
Anyelir berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, saat menghampiri Arjuna yang sedang menatapnya dengan sangat tajam.
"Ayo masuk!" Arjuna menarik tangan Anyelir dengan sedikit kasar, dan terburu-buru.
"Mas,bisa tidak pelan sedikit? aku lagi ...." Anyelir menggantung ucapannya, begitu melihat tatapan Arjuna yang semakin tajam.
Setelah Anyelir tidak melontarkan protesnya lagi, Arjuna kembali melanjutkan langkahnya,dan kali ini meninggalkan Anyelir di belakangnya, yang terpaksa mempercepat langkahnya, agar bisa menyusul Arjuna.
"Apa dia benar-benar sudah tidak sabar lagi untuk bertemu Shakila?" batin Anyelir dengan raut wajah sendu, bahkan terlihat ingin menangis.
Setelah check in, mereka berdua langsung menuju ruang tunggu, menunggu panggilan pesawat mereka berangkat. Selama di ruang tunggu, Arjuna sama sekali tidak mengajak Anyelir untuk berbicara. Pria itu, lebih asik dengan ponselnya. Hal itu tentu saja memiliki Anyelir semakin sedih. Wanita itu akhirnya berpikir kalau pernikahan mereka nantinya tidak akan baik-baik saja.
"Nak, apa nasibmu nanti akan sama seperti Mama yang tumbuh tanpa seorang Papa? Tapi Kamu tenang saja, mama akan berusaha untuk tetap berjuang agar kamu tidak hidup seperti Mama," batin Anyelir sembari mengelus-elus perutnya.
Pengumuman, yang memanggil semua penumpang jurusan Singapura akhirnya berkumandang. Arjuna berdiri dari tempat dia duduk dan berjalan meninggalkan Anyelir di belakangnya.
Anyelir, akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik hendak meninggalkan tempat itu, memutuskan untuk pulang. wanita itu benar-benar merasa kalau kehadirannya benar-benar tidak diinginkan.
Arjuna yang menyadari kalau Anyelir, tidak mengikutinya segera berbalik dan melihat tubuh Anyelir yang mulai menjauh. Pria itu pun berbalik dan mengejar Anyelir.
"Kamu mau kemana?" Arjuna menahan tubuh Anyelir dengan mencengkram bahu wanita itu.
Anyelir kembali berbalik, mendengar suara Arjuna.
"Aku mau pulang? karena aku menyadari, kalau sebenarnya kehadiranku tidak dibutuhkan. Kamu pergi saja sendiri!" ucap Anyelir dengan sudut mata yang mengeluarkan cairan bening.
Arjuna tercenung. Seketika ada perasaan bersalah yang menyelinap masuk ke dalam hatinya.
"Maafkan aku! siapa bilang kehadiranmu tidak penting? aku hanya merasa kesal karena tidak menemukanmu di rumah. Aku benar-benar kesal, kamu pergi tidaklah izin sama sekali seperti biasanya," ucap Arjuna dengan nada lirih.
"Sekarang kita masuk ke pesawat ya? aku benar-benar minta maaf." Anyelir masih tetap bergeming. Tidak memberikan respon apapun pada permintaan maaf Arjuna.
"Kalau kamu tidak pergi,aku juga tidak akan pergi. Kita pulang saja!" pungkas Arjuna seraya meraih tangan Anyelir, mengajak wanita itu untuk pulang.
__ADS_1
"Kita berangkat saja!" Anyelir menepis tanga Arjun, lalu mengayunkan kakinya, melangkah menuju pesawat.
Arjuna menghela napas lega dan berjalan menyusul Anyelir.
"Kenapa aku begitu bodoh sih? hanya masalah sepele seperti itu, aku mengabaikannya sejak tadi?" Arjuna merutuki kebodohannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pesawat yang membawa Arjuna dan Anyelir mendarat dengan selamat di Changi airport Singapura. Arjuna menarik koper dengan satu tangan sedang tangan yang lain menggenggam tangan Anyelir.
Pria itu mengedarkan pandangannya, untuk mencari keberadaan Radit yang katanya akan menjemput dirinya dan Anyelir.
"Hei, aku di sini!" Radit , pria yang dicari Arjuna ternyata sudah berdiri di belakang Arjuna dan Anyelir.
"Apa kamu sudah membooking hotel untuk kami?" tanya Arjuna, tanpa basa-basi.
"Tentu saja sudah! apa kamu mau langsung ke hotel?" Radit mengrenyitkan keningnya, terlihat tidak suka.
"Tentu saja! tidak mungkin kan aku membawa koper ini ke rumah sakit? aku harus meletakkannya lebih dulu di kamar hotel. Dan sepertinya Anyelir juga butuh istirahat," sahut Arjuna yang menyadari wajah istrinya yang terlihat pucat.
Anyelir merasa di dalam ucapan Radit terselip sebuah sindiran.
"Benar kata Radit, Mas. Aku bisa istirahat di mobil. Lagian aku baik-baik saja kok," Anyelir buka suara menimpali ucapan Radit.
"Tapi kamu terlihat pucat, Nye!" tergambar jelas rasa khawatir di raut wajah Arjuna, membuat Radit semakin yakin kalau sahabatnya itu benar-benar sudah mencintai Anyelir. Radit bukannya tidak bahagia, tapi dia merasa khawatir, dengan apa yang akan terjadi pada Shakila nanti kalau wanita yang dia cintai itu mendapati Kenyataan, kalau hati pria yang dicintainya bukan untuknya lagi.
"Aku benar-benar tidak apa-apa,Mas. Mungkin ini karena baru pertama aku naik pesawat, jadi terlihat pucat. Nanti kalau sudah istirahat di mobil, aki pasti akan kembali bugar seperti semula," ucap Anyelir, sembari menyelipkan senyuman guna menenangkan hati Arjuna.
"Baiklah kalau begitu! kita langsung ke rumah sakit," pungkas Arjuna akhirnya memutuskan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil yang dikemudikan oleh Radit berhenti di parkiran sebuah rumah sakit besar. Hati Anyelir kini benar-benar tidak bisa terkontrol lagi. Degup jantungnya berdetak lebih cepat karena benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang terjadi nantinya begitu Arjuna bertemu dengan Shakila. Ekor mata wanita itu melirik me arah suaminya untuk mengetahui bagaimana ekspresi wajah Arjuna sekarang. Dia yakin kalau wajah pria itu akan terlihat tegang, tapi ternyata dugaannya salah. Ekspresi wajah pria itu terlihat datar, sehingga sulit bagi Anyelir untuk mengartikannya.
__ADS_1
Radit berjalan di depan Arjuna dan Anyelir untuk memandu jalan dua insan itu menuju ruangan Shakila.
"Dia ada di dalam sana! apa kamu mau masuk sendiri atau butuh aku temani? tapi, menurutku lebih baik kamu sendiri saja yang masuk," Radit memberikan saran.
"Aku akan masuk bersama dengan Anyelir!" sahut Arjuna, mantap.
Arjuna menarik napas dalam-dalam lebih dulu dan dengan perlahan mulai mengetuk pintu.
Tidak perlu menunggu lama, pintu itu dibuka oleh seseorang, yang tidak lain adalah Maya mamanya Shakila.
Wajah wanita paruh baya itu terlihat berbinar begitu melihat sosok pria yang ada di depannya. Namun, sedikit berubah begitu melihat sosok Anyelir yang berdiri di samping Arjuna.
"Ha__"
"Shakila, lihat,Nak siapa yang datang!" Maya sontak mengalihkan tatapannya dari Anyelir, begitu melihat istrinya Arjuna itu hendak menyapanya.
Arjuna yang sebenarnya merasa gugup untuk masuk ke dalam ruangan itu, berusaha bersikap wajar dan tetap memberanikan diri untuk masuk.
"Hai, Shakila!" sapa Arjuna dengan suara lembut, membuat wanita yang tadinya menundukkan kepalanya, langsung mengangkat kepalanya, begitu mendengar suara pria yang sangat familiar di telinganya.
"Ju-Juna?" seru wanita itu. "Ini benaran kamu?"ulang wanita itu memastikan.
"Iya. Ini benar-benar aku," sahut Arjuna yang seketika merasa trenyuh melihat tubuh Shakila yang sangat kurus.
"Jadi ini benar-benar kamu? aku tahu kamu pasti akan datang begitu tahu kondisiku. Aku yakin itu? kamu datang untuk ...." Shakila tiba-tiba berhenti bicara, karena melihat kemunculan sosok wanita yang dia tahu wanita yang sudah dinikahi oleh Arjuna.
"Ka-kamu membawanya ke sini?" Shakila menunjuk ke arah Anyelir.
"Oh, iya! aku ke sini membawanya. Ini Anyelir, dan aku yakin kamu pasti sudah tahu siapa dia. Dia ini istriku!"
Shakila tiba-tiba meneteskan air mata, dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Untuk apa kamu membawanya ke sini? apa kamu sengaja untuk membuatku sakit?"
__ADS_1
Tbc