aku masih mau tidur, Sayang. Nanti aku akan makan," Anyelir sontak terdiam, mendengar Arjuna yang tiba-tiba memanggilnya Shakila.


"Aku bukan Shakila, jangan lupa akan itu!" ucap Anyelir, lirih.

__ADS_1


Arjuna yang tadinya masih memejamkan matanya sontak membuka matanya, dan langsung duduk. Hingga membuat handuk kecil yang sebelumnya ditempelkan Anyelir di keningnya terjatuh. "Maaf!" Pria itu benar-benar merasa bersalah.


"Tidak apa-apa! sekarang kamu sarapan dulu! setelah itu kamu minum obat, agar demam kamu turun." Anyelir meraih piring berisi makanan untuk Arjuna dan bersiap hendak menyuapi pria itu.


"Kamu tidak perlu menyuapiku,aku bisa makan sendiri. Kamu makan punya kamu aja," Arjuna mengambil piring miliknya dari tangan Anyelir.


Mood Anyelir benar-benar sudah hancur, Karena insiden salah panggil nama itu. Hal itu membuat wanita itu sama sekali tidak selera untuk makan.


"Aku belum lapar, kamu makan aja dulu!" ucap Anyelir sembari meraih ponselnya dan berjalan ke arah sofa.


Arjuna mengembuskan napasnya dengan cukup berat, merasa benar-benar tidak enak hati sekarang. Namun pria itu masih berusaha untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, sambil sesekali melirik ke arah Anyelir yang fokus pada ponselnya.


"Anyelir, apa kamu marah?" celetuk Arjuna karena merasa tidak nyaman melihat Anyelir yang hanya diam saja.


Anyelir mengalihkan tatapannya dari handphone, menatap ke arah Arjuna.


"Marah kenapa?alis Anyelir bertaut.


"Ah, sudahlah! tidak kenapa-kenapa," sahut Arjuna yang tiba-tiba merasa enggan untuk melanjutkan pembicaraan tentang masalah sebut nama itu.


"Oh," sahut Anyelir singkat padat dan jelas.


"Aku sudah selesai makan, mana obat demamnya?" Arjuna kembali dingin.


Anyelir berdiri dari tempat dia duduk dan berjalan ke arah nakas, tempat di mana dia meletakkan obatnya.


"Nih, obatnya!" Anyelir memberikan obat dan segelas air pada Arjuna.


"Aku antar semua ini ke bawah ya!" Anyelir meraih nampan dan meletakkan piring bekas Arjuna dan piringnya yang masih belum tersentuh sama sekali.


"Itu makananmu belum kamu makan," Arjuna menunjuk ke arah makanan Anyelir.


"Aku akan makan di bawah, aku keluar dulu!" Arjuna menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Setelah Anyelir benar-benar keluar, Arjuna kembali menghela napasnya dan meraih ponselnya.


"Dit, tolong belikan piyama tidur dan pakaian lainnya untuk Anyelir!!" titahnya.


"Jun, ini hari Minggu, aku mau istirahat. Lagian, kenapa bukan kamu sendiri yang membelinya?" Terdengar nada keberatan dari Radit di ujung sana.


"Aku lagi demam, tidak bisa kemana-mana! kamu jangan banyak protes, belikan saja!"


"bagaimana bisa aku membelikan pakaian buat dia? aku tidak tahu ukurannya!"

__ADS_1


"Kamu belikan saja seperti ukuran Shakila, aku rasa mereka satu ukuran. Sudah ya, aku mau tidur lagi!" Arjuna memutuskan panggilan, secara sepihak, sebelum Radit kembali mengajukan keberatannya.


Tbc


__ADS_2