Hanya Wanita Pengganti

Hanya Wanita Pengganti
Pergi dari Sini!


__ADS_3

"Mau apa kamu ke sini? keluar!" pekik Shakila, begitu melihat Radit masuk ke dalam ruangan.


Radit menghela napasnya dan memejamkan matanya sekilas. Pria itu sama sekali tidak memenuhi permintaan Shakila. Dia justru semakin mendekat ke arah wanita itu.


"Bukannya aku sudah bilang, kamu pergi jauh! ini semua gara-gara kamu! kenapa di saat aku sudah ikhlas, kamu datang dan menghidupkan harapan itu kembali. Kalau kamu tidak memberikan harapan itu, pasti rasa sakitnya tidak akan sesakit ini," suara Shakila kembali meninggi, disertai dengan air mata yang kembali menetes.


"Maafkan aku! aku tidak pernah menyangka semuanya akan berubah, termasuk Arjuna. Aku memberikan kamu harapan, karena aku hanya ingin kamu sembuh, Kila!" nada suara Radit terdengar sangat lirih.


"Tapi, sekarang justru semuanya menjadi semakin sakit, Dit," ucap Shakila di sela-sela air matanya yang tidak berhenti mengalir.


"Sudahlah, Nak. Jangan menangis lagi! apa kamu mau sembuh hanya untuk Arjuna saja? Apa kamu tidak menganggap mamamu ini lagi? Mama mohon, Kila, tetaplah semangat untuk sembuh walaupun Arjuna bukan untukmu lagi. Setidaknya kamu mau sembuh demi mama dan orang-orang yang menyayangimu. Arjuna tetap menyayangimu, tapi kita tidak bisa memaksa perasaannya tetap sama seperti dulu," Maya buka suara. Air mata wanita itu juga tidak pernah berhenti dari dia masuk ke ruangan Shakila.


" Tapi, Ma! aku sudah tidak memiliki harapan lagi. Aku tahu, aku bisa bertahan hidup, karena bantuan obat-obatan. Kalau dalam waktu dekat ini aku tidak bisa mendapatkan donor hati, aku tidak akan bisa bertahan hidup lagi," Shakila benar-benar terlihat putus asa sekarang.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu! yang menentukan hidup dan mati seseorang bukan kamu, tapi Tuhan. Selagi masih ada harapan, kamu harus tetap semangat," Radit kembali buka suara.


"Aku tidak ingin bicara denganmu! aku mohon kamu pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Jangan selalu memberiku harapan yang tidak pasti!" ucap Shakila tanpa menatap ke arah Radit. Ucapannya tulus dari hati atau hanya dari mulut saja, hanya dialah yang tahu. Yang jelas, hatinya bertambah sakit saat melontarkan kata-kata itu.


Radit terpaku mendengar ucapan Shakila yang benar-benar menyakitkannya.


"Shakila! kamu tidak boleh bicara seperti itu! ingat dia yang selalu ada untukmu selama ini!" bentak Maya.


"Baiklah,Kil. Aku tahu kalau aku yang salah. Tidak seharusnya aku menanamkan harapan itu lagi padamu. Tapi, sumpah demi apapun, aku benar-benar tidak menyangka kalau semuanya akan berubah. Aku hanya ingin melihat kamu__"


"Bahagia. Kamu ingin melihatku bahagia, karena kamu mencintaiku, iya kan?" sambar Shakila dengan cepat, hingga membuat Radit terkesiap kaget.


"Jangan mengira aku tidak tahu, Dit. Aku bukan orang bodoh yang tidak bisa menilai perasaanmu dari apa yang selama ini kamu lakukan. Sekarang, aku mohon kamu pergi saja, karena aku tidak mungkin mencintaimu," lanjut Shakila lagi dengan mata yang berkilauan karena sudah penuh dengan cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya.


"Ternyata kamu sudah tahu. Aku tidak peduli, kamu akan membalas cintaku atau tidak. Karena yang aku inginkan hanya kebahagiaanmu. Melihat kamu terpuruk, aku merasa semangat hidupku juga ikut terpuruk. Jadi, aku mohon jangan minta aku untuk pergi. Aku berjanji tidak akan memintamu membalas cintaku, yang penting aku bisa tetap berada di sampingmu, mendampingimu sampai kamu sembuh," tutur Radit panjang lebar, lugas dan tegas.


Shakila menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak, Dit! justru aku akan semakin sakit melihat kamu tetap ada di sampingku. Aku tidak mau semakin berutang budi, padamu. Jadi, sekali lagi aku mohon, tolong pergi dari sini!" usir Shakila yang kembali mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Aku tidak mau!" tegas Radit, menolak.


"Baiklah! kalau kamu benar-benar ingin tetap di sini, bisa tidak kamu membujuk Arjuna untuk bisa kembali bersamaku? kalau bisa aku tidak akan memintamu untuk pergi,"


Radit tercengang mendengar permintaan Shakila. Dia tidak menyangka kalau wanita yang dulu dia kenal cukup bijaksana, bisa berubah seegois itu.


"Kenapa kamu diam? kamu tidak bisa kan melakukannya? kalau iya, itu berarti kamu harus pergi!"


"Kila, kenapa kamu bisa berubah seperti ini? aku tidak mungkin melakukan hal itu!" seru Radit sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Kalau kamu tidak bisa melakukannya, berarti kamu harus pergi dari hidupku. Aku tidak mau mengenal orang-orang yang ada kaitannya dengan Juna lagi,"


"Kila, apa ini benar-benar kamu? aku bahkan seperti tidak mengenalmu lagi? di mana Kila yang dulu, yang selalu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, dan selalu bijaksana dalam mengambil keputusan?"


"Shakila yang kamu maksud sudah mati. Intinya, kalau kamu tidak bisa melakukan permintaanku, itu berarti kamu jangan menemui aku lagi!" tegas Shakila.


"Kila, kamu tahu, Arjuna kan? dia itu selalu memegang komitmen yang sudah dia katakan. Sekeras apapun aku memohon, dia tidak akan goyah. Apalagi sekarang, Anyelir sedang mengandung anaknya,"


Setelah wanita itu berbalik, Shakila kembali memegang dadanya yang kembali terasa sakit bahkan dua kali lipat lebih sakit. Sebenarnya dari tadi, wanita itu sudah berusaha untuk menahan rasa sakit itu, di depan Radit. Dia memunggungi pria itu juga, supaya pria itu tidak melihat raut wajahnya yang kesakitan.


"Shakila ...."


"Pergilah!" ucap wanita itu dengan suara yang sedikit bergetar.


Maya melihat raut wajah Shakila dan mata putrinya itu seperti memohon agar, dirinya juga membantu mengusir keluar Radit dari ruangan itu.


"Nak Radit, tolong kamu keluarlah! tolong turuti permintaan Shakila!" ucap Maya yang akhirnya mengerti maksud tatapan Shakila.


"Tapi, Tante ... aku ...."

__ADS_1


"Tante mohon, Radit, tolong pergi!"


Radit mengembuskan napasnya, dengan cukup berat. Matanya memicing melihat gerakan tubuh Shakila yang jelas-jelas seperti menahan rasa sakit.


"Shakila, kamu__"


"Nak Radit tolong keluar!" Maya akhirnya mendorong paksa tubuh Radit keluar dari ruangan itu.


"Shakila, kamu kenapa, Nak?" Maya kembali menghambur ke arah Shakila, begitu dirinya berhasil mengusir keluar Radit.


"Sakit, Ma! rasanya sangat sakit! aku mungkin tidak akan bertahan lama lagi! tolong sampaikan permintaan maafku pada Arjuna dan Anyelir nanti. Sebenarnya aku hanya berpura-pura, mengharapkan dia kembali. Aku hanya ingin melihat responnya saja, ketika aku meminta dia kembali." Shakila berbicara dengan terbata-bata di sela-sela rasa sakitnya yang semakin menjadi-jadi.


"Iya, Nak. Mama akan sampaikan nanti! Sekarang kamu jangan bicara, mama akan memanggil dokter!" Maya menekan tombol, yang berada tepat di atas ranjang Shakila.


"Ma, Sa- sampaikan juga kalau aku akan mendoakan supaya mereka bahagia, selalu, Ma. Aku sudah bahagia sekarang. Aku bisa menyaksikan sendiri kalau Arjuna sudah benar-benar bisa melupakanku dan mencintai wanita itu. Setidaknya kalau aku sudah tidak ada lagi, aku sudah tenang karena dia sudah berada pada wanita yang tepat. Sampaikan juga maafku pada Radit. Aku benar-benar tidak berniat untuk mengucapkan kata-kata yang menyakitkan itu,Ma. Aku hanya ingin dia membenciku dengan berpura-pura kalau aku itu egois. Aku ingin dia membuka hatinya pada orang lain dan tidak selalu berharap pada seorang wanita yang sakit-sakitan sepertiku! A-aku sudah tidak kuat lagi, Ma!" kali ini Shakila kembali terkulai lemah tidak sadarkan diri.


"Shakila, bangun, Nak! jangan berbicara seperti itu! Dokter di mana sih!" pekik Maya seraya kembali menekan tombol bel, berkali-kali.


Sementara itu, raut wajah Radit terlihat kusut saat menghampiri Arjuna, Anyelir dan Haris yang duduk di bangku besi.


Tiba-tiba ke empat orang yang berada di tempat itu, dikagetkan dengan dokter dan perawat yang berlari hendak masuk ke dalam ruangan Shakila.


Maya, yang diminta keluar dari dalam ruangan, keluar dengan pipi yang sudah banjir dengan air mata.


"Apa yang terjadi, Tante?" tanya Anyelir, Arjuna dan Radit bersamaan.


"Shakila, tidak sadarkan diri lagi! ya, Tuhan seandainya hatiku cocok, tidak akan seperti ini!" Maya tersungkur jatuh menyender di tembok.


Sementara itu, Anyelir seketika menangis benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, dan Arjuna merangkul pundak istrinya untuk menenangkan wanita itu.


Sementara itu Radit berjalan mundur dan menjauh. Raut wajah pria itu terlihat mengeras dan tangannya juga terkepal.

__ADS_1


"Kali ini tidak boleh ada yang mencegahku lagi!" bisik pria itu pada dirinya sendiri, sembari menatap ke arah empat orang yang berada di tempat itu, bergantian.


Tbc


__ADS_2