
Anyelir terlihat sangat lelah, setelah pergulatan panas dengan Arjuna, sehingga wanita itu langsung tertidur pulas. Sementara itu, Arjuna memberikan ciuman di puncak kepala wanita itu dan bersiap untuk tidur juga.
"Sepertinya aku akan tidur nyenyak setelah ini," bisik Arjuna dengan senyuman yang tidak pernah memudar dari bibirnya.
Baru saja pria itu hendak memejamkan matanya, dia langsung dikagetkan dengan ponselnya yang berbunyi.
"Siapa sih yang menghubungiku di jam segini?" rutuk Arjuna sembari duduk kembali dan meraih ponselnya.
Arjuna mengrenyitkan keningnya, melihat nama Radit di layar ponselnya.
"Radit? ada apa dia menghubungiku di jam segini?" alis Arjuna, bertaut sehingga mata pria itu jadi terlihat mengecil.
"Halo, Dit!" sapa Arjuna, memutuskan untuk menjawab telepon.
"Halo, Jun! maaf kalau aku menghubungimu di jam segini! ada hal penting yang ingin aku bicarakan tentang Shakila," nada bicara Radit terdengar sangat hati-hati.
"Tunggu dulu! aku pindah ke balkon. Anyelir baru saja tidur. Aku tidak mau tidurnya terganggu," Arjuna turun dari ranjang dan langsung mengayunkan kakinya melangkah menuju balkon.
"Ada apa? sekarang kamu boleh bicara!" Arjuna mendudukkan tubuhnya di kursi.
Radit tidak langsung menjawab. Namun helaan napas berat dari pria di ujung sana sangat terdesak jelas di telinga Arjuna.
"Kenapa kamu diam, Dit? apa ada masalah?" Arjuna kembali bersuara.
"Jun, kali ini aku memohon padamu, agar kamu bisa datang ke Singapura untuk memberikan dukungan pada Shakila. Karena keadaan Shakila sekarang sudah cukup parah. Tante Maya,memohon padaku agar mau membujukmu datang ke sini. please, Jun! kali ini aja, kamu datang ke Singapura!" suara Radit terdengar memelas.
"Hmm, aku mau tanya, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Shakila. Apa kamu sudah mengungkapkan kalau kamu mencintainya?" tanya Juna yang sebenarnya masih memiliki keraguan untuk mengiyakan permintaan Radit.
"Belum!"
"Kenapa belum?" Arjuna menautkan kedua alisnya, padahal Radit tidak mungkin bisa melihat tautan kedua alis pria itu.
"Apa kamu kira segampang itu? dia sangat mencintaimu, Jun. Satu-satunya harapan dia untuk sembuh, supaya bisa kembali ke sisimu. Walaupun aku mengatakan, jangan terlalu berharap untuk itu. Ini sebenarnya salahku yang dulu pernah memberikan harapan padanya, kalau yang kamu inginkan itu, dia bukan Anyelir. Sekarang, di saat aku ingin berterus terang, tentang kamu yang sudah memutuskan untuk bersama Anyelir, aku benar-benar tidak sanggup lagi," tutur Radit panjang lebar.
Arjuna bergeming, diam seribu bahasa. Pria itu seketika merasa kalut.
"Jun, apa kamu masih di sana?" Radit kembali memastikan keberadaan Arjuna, karena merasa tidak mendapat respon dari pria itu.
"Aku masih di sini, Dit." sahut Arjuna. "Dit, maaf sekali, sepertinya aku tidak bisa datang ke sana. Aku tidak mau kedatanganku seakan memberikan harapan padanya kalau aku akan kembali lagi bersamanya."
__ADS_1
"Kamu itu egois, Jun. Apa kamu sekarang sudah benar-benar mencintai Anyelir? dan Kalaupun iya,apa kamu tidak punya empati pada Shakila? setidaknya kamu berikan dukungan padanya untuk bisa sembuh. Ok lah, kamu sudah mendukung dengan memberikan bantuan biaya pengobatan, tapi bukan itu yang dia inginkan, Jun. Dia menginginkan kamu!" nada suara Radit terdengar berapi-api.
"Dit, aku bukannya egois, tapi ... arghhh, baiklah aku akan ke sana. Tapi, aku akan ke sana menemuinya bersama dengan Anyelir. Aku sendiri yang akan memberikan pengertian padanya," pungkas Arjuna akhirnya mengalah.
Menurut pria itu, sepertinya sudah saatnya juga baginya untuk memberikan pengertian pada mantan kekasihnya itu, kalau mereka tidak mungkin bersama dengan wanita itu lagi. Tapi dia akan selalu ada, memberikan dukungan sebagai seorang teman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi kembali datang menjelang. Cahaya mentari membias masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Arjuna dan Anyelir, melalui celah tirai jendela. Cahayanya menerpa wajah Anyelir, hingga membuat wanita itu membuka matanya.
"Sudah jam berapa ini?" gumam Anyelir melihat ke arah luar yang sudah sangat terang.
"Mas, Mas Juna bangun!" Anyelir mengguncang-guncang tubuh Arjuna yang masih tidur pulas.
Arjuna yang masih merasa ngantuk, bukannya bangun malah menarik tubuh Anyelir kembali dan memeluk wanita itu.
Anyelir merasa sesak dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Arjuna.
"Mas, aku memintamu untuk bangun, bukan tidur lagi. Ini sudah jam 8 pagi, kamu harus ke kantor!" Anyelir kembali mengguncang-guncang tubuh Arjuna, setelah dia berhasil lepas dari dekapan pria itu.
"Ahh, aku bosnya Anyelir! jadi kenapa kamu harus panik? tidak akan ada yang berani memecatku," ucap Arjuna dengan suara yang lirih dan mata yang setengah terpejam.
Anyelir mendengkus mendengar kesombongan Arjuna. "Walaupun kamu bosnya kamu tetap harus disiplin. Jangan mentang-mentang, bos jadi sesuka hatimu mau datang jam berapapun," protes Anyelir dengan bibir yang mengerucut.
"Emm, ma-maaf!" Anyelir sontak menundukkan kepalanya, merasa takut melihat tatapan Arjuna.
Melihat Anyelir yang tertunduk, membuat Arjuna menyelipkan seulas senyum di bibirnya.
"Hahahaha, aku bercanda! kamu tidak perlu setakut itu!" Arjuna memutuskan untuk duduk, walaupun matanya masih mengantuk.
"Emangnya ini sudah jam berapa?" lanjut Arjuna kembali seraya melihat ke arah nakas.
"Sudah hampir jam sembilan ternyata. Kamu sudah mandi?" Arjuna kembali menatap Anyelir yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Kamu yang membuatku kesiangan lagi. Aku benar-benar malu, mau turun ke bawah," lirih Anyelir.
"Malu? untuk apa malu? kamu berpakaian kan? kalau untuk masalah tidak membantu membuat sarapan, kenapa sampai sekarang masih suka merasa tidak enak. Mama sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Kamu saja yang terlalu banyak berpikir. Jadi, stop overthinking oke! ayo kita mandi!" Arjuna turun dari ranjang dan mengangkat tubuh Anyelir ala bridal style.
"Aku tidak mau! turunkan aku!" Anyelir berusaha untuk turun, sehingga mau tidak mau Arjuna akhirnya menurunkan wanita itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mau?" alis Arjuna bertaut tajam.
"Karena aku tahu apa yang akan terjadi nanti di dalam. Kamu tidak pernah puas," sungut Anyelir, membuat Arjuna tergelak.
"Aku janji tidak akan melakukan apapun. Kita hanya mandi saja. Untuk masalah raba-meraba, aku tidak bisa menghalangi tanganku untuk melakukan itu,"
"Dari raba-merabalah, jadinya meminta hal lebih. Jadi sebaiknya kamu mandi dulu. Aku akan menunggumu di sini!" lagi-lagi Anyelir berusaha untuk menolak.
Arjuna tidak beranjak sama sekali. Tatapan mata pria itu yang tadinya lembut berubah jadi tajam penuh ancaman. "Bukannya tadi aku sudah janji tidak akan melakukan apapun? apa kamu tidak percaya? aku mengajak kami mandi untuk mempersingkat waktu saja. Aku juga ke kantor hanya sebentar, setelah itu aku akan pulang, karena kita akan berangkat ke Singapura hari ini juga!" tegas Arjuna.
Anyelir bergeming, diam seribu bahasa.
"Ke Singapura?" gumam wanita itu penuh tanda tanya.
"Iya. Radit menghubungiku, memintaku untuk segera ke sana karena sakit Shakila sudah semakin parah."
"Kalau kamu mau pergi, pergi saja! kenapa harus mengajakku?" suara Anyelir terdengar lirih.
"Aku tidak mau pergi sendiri. Aku akan pergi bersamamu, titik, jangan membantah lagi! ayo kita mandi!" Arjuna meraih tangan Anyelir untuk mengajak wanita itu masuk ke dalam kamar mandi. Namun, kaki Anyelir seakan terpaku di tempatnya, susah untuk melangkahkan kakinya.
"Kenapa kamu masih belum bergerak? apa kamu perlu aku gendong?" Arjuna kembali menatap tajam ke arah Anyelir.
"Buat apa kamu mengajakku? apa kamu ingin aku melihat dengan langsung kondisi Shakila, agar aku merasa kasihan? kemudian karena rasa kasihan itu, aku akan memberikan izin padamu, untuk kembali bersama Shakila, ketika kalian berdua memohon agar aku melepaskanmu, begitu?"
Arjuna mengembuskan napasnya dengan cukup berat dan menyentil jidat Anyelir. "Jangan berpikir terlalu jauh! kenapa kamu masih belum percaya padaku? justru aku mengajakmu ke sana, agar kita bisa sama-sama bertemu dengan Shakila dan mengatakan yang sejujurnya padanya. Kamu paham kan maksudku?"
Anyelir memicingkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa kamu sudah gila, Jun? katamu keadaannya semakin parah, apa kamu mau dia semakin parah kalau kamu berterus terang? tidak,aku tidak mau! lebih baik kamu pergi saja sendiri dan beri dia dukungan!"
"Jadi bagaimana denganmu? apa kamu bisa tenang kalau aku sendiri ke sana?"
Anyelir terdiam, tidak bisa menjawab.
"Kamu tidak bisa jawab kan? jadi, sebaiknya kamu ikut saja! lagian mamanya Shakila tidak keberatan kamu ikut. Sekarang, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak! kamu cukup percaya padaku saja dan lakukan apa yang aku minta!" pungkas Arjuna tegas, tidak mau dibantah.
"Tapi, bagaimana aku bisa ke sana? aku sama sekali tidak memiliki pasport?"
Arjuna menyelipkan seulas senyuman dan mengacak-acak rambut Anyelir.
"Jauh-jauh hari aku sudah mengurus semuanya. Jadi kamu tenang saja," Anyelir hendak membuka mulut lagi, tapi tidak jadi karena jari telunjuk Arjuna sudah menempel di bibirnya.
__ADS_1
"Kamu jangan tanya apapun lagi? karena kamu pasti tahu siapa aku. Yang jelas, sangat mudah untuk mengurus pasport kamu, bagiku walaupun kamu tidak ikut serta. Sekarang ayo mandi!" Arjuna kembali menarik tangan Anyelir dan kali ini wanita itu tidak mau membantah lagi.
Tbc