
Nania masih setia dengan mata terpejam, sementara Bayu menatapnya dari ranjang lain dengan darahnya yang terlihat dialiri ke tubuh mantan istrinya itu.
Ya, Bayu memutuskan untuk melakukan donor darah dengan cara itu, bukan dengan langsung memberikan darahnya di dalam sebuah kantung baru dialiri ke tubuh Nania. Alasannya melakukan itu, agar pria itu bisa menatap wajah Nania dengan cukup lama,. untuk mendalami bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada wanita itu.
Dari sudut mata Bayu, terlihat ada setetes cairan bening yang keluar ketika melihat wajah Nania yang kusam, kulit yang dulu terawat, tampak kasar.
Dari apa yang dia lihat, Bayu menyadari kalau hidup Nania selama ini cukup berat.
"Aku akan memperbaiki semuanya. Aku berharap kamu bisa sadar dan keluar dari masa kritismu, Nania!" janji Bayu dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di luar sana tampak pasangan paruh baya datang menghampiri Arjuna dan Anyelir, yang baru saja kembali setelah selesai makan
"Mas, itu orang tua Nania. Mereka benar-benar datang," bisik Anyelir, dan Arjuna sontak menatap ke arah dua orang itu, di mana sang pria duduk di kursi roda dengan raut wajah dibuat sepucat mungkin.
"Hai, Nak Anyelir apa kabar? lama tidak bertemu," sapa mamanya Nania, berbasa-basi.
"Tentu saja aku baik-baik saja Tante. Apa Tante tidak bisa melihatnya? bagaimana mungkin aku tidak baik-baik saja, memiliki suami tampan, baik, dan satu lagi, seorang konglomerat. Memang ya, Tante orang yang terzalimi itu pasti suatu saat akan diberikan kebahagiaan di luar ekspektasi kita," ucap Anyelir yang dengan sengaja menyelipkan sebuah sindiran.
Raut wajah wanita yang tadinya ramah itu seketika berubah kecut, menyadari kalau Anyelir dengan sengaja menyindirnya mengingat dia yang dulunya menghasut Nania agar merebut Bayu dari tangan sahabat putrinya itu.
"I-iya benar yang kamu katakan. Balasannya sudah diterima oleh Nania yang sudah menusukmu dari belakang," wanita itu masih saja mencoba mengkambing hitamkan Nania.
__ADS_1
Ingin rasanya Anyelir mengeluarkan umpatan karena merasa wanita paruh baya itu tidak tahu malu. Namun wanita hamil itu masih berusaha menahan amarahnya karena dia tahu, tempatnya sekarang adalah di rumah sakit.
"Apa maksud kedatangan kalian berdua ke sini? apa kalian mau menemui Nania atau hanya ingin mendapatkan uang?" tanya Arjuna, tanpa basa-basi.
"Tentu saja kami ingin mendapatkan bayaran kami Tuan. Anda lihat sendiri,suami saya sudah mendonorkan darahnya seperti yang kalian minta. Jadi, sesuai perjanjian, kami ingin meminta bayaran kami," kini giliran pria paruh baya itu yang bicara.
"Emm,apa kalian berdua lebih mementingkan uangnya dari pada anak sendiri? seumur-umur aku baru tahu ada orang tua keji seperti kalian berdua," sindir Arjuna dengan seulas senyum miring di bibirnya.
Dua orang itu terdiam, merasa tersindir. Namun mereka tidak bisa membalas ucapan Arjuna karena merasa, pria itu adalah sumber uang mereka.
"Tuan Arjuna, masalah kami tidak mau menemui Nania, itu adalah masalah pribadi keluarga kami. Kami hanya malu memiliki anak seperti dia. Tapi, kami sudah melakukan seperti yang anda minta, jadi kami hanya mau meminta uangnya. Perkara beres kan?" tutur pria paruh baya itu lagi.
Arjuna kembali tersenyum smirk dan memperlihatkan wajah dinginnya.
"Ma-maksud anda apa?" tanya mamanya Nania dengan suara bergetar.
"Sebenarnya kami sudah tahu,bapak dan Ibu sama sekali bukan orang tua kandung Nania,dan kalian juga tidak memiliki golongan darah yang sama dengannya. Kalian menyuruh seorang pria bernama Danu untuk memberikan darah dengan iming-iming akan kalian berikan uang. Aku benar kan?" sudut bibir Arjuna terangkat, tersenyum sinis.
Wajah pasangan paruh baya itu sontak berubah pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.
"I-itu fitnah! kami orang tua kandungnya. Lihatlah, buktinya suami saya yang mendonorkan darahnya," wanita paruh baya itu masih berniat menyangkal.
"Kalian berdua masih saja mau berbohong! sudah aku bilang kalau aku sudah tahu semuanya. Asal kalian berdua tahu, sebenarnya kami tidak memerlukan darah dari kalian ataupun pria yang bernama Danu itu lagi karena Nania sudah mendapatkan donor darah itu. Namun kami tidak mencegahnya untuk mengeluarkan darahnya, karena suatu saat pasti ada orang yang butuh. Aku juga tidak akan ingkar janji, aku akan tetap memberikan uang itu tapi pada pria yang bernama Danu itu bukan untuk kalian berdua. Dan sekali saja nanti kalian meminta paksa uang itu dari Danu, kalian akan berurusan denganku dan hukum," ancam Arjuna, membuat orang tua angkat Nania bertambah pucat.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh memfitnah kami seperti itu tanpa bukti apapun,"
"Aku punya buktinya. Apa kalian mau mendengarnya?" Arjuna kemudian memperdengarkan bukti rekaman pembicaraan mereka, hingga keduanya tidak bisa berkutik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bayu turun dari ranjang setelah dirasa sudah cukup memberikan darahnya dan alat bantu untuk mengalirkan darah sudah dilepas oleh perawat. Dengan wajah pucat, pria itu menghampiri ranjang di mana Nania terbaring lemah.
"Nia, ini aku Bayu. Kamu harus cepat sembuh ya! dan jika aku belum terlambat, aku ingin kita memulai dari awal lagi hubungan kita. Kamu tenang saja,mama juga sudah bisa menerimamu dengan ikhlas," bisik Bayu tepat di telinga Nania.
Tampak jari-jari Nania bergerak, merespon ucapan Bayu. Namun, mata wanita itu sepertinya sangat sulit untuk dibuka.
"Kamu mendengarku? aku tahu kamu pasti mendengarku. Kamu istirahat dulu, aku akan pergi sebentar tapi aku akan kembali lagi nanti. Kamu cepat sembuh ya!" bisik Bayu lagi sembari mendaratkan sebuah ciuman yang sangat lama di kening mantan istrinya itu.
Sebelum benar-benar pergi, Bayu kembali menatap wajah Nania dengan cukup lama. Setelah dirasa puas, pria itupun mengayunkan kakinya melangkah keluar.
Pria itu begitu kaget melihat pasangan paruh baya yang sangat dia kenal sedang bersitegang dengan Arjuna. Bukan hanya Bayu, pasangan paruh baya itu juga terkesiap kaget melihat kehadiran Bayu, terlebih ketika pria itu keluar dari ruangan yang mereka ketahui tempat Nania dirawat.
"N-Nak Bayu? ka-kamu ...." mamanya Nania itu menghambur mendekati Bayu.
"Stop!" Bayu mengangkat tangannya, membuat langkah wanita paruh baya itu terhenti. "aku sudah tahu apa yang kalian perbuat selama ini. Nanti di saat Nania sadar dan sembuh, aku akan berusaha untuk kembali lagi bersamanya. Dan di saat itu, aku tidak mau kalian berdua mengganggunya lagi. Paham kalian berdua!"
Tbc
__ADS_1